TERMINOLOGI AKAL

02/07/2012 0:00:00
أ.د. جعفر شيـخ إدريـس Jumlah kali dibaca 1918

TERMINOLOGI AKAL


 

Akal merupakan bagian dari syariat. Sebagaimana akal tidak sempurna tanpa syariat, begitu pula syariat tidak akan sempurna tanpa akal. Syariat adalah semua yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Maka apakah akal itu?

Para Salaf mengatakan bahwa akal ada dua macam: akal ghariziy dan akal muktasab. Akal ghariziy adalah yang kita biasa namakan dengan potensi akal berupa pemahaman, pengenalan, pengertian, konsistensi pembicaraan, sikap wajar dan seterusnya, insya Allah hal ini nantinya akan kami jelaskan . Akal ghariziy inilah yang menjadi tema artikel ini.

Akal ghariziy inilah yang menjadi manath taklif (fokus taklif, pent.). Barangsiapa yang tidak memiliki akal (tidak waras), maka ia tidak mukallaf. Barang siapa kehilangan sebagian akalnya, maka ia tidak ditaklif  kecuali sebatas akal yang ada padanya.

Orang yang dikaruniai akal lalu ia menyia-nyiakan dan tidak menggunakannya secara tepat, atau tidak komitmen dengan prinsip-prinsipnya sehingga ia tidak memahami agama, maka ia tidak beriman kepadanya. Ia tetap dihisab karena tidak memahami agama, sebab hal tersebut merupakan akibat kesengajaan tidak menggunakan akalnya.

{وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لاَ يَعْقِلُونَ }

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS. Yunus: 100)

 

Maka tidak heran jika Allah menjadikan siksaan orang-orang yang tidak berakal sama dengan siksaan orang-orang yang tidak beriman.

{فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلامِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقاً حَرَجاًّ

كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ }

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS. al-An'am: 125)

 

Rijs secara etimologi bermakna kotoran yang busuk. Seakan-akan kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa kesucian hati tidak akan terwujud kecuali dengan cahaya akal dan cahaya syariat.

Akal dalam Al-Qur'an memiliki beberapa makna. Tergantung pada jenis objeknya. Yaitu jenis entitas yang ingin diketahui dan dipahami. Makna-makna tersebut antara lain:

 

1.      Memahami Ungkapan dan Pembicaraan

{أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ}

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (QS. al-Baqarah: 75)

 

{إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ}

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (QS. Yusuf: 2)

 

Allah menjelaskan bahwa sebab dijadikannya Al-Qur'an berbahasa Arab adalah agar diketahui dan dipahami oleh orang-orang yang berbicara dengan bahasa ini.

 

2.      Tidak Kontradiktif dalam Berbicara

{يَا أَهْلَ الكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالإِنجِيلُ إِلاَّ مِنْ بَعْدِهِ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ}

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? (QS. Ali Imran: 65)

 

Maka orang yang mengatakan bahwa Ibrahim itu adalah Yahudi atau Kristen, seakan-akan ia mengatakan: Ibrahim lebih dahulu ada sebelum agama Yahudi dan agama Kristen, tetapi ia juga datang setelah adanya agama Yahudi dan Kristen.

Ini sama dengan firman Allah:

{وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِّن شَيْءٍ قُلْ مَنْ أَنزَلَ الكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى نُوراً وَهُدًى لِّلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيراً وَعُلِّمْتُم مَّا لَمْ تَعْلَمُوا أَنتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ

قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ}

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia." Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)?" Katakanlah: "Allah-lah (yang menurunkannya)." Kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. (QS. al-An'am: 91)

 

Ayat ini ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang mengklaim bahwa mereka beriman kepada Nabi Musa. Seakan-akan ayat ini mengatakan kepada mereka: sungguh kontradiktif  jika kalian mengatakan bahwa Allah telah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa, lalu kalian mengatakan bahwa Allah  tidak menurunkan satu wahyu pun kepada manusia.

 

3.      Memahami Hujjah/Argumen dan Burhan/Bukti

{ضَرَبَ لَكُم مَّثَلاً مِّنْ أَنفُسِكُمْ هَل لَّكُم مِّن مَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُم مِّن شُرَكَاءَ فِي مَا رَزَقْنَاكُمْ فَأَنتُمْ فِيهِ سَوَاءٌ

تَخَافُونَهُمْ كَخِيفَتِكُمْ أَنْفُسَكُمْ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ}

Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada di antara hamba-sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal. (QS. ar-Rum: 28)

 

{قُل لَّوْ شَاءَ اللَّهُ مَا تَلَوْتُهُ عَلَيْكُمْ وَلاَ أَدْرَاكُم بِهِ فَقَدْ لَبِثْتُ فِيكُمْ عُمُراً مِّن قَبْلِهِ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ}

Katakanlah: "Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?" (QS. Yunus: 16)

  

4.      Keselarasan Perkataan dengan Perbuatan

{أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ}

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Alkitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS. al-Baqarah: 44)

 

Oleh karena itu Nabi Syu'aib yang shaleh mengatakan:

{قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِن كُنتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقاً حَسَناً وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ}

Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali." (QS. Huud: 88)

 

Tetapi, memperbaiki kontradiksi ini hanya dengan menjadikan perbuatan sejalan dengan perkataan yang benar, bukan sebaliknya.

Celaan dalam ayat ini khusus tertuju kepada kelalaian mereka terhadap dirinya sendiri, bukan karena ajakan mereka melakukan kebaikan. Sebab, perintah berbuat baik termasuk perilaku yang baik, nilai kebaikannya sama sekali tidak berubah hanya karena dai yang mengajak kepadanya tidak komitmen dengannya. Kadang-kadang seseorang mengajak untuk ikhlas dalam melakukan sesuatu, sedangkan ia sendiri belum tentu ikhlas.

Orang yang menyuruh anak-anaknya untuk tidak merokok atau tidak minum khamar, sedang ia tetap melakukannya lebih baik daripada yang mengajak anaknya untuk  merokok dan meminum minuman keras. Dia bahkan lebih baik daripada orang tua yang tidak menyuruh dan tidak melarang.

 

5.      Memilih yang Bermanfaat dan Meninggalkan yang Mudharat, Secara Materil maupun Moril

{وَمَا الحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ}

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. al-An'am: 32)

 

{لَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَاباً فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ}

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? (QS. al-Anbiya': 10)

 

6.      Mengorbankan Maslahat yang Kecil Walaupun Cepat demi Maslahat yang Besar Walaupun Lambat

{ وَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَتَاعُ الحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى أَفَلاَ تَعْقِلُونَ }

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (QS. al-Qashash: 60)

 

Hal ini diperkuat oleh ayat-ayat lain yang tidak disebutkan di dalamnya akal, seperti firman Allah Ta'ala;

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأَرْضِ

أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ قَلِيلٌ }

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah," kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit. (QS. al-Taubah: 38)

 

7.      Mengambil Pelajaran yang Benar dari Berbagai Peristiwa yang Terjadi

{ وَلَقَد تَّرَكْنَا مِنْهَا آيَةً بَيِّنَةً لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ }

Dan sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal. (QS. al-Ankabut: 35)

 

Di sini Allah mengisyaratkan kepada negeri kaum Luth, yang dijelaskan oleh Allah pada ayat lain bahwa orang-orang kafir tidak memahami inti pelajarannya, yaitu karena mereka mengingkari hari kebangkitan.

{ وَلَقَدْ أَتَوْا عَلَى القَرْيَةِ الَتِي أُمْطِرَتْ مَطَرَ السَّوْءِ أَفَلَمْ يَكُونُوا يَرَوْنَهَا

بَلْ كَانُوا لاَ يَرْجُونَ نُشُوراً }

Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu; bahkan adalah mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan. (QS. al-Furqan: 40)

 

8.      Mengambil Pelajaran dari Berbagai Peristiwa Sepanjang Sejarah

{ وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِم مِّنْ أَهْلِ القُرَى أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأَرْضِ

فَيَنظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَدَارُ الآخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ اتَّقَوْا أَفَلاَ تَعْقِلُونَ }

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? (QS. Yusuf: 109)

 

9.      Memahami Tanda-tanda pada Ayat-ayat Kauniyah

{ إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلافِ الَليْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَتِي تَجْرِي فِي البَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ المُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ }

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. al-Baqarah: 164)

 

{ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ }

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya). (QS. al-Nahl: 12)

 

10.  Bergaul dengan Sesama Manusia, Khususnya Para Nabi dengan Baik

{ إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِن وَرَاءِ الحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ }

Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. (QS. al-Hujurat: 4)      

 

Semua hal ini merupakan kekuatan akal yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Manusia seluruhnya mengakui hal itu, mereka menganggap kurang waras jika tidak ada komitmen dalam poin-poin tersebut. Walaupun kenyataannya tidak semua manusia komitmen dengannya.

Oleh karena itu, kiranya cukup untuk mengingatkan orang yang tidak komitmen terhadapnya dengan menyatakan bahwa orang tersebut melakukan sesuatu yang tidak masuk akal sebagimana dapat kita lihat pada ayat di atas.

Perlu kami ingatkan bahwa penjelasan dan penerapan Al-Qur'an terhadap hal-hal yang berhubungan dengan akal tidak terbatas pada ayat-ayat yang di dalamnya terdapat kata-kata akal. Di sana terdapat ayat-ayat yang menyebutkan kata-kata lain yang mengarah kepada kekuatan-kekuatan akal dengan makna umum yang telah kami sebutkan. Bahkan tampaknya semua pertanyaan inkari (pengingkaran, pent.) dalam Al-Qur'an menunjukkan bahwa yang ditanyakan adalah sesuatu yang bersifat aksiomatik dan tidak pantas diragukan.

Al-Qur'an sangat sarat dengan ayat-ayat yang dapat dijadikan oleh seorang Muslim sebagai acuan logika. Mungkin inilah makna yang kedua dari terminologi akal, yaitu ilmu yang menjadi penerang bagi manusia.**


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir