(STANDAR-STANDAR RASIONAL (3): HUKUM ALAM (SUNNATULLAH

02/07/2012 0:00:00
أ.د. جعفر شيـخ إدريـس Jumlah kali dibaca 1537

(STANDAR-STANDAR RASIONAL (3): HUKUM ALAM (SUNNATULLAH


 

Orang-orang bijaksana kapan dan dimana pun mereka berada meyakini bahwa semua peristiwa tidak terjadi secara acak. Mereka percaya bahwa setiap peristiwa pasti ada sebabnya, dan bahwa sebab yang serupa akan menyebabkan terjadinya peristiwa yang sama di  alam, dunia sosial, maupun kejiwaan.

Mereka sadar bahwa tanpa adanya korelasi sebab dan akibat secara konsisten dan dinamis, maka tidak akan ada ilmu alam, ilmu  sosial, maupun ilmu jiwa.  Manusia juga tidak akan memperoleh manfaat dari sejarah dan eksperimen orang lain. Mereka juga tidak bisa berinteraksi dengan alam, manusia sekitar, bahkan dengan diri mereka sendiri.

Mungkinkah semuanya menjadi nyata, jika setiap peristiwa terjadi tanpa sebab, atau satu sebab mengakibatkan kejadian beraneka ragam, bahkan bertolak belakang karena perbedaan waktu dan tempat terjadinya? Bagaimana jadinya jika dulunya air  disiramkan ke api maka akan padam, sedang sekarang jika disiram dengan air ia semakin berkobar?

Namun meyakini bahwa sebuah kaedah tidak menjamin seseorang selamat dari kesalahan dalam aplikasinya. Juga tidak bisa mengharuskan mereka menisbatkan setiap sebab kepada sumber asalnya. Sebagian mereka malah dengan sengaja menisbatkan kejadian kepada sebab palsu. Dalam hal ini, hanya ada dua pilihan bagi manusia: menerima kebenaran, atau mendustakannya.

Orang-orang berakal tidak merasa cukup dengan meyakini validitas sebuah kaedah. Penting kiranya memastikan korelasi antara sebab tertentu dengan akibat yang dikaitkan kepadanya, apakah ada dalil yang membenarkannya atau tidak? Tanpa hal itu, manusia tidak akan mendustakan tukang sihir, penipu, dan penebar khurafat. Juga tidak akan bisa membedakan antara nabi utusan Allah dengan nabi palsu.

Akan tetapi, terbuktinya kebenaran korelasi antara sebab dan akibat juga tidak bisa menjamin seseorang terhindar dari kesalahan. Terkadang ia mengira sudah benar, ternyata perkiraannya keliru. Hal ini sering terjadi bahkan dalam ilmu-ilmu eksak sekalipun, seperti fisika, kimia, apalagi ilmu kedokteran, ilmu jiwa, dan sosial.

Islam mengemukakan argumen ini, sebab objeknya adalah orang-orang berakal. Terkadang  mereka diminta mengakui dampak nyata sebuah peristiwa, atau diingatkan bahwa sebab yang sama dapat membawa kepada akibat yang sama pula. Kadang kala mereka diberitahu sebab yang tidak mereka ketahui sebelumnya, dan ada kalanya mereka disalahkan karena keliru dalam menentukan sebab sesuatu.

Sebagai contoh dapat dilihat dalam ayat-ayat berikut ini:

1.        Firman Allah:

( فَهَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ سُنَّةَ الأَوَّلِينَ فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلاً وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلاً )

Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. (QS. Fathir: 43)

 

2.        Firman Allah:

( قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ المُكَذِّبِينَ)

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. Ali Imran: 137)

 

3.        Firman Allah :

( لَئِن لَّمْ يَنتَهِ المُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي المَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ

ثُمَّ لاَ يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلا قَلِيلاً * مَلْعُونِينَ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلاً *

سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلُ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلاً )

Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar. Dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya. Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. (QS. al-Ahzab: 60-62)

 

4.        Firman Allah :

( وَلَوْ قَاتَلَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوَلَّوُا الأَدْبَارَ ثُمَّ لاَ يَجِدُونَ وَلِياًّ وَلاَ نَصِيراً *

سُنَّةَ اللَّهِ الَتِي قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلُ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلاً )

 

Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong. Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. (QS. al-Fath: 22-23)

 

Jika diamati, sunnatullah yang disebutkan Al-Qur'an berlaku secara konsisten dan tidak bisa diubah adalah yang berhubungan dengan hukum sosial. Karakteristik ini tidak pernah dilekatkan pada sunnatullah di alam atau yang biasa disebut “hukum alam.” Sebab, wallahu a'lam, hukum alam bisa dilanggar. Sebut saja misalnya hukum gravitasi.

Nabi Ibrahim alaihis salam tidak terbakar dalam api, laut terbelah untuk Nabi Musa alaihis salam, dan bulanpun terbelah untuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Tetapi karena kejadian luar biasa yang melanggar hukum alam ini sangat jarang terjadi, maka hukum alam juga bisa dikategorikan sebagai hukum yang tak dapat diubah.

Pelanggaran hakikatnya terjadi pada sunnatullah yang sudah terbiasa bagi manusia, bukan pada hukum sebab akibat itu sendiri. Karena pelanggaran ini terjadi disebabkan unsur lain yang tidak dikenal sebelumnya. Pada kasus seperti ini biasanya Al-Qur'an tidak menyebut kata sunnah secara ekspilist, tetapi melalui maknanya berupa peringatan akan akibat yang serupa bagi sebab yang sama. Seperti firman Allah:

( أَكُفَّارُكُمْ خَيْرٌ مِّنْ أُولَئِكُمْ أَمْ لَكُم بَرَاءَةٌ فِي الزُّبُرِ )

Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrik) lebih baik dari mereka itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-kitab yang dahulu? (QS. al-Qamar: 43)

 

Begitu juga firman Allah:

( فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَالَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ هَؤُلاءِ

سَيُصِيبُهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَمَا هُم بُمُعْجِزِينَ )

 

Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri. (QS. al-Zumar: 51)

 

Sebagaimana Allah mengingatkan bahwa terulangnya sebab yang sama akan menyebabkan berulangnya peristiwa yang sama, Allah juga memberitahu kita beberapa sebab yang tidak kita ketahui sebelumnya. Allah berfirman:

( وَقَالَ الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ لَوْلا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّثْلَ قَوْلِهِمْ

تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ قَدْ بَيَّنَّا الآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ )

 

Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin. (QS. al-Baqarah: 118)

 

Ayat ini mengindikasikan adanya korelasi antara ucapan lisan dengan kondisi hati. Ketika kondisi hati sama maka cara bicara juga sama, walaupun satu sama lain belum pernah saling ketemu. Sebagaimana Allah berfirman:

( كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلاَّ قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ *

أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ )

 

Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila." Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (QS. al-Dzariyat: 52-53)

 

Benarkah mereka saling berwasiat? Sama sekali tidak. Sebab mereka belum pernah ketemu satu sama lain. Namun hati mereka sama-sama buruk, sehingga perkataan mereka jadi serupa. Korelasi keburukan hati dengan keburukan ucapan inilah yang menyebabkan orang-orang munafik sulit menyembunyikan kebusukan hati mereka.

 Allah berfirman tentang mereka:

  ( وَلَوْ نَشَاءُ لأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ القَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ)

Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka, dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. (QS. Muhammad: 30)

 

Bahkan Al-Qur'an mengajarkan kita bahwa hubungan lahir dan batin ini adalah hukum universal bagi semua manusia.

( وَلَوْ أَرَادُوا الخُرُوجَ لأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِن كَرِهَ اللَّهُ انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ

وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ القَاعِدِينَ)

 

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. al-Taubah: 46)

 

Faedah lain dari ayat ini bahwa ada korelasi antara kemauan dan perbuatan. Barangsiapa mengatakan bahwa dia sangat ingin melakukan sesuatu, sedangkan dia tidak melakukannya walau ia mampu, maka pada hakekatnya dia telah berdusta.

Imam al-Syathibi mengingatkan kita tentang korelasi antara pengetahuan agama yang haq dengan karakter sunnatullah yang tetap dan konsisten. Maksudnya, esensi agama tidak akan dipahami jika sunnatullah di alam tidak bersifat konsisten. Sebab mukjizat dikenal karena ia luar biasa. Tanpa adanya sunnatullah yang tetap dan dikenal biasa, maka tidak ada pula yang keluar dari kebiasaan tersebut.

Dia juga mengingatkan bahwa karakter tetap hukum syariat berangkat dari adanya sifat konsisten pada hukum alam. Artinya, jika sifat dasar manusia dan makhluk alam lainnya terus berubah, maka manusia tidak akan mempunyai hukum dan syariat yang tetap. Sifat tetap syariat dari masa ke masa, dari tempat yang satu ke tempat yang lain, adalah indikasi bahwa sifat dan fitrah mereka yang menerimanya tetap dan tidak berubah, meskipun ada perubahan pada kondisi tertentu yang tidak mempengaruhi hukum  syariat.[1]

Pertanyaan urgen di akhir artikel ini adalah apa korelasi antara sebab dengan Al-Khaliq Subhanahu wa Ta'ala?

Dalam menjawab pertanyaan ini, manusia terbagi tiga kelompok:

Kelompok pertama, beranggapan bahwa sebab memiliki peran langsung melakukan segala hal, maka tidak perlu mencari siapa penciptanya. Mereka melupakan fakta nyata bahwa di alam dunia tidak ada sebab yang berperan dengan sendirinya, melainkan memerlukan bantuan sebab atau syarat lainnya. Maka mungkinkah dia berdiri sendiri?

Kelompok kedua adalah sebagian kaum Mukmin yang berpendapat bahwa efektivitas sebab bertentangan dengan penciptaan Allah. Mereka mengira bahwa jika suatu kejadian dinisbatkan kepada sebabnya, maka tidak mungkin lagi dinisbatkan kepada Allah. Tentang sifat konstan hukum alam yang terjadi, mereka berspekulasi bahwa Allah menciptakan peran padanya, bukan dengannya. Saat saudara melihat daun dilemparkan ke api lalu terbakar, jangan katakan: "api telah membakarnya", tapi katakanlah: "Sesungguhnya Allah membakarnya saat mengenai api."

Kelompok ketiga adalah ahlul haq. Mereka berpaham bahwa Allah Subahanahu wa Ta'ala adalah Pencipta sebab-sebab tersebut dan menjadikannya sebagai sebab kejadian. Efektivitasnya tidak menjadikannya terlepas dari kuasa Allah, tidak pula bertentangan dengan tujuan asal penciptaannya.  Bahkan sebaliknya, Allah menciptakan sesuatu melalui sebabnya. Inilah alasannya dalam mengungkapkan peristiwa-peristiwa alam, Al-Qur'an umumnya menggunakan huruf  ' ب' sababiyah (kausal):

( وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الحَصِيدِ )

Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam. (QS. Qaaf: 9)

 

( وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ )

Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan. (QS. al-An'am: 99)

 

Selain itu, Al-Qur'an juga menggunakan ungkapan lain tentang hukum kausal, tapi artikel ini tidak cukup untuk menjelaskannya.

Kiranya cukup sekian dulu, kita akan lanjutkan pembahasan standar-standar lainnya pada artikel berikutnya.

Wallahu a'lam.


 


[1] Untuk penjelasan terperinci, lihat: Imam al-Syathibi rahimahullah, al-Muwafaqat, Kitab al-Maqashid, bagian IV, masalah ke-13-15. Dia menisbatkan dua argumentasi ini kepada Imam al-Razi rahimahullah dan menganggapnya sebagai argumentasi terbaik.

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir