STANDAR-STANDAR RASIONAL (2): KESAKSIAN INDERAWI

02/07/2012 0:00:00
أ.د. جعفر شيـخ إدريـس Jumlah kali dibaca 1774

STANDAR-STANDAR RASIONAL (2): KESAKSIAN INDERAWI


 

Pada artikel sebelumnya, penulis telah membahas tentang salah satu di antara standar-standar rasional yang disepakati oleh semua manusia. Dengan dimulai dari standar pertama yaitu hukum logika. Artikel kali ini membahas standar logika kedua, yaitu kesaksian panca indera yang akan diuraikan berdasarkan lima poin penting:

Pertama, semua manusia pada dasarnya percaya dengan kesaksian panca indera manusia. Ia percaya pada penglihatan matanya, pendengaran telinganya, perasaan kulitnya, penciuman hidungnya, atau cicipan lidahnya. Namun, pada kondisi tertentu sebagian mereka mengingkari kesaksian inderanya sendiri. Baik itu  karena enggan atau keras kepala.

Penolakan ini bertentangan dengan akal sehat. Makanya Al-Qur'an mencela mereka dalam beberapa ayat, seperti firman Allah:

 

( وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتَاباً فِي قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ لَقَالَ الَّذِينَ  كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلاَّ سِحْرٌ مُّبِينٌ )

Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata." (QS.  al-An'am: 7)

 

Meski demikian, ada juga segelintir intelektual Muslim dan non-muslim yang mengingkari kesaksian indera .

Bacalah tulisan Abu Hamid al-Gazali rahimahullah di awal kitabnya al-Munqiz min al-Dhalalah:

Maka aku mulai mengamati semua yang dapat dirasa, untuk memastikan apakah aku harus meyakininya. Setelah sekian lama mengamati, akhirnya aku semakin meragukannya. Jiwaku bahkan bertanya-tanya, mengapa aku harus meyakini kesaksian inderaku? Penglihatan adalah indera yang paling meragukan. Saat ia melihat bayangan diam, ia memvonisnya diam tak bergerak. Namun sesaat kemudian ia melihat bayangan tersebut berpindah sedikit demi sedikit. Eksperimen dan pengamatan membuktikan ia tidak diam saja. Mata juga melihat bintang-bintang di langit sangat kecil. Tetapi ternyata fakta ilmu ukur membuktikan bahwa bumi lebih kecil daripada bintang-bintang tersebut. Semua perkara konkret ini diputuskan oleh hakim inderawi, sedang hakim akal mendustakannya tanpa terbantahkan. Maka akupun menyimpulkan: batallah  keyakinan pada kesaksian inderawi.

 

         Ada beberapa catatan atas ungkapan Abu Hamid al-Ghazali di atas :

1.        Jika keyakinan kepada semua perkara konkret batal secara mutlak, maka seharusnya bayangan yang dilihat oleh matanya bukanlah bayangan, dan bintang yang ia lihat sebenarnya bukanlah bintang.

2.        Bagaimana penglihatannya mengklaim bahwa bayangan tersebut bergerak? Ia mengatakan eksperimen dan pengamatan adalah buktinya. Bukankah kedua hal ini juga dilakukan oleh indera? Bukankah hal in berarti bahwa indera jugalah yang merevisi kesimpulan awal bahwa bayangan itu tidak bergerak ?

3.        Kesaksian indera juga berpartisipasi dalam penemuan bahwa bintang-bintang di langit berukuran lebih besar daripada ukuran bumi. Semua orang percaya dengan kesaksian indera bahwa semakin jauh jarak sebuah benda maka ia akan tampak semakin kecil. Mereka menemukan adanya relasi antara jarak jauh dan besar penampakan sebuah benda.

4.        Bila dikatakan, bukankah semua hal di atas ditentukan oleh akal? Maka jawabnya, benar. Tapi bukankah akal bekerjasama dengan indera? Mampukah akal bekerja sendiri tanpa bantuan indera?

Kedua, bagi seorang Muslim, percaya pada kesaksian indera adalah bagian dari agama dan sejalan dengan akal sehatnya.

Ada beberapa ushul (masalah prinsip) dalam Islam yang tidak bisa diimani atau diimplementasikan secara sempurna tanpa pengakuan terhadap validitas pengamatan alat indera. Al-Qur'an tidak bisa diteliti tanpa dilihat atau didengar, dan keduanya adalah hasil indera. Begitu pula dengan ilmu lainnya. Waktu pelaksanaan ibadah shalat, puasa, dan haji juga bergantung pada kesaksian alat indera kita.

Maka seorang Muslim tidak boleh mengingkari fakta ilmiah yang kebenarannya dikuatkan oleh panca indera. Saya sebut fakta, sebab fakta berbeda dengan teori. Contoh fakta ilmiah adalah bahwa bentuk bumi bulat seperti bola, dan contoh teori adalah teori Darwin.

Ketiga, kita harus akui bahwa panca indera tidak memberikan pengetahuan sempurna tentang sesuatu. Ia hanya membuktikan kebenarannya dari sisi tertentu. Meski demikian, kesaksian tersebut cukup menjadi landasan bagi kita dalam menjalankan kepentingan agama maupun dunia.

Ambil satu contoh berikut. Dengan bantuan perangkat canggih modern kita dapat mengetahui bahwa benda padat esensinya tidak sepadat yang kita lihat. Ia merupakan rangkaian molekul-molekul padat yang diselang-selingi oleh ruang kosong. Begitu pula halnya benda cair yang kita lihat.

Fakta ilmiah juga membuktikan saat kita menyaksikan matahari terbit atau terbenam. Sebenarnya hal itu telah terjadi delapan menit sebelumnya. Bahkan para ilmuan mengklaim bahwa bintang-bintang yang kita lihat suatu malam telah pecah ribuan tahun lalu. Sebab kita melihat sesuatu setelah cahayanya terpantul ke mata kita, sedangkan benda-benda antariksa berjarak ribuan juta mil dari bumi. Maka pantulan cahayanya baru sampai ke mata kita setelah lewat ribuan tahun saat bintang tersebut sudah mati.

 Akan tetapi, dalam akivitas duniawi dan agama kita berpedoman pada perkara nyata yang kita saksikan, seperti dalam menetapkan waktu shalat, puasa, dan haji. Dalam hal ini, kita tidak berpedoman pada fakta astronomi yang diungkapkan oleh para astronom.

Dalam sebuah seminar di Inggris, seorang pemuda bertanya kepada saya tentang klaim seorang intelek bahwa ada ajaran Islam yang bertentangan dengan fakta ilmiah. Ia mencontohkan dengan persepsi bahwa matahari bergerak dan bumi diam. Sebab kita mengajarkan waktu zhuhur adalah saat matahari berada di tengah-tengah langit.

Saya katakan padanya, bukankah dalam surat kabar lokal kalian juga dicantumkan waktu terbit dan terbenamnya matahari? Jika konsisten dengan fakta astronomi, maka mereka tidak boleh berbicara tentang waktu terbit dan terbenam. Sebab jika mereka percaya bahwa matahari tak bergerak, bagaimana mungkin dia bisa terbit dan terbenam? Saya juga mengingatkannya bahwa para ilmuan sendiri mengistilahkannya dengan gerakan virtual matahari, gerakan nyata inilah yang menjadi pedoman aktivitas kita sehari-hari.

Keempat, ketidakmampuan manusia melihat hakikat sebenarnya segala sesuatu adalah bagian dari rahmat Allah terhadap hamba-Nya. Renungkanlah misalnya firman Allah berikut:

 

) إِذْ يُرِيكَهُمُ اللَّهُ فِي مَنَامِكَ قَلِيلاً وَلَوْ أَرَاكَهُمْ كَثِيراً لَّفَشِلْتُمْ وَلَتَنَازَعْتُمْ فِي الأَمْرِ وَلَكِنَّ اللَّهَ سَلَّمَ

إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ * وَإِذْ يُرِيكُمُوهُمْ إِذِ التَقَيْتُمْ فِي أَعْيُنِكُمْ قَلِيلاً وَيُقَلِّلُكُمْ فِي أَعْيُنِهِمْ

لِيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْراً كَانَ مَفْعُولاً وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الأُمُورُ  (

 

(Yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu kamu menjadi gemetar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumlah dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. (QS. al-Anfal: 43-44)

 

Baca juga firman Allah :

( قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ التَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُم مِّثْلَيْهِمْ رَأْيَ العَيْنِ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَن يَشَاءُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لأُوْلِي الأَبْصَارِ )

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslim dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendakinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (QS. Ali Imran: 13)

 

Kelima, sebagian golongan yang tidak mengimani wujud Allah berargumen bahwa mereka tidak mempercayai sesuatu yang tidak terlihat. “Mereka berkata: ‘Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata." (QS. al-Nisa': 153)

Pendukung mereka kini mengklaim bahwa prinsip ini berlandaskan metode ilmiah. Mereka dusta, sebab bila mereka konsisten mereka seharusnya tidak boleh mempercayai peristiwa-peristiwa sejarah lampau, begitu pula tempat-tempat jauh yang tidak terlihat oleh mata mereka.

Bahkan mereka juga seharusnya mengadopsi aliran kaum Filsuf yang menyatakan bahwa mereka mempercayai benda yang mereka lihat selama mereka melihatnya, sebab tidak ada jaminan benda itu masih ada saat mata berkedip atau berpaling ke arah lain.

Sebagian yang lain menyangka bahwa indera tidak mampu mendeteksi selain benda  bersifat materi. Atas dasar itulah mereka mengingkari bahwa Allah dapat dilihat (di akhirat). Sebab Allah tidak menyerupai sesuatu apa pun, maka bagaimana mata dapat melihat sesuatu yang tidak bersifat materi?

Persepsi ini salah dengan beberapa alasan:

  1. Dapat dilihatnya makhluk alam tidak menafikan terlihatnya materi lain yang berbeda dengannya. Harus dapat dibedakan antara ungkapan: makhluk jenis ini dapat dilihat; dengan ungkapan: hanya makhluk jenis itulah yang dapat dilihat.

2.      Banyak makhluk yang sebelumnya tidak terlihat, namun saat ini kita dapat melihatnya. Dengan bantuan teleskop kita bisa melihat benda yang sangat jauh dan dengan mikroskop benda-benda mikro dapat terlihat jelas; sedangkan benda-benda tersebut tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Jika kita menggunakan prinsip mereka, maka kita menyimpulkan bahwa benda-benda tersebut mustahil terlihat, sebab yang terlihat hanyalah yang dapat dilihat oleh kedua mata.

3.      Memang benar kita tidak melihat Allah Subhanahu wa Ta'ala di dunia. Sebab saat Nabi Musa alaihis salam meminta :

(  رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ )

"Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." (QS. al-A'raf: 143)

Allah berfirman kepadanya :

( قَالَ لَن تَرَانِي )

"Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku” (QS. al-A'raf: 143)

Akan tetapi dalam ayat lain Allah menceritakan tentang orang-orang beriman di akhirat kelak:

( وَجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ * إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ )

“Wajah-wajah (orang-orang Mu'min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat.” (QS. al-Qiyamah: 22-23)

Ayat-ayat ini mengindikasikan bahwa kita tidak bisa melihat Allah Ta'ala di dunia disebabkan keterbatasan mata kita, bukan karena sifat Dzat Allah Ta'ala. Karena Dzat Allah tidak berubah, namun sifat indera kitalah yang berubah.

Terbatasnya kemampuan kita melihat benda-benda jauh dan benda mikro bukan disebabkan sifat benda-benda tersebut. Sebabnya adalah kondisi mata kita. Setelah kita menggunakan alat-alat modern, kita dapat melihatnya dengan jelas. Begitu pula kondisi penghuni surge. Mereka berubah menjadi makhluk baru yang mengonsumsi makanan tetapi tidak membuang kotoran dan banyak bergerak namun tidak lelah. Indera mereka juga berubah, sehingga dapat melihat Dzat yang sebelumnya tidak dapat dilihat di dunia.

Keenam, sebagian tokoh Filsuf kontemporer meniru ungkapan ulama Ahlus Sunnah yang dulunya mereka tujukan kepada Jahmiyah dan yang sealiran dengan mereka dalam menyikapi sifat-sifat Allah. Ulama Ahlus Sunnah mengatakan kepada mereka, "Kalian menyembah sesuatu yang tidak ada." Sedangkan Filsuf zaman ini berkata, "Semua yang tidak dapat disaksikan dengan cara bagaimanapun berarti tidak ada." Persepsi peniadaan terhadap sifat Allah inilah yang mendorong banyak orang Barat menjadi atheis. Kaum atheis berkata kepada kaum Mu’min: "(Sesembahan) apa yang kalian maksud? ia tidak bisa dilihat dengan mata, didengar dengan telinga, dan tidak dapat dirasakan?"

Imam Ahmad rahimahullah menulis ungkapan yang sangat berharga di awal kitabnya al-Radd 'ala al-Zanadiqah wa al-Jahamiyah tentang sebab musabbab melencengnya sikap dan pandangan pengikut sekte Jahamiyah terhadap sifat-sifat Allah Ta'ala.

Dia menulis:

Di antara cerita yang sampai kepada kami tentang Jahm (pendiri sekte Jahmiyah) bahwa dia berasal dari Tirmidz distrik Khurasan. Ia terkenal suka berdebat dan banyak bicara, khususnya hal-hal yang berhubungan dengan Allah Ta'ala. Pada suatu ketika ia bertemu dengan orang-orang musyrik berjulukan al-Sumniyah. Setelah mereka mengenal Jahm, mereka menantangnya berdebat dan berjanji: “Bila kau menang berargumen, kami akan pindah ke agamamu. Tapi bila kau kalah, kau harus pindah ke agama kami.”

Dalam dialog tersebut mereka berkata: “Bukankah kau mengklaim punya Tuhan?”

Jahm menjawab: “Benar.”

Sumniyah: “Bisakah kau melihat-Nya atau mendengar ucapan-Nya?”

Jahm: “Tidak.”

Sumniyah: “Apakah kau mencium bau, atau merasakan-Nya?”

Jahm: “Tidak.”

Sumniyah: “Lalu, bagaimana kau yakin bahwa Dia adalah Tuhan?”

Jahm terdiam dan bingung tentang esensi sesuatu yang telah ia sembah sejak 40 tahun lalu. Tetapi dengan sigap ia membalik  argumen mereka.

Ia berkata kepada pemimpin Sumniyah: “Bukankah kau mengklaim punya roh?”

Sumniyah menjawab: “Benar.”

Jahm: “Apakah kau dapat melihatnya atau mendengar perkataannya?”

Sumni: “Tidak.”

Jahm: “Apakah kau mencium aroma atau merasakannya?”

Sumni: “Tidak.”

Jahm: “Begitu jugalah dengan Allah, wajah-Nya tak terlihat, suara-Nya tak terdengar, bau-Nya tak tercium, Dia tersembunyi dari penglihatan . . . .”

 

Tulis Imam Ahmad selanjutnya:

 

Bila ditanyakan pendapat Jahmiyah tentang firman Allah:

(  لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ )

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia." (QS. al-Syura: 11)

Mereka akan menjawab: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dari segala yang ada. Dia berada di bawah lapisan bumi ketujuh sebagaimana Dia di atas 'Arsy, Dia berada di segala tempat, tidak berbicara dan tidak bisa diajak bicara, tidak dapat dilihat di dunia, tidak pula di akhirat, dst.

 

Imam Ahmad berkata kepada mereka: "Apakah Allah itu sesuatu?"

Mereka menjawab: "Dia sesuatu, tetapi tidak seperti segala sesuatu."

Imam Ahmad berkata lagi: "Menurut orang-orang berakal, sesuatu yang sama sekali tidak menyerupai segala sesuatu sebenarnya tidak ada."

 

Penulis telah berbicara pada edisi yang lalu tentang salah satu di antara standar-standar yang disepakati oleh semua orang yang berakal: hukum-hukum logika.

 

_______________

*Rektor Universitas Amerika Terbuka.

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir