(STUDI KRITIS TERHADAP DASAR-DASAR IDEOLOGI LIBERAL BARAT (Bag. II

02/07/2012 0:00:00
أ.د. جعفر شيـخ إدريـس Jumlah kali dibaca 1656

(STUDI KRITIS TERHADAP DASAR-DASAR IDEOLOGI LIBERAL BARAT (Bag. II


 

Pada tulisan sebelumnya, kami telah menegaskan bahwa kebebasan adalah satu-satunya prinsip yang disepakati oleh hampir seluruh aktivis Liberal, namun mereka berbeda pada hampir semua prinsip selainnya.

Jika ada orang  mengklaim bahwa pada dasarnya setiap manusia itu bebas. Maka timbul pertanyaan: apa sebenarnya maksud ungkapan tersebut?

Kebebasan yang acap kali diperbincangkan pada dasarnya ada tiga macam, yaitu: kebebasan i'tiqad (berkeyakinan), kebebasan ta'bir (berekspresi), dan kebebasan 'amal (berkarya).

 

Kebebasan I'tiqad (Berkeyakinan)

Secara fitrah, kebebasan ini ada pada diri setiap manusia, jadi tidak perlu lagi didakwahkan kepada mereka. Maksudnya adalah bahwa setiap orang bebas meyakini apa saja yang ia kehendaki, tanpa ada pihak selain Allah yang mampu mengetahui secara pasti keyakinan seseorang atau memaksanya meyakini sesuatu yang tidak ia inginkan.

Ketika mereka mengeritik sanksi atas perbuatan murtad dan menganggapnya sebagai bentuk pelanggaran terhadap kebebasan individu, maka esensinya mereka telah keliru dalam persepsi atau ekspresi. Sebab, hukuman tersebut bukanlah sanksi atas sebuah keyakinan. Buktinya, banyak orang munafik yang menampakkan kebalikan dari keyakinan yang mereka sembunyikan dan mereka tidak dijatuhi hukuman. Sanksi tersebut disebabkan oleh ekspresi terhadap ideologi tertentu yang mengindikasikan kemurtadan.

Meskipun demikian, pada hakikatnya kebebasan ini juga dibatasi oleh pengetahuan setiap individu. Karena pengetahuan manusia terbatas, maka kebebasannya berkeyakinan juga terbatas. Sebab mustahil kiranya seseorang meyakini sesuatu yang tidak ia ketahui.

 

Kebebasan Ta'bir (Berekspresi) dan 'Amal (Berkarya)

Tidak diragukan lagi bahwa kedua kebebasan ini terbatas. Manusia tidak bisa seenaknya mengatakan atau melakukan apa saja yang ia sukai. Hanya Allah Yang Maha Esalah yang Maha Kuasa melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Sedangkan manusia menghendaki sesuatu yang tidak akan terjadi; dan terjadi padanya apa yang tidak ia kehendaki.

Semua manusia sepakat bahwa kebebasan mereka dibatasi oleh berbagai macam faktor, seperti struktur fisik, sehingga manusia tidak bisa berjalan atau berlari kecuali dalam jarak tertentu; manusia juga sakit dan mati. Dalam semua kondisi, kebebasannya dibatasi oleh hukum-hukum yang ditetapkan Allah bagi alam semesta.

Teori kontrak sosial juga mengakui bahwa tranformasi tatanan masyarakat zaman dulu dari kehidupan individualistis menuju kehidupan sosialis disebabkan banyaknya kebutuhan yang ia perlukan dalam kehidupannya, dan ia tidak mampu meraihnya kecuali dengan bekerjasama dengan orang lain.

Itu berarti bahwa berbicara tentang kebebasan sesungguhnya berbicara tentang apa saja yang dapat diyakini, dikatakan, atau dilakukan oleh manusia. Bolehkah kita mengatakan: demi kebaikan manusia, maka ia bebas meyakini, mengatakan, dan melakukan apa saja yang ia sukai? Mungkin para aktivis liberal akan menjawab: ya,  dengan alasan bahwa setiap orang lebih mengetahui kebutuhan peribadinya. Maka tidak pantas bagi orang lain memaksanya memilih apa yang tidak ia senangi.

Tapi, benarkah setiap orang tahu tentang apa saja yang bermanfaat dan berbahaya baginya?

Faktanya, kondisi nyata manusia membantah premis ini. Andai setiap orang mengetahui apa saja yang bermanfaat baginya dan apa saja yang membahayakannya, maka pasti pengetahuan tersebut sudah menjadi fitrah yang setia bersamanya selama ia hidup. Tetapi realitasnya pandangan seseorang terhadap segala hal yang bermanfaat atau berbahaya baginya selalu berubah, seiring dengan ilmu yang diperoleh dan pengalaman yang ia lalui. Acap kali seseorang melakukan sesuatu hari ini, dan keesokannya ia menyesalinya. Oleh sebab itu, Allah berfirman:

﴿ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لا تَعْلَمُونَ [البقرة: 216].

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216)

Bila kebebasan berbicara atau berbuat seenaknya bukanlah merupakan maslahat bagi individu, maka apakah ada maslahat bagi masyarakat dalam memberikan kebebasan tersebut kepada setiap orang? Jika kemudian mereka ingin membuat batasan, maka apa wewenang mereka dan apakah yang akan mereka jadikan landasannya?

Pada tahun 1985, John Stuart Mill (1806–1873 M), seorang filsuf dan ekonom Inggris menulis sebuah buku kecil sebagai usaha untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan di atas. Beberapa sumber mengakui bahwa berbagai argumentasi yang disodorkan Mill dalam bukunya menjadi referensi utama aktivis liberal zaman ini dalam membela proyek kebebasan berekspresi dan berdialog yang mereka perjuangkan.[1]

Tentunya artikel singkat  ini tidak cukup untuk memaparkan evaluasi detail penulis terhadap berbagai pemikiran Mill. Namun, penulis akan mengetengahkan beberapa catatan singkat pada bagian-bagian terpenting dari pemikiran Mill. Semoga  bermanfaat.

Dalam mempertahankan kebebasan berdialog, Mill membangun teorinya di atas tujuan yang tepat, yaitu membela kebenaran. Ia menyatakan bahwa kebenaran bisa saja terdapat pada golongan mayoritas, dan bisa pula pada golongan minoritas, atau sebagian terdapat pada golongan ini dan sebagian lagi ada pada golongan yang lain. Ia mengklaim bahwa dengan dibukanya pintu dialog dan dihilangkannya tekanan pada pihak oposisi maka kebenaran akan menang pada ketiga kondisi tersebut.

Pada kondisi pertama, sudah seharusnya kaum mayoritas memberikan peluang kepada para oposisi untuk tetap mempertahankan kebenaran yang mereka yakini. Jika tidak, maka mereka akan lupa alasan-alasan yang mendorong mereka berpegang pada pemikiran tersebut. Dan tidak ada kebaikan pada ideologi yang tidak diketahui argumentasinya.

Pada kondisi kedua, yakni saat kebenaran bersama kaum minoritas; sudah menjadi maslahat kaum mayoritas untuk tetap memberi kaum minoritas kebebasan berekspresi dan membela ideologinya. Dan manfaatnya akan kembali kepada kaum mayoritas juga, sebab inilah satu-satunya jalan bagi mereka untuk mengetahui kebenaran.

Sedangkan pada kondisi ketiga, maka alasannya cukup jelas. Sebab, kedua belah pihak sama-sama memperoleh manfaat dari pihak lain, yaitu dengan mengetahui kebenaran yang luput darinya.

Akan tetapi, dalam membela kebebasan berekspresi dan berdialog, Mill mempunyai argumentasi lain yang ditolak oleh mayoritas intelektual Barat, walaupun masih cukup berpengaruh dalam pemikiran dunia Barat. Argumentasi tersebut adalah bahwa manusia tidak mungkin bisa meyakini penuh kebenaran dari ideologi apa pun yang ia pegang. Para penentangnya menolak pendapat ini dengan mengemukakan fakta-fakta matematis dan logis yang nyata.

Mill mengakui bahwa kebebasan tidak mungkin bersifat mutlak. Dan tidak ada satu kelompok manusia hidup bersama kecuali membuat batasan-batasan dalam berekspresi. Kemudian, ia menyatakan bahwa satu-satunya batasan yang harus diterapkan atas kebebasan adalah batasan “tidak merugikan/membahayakan.” Artinya, setiap ekspresi yang merugikan pihak lain wajib ditolak. Ekspresi dalam pemahaman kaum Barat mencakup semua bentuk seni, baik seni lukis, ukir, puisi, lagu, musik, maupun bentuk seni lainnya.

Para pengeritik Mill mengajukan dua pertanyaan, dan dalam hal ini kita sepakat dengan mereka, apakah batasan tidak merugikan saja sudah dianggap cukup? Dan apa esensi kerugian yang dijadikan batasan itu?

Kita sama-sama tahu bahwa kerugian itu bermacam-macam. Ada kerugian materil yang semua orang sepakat akan dampak negatifnya. Namun, seseorang tidak serta merta dapat mengetahuinya, bahkan masyarakat juga tidak menyadarinya sampai benar-benar nyata. Kerugian tersebut baru dirasakan setelah waktu yang lama. Sedangkan kerugian-kerugian lainnya tergantung pada standar yang dijadikan masyarakat sebagai ukuran manfaat dan mudarat. Sementara standar tersebut koheren dengan ideologi masing-masing. Dalam Islam, misalnya, ada beberapa bentuk ekspresi yang dilarang karena ia menyeru pada perkara batil dan asusila, atau dapat melalaikan manusia dari dzikrullah, yang akhirnya akan merugikan kehidupan akhirat mereka, seperti firman Allah:

﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْـحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا

أُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ . [لقمان: ٦].

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)

Penulis artikel yang pernah penulis singgung sebelumnya, menyebutkan bahwa pada tahun 1977 M, Inggris membentuk komite khusus yang bertugas menyebarkan foto-toto erotis, asusila, dan kekerasan melalui berbagai media massa. Komite ini mengklaim bahwa tidak ada kerugian atau bahaya dari  mengekspresikan kecabulan atau pornografi. Sebaliknya, mereka juga tidak memiliki bukti keamanannya.

Kenyataannya, komite tersebut berpijak pada standar lain yang tidak disebutkan oleh Mill. Yaitu provokasi terhadap perasaan manusia. Ekspresi ini menurut mereka memang menjijikkan bagi orang banyak, meskipun  mereka tidak melarangnya, namun mereka merekomendasikan agar dibuat batasan bagi kebebasan ekspresi ini. Yaitu dengan tidak menjualnya secara bebas di tempat-tempat umum sebagaimana buku dan majalah lainnya. Dan hanya boleh dipasarkan di tempat khusus dan tertutup.

Sudah pasti bahwa keputusan seperti ini berangkat dari ideologi dan moralitas  yang dimiliki oleh anggota komite ini. Jika seorang penganut liberal beranggapan bahwa ia harus mengikuti semua pendapat mereka, karena keliberalannya, maka tindakan ini adalah taklid buta dan kebodohan yang nyata. Karena ideologi dan nilai-nilai etikanya jauh berbeda dengan para pengusung pemikiran tersebut. Cobalah bandingkan  hasil yang dicapai oleh komite Inggris di atas dengan firman Allah berikut ini:

﴿ لا يُحِبُّ اللَّهُ الْـجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إلاَّ مَن ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا [النساء: 148]

“Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang, kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Nisa': 148)

Penerimaan terhadap batasan bagi kebebasan berekspresi merupakan indikasi bahwa berekspresi bukanlah merupakan ghayah (tujuan), tapi wasilah (sarana). Jika ia mengantarkan kepada hal yang baik, maka dia baik. Sebaliknya, jika ia mengantarkan kepada kerugian dan keburukan maka dia adalah buruk.

Mill juga telah mengakui bahwa batasan yang dibuat atas kebebasan berekspresi tidak selalu berbentuk undang-undang yang pelanggarnya akan dikenakan sanksi tapi ia dapat berbentuk aturan sosial masyarakat yang bisa benar bisa juga salah.

Makanya, dalam Islam kita dituntut mengajak segenap manusia menggunakan hak berekspresi untuk membela kebenaran dan menghancurkan kebatilan. Dengan menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar. Sebab eskspresi adalah sarana agar setiap orang dapat menyampaikan kebaikan atau diam.

Akhirnya, kita sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada istilah kebebasan mutlak, baik dalam berekspresi maupun dalam hal lain. Berekspresi harus memiliki batasan, yaitu jika ekspresi tersebut mendatangkan kebaikan bagi manusia maka ia dibolehkan. Dan jika mendatangkan keburukan dan kerugian maka ia harus dilarang. Semua batasan-batasan ini tidak harus memiliki kekuatan hukum beserta sanksi bagi pelanggarnya. Tapi batasan sosial yang diprakarsai sebagian orang sebagai wakil dari masyarakat umum. Semakin banyak jumlah mereka, maka semakin besar maslahat yang akan diperoleh oleh masyarakat.

Maka kitapun sampai kepada kebenaran yang nyata yaitu: manusia wajib mempunyai petunjuk ilahiyah yang membimbing mereka kepada semua hal bermanfaat dan mencegah mereka dari semua perkara buruk lagi merugikan.

Hanya Allah saja Maha Pemberi taufik dan petunjuk menuju jalan yang lurus.

 


 


[1].  Mill on Freedom of Discussion Richmond Journal of Philosophy 5 (Autumn 2003 (Will Cartwright. 

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir