Pengobatan Berbasis Energi dalam Timbangan Aqidah Islam

26/05/2015 0:00:00
فوز بنت عبداللطيف كردي Jumlah kali dibaca 768

Pengobatan Berbasis Energi dalam Timbangan Aqidah Islam


Fawz binti Abd al-Lathif Kurdi

Terdapat sebuah fenomena yang menarik bagi yang mengamati perkembangan pemikiran kontemporer, yaitu penetrasi keyakinan dan prinsip-prinsip filsafat spiritual Timur. Penetrasi tersebut berlangsung dengan pola penyebaran yang telah diformat agar sesuai dengan budaya dan gaya hidup modern. Kandungan dan aplikasi praktisnya juga disesuaikan dengan kampanye globalisasi, keterbukaan informasi, dan persaudaraan humanis.

Metode yang paling menyolok dalam penyebaran prinsip-prinsip filsafat dan doktrin agama Timur saat ini adalah program-program yang berbasis workshop pengembangan diri dan pengobatan. Dalam program-program tersebut, pendekatan esoteris (batiniah) disajikan dengan menyamarkan konten agama Timur yang dikandungnya. Apalagi karena aplikasi praktisnya yang tampak memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sejalan dengan aspirasi umum mengenai kebutuhan terhadap kesehatan, yang notabene merupakan isu kontemporer sebagai dampak dari krisis lingkungan dan industrialisasi; dan kebahagiaan. Kemajuan teknologi informasi yang memungkinkan penyebaran dan akses cepat terhadap berita dan atau rumor tentang perang, bencana dan wabah penyakit; juga memberi saham dalam meningkatkan perasaan takut dan kecemasan sebagian kalangan masyarakat. Hal ini mendorong banyak anggota masyarakat untuk menerima setiap program dan ajaran yang ditawarkan, dalam rangka peningkatan derajat kesehatan, sebelum memastikan kebenaran dan efektifitasnya.

Karena itu, sesungguhnya peran para ahli di bidang kedokteran maupun aliran pemikiran dan aqidah dalam upaya untuk meneliti kandungan ajaran dan pemikiran yang disebarkan kepada masyarakat umum dalam bentuk program pelatihan atau pengobatan sangat diperlukan. Mereka diharapkan tampil menjelaskan fakta dan kebenaran menganai manfaat atau risikonya.

Artikel ini berusaha untuk memberikan gambaran dari dalam mengenai program terapi energi yang telah menyebar dan berkembang begitu jauh dalam beragam aplikasi ke dalam masyarakat Muslim saat ini. Beberapa bentuk penerapan praktis metode terapi energi antara lain metode “makrobiotik” dalam diet, “Feng shui” dalam pengaturan tata ruang, dan Reiki” dalam pengobatan. Meskipun disajikan dalam beragam aplikasi dan nama, namun semuanya berasal dari filsafat Timur yang berakar pada doktrin panteisme (wihdatul wujud/kesatuan eksistensi). 
PENYEBARAN FILSAFAT TIMUR DI BARAT DI ERA KONTEMPORER 
Kemajuan pesat dalam teknologi informasi dan komunikasi yang didukung oleh keterbukaan terhadap budaya Timur berpengaruh besar pada cepatnya penyebaran filsafat, doktrin paganisme, dan ritual agama Timur kepada masyarakat dunia. Karena mendapat tempat di masyarakat Barat yang secara psikokultural dominan, ajaran Timur ini seperti mendapatkan ‘promosi gratis’ untuk tampil secara global.  

Dari pihak kalangan Barat sendiri, besarnya antusiasme terhadap metode spiritual Timur karena pengalaman traumatis mereka berupa konflik tajam antara agama, yang notabene telah mengalami deviasi, dengan ilmu pengetahuan ilmiah modern. Kalangan ini diam-diam memendam trauma panjang dikhotomi antara ilmu pengetahuan dan agama. Akibatnya, kelompok yang kemudian disebut sebagai ‘guru spiritual’ yang berasal dari India dan Tibet segera mendapat penerimaan yang luas di Barat.  Kelompok ‘guru’ inilah yang menyebar dan mempromosikan agama Timur mereka di Amerika dan Eropa dalam bentuk beragam praktik spiritual. Setelah gelombang gerakan pengajaran tersebut sukses, terbentuklah kelompok-kelompok praktisi spiritual Timur di dalam masyarakat Barat.

SEKILAS MENGENAI GERAKAN SPIRITUAL DI BARAT

Pada tahun enam puluhan Miladiyah, klub-klub spiritual yang terorganisir mulai muncul di Barat. Salah satu yang paling menonjol dari gerakan ini ialah Human Potential Movement yang beranggotakan para filosof dan ilmuwan Barat dari beragam disiplin ilmu pengetahuan. Mereka berkumpul atas dasar keyakinan yang sama mengenai adanya potensi laten pada diri manusia yang melebihi kemampuan yang telah diketahui selama ini. Mereka juga meyakini keharusan adanya upaya untuk mempromosikan dan membebaskan potensi tersebut kepada masyarakat umum sehingga dapat digunakan dalam pelbagai aspek kehidupan.

Salah satu tujuan utama dari pergerakan ini adalah melakukan penelitian mengenai potensi tersebut dan mereformulasikan ritual yang dibutuhkan untuk memperolehnya dalam bentuk yang sesuai dengan era kemajuan sains. Gerakan ini sengaja menonjolkan netralitas agama dari ajaran paham mereka dan mengklaim bahwa praktik yang mereka desain dan ajarkan cocok dengan semua agama dan keyakinan yang berbeda. Ajaran ini tidak eksklusif bagi para penganut agama dan filsafat Timur, meskipun sumbernya dari Timur.

Hasil studi dan formulasi tersebut kemudian disajikan dalam pelbagai program ‘pengembangan potensi manusia’. Kegiatan-kegiatan ini mengajarkan aplikasi praktis dari pemikiran yang diambil dari filsafat Timur dan pelbagai kepercayaan pagan. Beragam program tersebut disebarkan kepada masyarakat umum dengan tujuan agar mereka dapat menemukan kapasitas  maksimum manusia, membebaskan dan memanfaatkannya secara maksimal. Pembawa program ini mengklaim ingin agar manusia dapat menikmati kemampuan ilmiah dan pengaruh sehingga mencapai cita-cita kebahagiaan yang diinginkan.

Komunitas ilmiah yang mengikuti pelbagai program ini di Barat dan terpengaruh dengan ajaran agama-agama Timur sampai menganggap bahwa penganut agama Budha sebagai contoh ideal manusia-manusia yang terbebaskan kapasitasnya. Seruan untuk merevitalisasi sisi kehidupan spiritual di Barat jelas berpengaruh besar terhadap penerimaan kegiatan-kegiatan tersebut di masyarakat. Sedemikian jauh hingga terbentuk pusat-pusat dan lembaga-lembaga yang bertujuan untuk meneliti rahasia potensi kekuatan yang dimiliki oleh spiritualisme Timur, dan kemungkinan untuk memahami dan merumuskan bentuk yang dapat diterima di kalangan masyarakat umum dari pelbagai agama.

Di antara yang paling menonjol dari lembaga-lembaga ini adalah Esalen Institute.1 Lembaga ini merupakan pusat pengembangan pemikiran spiritual Timur yang bertujuan untuk menggabungkan filsafat Timur dan psikologi humanistik ala Barat. Lembaga ini melakukan penelitian terhadap praktik ritual Timur sebagai upaya untuk menemukan rahasia dan kemungkinan penyebarannya kepada masyarakat umum.

Dari rahim Esalen Institute New Age Movement’ terlahir. Gerakan ini ditujukan untuk menyebarluaskan pemikiran filsafat spiritual dan beragam aplikasi praktisnya kepada masyarakat.  Gerakan ini mengklaim sebagai awal dari era baru manusia yang telah menemukan kapasitas maksimal dirinya. Menurut gerakan ini, kapasitas tersebut mandiri dan bebas dari luar dirinya, termasuk Tuhan yang selama ini diajarkan oleh agama-agama samawi.

New Age Movement telah merancang puluhan program pelatihan dan pengobatan yang diambil dari agama Timur, berupa doktrin dan ritual agama pagan, lalu disebarluaskan dengan nama pengembangan potensi manusia’ atau ‘pengembangan pribadi’. Program-program ini, di samping  dipromosikan, juga terus dikembangkan kualitas maupun kuantitasnya melebihi program sebelumnya. Program-program tersebut awalnya tersebar luas di Amerika kemudian ke Eropa dan seterusnya hingga menyapu dunia Arab dan Muslim. Fenomena terakhir ini terjadi terutama setelah program-program tersebut diikuti oleh kalangan trainer Muslim terdidik yang kemudian mengadopsi dan mengadaptasikannya dengan agama Islam dengan klaim Islamisasi ilmu pengetahuan (!).

Perlu dicatat bahwa ‘pengembangan potensi manusia’ adalah istilah yang memang menarik perhatian. Istilah tersebut umum mencakup pengembangan keterampilan secara keseluruhan, berupa pengembangan pribadi dan sejenisnya yang merupakan tuntuntan kemajuan yang tentu saja diinginkan oleh semua orang tanpa membedakan agamanya. Keterampilan yang dibutuhkan sebagai sarana untuk dapat meraih kesuksesan dalam hidup.

Identik dengan nama program di atas adalah program ‘pengembangan sumber daya manusiayang mendapatkan perhatian publik dunia, baik di tingkat negara maupun lembaga. Program ini disajikan dalam bentuk beragam kegiatan ilmiah dan pelatihan yang bermanfaat. Aspek yang disajikan ada yang berhubungan dengan administrasi, seperti perencanaan, penetapan tujuan dan manajemen waktu; atau yang berhubungan dengan aspek sosial; semisal pelatihan pendidikan anak dan keharmonisan dalam rumah tangga. Disajikan juga keterampilan khusus yang terkait, seperti: seni bernegosiasi, keterampilan komunikasi dan mengemukakan pendapat, atau kursus bahasa, komputer, dll. Aspek lain yang disajikan adalah aspek psikologis, seperti program motivasi, meringankan tekanan mental pekerjaan, dan sejenisnya. Semua program tadi dianggap bermanfaat bagi pengembangan organisasi secara berkelanjutan dan menyeluruh. Pelaksanaan program-program tersebut diupayakan dengan serius untuk kemudian dilatihkan di lembaga-lembaga publik, pendidikan tinggi dan yang lainnya di seluruh dunia.

Kemiripan istilah kedua program di atas memengaruhi percampuran persepsi antara kegiatan ‘pengembangan potensi manusia’ secara spiritual dengan ‘pengembangan sumber daya manusia’ yang berdasarkan pengetahuan eksperimental yang objektif. Percampuran persepsi ini terjadi baik kepada individu atau organisasi. Apalagi, program pelatihan semacam ini telah menjadi lahan bisnis yang cepat berkembang dan dipasarkan secara bebas yang semata bertumpu pada kekuatan iklan dan popularitas pembicara atau trainer.

Padahal, terdapat perbedaan besar antara program ‘pengembangan potensi manusia dan program ‘pengembangan sumber daya manusia’, baik dalam hal konten, output, dan tujuan. Program ‘pengembangan sumber daya manusia’ adalah program yang dihasilkan oleh peradaban Barat yang berfokus pada potensi pikiran, waktu dan ilmu pengetahuan. Sementara program ‘pengembangan potensi manusia’ adalah program yang dihasilkan oleh pemikiran Barat yang terpengaruh oleh filsafat Timur yang memandang manusia sebagai makhluk spiritual yang kekuatannya terperangkap oleh tubuh fisiknya. Untuk membebaskan kekuatan tersebut, seseorang harus melakukan program olah spiritual yang akan mengangkatnya menuju tingkat ‘insan kamil’ atau manusia paripurna versi transendentalisme.

METODE TERAPI ENERGI

Peningkatan minat publik terhadap aspek kesehatan dan pengobatan alternatif dengan beragam aplikasinya di seluruh dunia membentuk semacam perangkap semu bagi mereka yang merasa khawatir secara berlebihan terhadap kesehatan mereka; kondisi yang juga dipengaruhi oleh penyebaran epidemi penyakit dan peningkatan polusi industri di banyak belahan dunia. Kalangan ini juga berasal dari mereka yang ingin melepaskan diri dari pengobatan konvensional yang menggunakan obat-obatan kimiawi sintetik, terutama setelah begitu banyak pemberitaan mengenal malpraktik dokter, komersialisasi obat serta efek samping berbahaya dari obat-obatan kimia sintetik.

Dengan tersebarnya program pengembangan manusia sesuai konsep Hindu dan Budha, muncullah metode ‘terapi energi’. Metode ini mendapatkan sambutan luas meskipun tidak terbukti manfaatnya menurut penelitian ilmiah oleh lembaga yang terakreditasi secara internasional dalam pengobatan alternatif. Metode tersebut hanya berkaitan dengan pengembangan manusia di satu sisi dan dengan pusat nutrisi dan klub kesehatan serta pengobatan alternatif di sisi yang lain. Akibatnya, metode ini menyebar dengan cepat kepada masyarakat awam. Penyebarannya dalam bentuk pelatihan dan grup-grup terapi energi yang tidak didasarkan pada ilmu penyakit dan kedokteran. Ia semata berupa keyakinan filosofis, ritual pagan yang bercampur dengan sedikit olah raga aerobik, serta sepintas dari teori-teori ilmiah; namun mendapatkan penerimaan di sebagian kalangan pasien dan mereka yang ingin memiliki kemampuan pengobatan. Faktor lainnya, karena promosi sebagian sarjana Barat yang telah terpengaruh oleh filsafat Timur serta sikap abstain dan absennya sebagian besar dokter dari memperingatkan kepalsuannya. Baik karena faktor ketidaktahuan atau dianggap sebagai manipulasi sugestif yang  dapat menguntungkan sebagian pasien stadium terminal dan hanya menjalani sisa hidup mereka dalam pengharapan. Seterusnya, metode terapi energi tersebar ke seluruh dunia termasuk dunia Islam, yang sebenarnya bermuasal dari Timur dan hanya menyeberang lewat Barat, di bawah payung pengobatan alternatif atau komplementer.

DEFINISI DAN HAKIKAT ENERGI

Metode ‘terapi energi didasarkan pada keyakinan pada sebuah esensi yang disebut ‘energi’. Ia merupakan prinsip dan filosofi yang tidak ada hubungannya; sekaligus bukan terminologi energi yang dikenal dalam ilmu fisika. Kalangan ilmuwan fisika menyebutnya sebagai pseudoscience (sains semu, mitos sains). Energi yang dimaksud dalam metode terapi energi tidak lain adalah salah satu pokok keyakinan dalam agama-agama Timur sebagai prima kausa dari segala sesuatu dan merupakan esensi dari segala sesuatu. Ia dahulunya terbagi kepada dua bagian, satu bagian selanjutnya mengalir di alam semesta dalam bentuk bebas. Pada gilirannya, manusia dapat berlatih bagaimana  memanfaatkan dan menyatu dengannya dalam rangka meraih kebijaksanaan, kebahagiaan dan kesehatan. Bagian ini disebut dalam bahasa Sansekerta sebagai ‘Prana’ dalam bahasa Jepang sebagai ‘Ki, dan  disebut Chi’ atau ‘Qidalam bahasa Cina.

Istilah ini kemudian dimutlakkan sebagai ‘energi’ ketika diadopsi ke dalam filsafat spiritual Barat, dan kemudian New Age Movement menambahkan, selain nama Timurnya di atas, nama-nama yang memiliki muatan ilmiah atau aspek marketing. Antara lain istilah tersebut adalah ‘energi spiritual’ dan kekuatan hidup, energi vital’ sebagai esensi dan sumber kehidupan; ‘kekuatan penyembuhan sebagai ungkapan kapasitasnya dalam penyembuhan; ‘energi kosmik/alam’ karena ia merupakan asal-usul alam semesta dan ia tersebar di dalam alam; serta ‘energi insan’ karena ia dapat dimanfaatkan untuk diri individu dan digunakan untuk meraih impian-impiannya menurut filsafat Timur.2

Dalam filsafat esoteris modern yang disebarkan oleh gerakan spiritual Barat, “energi” merupakan prinsip pertama yang harus dipercaya dalam pengobatan. Para pengobat harus mempercayai kepentingan dan kekuatannya, berolah rasa bagaimana mendeteksi dan menyalurkannya, serta bersatu dengannya. Filsafat esoterik ini mengajarkan bahwa memahami hakikat energi dan selaras dengannya merupakan rahasia penting yang telah dicapai oleh para ahli kebatinan dahulu, para bijak bestari, para pencerah dan para nabi dari waktu ke waktu. Pemahaman dan keselarasan diwujudkan terutama dengan olah spiritual khusus dan olah rasa yang sungguh-sungguh, hal yang belum dipublikasikan luas kepada masyarakat umum.

New age movement telah mengambil alih tanggung jawab pengungkapan dan menyebarkan misteri ini ke masyarakat umum. Hal ini membuat metode ini kemudian dapat dikenal dan diakses oleh semua kalangan tanpa membedakan strata sosial atau agama di era komunikasi dan keterbukaan saat ini. Gerakan ini juga mempromosikan bahwa doktrin filosofis tersebut merupakan kerangka teoritis untuk semua upaya pengembangan diri yang menyeluruh bagi individu dalam rangka melipatgandakan kapasitas pribadinya. Pada tingkat global, mereka bertujuan untuk menghapuskan perbedaan agama dan mewujudkan perdamaian menyeluruh. Doktrin filsafat tersebut kemudian tersebar pada skala yang lebih luas, tumpang tindih secara praktis dengan gaya hidup hidup sehari-hari, di antaranya melalui metode ‘terapi energi’.

MENYIBAK HAKIKAT METODE TERAPI BERBASIS ENERGI

Pelbagai pelatihan metode terapi energi yang ada mengajarkan doktrin energi kosmis dari filsafat esoterik (batiniah) dalam proporsi yang beragam. Bagi penganutnya, doktrin ini diklaim memberikan penjelasan ilmiah mengenai asal-usul dan perkembangan alam semesta serta muasal dan dampak metafisik energi tersebut pada manusia. Dalam praktiknya, para peserta pelatihan terapi energi mempraktikkan beragam teknik terapi tanpa sadar bahwa banyak dari praktik-praktik tersebut merupakan ritual khusus agama dan filsafat pagan dari Timur. Karena disebarluaskan dengan istilah energiyang populer dalam terminologi ilmu pengetahuan alam, para peserta program pelatihan mengiranya sebagai pengetahuan objektif. Lebih jauh, kalangan terakhir menuduh mereka yang berusaha mengungkap fakta keliru tetang pelatihan tersebut sebagai kelompok yang menolak ilmu pengetahuan modern (!).

Penyajian doktrin filsafat energi dalam istilah aslinya dalam bahasa oriental, seperti ‘Reiki’, ‘Qigong’, ‘Feng shui’, ‘Tai chi’, ‘Yoga’, ‘Prana Healing’ dan sebagainya, menarik minat kebanyakan mereka yang melihat kemajuan tingkat kesehatan dan keunggulan jenis pengobatan alternatif dunia Timur (India dan China).

Di antara bentuk aplikasi terapi energi adalah teknik pernapasan transformasional dan teknik meditasi transendental: dua teknik yang bertujuan untuk menarik energi prana dari alam. Teknik pernapasan tersebut termasuk di antara banyak latihan untuk merasakan aliran energi prana dalam tubuh, dengan cara masuk ke level relaksasi mendalam hingga mencapai tingkat ekstasi yang merupakan tingkat kebebasan penuh dari energi negatif. Selanjutnya, praktisinya akan mencapai ketenangan dan penyembuhan dari beragam penyakit.

Teknik pernapasan mendalam dikategorikan sebagai olah spiritual yang bertujuan untuk pengobatan dan kesehatan dalam metode pengobatan filosofis yang mencakup ruh, pikiran, dan jiwa secara bersama-sama. Teknik pernapasan merupakan salah satu latihan penting dalam metode energi lainnya, karena ia merupakan teknik untuk masuk ke dalam kondisi perubahan kesadaran. Sebuah kondisi yang diperlukan untuk melepaskan potensi manusia dari alam bawah sadar. Tingkatan terakhir ini mereka yakini sebagai tahap seseorang akan merasakan pengalaman spiritual yang unik, yang membuatnya menemukan kekuatan latennya, merasakan kebahagiaan dan ekstasi serta menguatkan memori dan visinya. Karena itu, teknik pernapasan dalam metode energi di dunia Islam ditujukan untuk meraih khusyu yang berkesinambungan, merasakan nikmatnya shalat dan ibadah, metode-metode kreatif menghapal Al-Qur’an, serta untuk meningkatkan kemampuan mengingat (!).

Teknik meditasi trandensental merupakan ritual dalam agama Maharishi’ yang berakar pada Buddhisme dan Hinduisme. Ritual ini bertujuan untuk peningkatan dan mencapai ketinggian yang melampaui batas kemampuan jasmani manusia dalam rangka sampai kepada ketenangan sempurna dan tanpa sadar. Dari situ, manusia lalu mencapai tahap ‘Nirwana’ yang memungkinkan seseorang, dalam versi ini, meraih kembali kekuatan, kemampuan dan ketenangan di atas manusia biasa. Dia mewujudkan ketenangan pikiran, kebijaksanaan dan kemampuan untuk menyembuhkan diri dari penyakit dan kebinasaan.

Teknik ini diintrodusir ke masyarakat umum sebagai bagian dalam metode terapi energi modern yang bertujuan untuk memfokuskan pikiran. Teknik ini diklaim memungkinkan seseorang untuk merasakan tahap tertinggi pikiran, melampaui tingkat kesadaran manusia biasa dan sampai ke sumber kesadaran penuh saat bersatu dengan yang mutlak. Termasuk dalam teknik meditasi pengembangan diri adalah latihan pernapasan dalam dan bernapas transformasional yang dilakukan dengan sikap penuh ketenangan sambil mengimajinasikan beberapa bentuk geometris, simbol-simbol astrologi, lalu membayangkan diri bersatu dengannya. Ini dilakukan sambil mengulang-ulangi lafal pujian suci Hindu yang terkuat, yang dalam versi ini,  ‘Om ... Om ...’.  Ini merupakan simbol dari Tritunggal Kudus di dalam kepercayaan agama-agama Timur: Pencipta, Penghancur dan Pemelihara. Para memeluk agama Hindu percaya bahwa melalui suara tersebut seluruh semesta tercipta.

Meditasi transendental disajikan sebagai teknik terapi dalam sejumlah pelatihan dan workshop dalam beberapa tingkatan. Program secara bertahap ini ditengarai untuk menghilangkan apa yang mereka sebut sebagai energi negatif yang menjadi penyebab penyakit, sehingga tubuh dapat menyembuhkan dirinya sendiri (self healing). Pada tahap selanjutnya, teknik ini akan membawa kepada kemampuan untuk menyembuhkan orang lain. Manfaat meditasi transendental bahkan lebih jauh termasuk pengaruhnya terhadap semua aspek kehidupan manusia, membuka pikiran serta sukses dalam karir maupun hubungan sosial. Pada tingkat lanjutan dari program tersebut, mereka meyakini bahwa praktisi meditasi akan mencapai tahap yang disebut ‘ekstasi murni’ (pure bliss) yang dapat melakukan hal-hal ajaib bagi manusia biasa, seperti terbang, menghilang, dan memperoleh seluruh ilmu sekaligus (!). Praktisinya bisa baginya segala sesuatu tanpa batas (!).

Di antara metode terapi energi yang paling penting adalah Reiki. Kata Reiki terdiri dari dua kata, yaitu Rei yangberarti jiwa kosmis, dan Ki. Reiki adalah nama untuk satu paket program pelatihan dan penyembuhan yang berdasarkan pada keyakinan adanya energi kosmik. Energi tersebut selanjutnya dimanfaatkan oleh praktisi untuk pengembangan diri serta kemampuan penyembuhan diri dan orang lain dengan semata menyentuh. Pada tingkat atas, praktisi akan berlatih cara untuk memancarkan energi kosmik dalam tubuh untuk mencapai kondisi kontempelasi atau Nirvana.

Salah seorang instruktur Reiki Muslim mengatakan, “Berlatihlah … berlatihlah, hingga energimu keluar dan engkau tersambung dengan akal aktif.3 Praktisi lainnya menyatakan, dalam menggambarkan perasaan seorang praktisi Reiki ketika mencapai kondisi Nirvana, “Kita menyadari pada tingkat tersebut betapa kecil diri kita, dan kita tidak tahu kecuali sedikit tentang esensi dari Reiki, seperti setitik air hujan dibandingkan dengan samudera. Keduanya sebenarnya memiliki sifat yang sama dan pada akhirnya akan bercampur dan menjadi satu.4

Meskipun doktrin sesat dalam metode Reiki sangat jelas, namun dapat menyebar di kalangan umat Islam karena kalangan Muslim yang telah terlatih Reiki memasukkan warna Islam dan menyangkanya sebagai salah satu bentuk ruqyah syar’iyyah dan sekadar berbeda karena berasal dari bahasa asing (!). Sebagian di antara mereka bahkan berkali-kali menyatakan bahwa Rasul Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah seorang guru besar praktik pengembangan energi (!). Pernyataan yang sangat jauh dari fakta.

Di antara metode terapi energi adalah: yoga. Teknik ini tersebar di kalangan masyarakat umum karena disajikan di tempat-tempat pelayanan pengobatan alternatif dan klub-klub kesehatan di dunia Arab dan Islam, dengan persangkaan bahwa ia sekadar senam untuk meningkatkan kebugaran dan kesehatan (!). Teknik ini disajikan dalam beberapa level berdasarkan kandungan materinya. Dimensi filsafatnya tidak dimengerti kecuali oleh mereka yang mengikuti secara aktif sesi yoga secara teratur setiap hari dalam jangka waktu yang lama. Jika kemudian praktisi tersebut dapat terus menanjak tingkatan praktiknya ke level yang lebih tinggi, secara bertahap ia akan dapat memahami prinsip-prinsip filosofi yoga. Tahap ini tentunya setelah ia menjadikannya sebagai bagian dari kehidupannya sehari-hari, seperti dalam semua metode pelatihan dan penyembuhan yang berdasarkan filsafat tertentu.

Faktanya, yoga merupakan kata Sansekerta yang berarti penyatuan dan unifikasi dengan yang mutlak. Ia merupakan teknik penting di kalangan pemeluk Hindu dan Buddha untuk bersatu dengan kekuatan teragung dan merupakan salah satu ajaran tertua agama-agama India. Seorang yogi (praktisi yoga),  menurut keyakinan agama-agama tsb, adalah seorang yang telah mencapai tingkat yang tinggi dan tercerahkan. Dia telah memperoleh kekuatan supranatural yang ia peroleh dari pengetahuannya tentang hakikat dirinya yang ‘suci’ yang ia dapatkan selama praktik yoga. Karena itu, seorang yogi,  menurut keyakinan ini, adalah seseorang yang dapat mengontrol dunia roh dan seluruh kekuatan alam (!).

Jenis terapi energi lainnya ialah pengobatan dengan energi warna, batu dan replika yang diyakini memiliki keistimewaan spiritual. Terapi dengan energi warna yang diterapkan pada pasien setelah sebelumnya terapisnya mendeteksi warna yang sesuai dengan energi pasien yang dipercaya merupakan rahasia kesembuhannya dan kebahagiaannya. Seorang terapis memeriksa energi atau aura yang melingkupi tubuh pasien kemudian menyarankan pasien untuk mengenakan pakaian dengan warna yang sesuai dengan energinya atau untuk menghindari kain dengan warna tertentu atau menggunakan lampu dengan warna tertentu yang sinarnya disorotkan kepada pasien atau menyarankan untuk mengonsumsi makanan sesuai dengan warna yang diperlukan oleh pasien. Selain itu, bisa juga dengan air minum dari kaca berwarna atau ditutupi dengan kain berwarna khusus selama periode waktu tertentu atau menggantungkan batu-batu mulia dengan warna tertentu yang dibutuhkan oleh pasien. Bahkan cukup bagi pasien atau praktisi untuk duduk dalam posisi rileks kemudian membayangkan warna yang ia butuhkan seraya mengingat rahasia, kekuatan, dan dampak warna. Ia selanjutnya mengarahkan warna yang ia wujudkan dalam imajinasinya kepada bagian tubuh atau anggota tubuh yang sakit yang sedang ia obati.

Adapun pengobatan dengan energi batu mulia dan kristal berdasarkan pada keyakinan terhadap keistimewaan spiritual yang dikandungnya. Demikian itu karena batu mulia dan permata kristal dalam filsafat Timur dan kepercayaan pagan merupakan manifestasi dan bentuk padat dari energi. Oleh sebab itu, batu-batu mulia dapat digunakan untuk mengembalikan keseimbangan energi dalam tubuh manusia atau melancarkan energi tubuhnya. Tekniknya dengan menentukan batu tertentu untuk menangani jenis penyakit tertentu; lalu ditentukanlah sebuah atau beberapa batu yang tepat untuk seseorang sesuai dengan tanda dan tanggal lahir dan warna energi aura yang menyelimutinya. Pasien kemudian menggantung atau menggunakannya sebagai cincin atau meminum air yang direndam dengannya atau menelan serbuknya atau menggunakannya untuk memijat agar memengaruhi energi tubuh pasien. Tujuannya, agar pasien bisa sehat bahkan memperoleh petunjuk dan meraih kesuksesan.

Manfaat batu lainnya dalam keyakinan dan filsafat pagan adalah menjaga manusia dari bermacam bahaya, ain (kejahatan pandangan), gigitan ular, dan yang lebih penting lagi karena ia membantu mereka yang ingin mencapai puncak tujuan dari filsafat Timur (berhubungan dengan makrokosmos). Jika batu tersebut diletakkan dalam kondisi fokus atau diletakkan di antara dua alis, maka akan memberikan kepada pengobat visi terhadap masa lalu dan yang akan datang.

Beberapa orang yang percaya pada batu-batu ini mencoba untuk menafsirkan apa yang mereka yakini tentang kekuatan penyembuhan dan manfaat dari batu-batu tersebut dengan teori-teori ilmu pengetahuan modern. Mereka menyangka bahwa batu-batu tersebut memiliki kekuatan magnet, radiasi dan frekuensi yang dapat memengaruhi tubuh manusia. Dengan itu, mereka dapat menyembunyikan kebenaran dan menyesatkan orang lain.

Di antara bentuk terapi energi adalah pengobatan dengan menggunakan energi piramida. Menurut doktrin filsafat energi, bentuk piramida, yang merupakan simbol dalam agama Hindu, memiliki kemampuan istimewa untuk menarik energi kosmik dan menyerap kekuatan dan energi dari bumi yang memberikan energi yang kuat ke dalam piramida. Sehingga, ia dapat digunakan untuk pengobatan dan kesehatan. Ia juga sangat berguna bagi energi vital pada seseorang, karena dapat memberikan energi kepada ruh dan pikiran (!). Piramida merah diyakini membantu memberikan semangat dan memperoleh harta; piramida biru merupakan pembuka wibawa, inspirasi, ramalan dan integritas pribadi, serta kesehatan dari penyakit jiwa dan saraf; piramida hijau di samping mengobati pelbagai penyakit, juga membantu memengaruhi ikatan emosional antar personal; sementara piramida kuning istimewa untuk kecerdasan, daya pikir dan konsentrasi.

Banyak ahli terapi energi yang menyarankan untuk menempatkan piramida di kamar tidur untuk membersihkan ruangan dari radiasi negatif yang berbahaya yang dihasilkan oleh besi bangunan di gedung-gedung modern yang bertingkat, juga dari radiasi berbahaya yang dipancarkan dari rangkaian listrik; sekaligus membantu tidur menjadi lebih nyenyak serta mendapatkan mimpi yang jelas dan dapat ditafsirkan.5

Sebagaimana dimunculkan banyak bentuk lain dari terapi energi, di antaranya replika katak berkaki tiga yang digunakan untuk menjauhkan kemiskinan dan mengundang kekayaan;  sepasang itik dari kayu untuk menarik keberuntungan dan cinta; gelang energi dan liontin energi; keping energi vital, pena energi, pendulum, drausing, dll, untuk bermacam tujuan. Replika-replika ini dianggap secara keliru oleh masyarakat sebagai produk ilmiah yang dibuat berdasarkan teknik terbaru yang ditemukan dalam ilmu pengetahuan fisika dan nanoteknologi demi untuk meraih impian dalam aspek kesehatan dan karir (!).

Perlu digarisbawahi oleh Pembaca bahwa metode dan teknik terapi yang disebutkan di atas adalah yang paling terkenal dari jenis terapi dengan label terapi energi. Sesungguhnya, variannya sangat banyak dan beraneka ragam. Di antara para trainernya yang Muslim ada yang menyajikannya dengan tetap menggunakan nama-nama dan istilah yang disebutkan sebelumnya yang telah dikenal secara internasional. Namun, sebagian trainer merancang teknik baru yang khusus baginya dengan nama yang lebih dapat diterima dalam kultur Arab dan Islam. Kelompok ini memasukkan dasar-dasar filsafat Timur secara kamuflase untuk menjamin penerimaan orang-orang yang mereka latih dalam asosiasi-asosiasi internasional Arabisasi gerakan ini.

Modus lain trainer Muslim yang juga telah mempelajari prinsip-prinsip metode ini dan filosofinya ialah dengan memasukkannya bersama program pelatihan keterampilan yang pada dasarnya benar. Seperti misalnya pelatihan seni pidato dan mempengaruhi orang lain yang ditambahkan dengan materi polutan dari filosofi Timur mengaktifkan zona ‘hara’ yang terletak di bawah pusar dengan klaim bahwa yang demikian itu akan meningkatkan kepercayaan diri serta kemampuan untuk tetap gigih dan dapat mempengaruhi orang lain (!). Beberapa di antara mereka lebih jauh mengembangkan teknik pengobatan energi dengan menggunakan energi al-Asma’ al-Husna’ (!).

Terdapat beberapa anjuran logis yang merupakan pengalaman hidup yang juga disajikan bersama terapi energi dalam pelbagai aplikasinya. Contohnya, perhatian terhadap sirkulasi udara di rumah tinggal, saran untuk mengembangkan tanaman organik, anjuran untuk memerhatikan kualitas makanan dan mencernanya dengan baik, pentingnya berolah raga, dll. Anjuran-anjuran ini merupakan sesuatu yang seharusnya tidak menipu kalangan Muslim sehingga menyimpulkan terapi energi sebagai bagian dari metode terapi energi yang bermanfaat. Pencapurbauran antara kebenaran dan kebatilan merupakan salah satu cara setan untuk meloloskan kebatilan. Sebagaimana kebanyakan saran logis dalam metode tersebut justru ditujukan untuk meraih apa yang mereka yakini sebagai manfaat metafisik. Mereka, misalnya, menanam tanaman di rumah dalam rangka menarik keberuntungan. Ventilasi udara untuk mengusir energi negatif menurut doktrin energi kosmik yang batil, atau olahraga untuk memperbaiki jiwa dan memperoleh energi kosmik (!).6

Sebagai penutup, pemaparan tentang fakta-fakta metode ‘terapi energi’ sejatinya cukup untuk menunjukkan bahaya dan kerusakannya. Para penganjur metode ini sesungguhnya mencampur kebatilan dengan sedikit kebenaran dan menyamarkannya kepada masyarakat. Doktrin dari metode ini disembunyikan di balik bungkus pelatihan dan pengobatan yang sesungguhnya adalah prinsip-prinsip filsafat, ritual agama, keyakinan syirik, dan warisan kebatinan dalam agama-agama Timur. Kalangan yang mempelajari agama-agama Timur atau membaca aliran-aliran filsafat, spiritualisme dan astrologi, bahkan sekadar membaca buku umum menganai topik ini, akan dapat melihat dengan jelas kaitan yang nyata dan erat antara pelatihan-pelatihan tadi dengan filsafat dan agama Timur.

Studi yang menelusuri secara luas doktrin-doktrin terapi energi yang sampai kepada uraian mengenai kajian terhadap terapi energi dengan pelbagai praktiknya telah banyak dilakukan.7 Kajian-kajian tersebut menyimpulkan bahwa metode terapi energi  didasarkan pada doktrin filsafat yang berasal dari agama-agama Timur, paganisme shaman, dan berbagai filsafat atheisme.

Praktik metode tersebut kemudian diformulasikan ulang oleh New Age Movement di Barat. Mereka mendesain ulang doktrin dan praktik metode terapi energi agar sesuai dengan konteks modern, lalu dipromosikan dan disebarkan ke semua kalangan masyarakat. Tidak terkecuali kepada para penganut agama-agama samawi melalui pendekatan spiritualisme melalui cara-cara promosi kompetitif; dan bukan konfrontasi ajaran. Mereka memotivasi masyarakat untuk menambahkan praktik metode tersebut ke dalam kehidupan mereka sehari-hari dalam rangka mencapai kebahagiaan, kesehatan dan kedamaian. Gerakan ini tidak menyinggung sama sekali keyakinan agama lama/lokal. Tersebarnya ajaran ini di dunia Muslim telah menyebabkan munculnya semacam ateisme yang berkarakter spiritual, berbentuk upaya menjelaskan agama yang mulia beserta teksnya menurut perspektif filsafat batiniah Timur.

Sekelompok kalangan Muslim yang telah terpengaruh dengan pemikiran batiniah yang terkandung dalam teknik pengobatan telah bertindak lebih jauh dengan mempromosikan dan menyebarluaskan doktrin-doktrin tadi melalui lembaga-lembaga baru yang mereka dirikan. Di antara para pendukung pemikiran batiniah dan yang mempromosikan aplikasinya, yang paling terkenal, adalah kelompok ‘salam’, pusat-pusat terapi kebijaksanaan, serta akademi internasional untuk pengembangan diri. Asosiasi dan lembaga ini menawarkan paket-paket pelatihan program malam pencerahan yang didasarkan pada terjemahan manuskrip batiniah (internal heritage) yang coba diberi warna Islam.

Karena perkembangan ini, penting bagi para ahli dan dai untuk menjelaskan hakikat keyakinan batiniah (doktrin esoterik) yang menyamardalam program pengembangan diri dan teknik pengobatan. Kepada Allah semata kita memohon pertolongan dan kepada-Nya kita berserah diri.

 

1.        Esalen Institute di California, Amerika Serikat didirikan pada tahun 1961. Lembaga ini bertujuan untuk menyebarluaskan pemikiran spiritual dan menjadikannya sebagai pengganti agama. Lihat: www.esalen.org

Walter T. Anderson, The Upstart Springs: Esalen and the Human Potential Movement, iUniverse,Lincoln, NE, USA, 2004. 

2.        Al-‘Ilaj bi al-Thaqah al-Hayawiyyah, h. 6; Al-‘Ilaj bi al-Thaqah wa al-Makrubiutik, h. 67.

3.        Thalal Khayyath, Mudzakkirah al-Mustawa al-Awwal Riki Diyju.

4.        Riki li al-Mibtadi’in.

5.        Al-Quwwah al-Nafsiyyah li al-Ahram, h. 12; http://www.aah3.com/vital-energy-therapy.htm

6.        Al-Daliil ila al-Thibb al-Badiil, Agustus 2003, h. 69. Di dalamnya disebutkan bahwa meletakkan bunga Peony di rumah meningkatkan kemungkinan pernikahan untuk gadis yang belum menikah di rumah tersebut (!).

7.        Di antaranya karya-karya Dr. Fawz bintu Abdullathif, seperti Harakah al-‘Ashr al-Jadid, Al-Madzahib al-Falsafiyyah al-Ilhadiyyah al-Ruhiyyah wa Tathbiqatuha al-Mu’ashirah, Al-Falsafah al-Syarqiyyah wa al-‘Aqa’id al-Watsaniyyah fii Baramij al-Tadrib wa al-Istisyfa’ al-Mu’ashirah. Begitu pula kajian-kajian Dr. Hayfa’ bintu Nashir al-Rasyid, seperti Harakah al-‘Ashr al-Jadid dan Tathbiqat al-Istisyfa al-Syarqiyyah. 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir