Aplikasi Kontemporer Filsafat Oriental (Kritik terhadap Ajaran Kebatinan Berkedok Modern)

23/03/2015 0:00:00
هيفاء بنت ناصر الرشيد Jumlah kali dibaca 873

Aplikasi Kontemporer Filsafat Oriental (Kritik terhadap Ajaran Kebatinan Berkedok Modern)


Dr. Haifa binti Nashir al-Rashid

Sejatinya telaah yang disertai dengan mengambil contoh dan pelajaran dari sejarah merupakan salah satu hal yang sangat bermanfaat bagi kaum Muslim. Muslim dapat memprediksi kesamaan peristiwa yang bakal terjadi berdasar pada kondisi dan latar belakang yang sama. Sehingga Muslim dapat berinteraksi dengan segala peristiwa dan situasi dengan bijaksana dan mampu memetik keuntungan sekaligus menghindarkan bahaya yang menghadang. Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Seorang Mukmin tidak layak disengat binatang (berbisa) hingga dua kali dari lubang yang sama.”

Salah satu episode sejarah umat Islam yang paling berbahaya adalah era beragamnya kelompok serta aliran pemikiran dan keyakinan (aqidah). Terdapat banyak faktor yang berkontribusi terhadap terbentuknya aliran-aliran pemikiran sesat tsb; dan di antara yang paling spesifik adalah masuknya filsafat ke dalam dunia Islam dan terpesonanya sekelompok kaum Muslim terhadapnya.

Gerakan penerjemahan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab mulai dikembangkan di masa Khalifah al-Mansur di era Abbasiyah, yakni pada pertengahan abad kedua Hijriyah. Gerakan ini kemudian berkembang sangat pesat di masa Khalifah al-Makmun, dengan diterjemahkannya buku-buku filsafat dalam volume yang besar, termasuk buku-buku ilmu logika, ilmu pengetahuan alam, juga apa yang dikenal sebagai ilmu maqadir. Hasil terjemahan yang berdampak paling merusak adalah yang berbicara mengenai teologi (ilmu ketuhanan) dan metafisika (alam gaib). Kondisi ini diperburuk dengan pelimpahan otoritas pengawasan penerjemahan kepada kelompok Kristen dari kalangan ahl al-dzimmah, bukannya kepada kaum Muslim.

Masuknya pelbagai paham filsafat tersebut membuat kalangan Muslim terpecah kepada tiga kelompok sikap:

1.      Kelompok yang secara total menerima filsafat. Kelompok ini mengambil dan mengajak kepada prinsip- prinsip filsafat. Kelompok ini terdiri dari kalangan filosof zindiq meski sebagian mereka berupaya untuk membungkus pemikiran filsafat dengan ‘bungkus’ syariat.

2.      Kelompok yang mencoba untuk merevisi filsafat dan menggabungkannya dengan syariat. Kalangan ini kemudian menambahakan kepada filsafat fragmen-fragmen yang dikira akan membersihkan kandungannya yang batil. Kelompok kedua ini terdiri dari para ahli Kalam (mutakallimin). Tindakan mereka menjadi sebab terjadinya banyak bidah dalam aqidah yang dampaknya masih terasa hingga saat ini.

3.      Kelompok yang menolak filsafat secara keseluruhan, terutama yang berkaitan dengan masalah supranatural (gaib) dan teologi (ilmu ketuhanan). Mereka melakukan jihad penolakan dengan lisan dan pena. Di antara yang paling menonjol dari kalangan ini adalah para imam: Ibnul Jauzi, Ibn Salah, Ibn Taimiyyah, al-Dzahabi, dan Ibnul Qayyim semoga Allah merahmati mereka semua. Mereka menjelaskan pelbagai aspek pelanggaran syariat dari fisafat secara terperinci, penyimpangannya terhadap aqidah tauhid, konsep ibadah, serta gambarannya yang salah mengenai alam semesta. Termasuk kekeliruan dalam menggunakan nash-nash dan dalam menafsirkannya.

Meskipun terdapat upaya serius untuk membendung penyebaran filsafat di dunia Islam sejak saat itu, yakni di antaranya dengan gerakan pembakaran buku-buku filsafat, pelarangan terhadap penyebaran dan pengajaran filsafat, isolasi terhadap tokoh-tokohnya, serta penegakan hukum terhadap mereka yang murtad dari agama karena terpengaruh olehnya; namun pemikiran filsafat telah terlanjur memberikan dampak yang besar dalam membentuk beragam kelompok pemikiran yang tersebar luas di tengah masyarakat. Dan dampak dari pengaruh itu masih dapat dirasakan oleh kaum Muslim hingga hari ini. Tidak dapat dibayangkan, akan bagaimana kondisi umat saat ini jika ulama salaf saat itu tidak berdiri menghadang dan mencegah penyebaran filsafat?!

Jika sidang pembaca memperhatikan fenomena dewasa ini, kita akan dapat dengan mudah menemukan tanda-tanda penyebaran konsep dan simbol-simbol filsafat jenis baru yang sesungguhnya merupakan salah satu filsafat terkenal paling kuno: filsafat Timur yang berasal dari Tiongkok dan India, khususnya dari Hinduisme, Budhisme dan Taoisme . Meskipun pengaruh dari aliran-aliran filsafat di atas terhadap kelompok-kelompok pemikiran bidah dalam Islam secara umum bukan hal baru, akibat proses terjemah di era Abbasiyah yang menjadikannya sumber utama pemikiran Sufi ekstrim yang digali dari kitab Weda umat Hindu. Masuknya pemikiran filsafat ini, melalui paket-paket program yang dikemas modern, kepada komunitas masyarakat yang tumbuh dalam tradisi tauhid dan metode Salaf, merupakan sebuah fenomena baru yang patut dicermati bersama.

Setelah sebelumnya pengaruh filsafat Timur surut dan umumnya terbatas hanya pada para pengikutnya sampai beberapa abad, sehingga tidak mampu membentuk dan memunculkan sebuah aliran pemikiran; filsafat ini kemudian dipromosikan kembali setelah naskah-naskah timur diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Fenomena ini kemudian bertemu dengan minat yang tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya dari kalangan masyarakat di luar lingkungan akademik dan studi ilmiah di Barat.

Arus imigrasi para dukun (paranormal) agama-agama Timur ke negara-negara Barat, diikuti dengan keterlibatan mereka dalam acara-acara kebudayaan serta sejumlah faktor sosial dan geografis lainnya; seiring dengan meningkatnya perhatian masyarakat Barat yang materialis terhadap spiritualisme Timur.

Mengingat kalangan masyarakat Barat yang sekuler, penetrasi konsep filsafat Timur dilakukan dengan cara menyajikannya dalam perspektif yang umum dan dibungkus dengan ‘bungkus’ ilmu pengetahuan. Hasilnya secara nyata terlihat melalui kemunculan pemikiran teosofi dan New Mind dan akhirnya dalam gerakan New Age (era baru), yang memberikan lompatan kuantum dalam strategi penyebaran pemikiran batiniah (esoteris) Timur.

Realitas yang membenarkan hadis Nabi, “bahkan jika mereka memasuki lubang biawak, kalian akan memasukinya juga”, adalah berpindahnya perhatian terhadap filsafat Timur dari dunia Barat ke dunia Islam dan dengan metode yang sama dengan yang digunakan oleh gerakan New Age. Penyebaran filsafat Timur dikampanyekan melaui tiga bidang utama:

            1. Pengobatan (healing) dan pengobatan alternatif

2. Pengembangan diri dan sumber daya manusia.

3. dalam perkembangannya yang terakhir melalui wacana spiritualisme sufi.

Satu segi yang betul-betul ganjal bagi penulis adalah kurangnya perhatian kalangan pelajar ilmu syariat terhadap aplikasi modern dari filsafat Timur tsb, dengan keengganan banyak dari mereka untuk memperingatkan dan menjelaskan kesalahan fatal dalam bidang aqidah yang dikandungnya. Situasi yang mungkin terjadi karena dua alasan:

Pertama, kurangnya akses terhadap aplikasi filsafat itu sendiri karena pada dasarnya memang jauh dari bidang ilmu syariat.

Kedua, minimnya pengetahuan mengenai filsafat Timur yang berakibat ketidakmampuan melihat hubungan antara aplikasi modern dengan filsafat asalnya. Kondisi yang berbeda dengan filsafat Yunani  yang merupakan salah satu pendekatan penting dalam banyak bidang di perguruan tinggi.

Oleh karena itu penulis merasa perlu untuk memberikan gambaran umum menganai filsafat Timur itu sendiri sebelum masuk berbicara mengenai aplikasi kontemporernya.

Doktrin dasar filsafat Timur berdasar pada lima pokok:

1.      Doktrin panteisme (wihdatul wujud; kesatuan eksistensi), dan dari dasar ini prinsip yang lain bercabang.

2.      Konsep unsur ilahiyah atau hakikat’ yang tersembunyi dalam tubuh manusia.

3.      Penitisan dan iluminasi yaitu kesadaran terhadap realitas ‘hakikat’ dan kesatuan eksistensi.

4.      Kesatuan agama-agama.

5.      Relativitas kebenaran dan nilai.

Dua pokok yang terakhir identik dan merupakan hasil dari paham panteisme. Filsafat Timur juga memiliki terminologi khusus dalam mengungkapkan doktrin-doktrin keyakinan masyarakatnya. Istilah-istilah tersebut antara lain: Tao, Brahmana, Yin Yang, Chakra, Karma, Nirwana, Yoga, dll.

Masuknya pelbagai terminologi tersebut, dengan pengertian dan kandungan konsep filosofis dan latar budayanya, bahkan agama Timur, dalam beragam praktiknya --meskipun juga berbahaya—bukan persoalan terbesar bagi pihak-pihak yang mempromosikannya. Persoalan terbesar justru pada bias epistimologi (sumber ilmu) dan sumber pengetahuan empirik pada sebagian besar fungsionarisnya. Epistimologi agama dan ilmu gaib bukan lagi semata wahyu dengan disiplin ulama Salaf dalam memahami dan menafsir, tetapi juga sumber yang menyusup itu di samping kasyf (tersingkapnya tabir gaib), inspirasi, dan dugaan.

Adapun epistimologi sains, tidak lagi berdasarkan pada metode ilmiah atau penelitian eksperimental yang valid atau uji laboratorium yang terverifikasi, tapi semata didasarkan pada pengalaman pribadi, penilaian subjektif dan testimoni personal dengan variabel yang sulit diukur.

Di antara kasus yang paling menonjol pada kebingungan e[istimologi ini tampak pada terminologi energi’ (Qi, baca: chii; penerj.) yang umum digunakan dalam beberapa tahun terakhir, dalam konteks studi nonformal (nonakademik), seperti pengobatan alternatif dan metode pengembangan diri. Terminologi ini sesungguhnya sangat longgar dan mengandung banyak makna, dipakai dalam versi modern filsafat Timur untuk menggambarkan wujud universal dan material semesta. Istilah ini kemudian tersebar dan diterima di kalangan masyarakat umum sebagai tampak ilmiah; dan menutupi kandungan doktrin filsafat ateistik batiniah (esoterik) di dalamnya. Konsep ‘energi’ ini tidak dapat dibuktikan secara syariat maupun metode ilmiah.

Namun karena terminologi ini problematik, kontroversi terjadi ketika ditelusuri ke akar aqidahnya/filosofinya.

‘Energi’ memiliki makna spesifik dalam ilmu fisika dan ilmu-ilmu terapan semisal energi panas, atom, listrik, dll. Energi yang dimaksudkan ini dapat dipersepsi, dapat diuji dan diukur.

Terdapat ‘energi’ dalam arti bahasa yang berarti kekuatan/kemampuan, sebagaimana dalam firman Allah, “… janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya ….” (QS. al-Baqarah: 286).

Ada juga ‘energi’ yang digunakan sebagai metafora dalam beragam konteks, seperti energi cinta dan energi ibadah, yang pada banyak kasus tidak lepas dari kritik baik secara ilmiah atau syariat.

Namun, ‘energi’ yang dimaksud dalam doktrin filsafat Timur bukanlah salah satu dari yang telah dibahas di atas meskipun dipertukarkan dan dicampur pada banyak kesempatan. Ia sebenarnya adalah energi spiritual metafisik yang tidak dapat diverifikasi melalui uji laboratorium maupun analogi. Ia adalah ‘energi’ yang hanya bisa diraih dengan pengalaman personal dan olah batin. Ia adalah wujud mutlak yang merefleksi dalam wujud fisik; yang kadang diistilahkan dengan kesadaran, atau ‘Tuhan’; dan Tuhan dalam filsafat esoteris hanya dia. Konsep Tuhan (Rabb) yang terpisah dari makhluk, dengan karakteristik kesempurnaan keagungan adalah ajaran ‘primitif’ (!) yang diremehkan dalam filsafat Timur.

Manusia pada hakikatnya adalah Tuhan,’ atau eksistensi universal bagi mereka yang menghindari istilah ketuhanan. Manusia dianggap tidak sempurna dan berpotensi sakit karena telah meninggalkan tabiat aslinya. Kondisi inilah yang disebut sebagai ketidakseimbangan ‘energi.’ Untuk memulihkannya, manusia harus kembali kepada keadaan seimbang dengan banyak metode.

Kita akan mendapatkan praktik pengobatan penyakit berbasis energi alam/kosmik yang berasal dari agama-agama dan filsafat Timur, dengan mekanisme kerja pada keseimbangan energi dan penyerapannya dari alam semesta melalui ritual yang tidak terkait sama sekali dengan sains eksperimental. Tetapi lebih seperti olahraga dan mantera-mantera sufisme yang bertujuan untuk mencapai iluminasi dan fana.

Banyak di antara praktisi filsafat ini di Timur maupun di Barat yang secara terang-terangan mengakui bahwa tujuan praktik tersebut bukan hanya untuk meningkatkan kesehatan dan mengobati penyakit, tetapi untuk meningkatkan spiritualitas dan bersatu dengan yang mutlak (Tuhan).

Seorang penemu dalam sistem diet makrobiotik yang berdasarkan kepada filsafat Timur George Ohsawa, misalnya. Dalam bukunya Menuju Kesehatan dan Kebahagiaan (Essential Ohsawa: From Food to Health, Happiness to Freedom) menulis, “Tujuan saya dalam mengeluarkan buku kecil ini adalah menunjukkan cara konsumsi dan memilih makanan yang akan membawa pembaca pada akhirnya kepada kebenaran dan kebahagiaan yang abadi. (!) Dia mengatakan bahwa diet makrobiotik adalah salah satu dari delapan cara untuk mencapai nirwana dan “ini merupakan prinsip dasar dari agama-agama Timur yang utama.”

Aplikasi kontemporer filsafat Timur lain dalam pengobatan dan perawatan pasien adalah prana healing, yaitu pengobatan dengan prana; reiki, ayurveda, pengobatan dengan energi batu, warna, kartu poirot, fengshui (energi tempat), chi kung, dll. Dapat dicatat bahwa praktik-praktik ini secara umum memiliki kebenaran dan manfaat, karena jika tidak, ia tidak akan tersebar di kalangan masyarakat. Akan tetapi, dasar-dasarnya tidak disandarkan kepada sumber yang otentik baik secara syariat maupun sains eksperimental.

Adapun program pengembangan diri, ini merupakan gerbang pertama bagi masuknya ide-ide Timur ke masyarakat selama hampir lima belas tahun terakhir. Namun efek dari doktrin filsafatnya menjadi lebih nyata seiring dengan berlalunya waktu. Dampak tersebut bervariasi antara satu program dengan yang lainnya dengan tingkat yang beragam.

Deviasi dalam konsep program-program tsb. bermula dari pengagungan berlebih terhadap diri manusia dan penyandaran pada kemampuan diri semata. Dari sini kemudian berkembang lebih jauh untuk meraih kekuatan di luar batas manusiawi dan kemampuan tanpa batas bahkan mukjizat. Kalangan ini menjadikan jiwa sebagai sarana untuk meraih kesuksesan, sumber petunjuk, rezeki dan kesembuhan; sebuah doktrin keyakinan yang kontradiktif dengan konsep tauhid (uluhiyah dan rububiyah) dalam Islam. Hukum tarik-menarik (semesta mendukung, the law of attraction) dan kekuatan pikiran bawah sadar adalah dua contoh konsep yang paling terkenal di bidang manajemen dan pengembangan diri, yang menyimpang dari ajaran Islam.

Hukum tarik-menarik internal (the internal law of attraction) --yang dikamuflasekan dengan ajaran  Islam dengan menggunakan hadits-hadits tentang prasangka baik dan sikap optimistik-- berdasarkan konsep filsafat  Timur mengenai alam semesta dan eksistensi mengatakan bahwa wujud mutlak adalah kesadaran atau pikiran, bahwa dunia luar sesungguhnya semata bayangan dan hanya ada dalam pikiran (filsafat idealisme). Alam lingkungan semata merupakan refleksi dari pemikiran. Karena alasan itu, perubahan di tataran “pemikiran” seseorang akan membuat perubahan pada manifestasi eksternal dan alam lingkungan orang tersebut. Dengan cara yang sama, manusia dapat mewujudkan impiannya dengan semata menginginkannnya, dan dalam perspektif inilah rezeki dan nasib seseorang ditentukan. Kenyataannya, hal ini tidak lain merupakan bentuk baru ajaran qadariyah (fatalisme) dahulu. Bentuk ini bahkan lebih vulgar dan buruk dari sebelumnya; sebuah konsep yang bertentangan dengan Islam dan akal sehat. Uraian tentang ini disajikan dengan lebih terperinci di tempat lain.

Serupa dengan hukum tarik-menarik adalah konsep pikiran bawah sadar dalam makna filosofis, bukan psikologis. ‘Pikiran bawah sadar seperti yang didefinisikan oleh Joseph Murphy, penulis buku Kekuatan Pikiran Bawah Sadar Anda (The Miracles of Your Mind), misalnya, adalah dalang dari kekuatan alam semesta yang dengan menyelam ke kedalaman dirinya, manusia dapat berhubungan dengan kekuatan tak terbatas ini dalam menentukan rezeki, kesehatan, kesuksesan dan meraih pengetahuan mutlak. Pikiran bawah sadar dalam makna filosofis ini adalah sama dengan ‘energi’ atau ‘kesadaran’ atau ‘wujud universal,’ dan merupakan salah satu bentuk pendewaan diri yang merupakan cabang dari filsafat Timur.

Ironusnya, banyak dari program pengembangan diri dalam rangka pencapaian tujuan dan peningkatan kompetensi yang didasarkan pada dua konsep tersebut.

Adapun dalam bidang terakhir dan yang paling berbahaya menurut penulis adalah ajaran spiritualisme murni. Konsep ini disajikan dalam bentuk kursus atau program pelatihan spiritual Timur teoritis-normatif dengan tanpa penyamaran aplikasi praktis. Konsep-konsep tersebut kemudian diberi legitimasi lewat upaya islamisasi dan peminjaman terminologi syariat. Namun, hasil dari sinkretisme antara filsafat Timur dan Islam ini menghasilkan, sebagaimana yang dapat ditebak, konsep rohani sufistik.

Kesamaan antara tasawwuf dan mistisisme Timur yang ‘diislamisasi’ inilah yang menjelaskan kecenderungan ‘spiritualme baru’ terhadap peninggalan sufi-filosofis serta ajakan untuk mengagungkan tokoh-tokohnya, sekaligus menghidupkan kembali warisan lamanya bahkan di lingkungan yang sejatinya jauh dan bersih dari polusi pemikirannya.

Metode spiritualisme berbicara mengenai konsep-konsep metafisika dan teologis dari perspektif yang tidak sesuai dengan syariat, memberikan interpretasi yang rapuh, dan justru kontradiktif dengan redaksi tekstual syariat. Aliran pemikiran ini menggunakan terminologi dan konsep Timur sebagai bingkai baru dalam melihat ajaran agama. Penganut aliran ini mengklaim diri mereka terbebas dari perspektif tradisional yang mereka anggap usang. Dan tentu saja, kalangan ini tidak ragu untuk meremehkan metode ulama Salaf sembari menggambarkan pengikut ulama Salaf sebagai kelompok yang kaku dan hanya mengambil dari ‘kitab kuning.’ Tujuannya, untuk menjauhkan manusia dari metode yang kokoh dan mempromosikan kekacauan dalam memahami teks syariat dan semata bersandar kepada sumber-sumber pengetahuan esoterik untuk memahami masalah-masalah gaib dan spiritualisme.

Sayangnya, kita dapat mendengar dan membaca mereka yang membawa ciri-ciri penuntut ilmu syariat yang menggunakan istilah yang tidak jauh berbeda dengan lontaran-lontaran Ibn Arabi, al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, serta para penganut ateisme esoterik (batiniah). Kalangan ini sering mengutip ucapan-ucapan para penganut atau penganjur filsafat Timur dan menganggap mereka sebagai tokoh-tokoh pelopor dan telah menjadi korban pemikiran yang sempit.

Penonjolan tokoh-tokoh menyimpang tersebut dari khazanah peninggalan umat Islam sesungguhnya bagian dari proyek promosi filsafat Timur dengan asumsi bahwa dia sejalan dengan agama Islam. Doktrin hulul (penitisan), ittihad (bersatunya makhluk dengan Khaliq) dan wihdatul wujud (kesatuan makhluk dengan Pencipta) yang terkenal di Timur sangat jelas dalam ucapan-ucapan sufi ekstrim.

Dalam program-program tersebut, jenis kebatinan baru yang jelas berasal dari mistisisme Timur, dengan pemujaan terhadap para tokohnya seperti Osho, Deepak Chopra, Eckhart Tolle dan lain-lain dipasarkan.

Terdapat program pelatihan pengembangan diri yang berbicara mengenai konsep ego. Konsep ini menekankan penyangkalan terhadap eksistensi diri, kemudian menyelam ke dalam esensi kosmik (makrokosmos) sesuai dengan filsafat Budhisme. Konsep lainnya berbicara mengenai misteri alam semesta, takdir, dan wujud alam, dengan kata lain ajakan untuk hidup selaras dengan alam dan menyatu dengannya. Terdapat prinsip ‘di sini dan kini (here and now),’ serta ‘kekuatan kekinian (the power of now)’ yang disebarluaskan di lingkungan masyarakat Muslim. Di dalamnya dibahas metode untuk mempertajam intuisi, memperoleh inspirasi (dalam arti spiritual, pent.) dan bagaimana bersambung kepada sumber pengetahuan mutlak. Banyak lagi doktrin keyakinan dan pemahaman yang diambil dari kitab Weda agama Hindu dan ajaran Buddhisme.

Kasus penyelewengan dari aqidah Islam pada metode spiritualisme tampak lebih vulgar dibandingkan dengan praktik pengobatan dan pengembangan diri. Dalam praktik yang disebut terakhir, terdapat campuran antara khayalan, mitos, dan filsafat; sedangkan pada yang pertama murni keyakinan dan filsafat. Hanya saja praktik tersebut menjadi jembatan bagi pihak-pihak yang tertipu menuju ke taraf filsafat yang akhirnya tidak lagi bisa mereka ingkari. Bahkan timbul dari masyarakat kita sendiri individu yang secara terus terang menyatakan adanya unsur ketuhanan (uluhiyah) dalam diri manusia dan tidak ada pengikut yang mengingkari kecuali sedikit. Memang syetan memiliki langkah-langkah dan metode yang halus untuk menyesatkan manusia, dengan terlebih dahulu menawarkan kepada mereka apa yang tidak mereka ingkari hingga akhirnya mereka bisa keluar dari agama tanpa sadar.

Sebagai penutup, penulis menegaskan pentingnya perhatian dan usaha khusus kalangan penuntut ilmu syariat dan ulama dalam membendung arus pergerakan batiniah (esoteris) modern ini, dan didukung oleh sarjana-sarjana serius dari pelbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti kedokteran, fisika dan semacamnya. Demi mencegah upaya masuknya orang-orang yang jahil terhadap ilmu syariat dan mereka yang mencari makan lewat manipulasi terhadap ilmu pengetahuan modern.***

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir