Pegunungan Sinai: Khilafah Utsmaniyah dan Pelarangan Pemukiman Yahudi

02/02/2015 0:00:00
عبد الكريم إبراهيم السمك Jumlah kali dibaca 1010

Pegunungan Sinai: Khilafah Utsmaniyah dan Pelarangan Pemukiman Yahudi


Pegunungan Sinai: Khilafah Utsmaniyah dan Pelarangan Pemukiman Yahudi
D
R.
Abdul Karim Ibrahim al-Samak

Al-Qur’an beberapa kali menyebutkan nama pegunungan Sinai dan sekitarnya sebagai isyarat pemuliaan. Dalam satu ayat, misalnya, Allah Subhanahu wata’ala berfirman, dan pohon kayu keluar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan pemakan makanan bagi orang-orang yang makan. (QS. al-Mu’minun: 20).

Posisi dan keadaan daerah pegunungan Sinai saat ini, yang sebelumnya berturut-turut diinvasi oleh Napoleon dan kolonialisme Inggris, menarik nafsu gerakan Zionis untuk proyek Yahudisasi. Pasca jatuhnya monarki Mesir pada revolusi Juli 1952, warga Sinai telah merasakan banyak penderitaan dan pelecehan oleh rezim militer Mesir yang silih berganti. Hingga di era rezim sekarang pun, merupakan situasi terburuk dalam menangani warga.

Rumah-rumah dihancurkan di depan mata warga, anak-anak yang tidak berdosa dibunuh. Tindakan-tindakan ini dilakukan sejalan dengan kebijakan sistematis untuk mengosongkan Sinai dengan mengusir warga. Ini dalam rangka penguasaan Yahudi terhadap wilayah Sinai selanjutnya.

GERAKAN ZIONIS DAN YAHUDISASI SINAI

Hubungan antara proyek Yahudisasi Sinai dengan kekuatan Barat dan Yahudi terjadi di era modern beriringan dengan lahirnya gerakan Zionis di era kebengkitan Yahudi. Hal ini ditegaskan Elie Levy Abou Asal dalam bukunya The Awakening of the Jewish World (Era Kebangkitan Yahudi) yang diterbitkan di Kairo pada tahun 1934. Buku ini mengomunikasikan gagasannya kepada generasi abad ke-18, 19 dan generasi paruh awal abad ke-20.

Dalam buku tersebut, penulis menampilkan biografi beberapa tokoh dan keluarga Yahudi yang bersinar dalam gelanggang politik dan ekonomi Eropa. Di sini, keputusan politik Eropa berselingkuh dan bersatu dengan tujuan Zionisme untuk penguasaan Yahudi atas Sinai dan Palestina, terutama setelah pembukaan terusan Suez di tahun 1968.

Pembelian saham Mesir oleh Benjamin Disraeli dari Ismail Pasha yang seharga empat juta pound secara tunai merupakan salah satu fakta dukungan gerakan Zionis terhadap kolonialisme Inggris. Penguasaan Yahudi atas Palestina dan Sinai adalah untuk kepentingan kedua belah pihak: kolonialisme Inggris dan Zionisme.

Keluarga Rothschild dengan segera memberikan sejumlah dana yang diperlukan pada tanggal 25/11/1875, dan di hari berikutnya Disraeli memberikan saham sebesar 176,602 kepada Konsulat Inggris di Kairo secara tunai, sebagai hadiah dari gerakan Zionis untuk pemerintah Inggris.

Kolonel Churchill, yang tinggal di Beirut di pertengahan abad ke-19 dan kehadirannya menjadi penyebab konflik sektarian di tahun 1860, menulis, “Jika Inggris ingin mempertahankan dominasinya di Timur, maka ia harus dengan berbagai cara memasukkan Suriah dan Mesir  ke dalam kendalinya.”

Dalam halnya Perancis, Napoleon melihat pendudukan atas Mesir sebagai bentuk pembalasan dan pemulihan martabat Perancis atas kegagalan Kaisar Louis XIV dalam perang salib VII untuk menduduki Mesir. Sang Kaisar saat itu ditangkap dan ditahan di rumah Abu Luqman di kota Mansoura, Mesir. Napoleon datang dan menginvasi, baik secara militer maupun ideologi, atas dasar kebijakan Yahudisasi terhadap Palestina dan Mesir. Sebelumnya, Napoleon menyeru warga Yahudi Palestina untuk membantunya dalam pengepungan kota Acre (Akko). Sebagai imbalan, ia telah menyiapkan wilayah Mosawia di Palestina buat Yahudi. Patut dicatat bahwa pada saat itu jumlah komunitas Yahudi tidak lebih dari 1.800 jiwa.

Dalam pidato pertamanya kepada warga Yahudi, Napoleon berujar, antara lain Dari Napoleon Bonaparte Panglima Angkatan Bersenjata Republik Perancis di Afrika dan Asia, kepada ahli waris sah Palestina. Wahai bangsa Israel, wahai bangsa yang unik, yang keturunan dan keberadaannya telah coba ditaklukkan dan dirampas oleh kaum tiran, meskipun yang dapat mereka rampas hanya tanah leluhur mereka ….”

Napoleon mempermainkan isu Islam sembari menjadikan isu Yahudi sebagai jaminan terhadap politiknya terhadap dunia Timur. Tujuannya, membendung arus kekuatan Inggris terhadap Mesir dan Arab kawasan barat. Adapun pokok-pokok kebijakan Napoleon adalah sebagai berikut:

1.       Posisi strategis Mesir sebagai gerbang terhadap Laut Tengah dan Laut Merah yang berhubungan dengan laut Arab hingga samudera Hindia.

2.       Mesir merupakan negara yang letaknya dekat dengan utara Afrika sekaligus berhubungan dengan benua Asia melalui semenanjung Sinai.

3.       Mesir merupakan poros penting bagi membendung perluasan pengaruh Inggris di kawasan Timur.

Pada akhirnya, Napoleon menemukan fondasi bagi politik ketimurannya pada Yahudi, setelah Inggris sebelumnya telah melindungi komunitas Yahudi demi melawan Napoleon. Perhatian Napoleon terhadap Mesir lewat pintu Yahudi tidak berhenti sampai di situ. Sejak tahun 1807, Napoleon sesungguhnya telah memiliki gagasan bulat mengenai tanah air Yahudi. Sehingga pada tahun yang sama ia menyerukan diselenggarakannya konferensi Yahudi.

Puncaknya, sebuah pertemuan di Safihroan dilaksanakan yang dihadiri oleh semua kalangan Yahudi Eropa dengan mengirim pemimpin-pemimpin komunitas mereka beserta rabi-rabi terkenal Yahudi. Pada pertemuan ini, dibahas pelbagai masalah yang melingkupi kaum Yahudi saat itu dan menghasilkan banyak resolusi, termasuk Resolusi no. 3 yang berbunyi: Pentingnya membangkitkan kesadaran orang-orang Yahudi terhadap kebutuhan mereka untuk mendapatkan pelatihan militer, sehingga kaum Yahudi dapat melaksanakan tugas suci yang diperlukan dalam agama Yahudi.”

Hal inilah yang mendorong penulis Dolajar untuk menyorot karakter Napoleon dalam hal loyalitasnya terhadap Yahudi melalui bukunya Napoleon dan Militerisme Yahudi.

LITERATUR BARAT DAN YAHUDISASI PALESTINA DAN SEKITARNYA

Penyair Inggris Lord Byron, yang membawa bendera Salib dalam revolusi Yunani 1827 melawan Khilafah Utsmaniyah dan meninggal tidak lama setelah itu, menulis dalam bait-bait berbahasa Ibrani, “Burung merpati memiliki sarangnya, rubah pun memiliki guanya sendiri, dan setiap bangsa memiliki tanahnya kecuali Yahudi, mereka hanya memiliki tanah kuburannya sendiri.”

Di tempat lain, ia menulis, “Saksikanlah Ya Tuhan yang Maha Agung, biarkan Takdir-Mu menjulang, kirimlah sinarnya yang terang dan hangat pada anak cucu Ya’kub, kembalikan mereka yang tersesat ke tanah yang telah dijanjikan di sana, dan tunjuki mereka untuk pergi ke Palestina yang merupakan negeri mereka.”

Kecenderungan Yahudiisme juga terlihat pada para pengikut Saint-Simonianism, sebuah aliran sosial yang terkenal. Dalam sebuah surat dari pengganti Saint-Simon, Pendeta Enfantin kepada Barrow tertanggal 8/8/1833, ia menulis, "Kita harus membuka antara tradisi kuno Mesir dan Yudea kuno dua jalan baru bagi masyarakat Eropa kepada tradisi India dan Cina.  Sebagaimana setelah itu kita juga akan membuka jalan lainnya di antara kita. Demikianlah kita berdiri dengan satu kaki di Nil (Mesir) dan kaki yang lain di al-Quds (Palestina). Kita akan mengulurkan tangan kanan kita ke Mekah dan tangan kiri kita akan terus berada di Roma, dan akan bersandar di Paris. Suez merupakan sentra kehidupan kita: kehidupan kerja. Di sana kita akan mengukir sejarah yang ditunggu-tunggu oleh dunia, agar mereka tahu bahwa kita adalah ... pria sejati.”

Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa semua potensi dikerahkan untuk memuluskan proyek pendudukan Yahudi atas Palestina dan Sinai, baik secara ekonomi, pemikiran dan sejarah, kolonialisme dan bahkan gerakan Evangelis (misionaris kristen). Ini semua ditambah lagi dengan rongrongan terhadap Khilafah Utsmaniyah yang tidak dapat mengelak dari tanggung jawab mempertahankan wilayah kedaulatan membendung politik Yahudisasi yang dipromosikan negara-negara Barat kolonialis terutama Perancis dan Inggris.

DOKUMEN UTSMANI MENGENAI PELARANGAN PEMUKIMAN YAHUDI DI SINAI

Kaum Yahudi tidak menemukan tanah dan negara sebagai tempat pelarian, setelah sebelumnya terusir dari Andalusia (1492), selain wilayah kekuasaan Utsmaniyah. Tetapi nyatanya, orang-orang yang tidak pernah dapat memenuhi janji dan membalas perlakuan baik ini melakukan pengkhianatan pertama mereka terhadap Khilifah Utsmaniyah. Mereka melakukan pemberontakan pada tahun 1908.

Pemberontakan itu dilakukan demi menyokong politik kolonialisme Barat Eropa dan gerakan Zionis yang berada di balik runtuhnya Khilifah Utsmaniyah. Kepentingan Zionis adalah ambisi mereka terhadap Sinai, subjek pembahasan dalam tulisan ini. Artinya, wilayah Sinai tidak diketahui pernah didiami oleh Yahudi sejak era Bani Israil pada zaman Musa alaihis salam.  

Pada masa pemerintahan Khalifah Utsmani Sultan Murad -putra Sultan Salim II (lahir tahun 953 H, memerintah dari 7 Ramadhan 982 H - 5 Jumadal Akhirah 1003 H)- Yahudi mencoba untuk tinggal di kota dan Gunung Thur (Tabor) yang berada di Sinai. Para biara Santa Karina tidak punya pilihan selain meminta tolong kepada Sultan Murad untuk melarang Yahudi tinggal dan menetap  di kota dan daerah Santa Karina. Sultan Murad kemudian memenuhi permintaan itu dan mengirim tiga dokumen dekrit ke Gubernur Mesir saat itu. Ketiga dokumen tersebut masih tersimpan di perpustakaan Biara bersama dengan koleksi langka Utsmaniyah lainnya yang berisi perlindungan terhadap ahl al-dzimmah, dalam hal ini penganut Kristen al-Dir. Jumlah seluruh dokumen mencapai  75 buah.

Ketiga dekrit tadi mengisyaratkan adanya kesadaran pada kekalifahan Utsmaniyah akan bahaya dari pemukiman Yahudi di Sinai. Hal itu akan terlihat jelas saat kita membaca ketiga teks dokumen tsb. Ketiganya adalah sebagai berikut:

Dekrit pertama, nomor 149, awal bulan Jumadil Ula 991 H. Surat ini ditutup dengan cap stempel Sultan. Dekrit ini berbunyi:

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (Kepada) para wakil, pelaksana kebenaran, pemelihara syariat di wilayah Pegunungan Sinai, para Dizdar, hakim dan pemimpin. (Surat ini) memberitahukan mereka bahwa sekelompok pendeta dari wilayah pegunungan Sinai, yang tercatat secara sipil, memberi tahu bahwa bukit mereka adalah bukit yang diberkati  dan tidak memiliki dasar untuk ditinggali oleh Yahudi khususnya di kota. Pendeta tersebut telah mengeluarkan larangan tersebut dan bahwa saat ini seseorang bernama … Ibrahim al-Yahudi telah menuju pegunungan Thur bersama istri dan anak-anaknya dengan maksud menghasut dan mengubah tradisi lama. Maka kami memutuskan untuk mengembalikan oknum Yahudi tersebut beserta istri dan anak-anaknya ke distrik Mesir, dengan tanpa penundaan satu hari pun. Dikeluarkan pada permulaan Jumadil Awwal 989 H. Pejabat dan masyarakat melaksanakan isi dekrit tersebut tepatnya pada tanggal 25 Jumadil Awwal 989 H.

Dekrit kedua, nomor 151 dan ditutup dengan cap stempel Sultan. Dekrit ini berbunyi:

“(Kepada para) wakil, pelaksana kebenaran, penanggung jawab syariat di wilayah pegunungan Sinai, para pengikut, [tanda cap Sultan]. Kawan-kawan terhormat di wilayah pegunungan Sinai, orang-orang kepercayaan,  para penjaga, para Dizdar. Surat ini menyampaikan bahwa para pendeta biara dari wilayah pegunungan Sinai telah menyampaikan kepada kami bahwa semenanjung pegunungan Sinai biasanya tidak ditinggali oleh orang-orang Yahudi sama sekali.

“Namun, sekarang orang-orang Yahudi mengajukan protes, kadang dengan ancaman disintegrasi atau selainnya; mereka tinggal di kota bersama kerabat dan anak-anak mereka. Keberadaan mereka menimbulkan kerusakan besar terhadap khususnya di tempat berdoa Nabi Musa. Sebelumnya, jika mereka memiliki keperluan, seorang delegasi dari mereka akan datang memenuhi keperluannya kemudian pulang. Namun, sekarang mereka melanggar kebiasaan itu dan datang secara berombongan. Sekelompok dari mereka kini tinggal dan menetap di wilayah pegunungan Thur, beda dengan kebiasaan sebelumnya.

“Perintah Sultan yang wajib ditaati bahwa sebagaimana tidak pernah Yahudi berada di pegunungan Thur sejak zaman dahulu dan sekarang mereka menuju pegunungan dan melanggar syariat, kebiasaan, dan undang-undang. Maka terlarang bagi Yahudi untuk itu sama sekali. Hendaklah mereka taat kepada perintah Sultan yang mulia, melaksanakan keputusan ini dan tidak melanggar. Mencegah orang-orang Yahudi untuk melanggar terhadap aturan syariat dan undang-undang dan untuk tidak tinggal di gunung Thur dan tidak melanggar kebiasaan dalam hal itu. Ditetapkan pada tanggal 29 shafar 991 di kota Mesir. Dekrit ini hendaklah dijunjung tinggi dan diterima dengan sikap mendengar dan taat.

Dekrit  ketiga, nomor 160 dan ditutup dengan cap stempel Sultan. Dekrit ini berbunyi:

“(Kepada) para wakil, pembawa panji kebenaran, pemegang teguh syariat yang mulia di Thur, kebanggaanku para anggota yang taat dan kawan, para hakim dan gubernur.

“Hendaknya diketahui bahwa para biarawan dan kaum Kristen di pegunungan Sinai telah memberitahukan kepada kami bahwa praktek yang berlaku sejak dahulu hingga sekarang adalah bahwa orang-orang Yahudi tidak tinggal kota sama sekali. Dan jika mereka memiliki kepentingan mendesak tertentu, maka satu atau dua orang dari delegasi Yahudi akan datang dan menyelesaikan keperluan mereka kemudian kembali ke tempat asalnya.

“Namun, saat ini kelompok Yahudi telah bertambah banyak dan meninggali kota bersama keluarga dan anak-anak mereka. Padahal, di tangan kelompok Kristen terdapat perintah Sultan yang mulia yang berisi ketentuan sebelumnya, melarang tindakan Yahudi tersebut. Maka kami tetapkan agar mereka mentaati perintah Sultan yang mulia dan menjalankannya, serta tidak melanggar. Dan bagi petugas kota yang berdedikasi, maka tidak diperlukan pembahasan lanjutan. Adapun Yahudi selainnya, maka dilarang untuk tinggal di kota dan tinggal secara umum dengan teknis pelaksanaan yang berjalan sebagaimana biasa. Hendaknya ketentuan ini dilaksanakan secara sempurna. 20 Dzulqa’dah 993, kota Mesir. Taatlah kepada perintah mulia ini, dan terimalah dengan sikap mendengar dan taat.”

SULTAN ABDUL HAMID II DAN GERAKAN ZIONIS

Di atas tadi adalah tiga dokumen dekrit Khalifahan Utsmaniyah yang melarang pemukiman Yahudi di Sinai. Adapun pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II, kekhalifahan mengambil kebijakan berbeda terhadap komunitas Yahudi. Di masa pemerintahannya, gerakan Zionis telah aktif pasca konferensi Basel pada tahun 1897. Sebelum konfrensi pun Sultan Abdul Hamid sudah menyadari bahaya dari gerakan tsb, hingga beliau mengeluarkan tiga dekrit Sultan hanya dalam beberapa hari pada bulan Dzulqa’dah 1308 H/1891, yaitu pada tanggal 21,28,29.  Semua dekrit tsb mempertegas larangan mukim bagi imigran “pengikut” Nabi Musa (Yahudi) di wilayah kaum Muslim di Sinai dan Palestina, terutama setelah pengusiran mereka dari Eropa.

Dekrit kedua Sultan berbunyi:

“Tujuh hari setelah dekrit pertama Sultan, inilah dekrit yang kedua. Kepada komisi militer ma’iyyah sunniyyah. Sesungguhnya tindakan untuk menerima imigran Yahudi dan menampung mereka atau memberikan kepada mereka kewarganegaraan adalah sangat berbahaya. Di masa yang akan datang hal ini akan menimbulkan problem hukum migrant Yahudi. Karena itu, menolak kedatangan mereka adalah keharusan. Hal ini harus diperhitungkan dalam mengkaji masalah ini. Keputusan ini harus segera dilaksanakan sejak hari ini, dan dekrit ini hendaknya menjadi prioritas terpenting sekertaris khusus.”

Pada hari ke-29, Sultan mengeluarkan dekrit selanjutnya. Bunyinya, “Tidak satu pun negara yang berhak memprotes penolakan kami terhadap imigran Yahudi yang telah diusir dari negara beradab… Negara-negara yang memprotes tersebut lebih pantas mengarahkan protes mereka kepada negara yang telah mengusir dan menolak keberadaan mereka (Yahudi).”

Dalam rangka realisasi dekrit tersebut, sejumlah aturan dikeluarkan pada tahun 1900 M. Aturan khusus yang ditujukan kapada pengunjung al-Quds (Yerusalem) dari kalangan Yahudi tersebut sbb:

-     Para pengunjung Yerusalem dari kalangan Yahudi harus membawa surat jalan (visa) yang memuat sifat, tujuan, dan jangka waktu lama perjalanan, serta identitas pemilik visa.

-     Semua Yahudi yang tiba di Beirut atau pelabuhan mana pun dalam wilayah al-Quds harus menitipkan tiket perjalanannya pada imigrasi dengan membayar sebesar satu qirsy. Masa keberadaan di Palestina adalah tiga bulan. Bila setelah jangka waktu tersebut pemilik tiket belum meninggalkan Palestina maka polisi akan mengeluarkannya secara paksa.

-     Memantau visa tinggal para pengunjung setiap bulan, sehingga polisi dapat mengeluarkan para pelanggar dari kalangan Yahudi.

-     Tindakan tegas harus diambil terhadap pelaku pelanggaran beserta pegawai administrasi yang bertanggung jawab atas pelaksanaan peraturan ini.

Ketika Kaisar Jerman Wilhelm II berkunjung kepada Sultan pada tahun 1898 M, Theodor Herzl dengan segera menemui Kaisar agar dapat menjadi perantara terhadap Sultan Abdul Hamid. Namun Kaisar Jerman menolak untuk mengungkit isu tersebut karena dia paham sikap Sultan terhadap posisi Palestina dalam konteks Islam. Selanjutnya, ketika Wilhelm II hendak menuju Syam, Herzl mendahuluinya menuju ke Palestina melalui pintu gerbang Mesir melalui Sinai. Herzl meminta orang-orang Yahudi Palestina untuk merayakan kedatangan Kaisar Jerman. Namun, Herzl lagi-lagi tidak memperoleh apa yang diinginkannya dari Kaisar Wilhelm II.

Saat itulah Herzl menyadari bahwa cita-citanya tidak mungkin terwujud melainkan dengan cara menyingkirkan Sultan Abdul Hamid, dan itu melalui dua cara yang saling menyokong. Pertama, eksternal yang terkait dengan negara-negara Eropa dan peranannya dalam menjatuhkan Khilafah Utsmaniyah. Kedua, internal yaitu oleh Yahudi Jama’ah al-Ittihad wa al-Taraqqi (Organisasi Persatuan dan Kemajuan). Strategi tersebut akhirnya berhasil dengan diturunkannya Sultan yang menyusul kudeta Konstitusi tahun 1909 M.

Saat lima orang delegasi dari kelompok pemberontak menemui Sultan untuk menyampaikan pencopotan Sultan dari jabatannya, salah seorang di antara mereka adalah seorang Yahudi bernama Kurh Soh. Saat melihat kehadirannya, Sultan berkata kepada para delegasi, “Apa yang dilakukan oleh si Yahudi ini di antara kalian, dalam urusan menurunkan khalifah Kaum Muslimin?

Penulis teringat dengan sikap yang menunjukkan harga diri dan martabat Sultan ketika Inggris mengirim pasukan militer ke ke pelabuhan Aqaba, atas dasar bahwa Sinai adalah milik Mesir. Dia segera mengirim pasukan Utsmaniyah untuk mengusir kekuatan Mesir. Ketika konsulat Inggris di Istanbul memprotes tindakan tersebut, jawaban Sultan adalah, “Apakah pemilik tanah harus meminta izin dahulu kepada pihak lain untuk urusan hak miliknya?”

Setelah kelompok nasionalis Arab bersorak atas tersingkirnya Sultan, tidak butuh waktu lama hingga bencana Yahudisasi Palestina terjadi. Apalagi memang Yahudi berada di balik kudeta tsb.

Penulis teringat dengan sebait puisi dari penyair besar Faris Alkhuri. Puisi tersebut berisi sindiran tajam kepada Sultan. Namun, ketika dia mengetahui peran orang-orang Yahudi dan Freemasonry dalam kudeta, Faris Alkhouri menyampaikan permintaan maaf kepada Sultan atas puisinya tersebut di dalam memoarnya. Faris menulis, “Saya tidak pernah sangat menyesal dalam hidup saya sebagaimana besarnya penyesalan untuk apa yang telah saya katakan dalam puisi saya tentang Sultan.”

Setelah kudeta berhasil, Sultan mengucapkan sebuah ungkapan abadi kepada Herlz:

Sungguh meski kalian memberikan emas sepenuh bumi, apatah lagi sekadar £ 150,000,000 emas Inggris, saya tidak akan pernah menerima tawaran anda dengan keputusan yang kokoh. Saya sungguh telah melayani agama Islam dan Umat Muhammad selama lebih dari 30 tahun. Saya belum pernah mencoreng catatan sejarah kaum Muslim, ayah dan kakekku para sultan dan khalifah Utsmaniyah. Karenanya, secara pasti saya tidak akan pernah menerima tawaran Anda.

“Demikian, sungguh aku memuja dan memuji Allah, bahwa saya tidak pernah menerima untuk mengotori negeri Utsmaniyah dan dunia Islam dengan aib abadi yang timbul dari tawaran mereka untuk mendirikan sebuah negara Yahudi di tanah yang disucikan –Palestina. Adapun apa yang terjadi setelahnya maka terjadilah. Untuk itu, aku mengulangi lagi pujian dan pujaan kepada Allah Ta’ala. Saya yakin bahwa apa yang saya sampaikan ini penting untuk diketahui dan dengannya saya menutup pesan ini. 22/9/1898 M. Pelayan Kaum Muslimin, Abdul Hamid ibn Abdul Majid.”

Jurnalis Yusuf Ibrahim Yazbik menuturkan dalam bukunya Hari-hari di Libanon ungkapan duka cita Uskup Maronit di Lebanon, Ilyas Alhuwaik, yang disaksikan oleh dokter Sultan yang merupakan seorang pengikut Maronit. Saat ia diberitahu tentang kematian Sultan, Uskup Alhuwaik berkata, Kita telah hidup di bawah kekuasaannya dengan seribu (berlimpah) kebaikan dari Allah, dan kita tidak tahu apa yang akan datang kepada kita di hari-hari setelah kematiannya.”

Demikianlah gambaran seutuhnya  mengenai penjagaan bumi Arab di bawah kekuasaan Khilafah Utsmaniyah selama hampir 500 tahun. Dan ketika orang-orang Arab memberontak terhadap Kekuasaan Utsmaniyah, mereka terdampar sendiri dalam revolusi Arab yang menyengsarakan mereka yang mengakibatkan terbengkalainya negara dan terusirnya warga. Bahkan akhirnya mereka harus melegitimasi Yahudisasi Palestina melalui Perjanjian Faisal dan Weizmann di tahun 1919.

Semoga Allah merahmati Syekh Hasan Albanna, Sayyid Quthub, dan Hasan al-Hudhaibi yang telah menyuarakan ancaman bahaya penguasaan Yahudi terhadap Sinai. Peringatan mereka disebarkan dalam sebuah buklet kecil yang di dalamnya mereka berbicara mengenai ancaman masa depan Sinai setelah keberhasilan pendudukan Yahudi atas Palestina.

Kekacauan politik yang terjadi di Sinai saat ini adalah seperti yang telah terjadi di Mesir. Kelompok kudeta ingin menerapkan makar khianat mereka terhadap penduduk Sinai dengan membunuh, mengusir dan menghancurkan mesjid-mesjid; serta menghalangi setiap upaya pembangunan dan sikap empati terhadap bumi yang diberkati ini. Apakah di sana akan terjadi persekongkolan tersembunyi dengan Israel?

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir