Mabuk Ilmu

02/02/2015 0:00:00
سالم أحمد البطاطي Jumlah kali dibaca 842

Mabuk Ilmu


Mabuk Ilmu

Salim Ahmad al-Bathathi

Penulis pernah bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah ilmu itu terpuji pada dirinya sendiri atau pada aspek lain di luar dirinya? Hal pertama yang muncul di benak penulis adalah ia tidak terpuji secara apriori. Alasannya, jika ilmu itu tidak diikuti dengan realisasi amal, hal itu justru merupakan aib bagi pemiliknya. Ilmu  mulia secara bersyarat, berdasarkan manfaatnya dan realisasi amal. Alasan lainnya, karena ilmu tertentu justru menyebabkan pemiliknya tercela, semisal pemilik ilmu-ilmu yang diharamkan.

Namun kemudian, penulis mengevaluasi ulang alur berpikir penulis dalam menilai kemuliaan sesuatu secara apriori. Jika mengikuti alur sebelumnya, maka tidak ada satu perbuatan pun yang dapat dikatakan mulia secara apriori. Semisal shalat, ia tidak dapat disebut sebagai perbuatan mulia secara apriori, karena pelaku shalat yang belum mengikrarkan syahadatain, maka shalatnya tidak berarti. Amalan salatnya pada hari kiamat hanya akan menjadi sebagai debu yang diterbangkan angin. Ikrar syahadatain juga tidak dapat dikatakan terpuji secara apriori, karena mereka yang berikrar tanpa melaksanakan shalat, ikrar syahadat tersebut tidak akan memberinya manfaat –yakni dalam salah satu pendapat ulama yang lebih masyhur. Demikianlah seterusnya sehingga setiap perbuatan senantiasa memiliki dua sisi, terpuji di satu sisi dan tercela dari sisi lainnya. Sementara status hukum sesuatu ditegakkan berdasarkan kondisi umum dan asalnya, sehingga perkara yang janggal (syadz) tidak menjadi pertimbangan dalam menggugat hukum umum.

Berangkat dari pendahukuan di atas, kita bisa melihat bahwa ilmu itu pada dasarnya terpuji secara apriori. Dalil-dalil umum mendeskripsikan ilmu dalam konteks pujian terhadapnya. Allah berfirman, dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha: 114); “Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. al-Zumar: 9); “niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. al-Mujadilah: 11).

Adapun dalil yang menunjukkan tercelanya ilmu, itu dikaitkan dengan penyebabnya. Firman Allah, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Alkitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.” (QS. al-A’raf: 175-176).

Yakni saat mereka memperturutkan hawa nafsu dan meninggalkan realisasi amal dari ilmu yang ia miliki, maka Allah memisahkannya dari status asal ilmu, yaitu pujian bagi pemiliknya dengan mengganti ketinggian kedudukannya dengan kecenderungan kapada dunia. Ungkapan terakhir (cenderung/ kekal/ ’khulud’) ini lebih besar daripada sekadar tinggal sementara, karena kekal berarti tinggal dalam jangka waktu yang panjang dan mungkin tanpa akhir. Kemudian para pelakunya diserupakan dengan seburuk-buruk perumpamaan bagi manusia yaitu anjing, hewan dengan suara yang paling jelek, yang jika liurnya menyentuh bejana maka hanya bisa disucikan dengan pencucian air tujuh kali yang awalnya disertai dengan tanah. Sebuah isyarat yang menunjukkan bahwa Allah telah mengubah keadaan, lisan, dan ucapan mereka.

Sidang pembaca dapat memperhatikan bagaimana perubahan keadaan setelah sebelumnya mereka dimintakan ampun dan dinaungi sayap-sayap oleh para Malaikat langit, menjadi kekal di bumi. Perubahan suara dari sebelumnya mereka mengulang-ulang membaca ayat-ayat Allah, menjadi menggonggong. Lisan dan seruannya yang berubah menjadi najis berat. Kesemuanya setelah mereka meninggalkan pelaksanaan amal dari ilmu yang mereka miliki dan memperturutkan hawa nafsu. Sungguh terhina makhluk yang membangkang di sisi Allah. Alangkah terhina pemilik ilmu yang membawanya namun meninggalkan kewajiban amalnya.

Demikianlah, ilmu akan mengangkat derajat ahlinya, dan sebaliknya akan menghinakan mereka yang berpaling darinya. Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda mengenai ahli Al-Qur’an –yang merupakan ilmu yang paling mulia— “Sungguh Allah akan mengangkat derajat sekelompok manusia karena Al-Qur’an ini dan akan menghinakan sekelompok lainnya karenanya.

Ahli Al-Qur’an sejati adalah mereka yang mengamalkan dan mengambil manfaat dari Al-Qur’an. Bukankah buah dari ilmu adalah amal? Buat apa kita berupaya keras dalam mengejar ilmu jika ilmu yang kita tuntut tidak dapat mengubah perilaku kita? Jika kedudukan seseorang dalam ilmu hanya diukur berdasarkan pertambahan dan akumulasi ilmunya, maka perangkat mobile (HP) memiliki kapasitas yang lebih besar dari kemampuan manusia. Lalu apa yang membedakan kita dengannya selain dari segi memanfaatkan dan mengamalkan apa yang kita ketahui?

Setiap tambahan pengetahuan atas ilmu kita yang sedikit, namun tidak berdampak terhadap  hidup dan perilaku kita, sesungguhnya hanya sebentuk penyia-nyiaan waktu danpemborosan usia; bahkan jadi semacam bencana bagi pelakunya. Dan ketika Allah memerintahkan kita untuk memohon tambahan ilmu kepada-Nya, itu karena ilmu tersebut akan membuahkan amal perbuatan. Karena itu, permohonan tambahan ilmu kepada Allah juga berkonsekuensi permohonan akan tambahan amal. Allah berfirman, Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).

Sikap berpaling dari mengamalkan ilmu paling membahayakan bagi ilmu ilmu itu sendiri, dan membuat orang-orang lari dari menuntut ilmu. Ilmu adalah pakaian yang paling indah andai pemiliknya tidak menggunakannya sebagai sarana untuk menyombongkan diri di tengah-tengah masyarakat, tidak memanfaatkan ilmunya dalam hidup dan perilakunya, akhlak serta pergaulannya, juga tidak mengajarkannya kepada orang lain. Karena sebab-sebab ini, tertanam di dalam benak orang-orang umumnya bahwa ilmu itu menyebabkan sikap sedemikian itu. Padahal, ahli ilmu seharusnya menjadi orang yang paling mulia akhlaknya, paling santun dalam pergaulan, serta paling baik dalam bertutur. Dan hendaknya hubungan antara ilmu dan perilaku tersebut adalah hubungan yang berurutan, bertambah dengan bertambahnya ilmu dan berkurang dengan berkurangnya ilmu.

Bukankah Nabi sallallahu alaihi wasallam  telah bersabda, “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Ungkapan Nabi bukan hanya beliau ulang-ulang di mimbar, namun ucapan yang beliau buktikan dalam diri pribadi beliau yang mulia, disaksikan oleh setiap kalangan, anak-anak, dewasa, fakir, kaya, pria maupun wanita.

Sebenarnya masyarakat ingin melihat ilmu Anda -sidang Pembaca- dalam perilaku dan akhlak, bukan di lisan dan kepala Anda. Sungguh disayangkan bila orang-orang melihat mereka yang berbicara mengenai akhlak Nabi shallallahu alaihi wasallam, mengenai ganjaran senyum kepada saudara Muslim, bahkan mungkin kalangan ini dapat menyebutkan jalur-jalur rawi hadits tsb serta ucapan ulama tentangnya; namun saat bertemu dengan orang-orang mereka menampakkan wajah bersungut serta akhlak yang keras lagi kasar. Atau seorang yang mungkin sangat bergairah pada ilmu, sangat cinta dan bergantung kepadanya, namun ilmunya hilang dalam dunia amal, hilang satu jenis ibadah dari ibadah lainnya.

Tidak diragukan bahwa ilmu memiliki kenikmatan yang barangsiapa telah merasakannya, sulit baginya untuk meninggalkan atau menyibukkan diri dengan selainnya. Sampai-sampai dia tidak melihat kelezatan dari apa pun selain ilmu, hilang darinya kelezatan duniawi. Sebagaimana hilangnya cahaya bintang dan planet saat terbitnya cahaya matahari. Rasa asyik ini bahkan terkadang membuat pelajar menjadi mabuk ilmu, mabuk hingga melupakan selain ilmu, hingga pada ibadah sekalipun, hingga sebagian rela meninggalkan beberapa kewajiban. Seperti mereka yang meninggalkan pemenuhan kebutuhan orangtuanya karena sibuk membaca! Ia hilang dari buah ilmu yang tanpanya, ilmu justru menjadi tercela pada pemiliknya. Jadilah, orang yang beramal namun jahil lebih baik darinya.

Inilah jenis keasyikan yang luput oleh pemiliknya. Di mana pula ada orang mabuk yang dapat menyadari mabuknya? Lalu bagaimana jika mereka yang mabuk ini meyakininya sebagai mabuk ibadah dan pendekatan diri kepada-Nya? Meski sesungguhnya itu benar, namun saat ilmu hanya bersendiri dan terpisah dari amal, ilmu menjadi bencana bagi pemiliknya. Kedudukan ilmu hanyalah dituntut karena berdampak pada amal dan rasa takut. Amallah yang memberi status mulia pada ilmu.

Kata Allah, Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? (QS. al-Zumar: 9). Kedua golongan tersebut di ayat tidak sama kedudukannya di sisi Allah, tidak juga sama di sisi manusia dari segi amal, akhlak, serta status. Adapun jika ilmu tidak membersihkan jiwa dan akhlak pemiliknya; sementara si jahil tampak lebih baik di kalangan manusia, lebih bermanfaat dan lebih baik perilakunya, maka ilmu menjadi hujjah atasnya di sisi Allah kemudian makhluk-Nya. Andaikan saja dia menjadi jahil saja, karena saat itu ia sungguh telah membahayakan dirinya dan citra ilmu di kalangan masyarakat.

Sebagai tambahan bahwa ilmu pada substansinya adalah bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah, hendaklah ia diletakkan secara proporsional dalam hierarki pembebanan syariat. Ibadah anjuran atau mustahab tidak didahulukan atas yang wajib. Tidak juga perkara wajib atas sesuatu yang lebih wajib. Jika saja para ulama telah berbeda pandangan mengenai kasus seorang ibu yang memanggil anaknya yang sedang shalat –yang merupakan ibadah teragung dan terbesar setelah syahadatain— apakah ia mesti menghentikan shalatnya demi menjawab panggilan ibunya; lalu bagaimana pula dengan hokum ibadah wajib lain yang lebih rendah?

Sebagian kalangan mungkin membatasi dirinya hanya dengan mengamalkan ibadah-ibadah lahiriyah, berupa shalat, puasa, infak, dzikir. Dia mengira bahwa dirinya telah merealisasikan tuntutan beramal. Ibadah-ibadah tersebut tentu saja merpakan ibadah yang agung. Namun, sebaliknya dia kehilangan akhlak yang baik, pergaulan yang luwes, sopan santun, yang juga merupakan jenis ibadah wajib bagi seorang Muslim, terutama kalangan ulama yang paham dalil-dalil dan keutamaannya.

Fenomena ini mungkin lahir sebagai dampak dari pembagian sebagian ulama, terutama kalangan ahli fiqh, yang membagi amal perbuatan menjadi jenis ibadah dan jenis muamalah. Yaitu dengan mengelompokkan ibadah sebatas hubungan langsung antara hamba dengan Rabbnya, seperti shalat, puasa, haji dan semacamnya. Sementara muamalat adalah hubungan antara sesama manusia. Padahal, muamalat termasuk bentuk ibadah yang tidak terpisah dari pengabdian kepada-Nya. Karena itu, seorang hamba senantiasa berada dalam lingkup ibadah sepanjang dia bergaul dengan sesamanya dengan cara sebagaimana yang Allah tetapkan.

Sangat  disayangkan jika seorang alim tampak kering dan keras di kalangan orang-orang, padahal dia membaca firman Allah yang ditujukan kepada RasulNya beserta umat seluruhnya: Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu (QS. Ali Imran: 159). Lalu, kalangan ini menolak orang yang bertanya, menghardik mereka yang datang kepadanya dengan pelbagai keperluan mereka. Dia tidak meluangkan waktunya sedikit pun karena asyiknya dengan ilmu. Dia beribadah kepada Allah di atas hamparan-hamparan sejadah, namun bermaksiat kepada-Nya di pasar-pasar di antara manusia.

Sungguh agung perilakumu wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, budak wanita kecil mendatangimu padahal engkau adalah utusan Allah, di pundakmu negeri terluas, di bawah putusan hukummu negara Islam; namun budak kecil ini menggandeng tanganmu dan berjalan bersamamu hingga engkau memenuhi keperluannya.

Setiap kali orang berbicara tentang hubungan antara ilmu dan amal, terkenang bagi penulis gambaran Syaikh penulis, Imam Alamah Abdullah ibn Jibrin –semoga Allah merahmati dan menempatkannya di kebun surga yang luas. Sungguh penulis belum pernah menjumpai orang lain yang dapat menandinginya dalam hal ilmu, amal, dan ibadah. Di tengah kecintaan dan gairahnya yang mendalam terhadap ilmu, dia meluangkan waktunya khusus setelah Ashar bagi masyarakat umum. Dia memenuhi keperluan mereka serta mendengarkan dan menjawab persoalan-persoalan mereka.

Pernah sekali waktu, saat penulis masih duduk di bangku sekolah menengah, penulis mendatangi lalu duduk di sampingnya. Dia kemudian meraih tangan penulis kemudian berbincang dan menanyai penulis laiknya seorang ayah kepada anaknya. Kemudia penulis bertanya sendiri dalam hati kenapa dia mau meluangkan waktunya untuk orang-orang, berbincang dan duduk bersama mereka dan memenuhi keperluan mereka semampunya. Dan itu dia lakukan dengan penuh suka cita tanpa terlihat bosan atau marah. Sementara dia bisa saja memanfaatkan waktu tersebut untuk diri pribadinya atau dengan membaca. Karena orang-orang yang sibuk dengan ilmu biasanya sulit melepaskan diri dari aktivitas ilmiah meski sejenak.

Setelah itu aku paham bahwa dia bukan sekadar seorang ulama yang mengumpulkan pengetahuan demi memenuhi hasrat dan mengisi kepalanya. Tapi dia adalah seorang alim, amil dan ahli ibadah. Dia senantiasa mempatrikan dalam dirinya bahwa Allah menciptakan kita untuk satu tujuan. Firman Allah, Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. al-Dzariyat: 56).  

Tujuan utama penciptaan kita bukanlah semata ilmu, atau memperlakukan manusia dengan baik, atau semata shalat. Tujuannya adalah ibadah. Sebuah kata yang mencakup semua jenis ibadah. Karena itu, dalam bentuk apa pun, ia dituntut sepanjang ia adalah ibadah dan bentuk pendekatan diri kepada Allah. Baik itu berupa pemenuhan terhadap keperluan orang lain, tersenyum kepada sesama, mendengarkan keluhan orang lain, atau belajar.

Demikianlah yang penulis kira mengenai guru penulis itu. Dan tidaklah penulis bermaksud mensucikan seseorang di hadapan Allah (yang lebih tahu keadaan sebenarnya). Karenanya, Allah memberkati ilmu dan kekuatan hapalannya. Dia dikaruniai ilmu dan kekuatan menghapal yang diakui oleh orang-orang. Sebagaimana harta yang diberkati akan berkembang, demikian juga dengan ilmu yang diberkati. Berkat ilmu diraih dengan mengamalkannya. Allah berfirman, Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu” (QS. al-Baqarah: 282).

Alangkah indah ungkapan Imam Abu Hanifah, “Fiqh akbar (aqidah keimanan) dalam agama lebih baik daripada fiqh dalam ilmu. Seseorang yang memahami bagaimana seharusnya dia menyembah Rabbnya lebih baik daripada orang yang sekadar mengumpulkan ilmu yang banyak.”


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir