KETELADANAN RASULULLAH DALAM BERUMAH TANGGA

24/12/2014 0:00:00
محمد شعطيط Jumlah kali dibaca 831

KETELADANAN RASULULLAH DALAM BERUMAH TANGGA


Muhammad Shathit

 

Sunnah  Nabishallallahu 'alaihiwasallam adalah teladan  terbaik, terindah, dan paling sempurna. Terutama dalam hubungan harmonis beliau bersama para istrinya.  Sunnah Rasulullah terhadap wanita berada di posisi terbaik, tidak condong kepada pihak yang berusaha mengeluarkan wanita dari kodrat dan kesuciannya atau menjadikannya barang murah. Tidak pula condong kepada pihak yang mengintimidasi perempuan dan merampas hak asasi yang diberikan syariat Islam kepadanya. Sunnah Nabi datang menampik kedua metodologi di atas. Islam mengembalikan hak asasi dan kehormatan wanita dengan aksi bukan sekedar basa-basi. Tidak sekedar slogan kosong, melainkan dengan hukum yang bijaksana.

Rasulullah adalah teladan terbaik dalam kehidupan rumah tangga. Beliau adalah contoh hidup dan "Al-Qur'an yang berjalan" di tengah manusia. Rekomendasi maha tinggi yang disematkan AllahTa'alakepada Rasulullah adalah rekomendasi tiada tanding:

"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.(QS. al-Qalam: 4)

Hak dan Kewajiban

Masyarakat muslim terbagi dua kelompok:

Pertama,kelompok yang jika kata 'wanita' disebutkan, maka yang mereka tahu hanya ayat: "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. (QS. an-Nisa': 34) Atau hadits tentang kewajiban istri  taat dan tunduk pada suami, seperti sabda Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam:"Sekiranya aku (boleh) menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, tentu aku suruh istri  untuk sujud kepada suaminya."[1]Atau hadits yang menegaskan bahwa perempuan hakikatnya diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Juga nas–nas lain yang disalahinterpretasikan lantaran  tidak merujuk kepada ulama dalam memahami maknanya.

Kedua,adalah kelompok yang telah menyerap ideologi Barat sehingga standar kebaikan baginya adalah segala sesuatu yang datang dari Barat. Padahal di sana perempuan diperlakukan tidak ubahnya seperti boneka; bahan permainan dan kesenangan atau sarana promosi dan mencari popularitas.  Sehingga wanita biasa ditampilkan setengah telanjang pada reklame siaran Tv atau cover media massa juga di kantor-kantor, dll.

Kepada kelompok pertama kita jelaskan bahwa syariat yang memerintahkan wanita untuk menaati suaminya juga yang memberikan kepada kaum pria  kepemimpinan dan otoritas adalah syariat yang juga memerintahkan para suami  untuk memperlakukan istri -istrinya dengan baik dan santun. AllahTa'alaberfirman:

"Dan bergaullah dengan mereka secara patut."(QS. an-Nisa': 19)

"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf."  (QS. al-Baqarah: 228)

Juga hadits-hadits Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam, seperti sabda beliau: "Berwasiatlah kepada istri dengan kebaikan."[2]

Sabda Rasulullah:"Berhati-hatilah kamu dalam urusan wanita. Sesungguhnya wanita itu pendukung yang di bawah tanggungjawab kamu. Kamu jadikan mereka sebagai istri  berdasarkan amanah Allah."[3]

Juga sabda beliaushallallahu 'alaihi wasallam:“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menetapkan sanksi atas hak dua orang yang lemah, yaitu hak anak yatim dan hak wanita."[4] 

Kepada kelompok kedua ditegaskan bahwa bukan hanya Barat yang bisa memberikan teladan baik dalam menghargai wanita, bahkan Barat tidak mengenal penghargaan dan penghormatan wanita kecuali setelah berinteraksi dengan kaum muslim berkat ekspansi Islam ke Eropa, utamanya Andalusia.Fakta ini tersebar di buku-buku sejarah, ilmu sosial dan ilmu politik. Bahkan wanita Barat tidak bisa meraih haknya kecuali dengan perjuangan keras. Sedangkan dalam syariat Islam hak-hak wanita disuguhkan di dalam nampan emas.

Ketika Bangsa Eropa dan lainnya sangat terbelakang, penistaan dan penindasan terhadap wanita hampir merata di semua elemen. Bukankah hak memberi suara baru disahkan untuk pertama kalinya di New Zeland pada tahun 1893? Di Amerika sendiri perempuan baru mempunyai hak suara dalam taraf nasional pada tahun  1920.  Padahal sejak 14 abad lalu wanita muslimah sudah mempunyai hak berpartisipasi dalam baiah seperti Baiah Aqabah I dan II. Juga sudah diberikan hak mengelola harta pribadinya dalam transaksi jual beli, hadiah, dan sedekah.

 Teladan Rasulullah dalam Bergaul Bersama Istri-istrinya

Romantisme dan keindahan rumah tangga harus dibangun bersama. Jika wanita diperintahkan taat, melayani suaminya dan selalu berpenampilan baik, maka suami juga harus beriskap lemah lembut dan berpenampilan baik di depan istrinya. Artinya bukan hanya istri yang dituntut selalu berlaku baik dan santun, tetapi suami juga harus berbuat sama. Inilah teladan yang diajarkan Rasulullah dalam kehidupan rumah tangga beliau.

Sahabat-sahabat Rasululah juga telah mengikuti sunnah tersebut. Ibn Abbasradhiyallahu 'anhumaberkata:"Aku senang berhias untuk istriku sebagaimana aku senang dia berdandan untukku. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf."  (QS. al-Baqarah: 228)

Marilah kita arungi bersama samudera keteladanan Rasulullah dalam bergaul bersama  itsri-istri beliaushallallahu 'alaihi wasallamdengan penuh penghayatan  dan konsentrasi.

1.      Berlemah lembut dengan istri saat makan dan minum, atau momen lainnya.

Ummul Mumkimin Aisyahradhiyallahu 'anhaberkata,"Aku minum ketika sedang dalam keadaan haid, kemudian aku memberikannya kepada Nabi shallallahu'alaihi wasallam, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat mulutku (ketika minum)."[5]

 Aisyah juga bercerita:"Rasulullah menyandarkan kepalanya di pangkuanku  sedangkan aku dalam keadaan haid, lalu beliau membaca Al-Qur'an."[6]

Sebagai utusan Allah dan pemimpin tertinggi kaum muslim, Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallamtetap menjaga kemesraan dan keharmonisan bersama istri-istri beliau. Interaksi yang sangat memukau, penuh lemah lembut dan penghargaan tinggi kepada istri, itulah pelajaran berharga yang kita dapatkan dari dua hadits ini.

2.      Memuji dan  memuliakan kedudukan istri.

Dari Anas ibn Malikradhiyallahu 'anhuia bekata:

Ketika mendengar sindiran Hafshahradhiyallahu 'anha  yang mengatakan bahwa ia putri Yahudi,  Shafiyahradhiyallahu 'anhalangsung menangis. Saat masuk dan menyaksikan itu, Rasulullah bertanya:"Apa yang membuatmu menangis?"Shafiyah menjawab:"Hafshah mengatakan aku putri Yahudi."Rasulullah lantas berkata:"Sesugguhnya engkau adalah putri Nabi, pamanmu juga seorang Nabi, dan engkau adalah istri Nabi. Lantas apa yang bisa ia (Hafshah) banggakan?"Kemudian beliau menasehati Hafshah:"Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah."[7]

Dengan penuh kasih sayang Rasulullah membela Shafiyah  dan  menegaskan betapa mulia kedudukannya. Beliau juga menasehati Hafshah dengan lembut.

3.      Bergaul dengan baik dan romantis.

Dari Aisyahradhiyallahu 'anhaberkata: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai sholat ashar maka beliau masuk menemui istri-istrinya lalu mencumbui salah seorang di antara mereka."[8]

Dalam riwayat lain dari Aisyahradhiyallahu anhaia berkata:"Jarang sekali Rasulullah tidak berkeliling ke rumah semua istrinya. Beliau mencumbui setiap istrinya (tanpa hubungan suami istri) sampai ke rumah istri yang giliran beliau bermalam bersamanya."[9]

Rasulullah senantiasa berbuat adil kepada semua istrinya. Penuturan ummul mukminin di atas menunjukkan betapa besar kasih sayang dan romantisme Rasulullah kepada para istri beliau.

Dari Nu'man ibn Basyir ia berkata:

Suatu hari Abu Bakar al-Shiddiqradhiyallahu 'anhudatang minta izin untuk masuk menemui Nabishallallahu 'alaihi wasallam. Lalu ia mendengar Aisyah mengangkat suaranya di hadapan Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam. Saat Beliau memberinya izin, maka ia masuk dan berkata, "Wahai putri Ummu Ruman, -seraya memegangnya- apakah kamu mengangkat suaramu di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?"Nu'man berkata, Nabishallallahu 'alaihi wasallamlalu memisahkan antara Abu Bakar dan Aisyah. Ketika Abu Bakar keluar, maka Nabishallallahu 'alaihi wasallamberkata kepada Aiysah (meminta keridhaannya):"Tidakkah kamu melihat, bahwa aku telah menghalangimu dari kemarahan ayahmu (Abu Bakar)?"Nu'man meneruskan, kemudian Abu Bakar datang lagi dan meminta izin (untuk masuk), dan ternyata ia mendapati beliau tertawa bersama Aisyah. Beliau lalu mengizinkannya dan Abu Bakar pun masuk, Abu Bakar lalu berkata,"Wahai Rasulullah, ikutkanlah aku dalam ketenteraman dan kedamaian kalian berdua sebagaimana kalian telah menyertakanku dalam percekcokan kalian."Maka Rasulullah berkata:"Silahkan, silahkan."[10]

Suatu saat Shafiyah safar bersama Rasulullah, saat itu adalah hari gilirannya. Dia ketinggalan (rombongan) karena untanya berjalan lambat, lalu menangis. Maka Rasulullah datang mengusapkan air mata dengan kedua tangannya kemudian berusaha membuat Shafiyah berhenti menangis.[11]

Betapa indahnya perhatian Rasulullah kepada keluarganya. Sungguh beliau adalah suri teladan paling mulia.

4.      Pengertaian akan kecemburuan para istrinya.

Dari Aisyahradhiyallahu 'anhaia berkata:

Aku berkata:"Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika engkau pergi ke sebuah lembah dan di lembah tersebut terdapat sebuah pohon yang sebelumnya telah dimakan (oleh hewan gembalaan), dan engkau mendapatkan pohon lain yang sama sekali belum dimakan (oleh hewan gembalaan), maka pada pohon manakah engkau akan gembalakan ontamu?"Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallamberkata:"Pada pohon yang belum dimakan oleh hewan gembalaan."Maksud Aisyah bahwasanya Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallamtidak menikahi seorang gadis perawan pun kecuali dia.[12]

Dari Anas ibn Malikradhiyallahu 'anhuberkata:

Suatu saat  Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallampernah berada di rumah salah seorang isterinya, kemudian salah seorang Ummul mukminin menyuruh pelayannya mengirimkan sebuah nampan yang berisi makanan. Anas berkata, Kemudian isteri beliau memukul nampan tersebut dengan tangannya hingga pecah. Ibn al-Mutsanna menyebutkan, Nabishallallahu ‘alaihi wasallammengambil dua pecahan tersebut dan menggabungkan sebagian dengan yang lainnya, kemudian mengembalikan makanan pada tempatnya (semula) seraya berkata:"Ibu kalian sedang cemburu."Beliau bersabda:"Makanlah!"Beliau menahan utusan dan nampan tersebut hingga mereka selesai lalu beliau menyerahkan nampan yang tidak pecah kepada utusan tersebut, dan beliau membiarkan nampan yang pecah di rumahnya.[13]

5.      Bermusyawarah dan menerima saran istri.

"Bermusyawarahlah dengan mereka (istri) dan tolaklah pendapatnya"adalah ungkapan dusta dan masyhur yang dinisbatkan kepada Rasulullah. Faktanya sangat bertolak belakang dengan sunnah Rasulullahshallallahu alaihi wasallam.

Setelah perjanjian (Hudaibiyyah) selesai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda kepada para sahabatnya : "Berdirilah, sembelihlah hewan kalian, lalu bercukurlah." Perawi berkata:"Demi Allah, tidak ada satu pun dari mereka yang berdiri hingga beliau mengulangnya sebanyak tiga kali." Ketika tidak ada satu pun dari mereka yang berdiri, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui Ummu Salamah dan menceritakan kepadanya sikap yang beliau temui dari para shahabat tadi. Ummu Salamah berkata :"Wahai Nabi Allah, apakah engkau ingin orang-orang melakukannya? Keluarlah, kemudian janganlah engkau berbicara sepatah kata pun pada mereka hingga engkau menyembelih ontamu, dan engkau panggil tukang cukurmu untuk mencukur rambutmu."Kemudian beliau keluar tanpa berbicara pada seorang pun dari mereka hingga melakukannya, yaitu menyembelih onta dan memanggil tukang cukur untuk mencukur rambut beliau. Ketika para shahabat melihat hal itu, mereka pun segera berdiri dan menyembelih hewan-hewan mereka. Sementara itu, sebagian dari mereka mencukur rambut sebagian yang lain, hingga sebagian mereka menyerobot sebagian yang lain (terjadi pertengkaran, karena berlomba-lomba ingin mengikuti beliau).[14]

6.      Melayani istri mengobrol atau curhat.

Suatu saat Aisyahrahiyallahu 'anhabercerita kepada Rasulullah tentang sebelas orang wanita yang sedang berkumpul dan sepakat akan menceritakan perihal suami masing-masing. Kisah ini lebih dikenal dengan kisah Ummu Zar' dan Abu Zar'.

Di akhir cerita Rasulullah bersabda kepada Aisyah:"Aku bagimu seperti Abu Zar’ bagi Ummu Zar'."[15]Dalam riwayat lain ada tambahan:"Akan tetapi aku tidak menceraikanmu."Dalam riwayat lain Aisyah membalas ucapan Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, bahkan engkau lebih baik kepadaku dari pada Abu Zar’."

Saat memetik hikmah dari hadits ini, Ibn Hajarrahimahullahberkata:"Hadits ini menunjukkan pergaulan baik bersama istri dengan setia mendengar obrolan dan curhatnya dalam perkara yang dibolehkan. Bercanda dan bermesraan sembari menyatakan cinta kepadanya. Bersantai bersama istri sambil bercerita atau mengungkap kisah lama untuk refreshing jiwa juga diperbolehkan."[16]

Wahai para suami, janganlah enggan menghibur dan membahagiakan hati istri walau dengan seuntai kalimat yang dengannya cinta dan kasih sayang kembali bersemi.

Berkaitan dengan ini, Imam Bukhari telah menulis salah satu pembahasan dalam shahihnya dengan judul"Bab mempergalui istri dengan baik."

7.      Bercanda dan bersenda gurau dengan istri.

Aisyahradhiyallahu 'anhaberkata:"Suatu hari Rasulullah mengajakku berlomba (lari) dan aku mengalahkan beliau. Setelah aku tambah gemuk beliau kembali mengajakku berlomba dan beliau pun  mengalahkanku. Beliau kemudian bersabda: "Ini balasan yang dulu."[17]

Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita: 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tiba dari perang Tabuk atau Khaibar, sementara kamarnya (Aisyah) ditutup dengan kain. Ketika angin bertiup, kain tersebut tersingkap hingga mainan boneka Aisyah terlihat. Beliau lalu bertanya:"Wahai Aisyah, apa ini?"Aisyah menjawab:"Itu mainan bonekaku."Lalu beliau juga melihat patung kuda yang mempunyai dua sayap. Beliau bertanya:"Lalu suatu yang aku lihat di tengah-tengah boneka ini apa?"Aisyah menjawab:"Boneka kuda."Beliau bertanya lagi:"Lalu yang ada di bagian atasnya itu apa?" Aisyah menjawab:"Dua sayap."Beliau bertanya lagi:"Apakah kuda mempunyai dua sayap!"Aisyah menjawab:"Tidakkah Rasulullah pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?"Aisyah berkata:"Beliau lalu tertawa hingga aku dapat melihat giginya."[18]

Wahai para suami, janganlah bangga jika saat masuk rumah orang duduk langsung berdiri dan yang tidur langsung terbangun mendengar suaramu (karena takut kepadamu). Hayatilah sunnah Rasulullah di atas. Bersedekahlah untuk kelurgamu dengan senyuman, dan tenteramkanlah hati mereka dengan kata-kata yang lembut. Karena sedekah yang paling utama adalah yang diberikan kepada keluarga.

Dalam riwayat lain Aisyahradhiyallahu 'anhaberkata: "Aku pernah bermain boneka di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku memiliki beberapa sahabat yang biasa bermain bersamaku. Ketika Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumah, mereka pun bersembunyi dari beliau. Lalu beliau menyerahkan mainan padaku satu demi satu lantas mereka pun bermain bersamaku."[19]

Aisyah juga bercerita:"Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menutupiku dengan (badannya) sedangkan aku menyaksikan budak-budak dari Habasyah sedang bermain di dalam masjid, hingga aku bosan. Maka pahamilah (psikologis) istri yang masih belia dan masih suka bermain."[20]

Hadits ini mengajarkan kita para suami agar mengerti psikologis istri dan memberikannya peluang untuk menghibur diri dengan perkara yang dibolehkan dalam agama. Tanpa melanggar batasan-batasan akhlak dan etika.

8.      Kelembutan Rasulullah kepada istrinya.

Dari Anas ibn Malikradhiyallahu 'anhuia berkata: "Dalam suatu perjalanan Rasulullah bersama istri-istrinya yang dipandu oleh Anjasyah. Jika jalan menurun Anjasyah memandu dengan cepat, maka Rasulullah bersabda:  "Berhati-hatilah wahai Anjasyah, perlahan-lahanlah jika mengawal para wanita."[21]

9.      Mengajak istri dan keluarga kepada ketaatan.

Dari Ummu Salamahradhiyallahu 'anha, ia berkata:"Pada satu malam Rasulullah terbangun dan bersabda: "Maha Suci Allah, perbendaharaan apa yang telah diturunkan, fitnah-fitnah apa yang telah diturunkan? Siapakah yang akan membangunkan para penghuni kamar (istri-istri rasulullah, pent.) untuk mendirikan shalat? Betapa banyak wanita yang berpakaian di dunia namun telanjang di akhirat."[22]

10.  Membantu  istri dalam aktivitas rumah tangga.

Dari al-Aswad dia berkata:Aku bertanya kepada Aisyah tentang aktivitas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di rumah. Maka Aisyah menjawab:"Rasulullah senantiasa melayani/membantu keluarganya, maka apabila datang waktu shalat beliau keluar untuk melaksanakan shalat.[23]

11.  Tidak mencari-cari kesalahan istri.

Dari Jabir  ibn Abdillah radhiyallahu 'anhumadia berkata:

Saya pernah bersama Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallamdalam suatu peperangan.  Ketika kembali saya segera menaiki untaku yang jalannya sangat lamban sehingga saya disusul oleh penunggang yang lainnya yang berada di belakangku. Lalu dia menekan untaku dengan tombak kecilnya sehingga untaku berjalan sebagaimana unta-unta lainnya. Saat menoleh, tiba-tiba ada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallamdi sampingku dan beliau bertanya: "Kenapa kamu tergesa-gesa wahai Jabir?" Saya menjawab: "Wahai Rasulullah, saya baru saja menikah." Beliau bertanya lagi:"Gadis atau janda yang kamu nikahi?" Saya menjawab:"Seorang janda."Beliau bersabda:"Kenapa kamu tidak memilih gadis hingga kamu bisa bercumbu dengannya dan dia bercumbu denganmu?" Jabir berkata: Ketika kami sampai di Madinah, kami bersiap-siap masuk (rumah), tapi beliau bersabda: "Tangguhkanlah sampai kita masuk pada malam hari, agar para istri merapikan rambutnya dan berhias terlebih dahulu."[24]

Imam Nawawi berkata:"Hadits ini mengajarkan para suami agar bersenda gurau, berlemah lembut dan bergaul dengan baik dengan istrinya."[25]

Termasuk dari pergaulan baik adalah tidak berusaha mencari-cari aib dan kesalahan istri. Jika akan tiba dari perjalanan hendaklah ia mengabari istrinya. Apalagi saat ini sarana komunikasi sangat mudah dan bervariasi.

12.  Kesetiaan Rasulullah pada istrinya.

Dari Aisyah dia berkata:"Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah pernah meminta izin untuk masuk ke dalam rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sepertinya beliau mengenali suaranya yang mirip dengan suara Khadijah, hingga beliau merasa senang. Tak lama kemudian beliau berkata: "Ya Allah, ternyata ia adalah bintu Khuwailid (saudari Khadijah)."[26]

Hati Rasulullah menjadi tenteram karena mengenang nama istri yang amat beliau cintai. Istri yang segera beriman saat mayoritas manusia mendustakannya, menolongnya saat kebanyakan orang menghinakannya, dan meneguhkan hati Rasulullah dengan kata-kata yang layak diabadikan dengan tinta emas.  Semoga Allah meridhai Khadijah dan ummahatul mukminin lainnya.

13.  Menghaluskan nama panggilan istri.

Aisyah radliyallaahu ‘anha istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: "Yaa ‘A'aisy, ini Jibril mengucapkan salam kepadamu."Aku (Aisyah) berkata: "Wa’alaihissalaam warahmatullaah." Aisyah berkata kepada Rasulullah:"Engkau melihat sesuatu yang tidak kulihat."[27]

Saudara, standar interaksi baik dengan istri adalah sunnah Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam. Rasulullah telah mempersembahkan teladan terbaik dalam ucapan dan perbuatan beliau, khususnya masalah pergaulan dalam rumah tangga. Jadikanlah sunnah Rasulullah sebagai cerminan untuk mengintrospeksi diri dan mengontrol sikap dan pergaulanmu kepada istrimu. Apakah Anda seorang suami yang baik? Apakah Anda telah meneladani Rasulullah dalam hidup berumah tangga?

Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.[28]

Ikutilah keteladanan Rasulullah dalam pergaulan rumah tangga, maka Saudara akan mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.Wallahu A'lam


 


[1]HR. Ahmad, no. 19403, Ibn Majah, no. 1852, Tirmidzi, no. 1159.  Syekh al-Albani menyatakan hadits ini shahih, lihatIrwa al-Ghalil, jilid VII, h. 54, no. 1998.

[2]HR. Bukhari, no. 5186, Muslim, no. 1468

[3]HR. Ibn Majah, no. 3078, Abu Dawud, no. 1905, Nasa'i, no. 3987. Syekh al-Albani menyatakan sanad hadits ini shahih, lihatIrwa' al-Ghalil, jilid VI, h, 156

[4]HR. Ahmad no. 9289, Ibn Majah no. 3668, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalamSilsilah al-Shahihah,no. 1015.

[5]HR. Muslim No.453.

[6]HR. Muslim No.454.

[7]HR. Tirmidzi, no. 3829.Abu Isa (at-Tirmidzi) berkata:"Hadits ini hasan shahih gharib dari jalur ini."Maksud hadits ini bahwa Shafiyyah adalah keturunan Nabi Musa'alaihissalam, paman yang dimaksud adalah Nabi Harun'alaihissalam, dan beliau adalah istri Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam.

[8]HR. Bukhari, no. 4918.

[9]HR. Abu Dawud, no. 2135, Syekh al-Albani menyatakan sanad hadits ini hasan shahih:Shahih Abi Dawud, no. 1852.

[10]HR. Ahmad, Abu Dawud, no. 4999.

[11]HR. Nasa'i, no. 8441.

[12]HR. Bukhari, no. 4687.

[13]HR. Bukhari , no. 4927.

[14]HR. Bukhari, no. 2734.

[15]HR. Bukhari, no. 5189.

[16]Fath al-Bari, jilid IX, h. 211-212.

[17]HR. Ibn Hibban, no. 4691.

[18]HR. Abu Daud no. 4932 dan Nasa'i, no. 890. Al-Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan.

[19]HR. Bukhari no. 6130.

[20]HR. Bukhari no. 3266.

[21]HR. Bukhari, no. 6149, Muslim, no. 2323.

[22]HR. Bukhari, no. 1126.

[23]HR. Bukhari, no. 676, 5363, 6039.

[24]HR. Bukhari, no. 5245, Muslim, no. 715.

[25]Syarh Shahih Muslim, jilid V, h. 393.

[26]HR. Muslim, no. 2437.

[27]HR. Bukhari,  no. 6201.

[28]HR. Tirmidzi, no. 3895, dan beliau berkata:"Hadits ini hasan shahih."

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir