VARIASI METODE DAKWAH PARA NABI

24/12/2014 0:00:00
أمين الدميري Jumlah kali dibaca 1088

VARIASI METODE DAKWAH PARA NABI


Dr. Amin al-Demeiri

 

Mayoritas Nabi diutus Allah khusus kepada kaumnya, dan ada pula yang diutus umtuk seluruh manusia. Allah juga memberikan mereka mukjizat yang berbeda-beda.  Mukjizat adalah perkara luar biasa yang diberikan Allah kepada para Rasul untuk mendukung dan membuktikan kebenaran dakwahnya.  Mukjizat tersebut berupa perkara nyata yang dapat disaksikan atau dirasakan dan hanya berpengaruh bagi siapa yang hidup dan menyaksikannya di masa itu. Terkecuali mukjizat Nabi terakhirshallallahu 'alaihi wasallam, mukjizat beliau bersifat mental dan emosional yang mempengaruhi logika dan psikologi serta berlaku bagi semua manusia sampai akhir zaman.

Azab Allah kepada para pembangkang dakwah rasul juga bervariasi. Ada yang diazab dengan badai, ditenggelamkan, dibenamkan ke dalam tanah, dihujani batu membara, dsb. AllahTa'alaberfirman:

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(QS. al-Ankabut: 40)

Sebelum Taurat turun, azab yang diturunkan Allah berupa pembinasaan menyeluruh.  Allah menghancurkan semua kaum kafir dan menyelematkan seluruh kaum mukmin. Kaum mukmin tidak diberi beban menghadapi orang-orang kafir. AllahSubhanahu wa Ta'alaberfirman:

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat.(QS. al-Qashash: 43)

Dalam mentafsirkan ayat ini, Ibn Katsirrahimahullahberkata:

Allah memberitakan tentang nikmat yang dianugrahkan kepada Nabi Musa"Kalimullah" alaihissalamberupa kitab Taurat yang diturunkan pasca dihancurkannya Fir'aun beserta bala tentaranya.  Allah berfirman: "Sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu", artinya setelah Taurat diturunkan, Allah tidak serta merta mengazab sebuah umat secara menyeluruh, melainkan memerintahkan kaum mukmin untuk memerangi musuh Allah dari kalangan musyrikin.

Sebelumnya Allah membinasakan seluruh umat yang kafir, seperti firman Allah:

Dan telah datang Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri yang dijungkirbalikkan karena kesalahan yang besar.

Maka (masing-masing) mereka mendurhakai rasul Rabb mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras.(QS. al-Haaqqah: 9-10)[1]

Pasca turunnya Taurat, Allah menurunkan bersamanya kewajibanmudafa'ah/membela diri, karenanya Allah tidak lagi membinasakan kaum kafir secara menyeluruh. Allah Azza wa Jallaberfirman:

Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.(QS. al-Hajj: 40)

Imam Qurthubirahimahullahmenulis:

Firman Allah"Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain", maksudnya bila saja Allah tidak mensyariatkan perang melawan musuh kepada para Nabi dan kaum mukmin, niscaya orang-orang musyrik akan menundukkan mereka dan meruntuhkan semua rumah ibadah yang dibangun oleh para pemeluk agama yang pernah ada. Tetapi Allah mewajibkan berperang agar ahli ibadah dapat berkonsentrasi dalam ibadahnya. Jihad adalah hukum yang telah ada sejak lama, dengannya semua syariat tegak dan rumah ibadah eksis. Seakan-akan dikatakan:"Telah dizinkan berperang, maka hendaklah orang-orang beriman berperang."

Perintah berperang lebih ditegaskan lagi dalam firman Allah:"Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain,"pastilah rumah ibadah Yahudi di zaman Musa akan dihancurkan, gereja-gereja di zaman Isa dirobohkan, dan masjid-masjid di masa Nabi Muhammad diruntuhkan.[2]

AllahSubhanahu wa Ta'alaberfirman:

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.(QS. at-Taubah: 111)

Ayat ini menjelaskan bahwa sunnahmudafa'ah/membela diri dengan berperang diwajibkan Allah kepada Yahudi di dalam Taurat. Musa'alaihissalamjuga telah memerintahkan mereka berperang menghadapi orang-orang yang gagah perkasa dan memasuki tanah yang disucikan (Palestina). Allah juga mensyariatkan membela diri dengan berperang kepada kaum Nasrani, tetapi mereka berpaling dan justru mengada-adakanrahbaniah/monastisisme.

Berperang atau dalam istilah Islam dinamakan jihad adalahsunnatullahyang eksis hingga akhir zaman sampai Dajjal keluar dan Isa al-Masih'alaihissalamturun.  AllahAzza wa Jallaberfirman:

}حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا {[محمد:4]

Sampai perang berhenti.(QS. Muhammad: 4)

Ibn Katsir berkata: Mujahid rahimahullah berkata:"Sampai Isa ibn Maryam 'alaihissalam turun kembali. Sepertinya kesimpulan ini beliau ambil dari sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran.Mereka menang terhadap siapa saja yang menentang mereka, sampai yang terakhir dari mereka memerangi Al-Masih Ad-Dajjal."[3]

Sebagaimana hukuman atas orang yang mendustakan dakwah nabi berupa pembinasaan menyeluruh dengan cara yang bervariasi, maka hukuman bagi orang-orang berikutnya yang meninggalkan sunnahmudafa'ah/membela diri juga bervariasai.

Sanksi bagi Bani Israil yang berpaling dari perang melawan orang-orang kuat di Palestina adalah tersesat di bumi selama 40 tahun. Allah berfirman tentang penentangan mereka kepada Musa'alaihissalam:

Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja".(QS. al-Mai'dah: 24)

Akibatnya, Allah menghukum mereka:

Allah berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu".(QS. al-Maidah: 26)

Isa'alaihissalammemerintahkan pengikutnya untuk memerangi musuh-musuh tauhid: "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang."[4]Mereka membangkang terhadap perintahnya dan malah mengada-adakanrahbaniah/monastisisme, yaitu tidak menikah dan mengurung diri untuk beribadah di gereja. Ritual ini mereka jadikan agama sebagai pengganti ajaran Isa'alaihissalamyang menyuruh mereka berperang melawan orang-orang musyrik.   

AllahTa'alaberfirman:

Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putera Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang yang fasik.(QS. al-Hadid: 27)

Dalam tafsir ayat ini, Imam Qurthubirahimahullahmenyebutkan:

Dari Ibn Mas'udradhiyallahu 'anhuia berkata: Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bersandakepadaku:"Tahukah engkau dari mana asal muasal munculnya rahbaniah/monastisisme pada Bani Israil? Setelah Isa diangkat (ke langit) para penguasa Bani Israil selalu bermaksiat kepada Allah. Orang-orang beriman pun marah dan memerangi para pelaku maksiat, namun mereka kalah sampai tiga kali dan yang tersisa hanya sedikit. Mereka pun berkata: jika kita binasa  maka tiada lagi yang mempertahankan agama, marilah kita berpencar di muka bumi sampai Allah mengutus nabi yang ummiy (Nabi Muhammad) yang dijanjikan Isa kepada kita. Mereka pun berpencar ke lembah-lembah gunung, ada yang tetap konsisten dengan agamanya dan ada pula yang berbalik kafir."Kemudian beliau membaca ayat ini.[5]

Allah menghukum mereka dengan penjajahan bangsa Romawi dan Yahudi, juga memecah belah mereka kepada puluhan sekte yang saling memushui dan berperang satu sama lain. Allah juga menimbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat.

Takdir Allah tidak berpihak atau bernepotisme kepada siapa pun.Sunnatullahjuga tidak melayani hayalan, tidak mengakui klaim kosong tanpa bukti. AllahAzza wa Jallaberfirman:

Pahala dari Allah itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. (QS. an-Nisa': 123)

Sunatullahyang terjadi kepada umat-umat sebelumnya juga terjadi kepada umat Islam. Jika umat ini meninggalkan syariat Allah dan mengabaikan perintah membela diri melawan musuh, maka Allah akan menghukum mereka. Hukuman tersebut disebutkan Allah dalam firman-Nya:

Katakanlah: "Dia yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya).(QS. al-An'am: 65)

Jika umat ini meninggalkan sunnahmudafa'ah/memberla diri kekuatannya akan terhambur dalam konflik internal, Allah juga akan menimpakan kehinaan  dan kelemahan atas mereka. Syirik dan kejahatan tersebar di seluruh pelosok negeri.  Orang-orang zalim berkuasa dan berbuat aniaya atas hanba-hamba Allah. AllahTa'alaberfirman:

Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. (QS. al-Baqarah: 251) 

Jika kita amati metode dan sarana para Nabi dalam mendakwahi kaumnya, maka kiat lihat bahwa variasi adalah ciri umum dari semua dakwah mereka. Setiap Nabi memulai dakwahnya dengan cara lembut disertai hujjah, argumentasi, dan penyampaian dalil demi dalil. Selama ini mereka sabar dan tabah menghadapi perlakuan orang-orang yang menentang dan mendustakan agama. Saat konfrontasi dan reaksi musuh meningkat, sikap mereka pun berubah.

Untuk lebih jelasnya marilah kita amati uraian berikut ini.

1.      Dakwah Nabi Nuh 'alaihisalam.

Nabi Nuh'alaihissalamtelah mendakwahi kaumnya siang malam, dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan sesuai kondisi masyarakat objek dakwah.

AllahAzza wa Jallaberfirman:

Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).

Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mangampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.

Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan .

Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. (QS. Nuh: 6-9)

Sebagian orang lebih peka di siang hari daripada malam hari sejalan dengan aktivitas dan gaya hidupnya. Ada pula yang pikirannya cemerlang dan hatinya lebih terbuka menerima nasehat jika malam tiba, saat dunia diselimuti keheningan dan pemusatan pemikiran, dua hal yang tidak ditemukan pada siang hari.

Beliau juga menyadari bahwa sebagian manusia tidak senang jika didakwahi di depan publik ramai, maka dakwah disampaikan secara diam-diam agar orang tersebut terlepas dari belenggu dan efek ketakutan dari perhatian publik. Pada saat yang sama beliau juga tidak melupakan dakwah publik untuk menghidupkan dialog sosial, meneguhkan sikap dan membedakan setiap aliran.

Lambat laun metode ini berubah. Terlebih setelah para penentang dakwah menuduhnya sesat, menghina beliau dan pengikutnya serta berusaha keras menghalangi dakwah dan memalingkan perhatian publik darinya. Akibat kebebalan dan pembangkangan ini, apalagi Allah telah menyampaikan bahwa tidak akan ada lagi orang yang beriman selain mereka yang bersamanya, maka beliau menggunakan pilihan terakhir; mendoakan kehancuran atas mereka.

Nuh berkata: "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.

Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.(QS. Nuh: 26-27)

 Maka azab Allah pun turun:

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.

Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.(QS. al-Qamar: 11-12)

 Mereka pun ditenggelamkan, agar menjadi pelajaran bagi semua generasi setelahnya.

2.      Dakwah Nabi Ibrahim 'Alaihissalam.

Nabi Ibrahim'alaihissalammendakwahi ayahnya dengan lemah lembut penuh kasih sayang sembari mengharap hidayah Allah turun kepadanya. Beliau juga berdialog dengan kaumnya para penyembah planet dan matahari dengan argumentasi logis. Mengajak mereka berpikir dan mendeklarasikan dengan sendirinya kesesatan ideologi dan ibadah yang dilakukan tanpa dasar dan bukti yang benar.

Namun saat berhadapan dengan para penyembah berhala, beliau menggunakan sedikit kekuatan  dan menghancurkan berhala-berhala yang tidak bisa mendatangkan manfaat atau menolak mara bahaya,  tidak pula mampu mengabulkan doa pemohonnya. Dengan tangan kanannya berhala-berhala itu dihinakan kemudian dihancurkan dengan harapan kebekuan akal para penyembahnya dapat hancur pula. Beliau tak peduli akan bahaya yang menanti dari para pembuatnya. 

Beginilah seharusnya para pengemban dakwah, siap berkorban demi dakwah dan akidah yang ia perjuangkan. Ia tidak takut apa pun dan dari siapa pun selain Allah, sebab yakin sepenuhnya bahwa akibat semua urusan ada di tangan AllahAzza wa Jallasemata.

3.      Dakwah Nabi Musa 'Alaihissalam.

Pada awalnya Nabi Musa'alaihissalammendakwahi Fir'aun dan pengikutnya secara lembut dan diskusi logika yang sejuk. Tetapi, ketika Fir'aun besama pengikutnya tetap keras kepala  dan memilih menolak dakwah bahkan berbalik menyerang dengan berbagai ancaman meski argumentasi kuat dan bukti nyata telah disuguhkan, Nabi Musa mengubah metode dakwah kepada konfrontasi langsung. Beliau melayangkan ucapan yang pantas untuk Fir'aun dan orang-orang sepertinya:

Dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir'aun, seorang yang akan binasa.(QS. Al-Isra': 102)

Ketika Musa'alaihissalammenyadari bahwa dakwah dan pengusungnya berada dalam bahaya, rintangan besar menghadang di depan  dan dakwah terancam eksistensinya, beliau pun segera mendoakan kehancuran atas Fir'aun dan pengikutnya:

Musa berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih."(QS. Yunus: 88)

4.      Dakwah Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam.

Dakwah Nabi terakhir telah melalui beberapa fase yang dinamis. Dimulai dengan fasetakwin/pembentukan  yang bersifat rahasia. Dilanjutkan dengan fase penyampain dan pemberian peringatan, sebagai tahap awal konfrontasi yang ditandai dengan reaksi para pendusta dakwah berupa intimidasi, boikot, dan siksaan. Karena pendukung dakwah yang masih minim, maka jalan sabar harus ditempuh demi mempertahankan eksistensi orang-orang beriman.

Tatkala kaum muslim bertambah kuat dan mampu untuk bertahan, mereka diperintahkan untuk membela diri dan negaranya, berjihad melawan para penentang dakwah. AllahSubhanahu wa Ta'alaberfirman:

Dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu'min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.(QS. al-Fath: 29)

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa:

Pertama,jika kelembutan adalah kata pertama maka dia bukanlah kata terakhir, dan inilah yang disebut hikmah/bijaksana. Saat kondisi lemah dan jumlah minim maka menahan diri dengan bersabar adalah sikap yang bijaksana. Namun setelah kuat, sikap bijaksana adalah dengan membalas permusuhan para penentang dakwah dengan kekuatan.  Targhib/membujuk adalah satu metode, namuntarhib/menakut-nakuti  juga adalah sebuah metode, setiap kondisi memilki metode khusus. Merubah kemungkaran dengan tangan/kekuatan adalah derajat tertinggi menghilangkan sebuah kemungkaran, namun terkadang menghilangkannya dengan lisan lebih efektif dan manjur.  Sebagaimana terkadang menentang kemungkaran dengan hati adalah tugas yang sangat berat.

Kedua,jalan dakwah dipenuhi dengan onak dan duri serta meyebabkan kepenatan atau rasa sakit, tetapi jangan sampai seorang da'i mundur dari jalan perjuangan mencapai cita-cita yang diidam-idamkan. AllahTa'alaberfirman:

Dan di antara manusia ada yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia mengganggap fitnah manusia sebagai azab Allah. (QS. al-Ankabut: 10)

Jangan sampai gangguan manusia membuatnya berpaling dari tugas keimanan dan tanggung jawabnya. Jangan pula semua tantangan tersebut mendorongnya untuk menukar pokok-pokok syariat dengan konstitusi hasil eksperimen manusia, pendapat para ahli atau produksi logika. Jika demikian maka harganya sangat mahal dan saksinya sangat mengerikan. Bukan hanya tertundanya kemenangan dan kejayaan, tetapi bisa juga berupa genangan darah atau hilangnya ribuan nyawa.


 


[1]Tafsir Al-Qur'an al-Azhim, jilid VI, H. 239.

[2]Tafsir al-Jami' Liahkam Al-Qur'an, jilid XII, h. 70.

[3]HR. Hakim,al-Mustadrak, jilid IV, H. 497, no. 8391. Beliau berkata: "Hadits ini shahih sesuai standar Muslim dan beliau tidak meriwayatkannya.

[4]Injil Matius, pasal X, ayat 34.

[5]Tafsir al-Jami' Liahkam Al-Qur'an, jilid XVII, h. 265.

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir