Kelompok Munafikin: Bahasa Angka yang Mereka Abaikan

16/11/2014 0:00:00
ناصر بن سليمان العمر Jumlah kali dibaca 851

Kelompok Munafikin: Bahasa Angka yang Mereka Abaikan


Prof. DR. Nashir ibn Sulaiman al-Umar

 

Perang Arab-Israel di Palestina tahun 1967 yang melibatkan pasukan Arab bukanlah perang yang terhormat. Tipu muslihat telah diatur sedemikian rupa. Sebagian pemimpin Arab tidak berkomitmen terhadap moral Arab ataupun ajaran Islam. Tindakan pengkhianatan terlihat jelas dengan dampak yang tidak samar. Akibatnya adalah masa-masa sulit yang diikuti dengan penyimpangan.

Belum pernah tercatat dalam sejarah bahwa bangsa Arab diberi cobaan semacam itu dari pihak Yahudi. Ibn Taimiyah menyatakan:

“Tidak pernah diketahui bahwa mereka (kaum Yahudi) mengalahkan bangsa Arab, justru mereka yang kalah. Tiap kelompok dari mereka bersekutu dengan satu faksi dari bangsa Arab. Sebagaimana suku Quraizhah yang bersekutu dengan suku Aws, dan suku Nadhir yang bersekutu dengan suku Khazraj. Adapun kaum Yahudi mengalahkan bangsa Arab, kejadian itu tidak diketahui pernah terjadi. Yang ada justru sebaliknya.

“Allah Ta’ala menunjukkan yang demikian dalam firmanNya, ‘Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.’ (QS. Ali Imran: 112).

“Karenanya, sejak saat itu mereka  diliputi kehinaan di mana saja mereka berada kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Dan mereka tidak dapat mengalahkan bangsa Arab atau lainnya jika sendirian. Mereka hanya bisa berperang jika bersama dengan sekutu mereka sebelum datangnya agama Islam. Kehinaan yang Allah timpakan kepada mereka itu terjadi sejak diutusnya Nabi Isa al-Masih alaihis salam yang kemudian mereka dustakan.”(Majmu’ Fatawa, Juz I, h. 301).

Pada periode perang tersebut, mayoritas media Arab justru memuji-muji dan mencari-cari alasan untuk para pemimpin Arab. Tatkala salah seorang pemimpin Arab itu mengundurkan diri pasca perang 1967 (Perang Enam Hari) yang dikenal dengan peristiwa pengunduran diri di bulan Juni, yang kemudian disambut dengan demonstrasi massa di beberapa kota di Arab yang menuntut agar ia kembali memimpin. Pria ini lalu kembali menduduki jabatanya –peristiwa baru pada masa itu— dengan dalih memenuhi tuntutan masyarakat (demikian dia mengklaim!).

Padahal, sebagaimana diketahui umum bahwa dalam perang 1967 tersebut, jumlah tentara Arab yang gugur berkisar antara 15-25 ribu orang, sementara dari pihak Zionis hanya sekitar 800 orang saja. Dengan kata lain, rata-rata 25 orang tentara Arab berbanding satu orang tentara Zionis. Peralatan militer negara-negara Arab yang hancur hingga antara 70-80%, sementara di pihak Zionis hanya berkisar antara 2-5%.

Angka yang disebut ini sebanding dengan jumlah warga Palestina yang terbunuh dalam operasial-‘ashf al-ma’kul(daun yang dimakan [oleh ulat]) dan operasial-jarf al-shamid(lubang tanah yang kokoh) versi statistik Zionis yang validitasnya dipertanyakan. Itu dengan perbedaan yang signifikan yaitu warga Palestina yang tewas mayoritas adalah warga sipil yang tidak memiliki keterampilan khusus untuk bertempur. Jika warga sipil tidak dimasukkan, atau hanya memperhitungkan jumlah tentara; maka pihak Yahudi sendiri tidak tahu berapa banyak kelompok Mujahidin yang telah mereka bunuh!

Berbarengan dengan kekalahan pihak Yahudi oleh Mujahidin, sebagai tambahan atas kerugian langsung atau tidak langsung, yaitu kepergian warga Yahudi meninggalkan tanah suci atau sebagaimana yang disebut media sebagai “migrasi balik kaum Yahudi dari Palestina menuju Barat dan Timur”. Baik akibat tekanan ketakutan di kamp perlindungan bawah tanah di saat-saat pecahnya krisis atau tekanan kehidupan sehari-hari yang harus selalu berada dalam kondisi keamanan ekstra. Mereka curiga kepada setiap suara sebagai ancaman yang tertuju buat mereka. Mereka mengira setiap inisiatif sebagai pintu masuk operasi bom syahid.

Migrasi balik dapat juga terjadi karena melarikan diri dari tingginya pajak untuk biaya keamanan oleh Zionis. Sidang Pembaca dapat memperkirakan biaya operasial-jarf al-shamid yang bernilai sekitar 2,5 milyar dollar US serta perkiraan peningkatan anggaran pertahanan 15,25 milyar dollar. Sebagian dari beban tersebut ditanggung oleh GNP warga dan pajak pekerja.

Di tengah semua itu, kelompok-kelompok munafikin di negeri-negeri kita berbicara tentang pesta kembang api!“Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya), Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.”(QS. al-Tawbah: 64). Yang mengherankan, pesta ini justru memberikan dampak sebaliknya, berupa gelombang migrasi balik, lumpuhnya navigasi udara, resesi ekonomi, membludaknya pengungsi di penampungan, serta sirine peringatan yang terus berbunyi!

Apapun kebingungan yang ditimbulkan oleh perilaku kelompok munafikin dan memalingkan perhatian umat, sebagimana terjadi sepanjang sejarah Islam; cukuplah mereka mengetahui bahwa statistik menunjukkan peningkatan migrasi kaum Zionis ke tanah pendudukan Palestina sejak tahun 1948. Para pengamat dapat melihat bahwa angka-angka itu terus meningkat di masa-masa damai dan periode alpanya perlawanan. Sebaliknya, trendnya akan menurun di saat-saat perang dan perlawanan intifadhah.

Sejak Intifadhah al-Aqsa (Intifadah II) di tahun 2000 hingga sekarang, terjadi penurunan yang menyolok dari migrasi Zionis ke tanah Palestina. Jika pada tahun 1999 jumlah penduduk migran Zionis sebesar 76.766 jiwa, terjadi penurunan signifikan selama peristiwaal-rashash al-mashbub(hujan peluru) yaitu hanya 13.701 jiwa pada tahun 2008. Kontradiktif dengan penurunan jumlah migran Zionis ke tanah pendudukan Palestina, terjadi peningkatan jumlah Zionis yang justru pergi meninggalkan Palestina. Pada tahun 2010 setelah operasial-rashash al-mashbubterdapat 15.600 orang Zionis yang meninggalkan tanah pendudukan Palestina, setelah sebelumnya 22.400 orang pada tahun 2006. Penulis juga telah membaca hasil laporan beberapa pusat studi yang menunjukkan terdapat lebih dari 35% Yahudi yang tinggal di tanah pendudukan yang lebih memilih tinggal di luar Palestina. Di lain pihak, diperkirakan jumlah Yahudi internasional yang tinggal di barat atau timur dan tidak tinggal di Israel yaitu 58%.

Di tengah peristiwa kejahatan perang Zionis dengan pemusnahan warga sipil Gaza secara sistematis, statistik 2014 menunjukkan pertumbuhan penduduk Zionis Israel adalah 1,4 atau berada di peringkat 48 pertumbuhan penduduk dunia. Di Gaza, jumlah ini mencapai 2,91 atau hanya didahului oleh 12 negara. Sementara itu, di tanah pendudukan Palestina, pertambahan penduduk Muslim adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan kelompok Yahudi, Kristen, sekte Druze dll. Studi terakhir juga menunjukkan penurunan jumlah populasi Yahudi di tanah pendudukan (yang masuk dalam negara Israel); sementara jumlah kelompok Muslim justru bertambah.

Kondisi ini sempat dikhawatirkan oleh salah seorang analis demografi Zionis, Prof. Sergio Delabelgola yang menyatakan bahwa Israel tidak dapat bertahan sebagai negara demokrasi dengan dominasi bangsa Yahudi hingga batas tertentu di negara Palestina. Dan bahwa hanya dengan solusi dua negara berdaulat Israel-Palestina yang dapat mencegah ancaman tersebut menjadi kenyataan.

Angka-angka inilah yang tidak difahami oleh atau kaum munafikin sengaja menutup mata bersama orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit, dan pihak-pihak yang mencela kelompok Mujahidin. Hendaknya siapa pun yang terperdaya dengan pihak-pihak tersebut memahami hakikat pertempuran ini. Perang ini disulut oleh kelompok-kelompok penjahat perang yang bertujuan untuk mengusir dan memusnahkan warga Palestina secara sistematis. Mereka sekadar melanjutkan kejahatan pendahulu dan perintis mereka di tahun 1948, yaitu Palmach, Irgun, Stern gang dll., dari milisi Zionis yang melakukan provokasi penyembelihan dan pengusiran warga Palestina sebagai pendahuluan deklarasi negara Israel.

Inti masalah bukanlah apa yang telah dilakukan Hamas? Atau apa yang sudah dikerjakan oleh faksi Jihad? Semua pengamat yang adil, baik di timur maupun barat menegaskan bahwa tindakan bela diri Mujahidin bukanlah permintaan keadilan terhadap tindakan zalim Zionis -dengan asumsi bahwa Zionis punya hak atau yang memulai permusuhan adalah selain mereka-. Mereka menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Mujahidin hanyalah perlawanan yang dibenarkan akal dan dan sejalan dengan syariat, yakni terhadap musuh yang berkeinginan meluaskan negaranya hingga negeri sungai Nil. Dengan karunia Allah kemudian perjuangan para Mujahidin, obsesi elit politik Zionis terkekang dengan berubahnya perang invasi menjadi perang untuk mempertahankan eksistensi Zionis, jauh dari mimpi ekspansi hingga ke sungai Nil!

Dalam konsisi kekuatan perlawanan melemah dan aspirasi kelompok munafikin tercapai; maka akan terjadi peningkatan migrasi Yahudi ke wilayah pendudukan sebagai akibat dari kondisi yang stabil dan keamanan yang terjamin. Selanjutnya, akan lebih luaslah wilayah pendudukan dan semakin besarlah nafsu negara Ibrani ini untuk melakukan ekspansi. Akibatnya, provokasi untuk tindakan genosida dan pengusiran umat Muslim, hal yang memang merupakan strategi inti dari doktrin Yahudi dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan mereka. Itu terjadi tanpa adanya perlawanan yang mengubah arah perang dan membalik situasi.

Namun, dengan rahmat Allah, perlawanan terhadap Zionis tetap eksis dan akan tetap ada dengan izin Allah dan akan senantiasa menjadi batu sandungan bagi jalan kelompok Yahudi, tanpa memperdulikan siapa pun.“Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.”(QS. al-Ma’idah: 64).

Demikianlah kenyataannya. Setiap kali orang Yahudi memulai perang, mereka bakal kembali pulang dalam keadaan kalah; dan setiap kali mereka  terperdaya dengan ungkapan para pengkhianat bahwa tahun-tahun pemboikotan akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan warga Gaza, maka Allah memperlihatkan kepada mereka hasil-hasil perjuangan kelompok Mujahidin yang tidak pernah mereka perhitungkan!

Fakta-fakta kuantitatif ini menguatkan hakikat syar’iy yang menyeru kepada sikap mulia dan optimis terhadap jalan keluar yang Allah siapkan bagi umat Muslim. Ironisnya, kelompok munafikin tidak memahaminya bahkan tidak mereka kenali. Dan mereka tetap tidak akan bisa mengerti sepanjang mereka berprasangka buruk kepada Allah. Mereka akan mendapatkan murka Allah dan kebinasaan yang amat buruk.

Adapun Anda, wahai Saudara Muslim, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”(QS. Yusuf: 87).

Yang penting bagi kelompok Mujahidin ialah melaksanakan apa yang mereka mampu. Allah yang akan mengatur kebaikan bagi mereka dengan sebaik-baiknya, dengan memasukkan rasa takut ke dalam hati musuh-musuh mereka.“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”(QS. al-Baqarah: 286).“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”(QS. al-Thalaq: 7).“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”(QS. al-Thaghabun: 16).

Hendaknya Anda melakukan apa yang Anda bisa. Pengkhianatan orang-orang terhadap saudara Anda bukanlah alasan bagi Anda untuk tidak melakukan apa pun. Setiap orang akan mendapatkan hasil dari usahanya. Anda dapat berbuat banyak untuk mereka, dimulai dengan doa dan akan diakhiri dengan apa yang Allah takdirkan bagi Anda berupa potensi kekuatan yang Allah berikan kepada Anda. Hendaklah kita ingat bahwa kelak kita akan berdiri di hadapan Allah dan ditanya mengenai saudara-saudara Muslim kita itu. Hendaklah kita tahu bahwa di antara hikmah peristiwa-peristiwa ini ialah ujian bagi kita semua.

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka.”(QS. Muhammad: 4-5).

Di antara hal terbesar yang dapat diberikan umat adalah berjuang melawan kelompok munafikin yang khianat. Mereka mengulang dengan sembunyi-sembunyi perkataan pendahulu mereka“Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya."(QS. al-Ahzab: 12).

Melawan kelompok ini, yaitu dengan argumentasi qurani dan menjelaskan hakikat realitas, adalah sebesar-besar jihad“Dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an dengan jihad yang besar.”(QS. al-Furqan: 52).

Nabi kitashallallahu alaihi wasallammendahulukan jihad lisan terhadap kelompok Musyrikin. Sabda beliau dalam hadits shahih,“Berjihadlah melawan Musyrikin dengan lisan kalian.”(HR. Ahmad, Juz III, h. 153; dengan sanad yang jayyid).

Ancaman kaum Munafikin dewasa ini sangat besar. Mereka mengajak kepada hal yang paling buruk mengenai masalah Palestina, agar warga Palestina tunduk dengan hina dan menyerah, sebagai pendahuluan bagi yahudisasi total. Semoga kaum Munafik itu terusir dan merugi.

Hendaklah kita memahami bahwa di antara tanda kedatangan pertolongan adalah seleksi terhadap barisan kaum Muslim, pemisahan antara yang buruk dari yang baik, dan ini merupakan salah satu di antara tujuan datangnya cobaan. Agar Allah tahu dengan nyata orang-orang yang menolong dengan sembunyi-sembunyi agama dan Rasul-Nya.

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (Munafik) dari yang baik (Mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib.”(QS. Ali Imran: 179).

“Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman. Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: ‘Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).’ Mereka berkata: ‘Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu.’ Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.”(QS. Ali Imran: 166-167).

Di antara bentuk keadilan Allah adalah Ia menggantungkan ganjaran bersama dengan terjadinya apa yang Ia ketahui dan realitasnya, agar hujjah-Nya tegak atas makhluk-Nya. Jika ini terjadi, sungguh berlalunya cobaan semakin dekat dan datangnya pertolongan Allah semakin cepat.

Di antara bentuk seleksi dan pemisahan dalam rangkaian peristiwa ini adalah  Allah dengan keadilan dan hikmah-Nya menyingkap aib mereka dengan ciri khas klaim mereka. Allah membuka aib kelompok Liberal yang mengklaim diri sebagai pejuang kebebasan dengan keberadaan mereka bersama para tiran, juga sebagian pengaku pengikut Salaf dengan penghancuran pilaral-wala’ wal bara’(kaidah loyalitas).

Di antara hal yang menggembirakan adalah ayat yang mengisyaratkan berita gembira ini, yaitu perang terhadap musuh lahir akan membuahkan kemenangan terhadap musuh batin.“Dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.”(QS. al-Anfal: 60).

“Maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka.”(QS. al-Anfal: 57).

Akhirnya, jika tidak ada dampak dari peristiwa ini kecuali keteguhan hati saudara-saudara kita di Gaza, ketenangan dan kepuasan yang Allah turunkan kepada mereka -seperti yang kita saksikan-, serta hidupnya aqidah yang benar dalamal-wala’ wal bara’,inabahdan taubat terhadap individu-individu umat ini; maka cukuplah itu sebagai bentuk kemenangan. Mukmin yang optimis dengan benar adalah mereka yang menjadikan dalih mereka yang pesimis sebagai petunjuk optimisme mereka.

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,’ maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”(QS. Ali Imran: 173).

Teruskanlah pertolongan Kalian terhadap saudara-saudara Kalian, teruslah mendukung mereka, terlebih setelah kejadian-kejadian ini. Seungguhnya roda sejarah berputar dan keadaan tidak senantiasa berada di bawah. Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita sekalian untuk menolong Kitabullah, Sunah Rasul-Nya, serta hamba-hamba-Nya yang shalih. Segala puji bagi Allah sejak pertama hingga akhir. Shalawat Allah serta salam yang banyak atas Nabi-Nya Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabat beliau.***

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir