Sikap Husain ibn Ali dan Abdullah ibn Zubair terhadap

04/11/2014 0:00:00
محمد بن شاكر الشريف Jumlah kali dibaca 1025

Sikap Husain ibn Ali dan Abdullah ibn Zubair terhadap


Muhammad ibn Syakir al-Syarif

 

 

Di antara catatan buruk dari rangkaian kejadian di Mesir akhir-akhir ini adalah sikap keliru sebagian aktivis Islam dalam merespons realitas yang ada. Selanjutnya, sikap tersebut disandarkan sebagai ajaran para Salafradhiyallahu ta’ala anhum. Tidak lupa, aktivis ini mengutip tokoh-tokoh utama Islam sebagai pelaku pelanggaran. Pendapat tersebut kemudian disebar di tengah-tengah masyarakat dengan anggapan sebagai sebuah kebenaran yang harus diikuti.

Namun di balik sisi negatif ini, terdapat pula sisi positif. Allah telah menyertakan pada setiap tempat atau waktu munculnya sebuah bid’ah, kalangan yang akan mengingkari dan menjelaskan kesalahan bid’ah tsb dan menguraikan duduk persoalan yang sebenarnya. Sisi ini merupakan bagian dari penjagaan AllahSubhanahu wata’alaterhadap agama Islam.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran,  dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”(QS. al-Hijr: 9).

Ibn Mas’udradhiyallahu anhubertutur,“Sungguh Allah telah menyiapkan untuk setiap makar bid’ah terhadap Islam, di antara wali-Nya yang akan mengingkari hal itu dan menyingkap tanda-tandanya. Kalian pergunakanlah keberadaan mereka seraya bertawakkal kepada Allah.”[1]

Di antara pandangan keliru yang kami maksud adalah persepsi mereka mengenai Husainradhiyallahu anhu, cucu Rasulullahshallallahu alaihi wasallamdan penghulu para pemuda penghuni Surga. Juga mengenai Abdullah ibn Zubairradhiyallahu anhu, putra dari penolong Rasulullahshallallahu alaihi wasallamdan bayi pertama di kalangan kaum Muslim setelah hijrah ke Medinah.

Menurut mereka, kedua tokoh ini telah keliru karena bersikap tidak bersabar menghadapi tindak aniaya penguasa. Tujuannya, untuk menyalahkan pihak yang memiliki sikap melawan terhadap kudeta terhadap pemimpin terpilih dan hendak menurunkan kekuasaan tersebut.

Penulis akan menjelaskan sikap yang diambil oleh dua orang sahabat Nabi yang mulia, yakni Husain ibn Ali dan Abdullah ibn Zubairradhiyallahu anhuma.Tidak lupa juga pendapat ulama mengenai tindakan mereka berdua. Tujuan penulis agar kekeliruan pandangan ini tidak tersebar di kalangan masyarakat sementara mereka menyangka bahwa mereka benar. Penulis akan menguraikannya ke dalam empat sub judul, yaitu:

1.      Deskripsi mengenai sikap mereka berdua

2.      Dalil-dalil  tentang benarnya sikap yang mereka ambil

3.      Pendapat ulama mengenai kebenaran sikap yang mereka ambil

4.      Jawaban terhadap sanggahan terhadap sikap yang mereka ambilradhiyallahu anhuma

PERTAMA: HUSAIN IBN ALIRADHIYALLAHU ANHU

1.      Gambaran Sikap Husain ibn Aliradhiyallahu anhu

Mu’awiyah ibn Abi Sufyanradhiyallahu anhumenjadi khalifah kaum Muslim setelah penyerahan kekuasaan sepenuhnya dari Hasan ibn Ali kepadanyaradhiyallahu anhu.Untuk mencegah terjadinya perpecahan di kalangan umat, Mu’awiyah kemudian berijtihad dalam urusan kepemimpinan (khalifah) setelahnya. Dia menunjuk putranya sebagai khalifah pengganti dan mengambil baiat (janji setia) warga untuk itu.

Mayoritas kaum Muslim menyetujui langkah Mu’awiyah itu, namun menyisakan sebagian kalangan yang menolak. Di antara kalangan yang disebut terakhir ini adalah Husain ibn Ali, Abdullah ibn Zubair ibn Awwam, Abdurrahman ibn Abu Bakar, Ibn Umar, dan Ibn Abbasradhiyallahu anhum.Kalangan ini memandang bahwa langkah tersebut merupakan bentuk pewarisan kekuasaan yang menyalahi tradisi agama kaum Muslim dan tidak sejalan dengan cara pengangkatan khalifah Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar ibn Khattabradhiyallahu anhum.Seperti diketahui, dua khalifah kaum Muslim pertama itu tidak memiliki hubungan nasab keturunan maupun kekerabatan. Umar adalah orang kedua kaum Muslim yang paling utama setelah Abu Bakar, keutamaan yang tidak dapat dilampaui oleh seorang punradhiyallahu anhuma.

Sebaliknya dengan sahabat Muawiyah yang menyerahkan kekuasaan kepada putranya yangnota benebukan orang yang paling utama dan paling pantas di kalangan kaum Muslim, sementara ada orang lain yang melebihinya dan lebih layak, seperti Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Abbas, Husain ibn Ali, Abdullah ibn Zubair, dll. dari kalangan sahabat Nabi yang mulia. Karena itu, baik Husain, Abdullah ibn Zubair, Abdurrahman ibn Abu Bakar, Ibn Umar dan Ibn Abbas menolak untuk berbaiat kepada Yazid.

Ketika kekuasaan khalifah makin kuat dan terfokus, Ibn Umar dan Ibn Abbas kemudian memberikan baiat mereka. Adapun Abdurrahman ibn Abu Bakar telah wafat. Tinggallah Husain ibn Ali dan Abdullah ibn Zubair yang bertahan dengan sikap mereka.

Ketika Yazid naik menjadi khalifah, sebagian kalangan masyarakat yang tidak setuju, khususnya penduduk Irak memandang bahwa Husain ibn Ali adalah orang yang paling pantas dan berhak untuk itu. Husain adalah ‘Sayyid Kabir’ dan cucu Rasulullahshallallahu alaihi wasallam. Tidak ada seorang pun yang menyamai dan melampaui kelebihannya saat itu. Penduduk Irak kemudian mengirim utusan yang memberi tahu Husain bahwa mereka belum berbaiat kepada seorang pun saat itu. Mereka juga mengadukan perihal tindakan pengangkatan khalifah yang menurut mereka menyelisihi hukum syariat. Mereka mengirimkan surat yang memanggil Husain untuk datang dan menjadi pemimpin mereka.

Surat dan dokumentasi baiat mereka sampai di tangan Husain yang membuat diaradhiyallahu anhumau tidak mau menerima kehendak mereka. Bagaimana dia akan menolak ajakan dari orang-orang yang mengajaknya untuk menegakkan perintah Allah, khususnya karena dia sendiri belum berbaiat kepada Yazid? Husain kemudian mengutus sepupunya, Muslim ibn Aqil ibn Abi Thalibradhiyallahu anhumuntuk menyelidiki kondisi dan pendirian penduduk Irak. Jika hal itu tampak jelas dan kokoh, Muslim ibn Aqil akan mengirim balik utusan kepada Husain untuk segera berangkat beserta keluarga dan pendukungnya, menuju Kufah untuk mendapat bantuan menghadapi lawan-lawannya. Sebelumnya, Husain juga menulis surat kepada penduduk Irak mengenai hal itu.[2]

Saat Muslim ibn Aqil tiba dan penduduk Kufah mendengar kedatangannya, mereka lalu mendatanginya dan memberikan baiat atas kepemimpinan Husain. Mereka juga bersumpah akan membantu Husain dengan jiwa dan harta mereka. Jumlah mereka yang berkumpul dan berbaiat mencapai 12 ribu orang. Jumlah ini terus membengkak hingga 18 ribu orang. Muslim ibn Aqil kemudian menulis surat kepada Husain agar segera datang. Dia juga menyampaiakan baiat dan kesiapan bantuan dari penduduk Kufah. Setiba berita itu, Husain kemudian mempersiapkan keberangkatannya dari Mekah menuju Kufah.[3] 

Husain membulatkan keinginannya menuju Irak. Tatkala Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Abbas, dll. mengetahui itu, mereka lalu menasehatinya untuk mengurungkan rencananya. Kata mereka, penduduk Irak hanya akan menelantarkan Husain dan tidak akan memberikan bantuan mereka. Namun, Husain telah bulat sikap dan keinginannya untuk pergi kepada warga Irak.

Husain sepertinya mencontoh sikap Rasulshallallahu alaihi wasallamyang menolak untuk mempertimbangkan kembali untuk tidak keluar menuju Uhud untuk menghadang kaum Kafir; setelah sebelumnya telah bulat keputusan mereka semua untuk berangkat menuju Uhud. Saat itu, para sahabat sepakat untuk kembali kepada pertimbangan awal untuk tetap tinggal di Medinah dan tidak keluar menuju Uhud dalam peristiwa perang tsb. Sabda Nabishallallahu alaihi wasallam,“Tidak patut bagi seorang Nabi yang telah mengenakan baju zirah perangnya untuk kembali meletakkannya (mundur) sampai Allah memberikan keputusan-Nya (menang atau kalah).”[4]

Seketika Husainradhiyallahu anhutiba di Irak, ia menemukan sepupunya Muslim ibn Aqil telah terbunuh. Orang-orang yang telah menulis baiat mereka untuknya berbohong mengenai undangan mereka terhadapnya. Husain segera hendak kembali ke Mekah, namun pasukan Ubaidillah ibn Ziyad yang merupakan pengikut Yazid mengepungnya. Ubaidillah tidak mau membiarkan Husain kembali ke Mekah dan membebaskannya. Ubaidillah menginginkan Husain menghadap kepada Yazid sebagai tawanan.

Husain sendiri menolak untuk menyerah kepada perkara yang batil dan merendahkan agamanya. Kendati dia tentu sadar bahwa penolakannya bisa menjadi menjadi alibi bagi pembunuhan terhadap dirinya beserta keluarga,radhiyallahu anhum.

Ringkasnya, tentara Ubaidillah ibn Ziyad kemudian membunuh Husain setelah beberapa kali kontak senjata. Husain kembali menghadap Rabbnya dan gugur sebagai syahid karena dianiaya. Dia telah meninggalkan kenangan dan perjalanan hidup yang terpujiradhiyallahu anhu.  

2.   Dalil mengenai Kebenaran Sikap Husain

Terdapat banyak hadits yang menyebutkan kedudukan dan kelebihan Husainradhiyallahu anhuyang mustahil tertuju kepada person yang nantinya akan terjatuh pada sebuah kesalahan besar atau melakukan kekeliruan fatal dan pokok dalam agama. Keberadaan hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa tindakan Husain yang membawa konsekuensi gugur syahidnya dia bersama beberapa orang dari keluarga Nabishallallahu alaihi wasallamadalah benar adanya.

Di antara hadits-hadits dalam konteks ini adalah sabda Nabishallallahu alaihi wasallam,“Hasan dan Husain adalah penghulu para pemuda di Surga.”[5]

Ini merupakan kedudukan mulia dengan persaksian langsung dari sebaik-baik makhluk sekaligus  Rasul utusan Allahshallallahu alaihi wasallamkepada seluruh makhluk.Ini tentu tidak bermakna adanya posisima’shum(suci dari dosa) bagi mereka berdua, namun mengisyaratkan bahwa  keputusan krusial yang mereka ambil dan membawa konsekuensi perang, pembunuhan, atau perdamaian adalah tindakan yang dibenarkan oleh hukum syariat.

Tidak dapat terbayangkan bahwa tindakan salah seorang dari Hasan dan Husain yang mengakibatkan peristiwa besar dengan dampak yang sedemikian dalam sepanjang sejarah Islam adalah sebuah kesalahan fatal, padahal kelak di akhirat mereka berdua adalah“penghulu para pemuda di Surga.”Karena itu, tindakan Husain mengabulkan permintaan mereka yang membujuknya untuk menjadi pemimpin serta penolakannya untuk menyerah kepada tentara Ubaidillah ibn Ziyad, setelah penduduk Irak menelantarkannya, adalah tindakan yang benar menurut hukum syariat.

Demikian halnya tindakan saudaranya, Hasanradhiyallahu anhuyang menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyahradhiyallahu anhuadalah juga tindakan yang benar menurut hukum syariat. Imam Suyuthi menulis,“Nawawi menulis dalam kitab kompilasi fatwanya, ‘Al-Muzhahhari berkata yang artinya, mereka berdua adalah semulia-mulia orang yang mati muda (syahid) di jalan Allah di antara penghuni surga.”[6]Al-Munnawi menulis,“Mereka berdua adalah penghulu bagi mereka yang mati muda dan masuk surga, karena mereka berdua wafat saat mereka telah berusia senja.”[7]

Dalam rangkaian hadits-hadits dalam konteks ini adalah sabda Nabishallallahu alaihi wasallammengenai Hasan dan Husainradhiyallahu anhuma,“Mereka berdua adalah kembang kehidupanku (kecintaanku) di Dunia”[8]Juga sabda Beliau,“Husain adalah bagian dari diriku, dan aku adalah bagian dari Husain; Allah akan mencintai mereka yang mencintai Husain; ia adalah cucuku di antara cucu-cucuku.”[9]

Kata Ibn Abbasradhiyallahu anhuma:

“Aku pernah bermimpi melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam di suatu siang dalam keadaan berambut kusut dan berdebu. Bersama beliau sebuah botol yang berisi darah yang beliau pungut (kumpulkan) atau beliau tuntun jejak tetesannya. Lalu kataku, ‘Wahai Rasulullah, apa yang anda lakukan?’ Katanya, ‘Aku mengumpulkan darah Husain dan para pengikutnya, yang masih terus aku ikuti sejak hari ini.’ Kata Ammar, ‘Kami terus mengingat hari itu, dan kami dapati dia (Husain) terbunuh pada hari tersebut.”[10]

Imam Shan’ani menulis:

“Al-Qadhi (‘Iyadh) berkata, ‘Tampaknya melalui cahaya wahyu, Nabi shallallahu alaihi wasallam mengetahui apa yang akan terjadi terhadap Husain dengan kelompok tersebut, maka Nabi menyebut (namanya) secara khusus. Nabi menjelaskan bahwa keduanya satu dalam hal kewajiban untuk mencintainya serta larangan untuk menyakiti dan memeranginya. Dan Nabi menegaskan hal tersebut melalui sabdanya, ‘Semoga Allah mencintai mereka yang mencintai Husain.” Karena mencintainya adalah bagian dari kecintaan terhadap Rasul shallallahu alaihi wasallam, dan kecintaan terhadap Rasul shallallahu alaihi wasallam adalah bagian dari kecintaan kepada Allah. Dengan demikian, jika hadits tersebut dalam konteks pemberitahuan, maknanya adalah siapa yang mencintai Husain, maka ia juga sesungguhnya telah mencintai Allah. Sehingga lafal Allah (menurut kaidah tata bahasa Arab) adalah objek. Namun bisa juga konteksnya adalah doa (semoga Allah mencintai mereka) dan lafal Allah adalah subjek.

“Adapun hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, ‘Hasan dan Husain adalah dua orang cucu di antara cucu-cucuku’ bermakna mereka berdua adalah bagian dari Nabi atau dari mereka berdua lahir cucu-cucu keturunan Nabi dan dari mereka berdua terlahir generasi yang banyak.”[11]

Ummu Salamahradhiyallahu anhamenyebutkan bahwa suatu ketika Nabi berada di rumahnya. Lalu beliaushallallahu alaihi wasallamdidatangi oleh Fatimahradhiyallahu anhadengan membawa masuk sebuah kuali batu berisikhazirah(masakan daging). Sabda Nabi,“Panggillah suami dan dua orang putramu!”Maka datang dan masuklah Ali, Hasan, dan Husain. Mereka semua duduk lalu memakan darikhazirahtersebut sementara Nabishallallahu alaihi wasallamduduk di atas tikar tidurnya di atas tempat duduk yang di bawahnya terdapat selendang buatan (masyarakat) Khaibar. Sementara aku melaksanakan shalat di dalam kamar, AllahAzza Wajallamenurunkan ayat berikut“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”(QS. al-Ahzab: 33).

Nabishallallahu alaihi wasallamkemudian mengambil ujung selendang tsb. lalu melingkupi mereka dengannya. Kamudian Nabishallallahu alaihi wasallammengeluarkan dan menjulurkan tangannya ke langit memanjatkan doa,“Ya Allah, merekalah keluarga rumah tanggaku dan orang-orang yang istimewa bagiku, bersihkanlah dosa mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya. Ya Allah, merekalah keluarga rumah tanggaku dan orang-orang yang istimewa bagiku, bersihkanlah dosa mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.”

Aku (Ummu Salamahradhiyallahu anha) melonjorkan kepalaku ke dalam rumah, kemudian kataku,“Dan aku bersamamu, ya Rasulullah.”Kata Nabishallallahu alaihi wasallam,“Sesungguhnya engkau telah menuju kepada kebaikan, sungguh engkau telah menuju kepada kebaikan.”[12]

Pribadi dengan kedudukan tinggi dan banyak kelebihan semacam ini tidak akan menyalahi pokok aqidah atau berketerusan melakukan dosa besar. Adanya keutamaan tersebut menunjukkan mustahilnya mereka berduaradhiyallahu anhumamelakukan hal yang berpotensi menjadi aib bagi kepribadian mereka. Jika pun mereka tergelincir melakukan sebuah dosa besar, mereka akan segera bertobat dan menghentikan perbuatan dosa itu. Sementara perbuatan dosa-dosa kecil tidak menjadi cela bagi kelebihan pribadi yang telah disebutkan. Karena jika seorang hamba telah menjauhi perbuatan dosa-dosa besar, maka terjadinya dosa-dosa kecil akan terampuni.

Abu Hurairahradhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullahshallallahu alaihi wasallamtelah bersabda,“Shalat lima (waktu), (shalat) Jumat ke (shalat) Jumat berikutnya, (puasa) Ramadan kepada (puasa) Ramadan selanjutnya; akan menjadi penghapus dosa-dosa di antara pelaksanaannya, jika dosa-dosa besar dijauhi.”[13]

Di sisi lain, Husein tidak pernah membaiat Yazid. Yazid pun mengetahui hal tersebut dan juga yakin bahwa Husainradhiyallahu anhutidak rela terhadap kekuasaannya. Karena itu, dalam sikap Husain tidak terdapat penipuan, pencabutan baiat, atau tindakan pembangkangan terhadap perintah. Sehingga semua hadits yang melarang sikap tidak taat atau pelanggaran terhadap baiat tidak dapat diterapkan kepadanya.

Husainradhiyallahu anhujuga tidak berkampanye agar kekuasaan diberikan kepadanya. Dia tidak berangkat ke Irak kecuali karena surat-surat masyarakatnya yang terus-menerus datang kepadanya. Dia  tidak meminta kekuasaan untuk dirinya pribadi. Karenanya, dia tidak termasuk dalam hadits-hadits yang melarang seseorang dari meminta kekuasaan.

Husain ibn Ali termasuk orang dengan prinsip pribadi melaksanakan apa yang ia ketahui. Ilmu baginya bukan sekadar wawasan tanpa aksi konkrit. Gambaran ini tampak antara lain dari ukiran di cincinnya. Kata Ali ibn Husain,“Ukiran di cincin Husain ibn Ali berbunyi, ‘Engkau telah tahu, maka laksanakanlah.”[14]

Husainradhiyallahu anhuhendak balik ke Mekah setelah mengetahui pengkhianatan penduduk Irak terhadap janji mereka kepadanya. Terdapat riwayat mengenai tawaran Husain kepada pasukan Ubaidillah ibn Ziyad. Katanya:

“Pilihlah salah satu dari tiga yang aku tawarkan, aku kembali ke negeri dari mana aku berangkat (Mekah), atau kuletakkan tanganku di tangan Yazid ibn Muawiyah dan dia akan memutuskan persoalan antara aku dengan dia, atau kalian membawaku ke salah satu wilayah perbatasan kaum Muslim yang kalian mau, aku menjadi bagian dari penduduknya, untukku seperti yang mereka miliki, dan atasku kewajiban seperti kewajiban atas mereka.”[15]

Kisah ini diceritakan oleh para penulis biografi Husain, namun tidak pernah disebutkan saksi percakapan tersebut. Kisah ini berstatusmursal(mata rantai periwayatannya terputus). Riwayat lainnya justru meyebutkan tidak adanya tawar-menawar tersebut. Kata Uqbah ibn Sam’an:

“Aku menemani Husain dari Medinah menuju Mekah, kemudian pergi ke Irak. Kami tidak pernah berpisah hingga ia terbunuh. Ia tidak pernah bercakap sepatah kata pun dengan orang-orang sejak keberangkatannya, baik dari Medinah menuju Mekah, di perjalanan, hingga ke Irak, maupun kepada tentara, hingga dia terbunuh; kecuali aku mendengarnya. Sungguh demi Allah, ia tidak menawarkan seperti apa yang orang-orang katakan atau seperti yang mereka kira bahwa dia akan meletakkan tangannya di tangan Yazid ibn Muawiyah, tidak juga tawaran agar mereka menawannya menuju salah satu daerah perbatasan kaum Muslim. Ia hanya mengatakan, ‘Biarkanlah aku! Aku sungguh akan pergi ke dunia yang luas ini hingga kita bisa melihat apa yang terjadi pada orang-orang itu.”[16]

Tentara Ubaidillah ibn Ziyad kemudian bertindak melampaui batas terhadap Husain ibn Ali beserta keluarganya yang suci. Mereka membunuhnyaradhiyallahu anhusecara aniaya hingga syahid.

Intinya, Husainradhiyallahu anhutelah berijtihad dalam persoalan ini. Dia menyangka bahwa penduduk Irak akan menepati apa yang telah mereka tulis, janjikan dan sumpah setiakan kepadanya. Saat dia menyadari keingkaran mereka, melihat terbunuhnya Muslim ibn Aqil yang telah ia utus kepada mereka, dia lalu berencana kembali ke Mekah. Namun, dia dihadang oleh kelompok pasukan yang zalim. Kelompok pasukan ini membunuhnya secara aniaya hingga gugur dan syahidradhiyallahu anhu. Husain dalam hal ini tidak melakukan kesalahan atau bertindak subversif terhadap pemerintah (bughat) atau keluar dari otoritas pemerintah (khawarij); namun terbunuh secara aniaya hingga syahid,radhiyallahu anhu.

3.    Keterangan Ulama yang Menjelaskan Kebenaran Sikap Husainradhiyallahu anhu

Ibn Taimiyah menyebutkan posisi Ahlus Sunnah bahwa Husainradhiyallahu anhutelah terbunuh secara aniaya hingga syahid. Gugur secara syahid ini disebutkan oleh Ibn Taimiyah, Ibn Katsir, Dzahabi, Abu Amr ibn al-Mulaqqin al-Syafi’i, beserta sekelompok ulama lainnya. Seorang pemberontak atau pembelot terhadap pemerintah yang sah, yang gugur dalam tindakan perlawanannya tidak dapat disebut gugur dalam syahid. Demikian itu pendapat yang disepakati di kalangan ulama. Penilaian gugurnya Husain sebagai syahid secara implisit berarti pembenaran terhadap tindakan yang diambilnya, yaitu sikap yang membuatnya gugur sebagai syahid,radhiyallahu anhu.

Ibn Hajar menulis,“(Mereka) melawan dengan motif agama akibat tindakan aniaya penguasa dan tindakan yang melanggar sunnah Nabi; maka mereka ini termasuk pelaku kebenaran (ahl al-haqq). Di antara mereka adalah Husain ibn Ali radhiyallahu anhu, penduduk Medinah dalam peristiwa Harrah serta para Qurra yang melakukan perlawanan kepada Hajjaj.”[17]

Pernyataan ini dikutip oleh Abdurrauf al-Mannawi dalamFaidh al-Qadirdan Syaukani dalamNail al- Authar.

Kata Ibn Taimiyah,“Mereka yang membunuh Husain atau membantu dalam pembunuhan tersebut atau senang dengan terjadinya hal itu, (semoga) mereka mendapat kutukan Allah, para malaikat dan manusia. (Semoga) Allah tidak menerima sedikit pun dari amal perbuatan mereka.”[18]

Penilaian semacam ini tidak mungkin diberikan kepada pelaku subversi dan pemberontakan terhadap penguasa.

4. Sanggahan terhadap Pandangan yang Tidak Setuju

Keberangkatan Husain menuju Irak dihalangi oleh Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Abbas, dll.radhiyallahu anhum. Namun, keberatan mereka bukan karena kesalahan syariat dari tindakan Husain atau pengingkaran terhadap tindakannya. Mereka hanya melihat bahwa orang-orang yang memanggil Husain tidak akan menepati janji mereka terhadapnya, bahkan akan membiarkannya terlantar.

Abdullah ibn Umarradhiyallahu anhudll. yang menghalangi kepergian Husain tidak mengatakan, “anda tidak halal melakukan ini” atau “ini tidak boleh anda lakukan.” Keberatan mereka terhadap keberangkatan Husain berdasarkan realitas yang mereka hadapi, dan bukan dari sudut hukum syariat. Menurut keyakinan mereka, penduduk Irak akan menerlantarkannya dan tidak akan memenuhi janji mereka. Hal ini tampak jelas saat Husainradhiyallahu anhumengumpulkan rombongan menuju Kufah. Ibn Abbasradhiyallahu anhumamendatanginya.

Katanya,“Wahai sepupuku! Orang-orang mengatakan bahwa engkau akan menuju Irak. Katakan padaku, apa yang kamu lakukan ini?”Jawab Husain,“Aku telah mengumpulkan rombongan sejak sehari dalam dua hari ini, insya Allah Ta’ala.”Ibn Abbas melanjutkan,“Katakan padaku, jika mereka yang mengundang anda telah membunuh pemimpin mereka, melawan musuh mereka, dan menguasai negeri mereka; maka pergilah kepada mereka. Tapi, jika pemimpin mereka masih hidup, tinggal bersama mereka, menguasai mereka, pasukannya menguasai sepenuhnya negeri mereka, maka panggilan mereka kepadamu hanya akan menjadi fitnah dan pemicu terjadinya pembunuhan. Saya tidak bisa menjamin bahwa orang-orang itu tidak akan lari meninggalkan anda, berbalik dari anda, atau bahkan mereka yang mengundang anda bisa berubah menjadi yang paling kejam kepada anda.”Husain menjawab,“Aku akan beristikharah kepada Allah, kemudian malihat apa yang akan terjadi.”[19]

Saat malam atau keesokan harinya, Ibn Abbas kembali mendatangi Husain. Katanya,“Wahai sepupuku! Sungguh aku telah mencoba bersabar terhadapmu, namun aku tidak sanggup. Aku sungguh mengkhawatirkanmu dari kalangan yang tampak buruk ini. Penduduk Irak adalah kaum penipu, maka janganlah anda terpedaya. Tinggallah di sini hingga penduduk Irak dapat mengalahkan lawan mereka; setelahnya anda bisa mendatangi mereka. Jika harus berangkat juga, pergilah ke Yaman. Di sana ada banyak benteng dan suku, juga terdapat para pendukung ayahmu. Tinggallah tersembunyi dari orang-orang. Di sana anda bisa bersurat kepada mereka atau mengutus utusan. Sungguh aku berharap jika anda melakukan apa yang aku sarankan, apa yang anda inginkan dapat terwujud.”Kata Husain,“Wahai sepupuku! Demi Allah, aku sungguh meyakini bahwa engkau adalah orang yang tulus dalam nasihat dan kasih sayang. Namun, aku sungguh telah bulat tekad untuk berangkat.”Kata Ibn Abbas kepadanya,“Jika anda harus berangkat, maka hendaklah jangan disertai anak dan istri anda. Demi Allah, aku sungguh takut anda akan terbunuh seperti Utsman yang terbunuh di depan istri dan anak-anaknya.”[20]

Tampak jelas bahwa keberatan Ibn Abbasradhiyallahu anhumabukan berdasarkan pada argumentasi dan alasan syariat, akan tetapi keberatan mengenai realitas yang akan terjadi.

Keberatan yang berasal dari Ibn Umar yang tidak menyalahkan secara syariat sikap yang diambil oleh Husein juga tampak dari riwayat berikut. Ketika berita keberangkatan Husain ibn Ali menuju Irak sampai kepada Ibn Umar, ia pun menemuinya setelah berjalan selama tiga malam.

Katanya,“Kemana anda hendak pergi?”Jawab Husain,“Irak.”Bersamanya terlihat kain lusuh dan gulungan-gulungan kertas. “Ini dokumen dan naskah sumpah setia mereka,”ujarnya.“Jangan mendatangi mereka!”Tapi, Husain menolak anjuran itu. Kata Ibn Umar,“Sungguh kusampaikan padamu sebuah hadits, Jibril telah mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menawarinya untuk memilih antara dunia dan akhirat. Beliau  memilih akhirat, menolak dunia. Anda termasuk bagian dari (keluarga) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Demi Allah, tidak seorang pun di antara kalian yang akan memperolehnya (kekuasaan dunia). Dan tidaklah Allah mengalihkan hal tersebut dari kalian kecuali untuk kebaikan kalian.”Namun Husain tetap menolak untuk kembali. Kata rawi, Ibn Umar lalu memeluknya, menangis dan berkata,“Aku menitipkanmu kepada Allah agar tidak sampai terbunuh.”Radhiyallahu anhum.[21]

Riwayat lain yang menjelaskan bahwa keberatan tokoh-tokoh yang utama tersebut bukan keberatan syar’iy, melainkan timbul dari ketidakpercayaan terhadap penduduk Irak adalah sikap Abdullah ibn Zubairradhiyallahu anhumaterhadap rencana kepergian Husain menuju Irak. Sikap Abdullah ibn Zubair terhadap Yazid sudah sama dimaklumi.

Husain mengatakan bahwa ia berkata kepada Abdullah ibn Zubair,“Telah sampai kepadaku baiat 40.000 orang, mereka berjanji dengan tebusan talak dan pembebasan budak bahwa mereka akan bergabung denganku.”Jawab Ibn Zubair,“Apakah anda akan pergi kepada orang-orang yang telah membunuh ayah anda dan mengusir saudara anda?”[22]

Jika Pembaca memperhatikan bagaimana respons Ibn Umarradhiyallahu anhumaterhadap mereka yang mencabut baiatnya terhadap Yazid, tampak nyata perbedaan sikapnya terhadap mereka dan terhadap Husain.

Tatkala warga Medinah mencabut baiatnya kepada Yazid ibn Muawiyah, Ibn Umar kemudian mengumpulkan para pengikut dan anak-anaknya. Katanya kepada mereka,“Sungguh aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Para pengkhianat akan diberi bendera penanda pada hari Kiamat,’ sementara kita telah memberikan baiat (janji setia) atas nama Allah dan Rasul-Nya kepada orang ini (Yazid); dan sungguh tidak kuketahui jenis pengkhianatan yang lebih besar daripada pemberian baiat atas nama Allah dan Rasul-Nya kepada seseorang, kemudian mengangkat senjata kepadanya setelahnya. Makanya, aku tidak tahu (vonis lain) jika seorang di antara kalian mencabut baiatnya atau tidak memberi baiat dalam urusan ini kecuali perpisahan golongan antara aku dan dia.”[23]

Tampak di sini sikapnya yang tegas dan keras, karena mereka telah membaiat Yazid. Sikap membelot terhadap baiat pemerintah menyalahi syariat. Adapun keadaan Husain, dia adalah orang yang merdeka dan diam diri, dan karena persoalannya adalah peristiwa takdir yang harus terjadi, bukan pengingkaran baiat ataupun perlawanan terhadap pemimpin yang sah.

Demikian juga sikap Abu Said al-Khudri saat menemui Husainradhiyallahu anhuma. Katanya,“Wahai Abu Abdillah! Aku sungguh menyayangi dan menasihatimu. Aku mendengar mengenai surat yang ditujukan kepadamu dari para pendukungmu di Kufah. Mereka mengajakmu untuk bergabung dengan mereka. Menurutku, jangan engkau pergi kepada mereka. Aku sungguh telah mendengar ayahmu pernah berkata mengenai penduduk Kufah, ‘Aku sungguh telah membuat mereka jemu dan marah; mereka juga telah membuatku jemu dan marah. Mereka sama sekali tidak memiliki sifat memenuhi janji. Yang selamat dari mereka, hanya karena lolos dari anak panah yang meleset. Demi Allah, sungguh mereka tidak memiliki niat maupun tekad terhadap sesuatu, tidak juga sikap sabar dalam peperangan.”[24]

Tampak keberatannya berkaitan dengan keraguannya terhadap penduduk Irak dan lemahnya tekad mereka; bukan mengenai tindakan penyelisihan syariat oleh Husainradhiyallahu ta’ala anhuma.

KEDUA, SIKAP ABDULLAH IBN ZUBAIRRADHIYALLAHU ANHUMA

1.      Gambaran Sikap Abdullah ibn Zubair

Abdullah ibn Zubairradhiyallahu anhumatidak rela dengan kepemimpinan Yazid, juga tidak membaiatnya. Dia lalu kembali menuju Mekah. Yazid lantas mengirim pasukan untuk membunuhnya. Akan tetapi, Yazid wafat pada waktu tersebut, yaitu sebelum pasukan yang ia kirim dapat menyelesaikan tugas mereka. Yazid sendiri telah menunjuk putranya Muawiyah sebagai khalifah yang menggantikannya; yang tampaknya menderita sakit hingga wafat. Ia berkuasa hanya sekitar 40 hari tanpa menunjuk pengganti. Keadaan mereka menjadi sangat sulit. Terlebih, Ibn Zubair telah dibaiat sebagai khalifah. Semua negeri saat itu telah memberikan baiatnya, selain Yordania dan Damaskus.

Ibn al-Jauzi menulis mengenai Abdullah ibn Zubairradhiyallahu anhuma,sepeninggal Yazid ibn Muawiyah, yang memproklamirkan kepemimpinan dengan sebutan Amirul Mukminin. Dia mengusai para pegawai pemerintahan dan dapat mewujudkan stabilitas negara; kecuali sekelomok orang di Syam, karena mereka telah membaiat Marwan.[25]

Karena otoritasnya yang telah kokoh, dalam fikih Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ibn Zubair telah secara sah menjadi Amirul Mukminin. Kekuasaannya menguat, sampai-sampai pemimpin pasukan yang dikirim oleh Yazid untuk memerangi Ibn Zubair sebelum gugurnya sudah berkeinginan untuk membaiatnya sebagai khalifah. Demikian juga Marwan ibn Hakam di Damaskus, sebenarnya telah  berniat untuk membaiat Ibn Zubair. Faktanya, dia menjadi Amirul Mukminin selama sembilan tahun. Selama itu, dia telah mengirim para petugasnya ke pelbagai penjuru untuk memimpin shalat, memungut kharaj (pajak), dan memerintah di daerah-daerah.

Ibn Katsir menulis, Ibn Zubair mengutus Abdullah ibn Yazid al-Anshari ke Kufah untuk memimpin shalat, Ibrahim ibn Muhammad ibn Thalhah ibn Ubaidillah untuk mengumpulkan pajak, dan mempercayakan Kufah (dan Basrah) kepadanya. Dia juga mengirim utusan kepada warga Mesir yang kemudian memberikan baiat mereka kepadanya, lalu mengangkat Abdurrahman ibn Juhdum sebagai gubernur. Seluruh Jazirah dia kuasai. Dia mengangkat Harits ibn Abdillah ibn Abi Rabi’ah sebagai gubernur Basrah, mengirim utusan kepada warga Yaman dan Khurasan yang kemudian memberikan baiat mereka kepadanya.[26]

2.    Kebenaran Sikap Abdullah ibn Zubair dan Keterangan Ulama tentang Hal Itu

Tampak dari keterangan yang lalu bahwa Abdullah ibn Zubair telah sah menjadi Amirul Mukminin berdasarkan baiat mayoritas masyarakat negeri kaum Muslim. Sebaliknya, mereka yang memeranginya dari kalangan Umawiyin (pendukung keluarga Muawiyah) dll.; merekalah yang melawan dan memberontak terhadap pemerintahan yang sah. Demikian itu pandangan Ibn Hazm.

Ibn Hazm menulis,“Mengenai Marwan (ibn Hakam), kami tidak ketahui ia memiliki cela sebelum ia khuruj (berontak) terhadap Amirul Mukminin Abdullah ibn Zubair radhiyallahu anhuma”[27]

Di tempat lain Ibn Hazm menulis,“Kami memerangi kaum Musyrik di mana saja kami temui, kecuali jika berada di Masjidil Haram. Jika kami konsisten melaksanakan aturan ini, kami yakin bahwa kami sungguh telah mentaati Allah Ta’ala dalam setiap yang ia perintahkan dalam urusan ini. Siapa yang menyelisihi tindakan ini, sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah Ta’ala setidaknya dalam salah satu dari dua ayat, dan hal itu haram pada asalnya. Dan sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, bahwa tindakan Amirul Mukminin Abdullah ibn Zubair radhiyallahu anhuma yang didahului diserang oleh kalangan fasik di Masjidil Haram, yakni Yazid, Amr ibn Said, Hushain ibn Numair, Hajjaj, dan yang mengirim mereka, atau menyertai mereka –dari pasukan sultan- Ibn Zubair melawan mereka untuk melindungi dirinya; dan dia telah bertindak benar dalam hal ini.”[28]

Dia juga menulis mengenai ‘Perang Mekah’,“Hushain ibn Numair, Hajjaj ibn Yusuf, dan Sulaiman ibn Hasan al-Jiyani menyerang Masjidil Haram –semoga Allah melaknat mereka semua- melakukan perusakan dan melecehkan kehormatan Ka’bah. Di antara mereka ada yang melempari Ka’bah dengan manjaniq (alat pelontar batu besar) -yaitu si fasik Hajjaj- membunuh Amirul Mukmini Abdullah ibn Zubair radhiyallahu anhuma di dalam Masjidil Haram, juga Abdullah ibn Shafwan ibn Umayyah radhiyallahu anhu yang bergantung di kelambu Ka’bah.”[29]

Imam Nawawi menulis dalamSyarh Sahih Muslim,“Mazhab Ahlul Haqq bahwa Ibn Zubair telah dianiaya, dan bahwa Hajjaj dan kawan-kawannya telah memberontak (khuruj) kepadanya.”[30]

Asma binti Abu Bakarradhiyallahu anhuma, ibunda Abdullah ibn Zubairradhiyallahu anhumasendiri mendukung sikap putranya itu. Ini tampak dari rekam percakapan mereka. Abdullah berkata kepada ibunya,“Wahai ibunda, orang-orang meninggalkanku, bahkan juga anak dan istriku. Pendukungku tidak tersisa kecuali sedikit, yang mereka juga tidak mampu melawan kecuali kesabaran sesaat. Sementara kelompok itu memberiku dunia. Bagaimana pandangan ibunda?”

“Engkau wahai anakku, demi Allah, lebih tahu tentang dirimu. Jika menurutmu engkau benar, maka lanjutkanlah. Kawan-kawanmu telah terbunuh karenanya. Pendukung-pendukungmu tidak mungkin mengimbangi pendukung-pendukung Bani Umayyah. Jika engkau hanya menginginkan dunia, engkaulah seburuk-buruk hamba Allah. Artinya engkau telah membinasakan dirimu sendiri serta orang-orang yang berperang bersamamu. Jika engkau katakan, aku benar namun ketika kawan-kawanku dihina aku menjadi lemah; maka seperti itu bukanlah tindakan orang merdeka atau orang yang punya agama. Berapa lama pula engkau akan hidup di dunia? Terbunuh itu lebih baik.”jawab Asma.

Abdullan ibn Zubair lalu mendekat kemudian mencium kepala ibunya. Katanya,“Inilah pendapatku. Tapi aku suka mendengar pendapatmu yang akan menambah wawasanku. Lihatlah wahai bundaku, sungguh aku akan terbunuh sejak hariku ini. Maka, hendaklah engkau tidak terlalu bersedih dan berserah dirilah kepada putusan Allah. Sungguh anakmu ini tidak akan menyengaja melakukan kemungkaran, perbuatan keji, melampaui hukum agama, dan tidak akan secara sengaja menganiaya seorang Muslim maupun mu’ahad (kafir yang diberi janji perlindungan).”

“Ya Allah, sungguh kukatakan ini bukan untuk mensucikan diriku sendiri, akan tetapi ucapan duka cita bagi ibuku agar ia terhibur denganku.”

Lalu kata ibunya,“Aku sungguh berharap agar kesabaranku mengenaimu berbuah kebaikan. Keluarlah, hingga aku melihat sampai di mana urusanmu berjalan.”jawab Abdullah,“Wahai ibunda, jangan meninggalkan doa buatku sebelum dan setelahnya.”kata Asma,“Aku tidak akan pernah meninggalkannya.”

Kemudian Asma berdoa,“Ya Allah, kasihanilah shalat-shalat yang panjang itu di malam yang panjang, ratapan serta haus (puasa) di pinggiran Medinah dan Mekah, serta baktinya kepada ayahnya dan kepadaku. Ya Allah, sungguh telah kupasrahkan dia kepada putusan-Mu atasnya. Aku rela terhadap ketetapan-Mu. Anugerahkan padaku melalui Abdullah pahala golongan orang yang bersyukur dan sabar.”Abdullah kemudian mendekat lalu mencium ibunyaradhiyallahu anhum ajma’in.[31]

3.    Kalangan yang Menghalangi Hal Itu

Abdullah ibn Umarradhiyallahu anhumadikaitkan dengan pandangan bahwa Ibn Zubair telah melakukan pemberontakan terhadap Bani Umayyah.

Ibn Asakir menulis dalamTarikh Dimasyqbahwa Ibn Umar berkata,“Tidak kudapati pada diriku keresahan mengenai umat ini seperti keresahan yang aku temukan pada diriku saat harus memerangi kelompok pemberontak ini, sebagaimana yang Allah perintahkan.”Kata Hamzah (ibn Abdillah ibn Umar),“Kami berkata kepadanya, ‘Siapkah kelompok pemberontak yang anda maksud itu?”Jawab Ibn Umar,“Ibn Zubair telah melakukan pemberontakan terhadap kaum itu, keluar dari rumah-rumah mereka dan mencabut janji mereka.”[32]

Kisah riwayat ini memiliki beberapa kejanggalan dalam matannya, al.:

Pertama,Ibn Zubairradhiyallahu anhumabelum pernah memberikan janji setia kepada Bani Umayyah, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa dia melanggar janjinya.

Kedua,kedudukan Abdullah ibn Zubairradhiyallahu anhumayang disebutkan oleh Ibn Umar sendiri tidak koheren dengan kemudian menjadikannya golongan pemberontak yang ia sampai merasa mengeluh karena tidak memeranginya.

Kata Ibn Umar saat melintasi Ibn Zubair yang sedang disalib, kata Abu Nawfal,“Aku melihat Abdullah ibn Zubair di jalan mendaki Medinah, kemudian kaum Quraisy melintasinya dan sekelompok orang, hingga Abdullah ibn Umar. Dia singgah kemudian berkata, ‘Assalamu alaika Abu Khubaib, Assalamu alaika Abu Khubaib, Assalamu alaika Abu Khubaib; bukankah demi Allah aku sungguh telah melarangmu dari hal ini, bukankah demi Allah aku sungguh telah melarangmu dari hal ini, bukankah demi Allah aku sungguh telah melarangmu dari hal ini. Tidakkah demi Allah, kamu, sebagaimana yang aku tahu, adalah ahli puasa, ahli shalat, dan gemar menyambung silaturrahim. Demi Allah, bila ada umat yang mana engkau yang paling buruk, adalah ummat yang terbaik.”[33]

Ketiga,Ibn Umar tidak membaiat Marwan ibn Hakam, tidak juga anaknya Abdul Malik saat Ibn Zubair berkuasa. Lalu, bagaimana mungkin terbayang dia menyertai mereka dalam memerangi Ibn Zubair, sementara dia sendiri belum mengakui kepemimpinan mereka?

Said ibn Harb al-‘Abdi berkata,“Aku duduk bersama Abdullah ibn Umar di Masjidil Haram di zaman kekuasaan Ibn Zubair. Tokoh-tokoh di bawah ketaatan Ibn Zubair adalah tokoh Khawarij, Nafi’ ibn Azraq, Athiyah ibn Aswad, dan Najdah. Mereka atau sebagian mereka kemudian mengutus seorang pemuda kepada Abdullah ibn Umar. Katanya kepada Ibn Umar, ‘Apa yang menghalangi anda untuk membaiat Ibn Zubair sebagai Amirul Mukminin?’ Aku melihat saat dia mengacungkan tangannya yang bergetar karena fisik yang sudah lemah, lalu dia berkata, ‘Demi Allah, aku sungguh tidak akan memberikan baiatku kepada satu kelompok dan aku menolak untuk jamaah (yang lain).”[34]

Ibn Umar belum mengakui kepemimpinan seorang pun. Tidak Ibn Zubair, tidak juga Umawiyyin (keluarga Bani Umayyah) sebelum bersatunya pendapat kaum Muslim. Ibn Umar juga tidak mengakui kepemimpinan Bani Umayyah hingga bersatunya pendapat kaum Muslim pada Abdul Malik pasca terbunuhnya Ibn Zubair.

Kata Abdullah ibn Dinar,“Aku melihat Ibn Umar saat orang-orang telah sepakat kepada Abdul Malik berkata, ‘Telah tertulis, aku mengaku untuk mendengar dan taat kepada Abdullah Abdul Malik sebagai Amirul Mukminin berdasarkan Sunnah Allah dan Sunnah Rasul-Nya semampuku. Dan anak-anakku juga sepakat dengan itu.”[35]

Jika Ibn Umar belum mengakui kepemimpinan mereka atas kaum Mukmin sebelum sepakatnya kata kaum Muslim atas mereka; lalu bagaimana mungkin terbayang dia hendak menyertai mereka dalam memerangi Ibn Zubair?!

Sebagai penutup, dari uraian penulis tampak kebenaran dari sikap yang diambil baik oleh Husain ibn Ali  maupun Abdullah ibn Zubairradhiyallahu anhum ajma’in. Dan, apapun yang diriwayatkan kontras mengenai sikap tersebut tidak memiliki fondasi argumentasi yang kokoh.***


 


[1]Jila’u al-Afham, Juz I, h. 419; Ibn Syahin menyebutnya dengan sanad yangmarfu’,Madzahib Ahl al-Sunnah,h.39, namun Albani menilai riwayatmarfu’tersebut sebagaimaudhu’.

[2] Ibn Katsir,al-Bidayah wa al-Nihayah,Juz VIII, h. 163.

[3] Ibid.

[4] HR. Bukhari.

[5] HR. Ahmad dan selainnya dari sahabat Hudzaifah, Abu Said, Ali ibn Abi Thalib, Umar ibn Khattab, Abdullah ibn Mas’ud, Abdullah ibn Umar, al-Bara’ ibn Azib, dan Abu Hurairahradhiyallahu anhum;dengan sanad yang shahih.

[6]Qut al-Mughtadzi ‘ala Jami’ al-Tirmidzi,Juz IX, h. 1019.

[7] Munnawi,Al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir,Juz I, h. 22, 506.

[8] HR. Bukhari, no. 3753.

[9] HR. Ahmad, Tirmidzi, Bukhari (dalamal-Adab al-Mufrad), Hakim, dan ia nilai shahih dan disetujui oleh Dzahabi; Albani menilainya hasan.

[10] HR. Ahmad; Ahmad Muhammad Syakir menilai sanadnya shahih.

[11]Al-Tanwir Syarh al-Jami’ al-Shagir, Juz V, h. 356.

[12] HR. Ahmad dalamal-MusnaddanFadha’il al-Shahabah, no. 26508; dll. Hadits shahih.

[13] HR. Muslim, no. 233.

[14] Ibn Abd al-Barr,Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih, Juz I, h. 807.

[15] Ibn Jarir al-Thabari,Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Juz V, h. 413.

[16] Ibid, 413-414.

[17] Ibn Hajar,Fath al-Bari, Juz XII, h. 286.

[18] Ibn Taimiyyah,Majmu Fatawa, Juz IV, h. 487.

[19] Ibn Katsir, Juz VIII, h. 172.

[20] Ibid, h. 173.

[21] Baihaqi,Dalail al-Nubuwwah, Juz VI, h. 471;al-Mustakhraj min Kutub al-Nas wa al-Mustathraf, Juz III, h. 18; Ibn Katsir, Juz VI, h. 259.

[22] Ibn Katsir, Juz VIII, h. 174.

[23] HR. Bukhari, no. 7111.

[24] Ibn Katsir, Juz VIII, 174.

[25] Ibn al-Jauzi,al-Muntazham fii Tarikh al-Muluk wa al-Umam, Juz VI, 138.

[26] Ibn Katsir, Juz XI, h. 666.

[27] Ibn Hazm,al-Muhalla bi al-Atsar, Juz I, h. 221

[28] Ibid, Juz XI, h. 149.

[29] Ibid, h. 331.

[30] Nawawi,Syarh Shahih Muslim, Juz XVI, h. 99.

[31] Ibn Maskawaih,Tajarub al-Umam wa Ta’aqab al-Himam, Juz II, h. 244-245; Ibn Katsir, Juz VIII, h. 364.

[32]Tarikh Dimasyq, Juz XXXI, h. 193.

[33] HR. Muslim, no. 2545.

[34] Baihaqi,al-Sunan al-Kubra, no. 16809.

[35] HR. Bukhari, no. 7203.

 

 

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir