POLA DAN DAMPAK NORMALISASI HUBUNGAN ARAB DENGAN ENTITAS YAHUDI

29/10/2014 0:00:00
صالح النعامي Jumlah kali dibaca 712

POLA DAN DAMPAK NORMALISASI HUBUNGAN ARAB DENGAN ENTITAS YAHUDI


Dr. Soleh an-Na'ami

 

Ada sebuah paradox yang menimbulkan provokasi dan rasa pahit dalam waktu yang bersamaan. Pada saat penjajah Yahudi menampakkan taring dan menghunjamkannya di tubuh umat juga aksi penodaan Al-Quds yang tiada henti, sebagian Bangsa Arab justeru memperkuat normalisasi hubungannya dengan para penjajah Yahudi. Sampai-sampai para petinggi Yahudi terus terang mengungkapkan tingginya kwantitas peretemuan dan komunikasi silang dengan para pengambil keputusan di negara-negara Arab. Lebih memalukan lagi bahwa para petinggi Yahudi berpura-pura enggan mengadakan pertemuan dengan petinggi Arab, karena berharap pertemuan rahasia tersebut berubah menjadi terbuka.

Dalam sambutannya di depan mahasiswa The Interdisciplinary Center Herzliya, Menlu Zionis Avigdor Lieberman mengancam para petinggi Arab yang selama ini bertemu dengannya dan rekan-rekannya secara rahasia, bahwa Tel Eviv tidak setuju lagi dengan politik "diplomasi tertutup". Ia juga menyeru mereka untuk berkomunikasi secara terbuka. Dengan nada penuh arogansi Lieberman berkata:"Aku sudah hampir muak dengan pertemuan model ini, selanjutnya kita harus menghentikan kesepakatan secara rahasia."

Ia menjelaskan bahwa utusan negara-negara Arab sebenarnya tidak memberi sumbangsih apapun bagi Zionis. Sebaliknya, hubungan rahasia dengan Tel Aviv malah menguntungkan rezim Arab karena banyaknya titik temu kepentingannya dengan Zionis.

Untuk membuktikan klaimnya, Lieberman menegaskan bahwa Tel Aviv dan rezim Arab mempunyai kepentingan yang sama dalam menumpas gerakan sunni ekstremis. Artinya, penjajah Zionis menilai bahwa rezim-rezim Arab tidak menganggap penjajahan Zionis atas bumi Palestina sebagai sebuah masalah. Sehingga mereka bisa menggantikan PLO dengan perwakilan negara-negara Arab dalam bernegosiasi sehingga mencapai kesepakatan solusi regional bersama. Kesepakatan bersama untuk normalisasi penuh hubungan Zionis dengan negara-negara Arab, barulah kemudian membicarakan konflik Palestina.

 

Normalisasi Politik Memperkuat Zionis Sayap Kanan

Melalui pernyataannya, Lieberman ingin menyampaikan pesan kepada publik Zionis juga kepada publik internasional. Kepada publik Zionis ia ingin menyampaikan bahwa sikap utusan Arab yang bersiteguh mempertahankan pertemuan secara rahasia telah membuktikan kredibilitas garis politik, ideologi dan propaganda yang ditempuh oleh sayap kanan paling ekstremis ini dalam mengolah konflik Palestina. Dengan kata lain Lieberman ingin menegaskan bahwa hubungan rahasia yang tetap hangat dengan rezim Arab di saat penjajah terus meningkatkan aksi pemukiman paksa, yahudisasi dan politik esktermisnya dalam menghadapi Palestina adalah cerminan keberhasilan politik keras partainya.

Klaim Lieberman bahwa para pemimpin Arab kini tidak peduli lagi dengan isu Palestina bukanlah perkara baru. Sebelumnya, Malcolm Hoenlein salah seorang petinggi AIPAC (American Israel Public Affairs Committee), lobi terbesar Yahudi untuk Amerika mengklaim bahwa semua petinggi Arab yang pernah bertemu dengannya telah muak dengan kasus Palestina.[1]

Elit penguasa Zionis dari kawanan Lieberman menganggap ketidakpedulian Arab terhadap kasus Palestina sebagai salah satu fenomena perubahan iklim regional, yang secara tidak langsung mengizinkan Zionis untuk meneruskan strategi pemaksaan kehendak sesuai garis ideologi ekstremis sayap kanan.

Kontinuitas pertemuan rahasia antara perwakilan Arab dengan utusan Zionis mengindikasikan bahwa negara-negara Arab tidak terganggu dengan serangkaian undang-undang yang digarap oleh Partai Yisrael Beiteinu di bawah pimpinan Lieberman. UU tersebut bertujuan memperkokoh kekuasaan Zionis atas Masjid al-Aqsha, alokasi waktu shalat antara Yahudi dengan kaum muslim, dan berakhir dengan transfer pengawasan Masjid al-Aqsha dari Departemen Wakaf al-Quds kepada Kementrian Agama Zionis.

Dari pengakuannya dapat dipahami bahwa rencana Knesset menganeksasi wilayah "C" yang mencakup 60% dari Tepi Barat ke dalam terotorial Zionis sama sekali tidak mengusik rezim Arab. Karenanya Zionis tak perlu ragu untuk mengeksekusi rencana tersebut.

Di sisi lain, Lieberman ingin menetralisir kecaman internasional terhadap kebijakan pemerintahnya. Pesannya bahwa sebuah kerajaan hanya boleh dikuasai oleh seorang raja. Jika negara-negara Arab saja tidak merasa terusik dengan politik jahat Zionis atas Palestina, maka sebaiknya dunia internasional tidak perlu marah. Fakta ini dijadikan senjata oleh sebagian elit partai ektremis untuk menyerang gerakan BDS (Boycott, Divestment, and Sanctions) dengan menuduh mereka sebagai provokator antisemitisme.

Lieberman adalah tokoh Zionis yang getol menghina dan merendahkan Bangsa Arab. Juga pernah meminta agarAswan High Damn/bendungan tinggi di sungai Nil dihancurkan, ia juga pernah meminta agar Ghaza dibombardir dengan nuklir.

 

Normalisasi Kemanan

Pola normalisasi keamanan sangat berbahaya. Disinyalir terdapat berbagai pola kerjasama keamanan antara penjajah Zionis dengan beberapa negara Arab dalam berbagai bidang. Pemerintah Arab memilih diam atas isu ini, sedangkan Zionis terus mengungkap dan membongkar rahasia normalisasi keamanan tersebut.

Avi Sekharov salah seorang jurnalis Zionis misalnya, mengungkapkan bahwa kerjasama bidang keamanan antara Zionis dengan Mesir dan Yordania sedang mengalami masa terbaiknya.

Selain kerjasama bidang keamanan, Tel Aviv juga senantisa berkoordinasi dan saling tukar informasi intelijen dengan beberapa negara Arab. 

 

Normalisasi Ekonomi

Normalisasi bidang ekonomi juga cukup bervariasi, sebagian dilakukan secara terbuka dan yang lainnya tetap menjadi rahasia.

Mesir misalnya. Pemerintah kudeta mengumumkan bahwa Mesir akan bergantung secara parsial kepada gas yang diekstraksi pemerintah Zionis dari laut Mediterania. Padahal ladang gas zionis tersebut berada di perairan Mesir. Pertukaran komersial sangat aktif antara Maroko dan Zionis bukan rahasia lagi. Utusan perusahaan Zionis dengan bebas memasuki Rabat untuk mengawasi bisnisnya dan mengambil keuntungan dari bahan baku murah di Maroko.

Pada saat yang sama, Joel Jasisnki salah seorang peneliti INSS(Institute for National Security Studies) Zionis menyatakan bahwa kerjasama perdagangan rahasia antara Zionis dengan negara-negara Teluk berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir.

Kesimpulannya, bahwa normalisasi hubungan antara Zionis dengan negara-negara Arab berkembang sangat pesat, sampai-sampai sebagian petinggi Zionis bangga dan berani bersikap congkak. Zionis memanfaatkan gerakan normalisasi ini demi meraih keuntungan internal dan eksternal. Pasa saat yang sama, mereka terus meningkatkan aksi radikalis dan ekstremisnya.

 

 

 


 


[1]Surat Kabar Haaretz, edisi 1/2/2104.

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir