10 WASIAT DALAM MENYIKAPI PERISTIWA-PERISTIWA KONTEMPORER

29/10/2014 0:00:00
عبد العزيز بن ناصر الجليل Jumlah kali dibaca 910

10 WASIAT DALAM MENYIKAPI PERISTIWA-PERISTIWA KONTEMPORER


Abdul Aziz ibn Nashir al-Julayyil

 

Melalui artikel ini, saya (penulis) mempersembahkan beberapa wasiat untuk diri saya sendiri juga kepada saudara-saudaraku kaum muslim, terkhusus untuk du'at dan mujahidin. Sepuluh wasiat dalam berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa kontemporer yang terjadi dengan cepat dan beruntun. Banyak orang yang terjerumus ke dalamnya melalui tangan, lisan, atau penanya. Sebagian terjebak dalam sikap esktremis, sebagian lain bersikap acuh dan ada pula yang tergesa-gesa bertindak tanpa pertimbangan matang. Ada yang dipicu oleh syubhat dan takwil, ada pula didorong hawa nafsu, dan tak jarang yang mencampuradukkan keduanya.

Pada kesempatan ini, saya (penulis) berusaha untuk tidak menyebutkan satu peristiwa tertentu, tidak pula menyinggung golongan atau tokoh ini dan itu. Melainkan berusaha menyampaikan manhaj Al-Qur'an dan Sunnah, serta hasil induksi dari sikap-sikap salafus saleh dalam berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa besar yang mereka alami. Semuanya dirangkum dalam untaian wasiat yang saya harapkan dapat memberi manfaat –biiznillah-  dalam setiap peristiwa yang menimpa umat. Sehingga setiap muslim dapat menentukan sikap dan pendapat yang tepat, serta  selamat dari kebingungan atau permusuhan.

 

Wasiat Pertama: Kembali dan hanya bergantung kepada Allah Azza wa Jalla

Dalam setiap kondisi, hendaklah seorang muslim senantiasa kembali kepada Allah dengan memelas berdo'a dan memohon petunjuk kepada-Nya. Sebab, hanya Allah Maha Pemberi hidayah kepada kebenaran dan kosistensi padanya. Allah Azza wa Jalla berfiman:

"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki."(QS. Ibrahim: 27)

Tentang nasehat Nabi Nuh 'alaihissalam kepada puteranya, Allah berfirman:

Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang".(QS. Hud: 43)

Tentang Nabi Ibrahim 'alaihissalam, Allah berfirman:

Dia (Ibrahim) berkata: "Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". (QS. al-An'am: 77)

Allah berfirman tentang do'a Nabi Musa 'alaihissalam:

Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah pemberi ampun yang sebaik-baiknya.

Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. (QS. al-A'raf: 155-156)

Inilih kunci utama untuk dapat selamat dari fitnah dan penyimpangan. Siapa ingin mendapat hidayah, maka hendaklah ia memintanya dari Pemiliknya, yakni Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bila kita mengamati do'a-do'a Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam padahal beliau adalah utusan Allah sang pembawa hidayah, kita akan dapati bahwa sangat banyak do'a-do'a beliau memohon petunjuk kepada kebenaran dan konsistensi dalam agama. Cukuplah do'a tahajjud yang beliau ajarkan kepada kita sebagai salah satu buktinya.

«اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ»

Ya Allah, Rabb Jibril, Mika`il, dan Israfil; Maha pencipta langit dan bumi, Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Engkaulah Hakim (Maha Pemutus perkara) di antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka perselisihkan, tunjukilah aku jalan keluar yang benar dari perselisihan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, bagi siapa yang Engkau kehendaki.[1]

Bila seorang hamba jujur dalam permohonan dan tawakkalnya, niscaya Allah akan membukakan jalan hidayah baginya menuju kebenaran. Sebaliknya, jika ia enggan berdo'a dan terlalu percaya pada diri sendiri, maka Allah akan menjatuhkan beban di pundaknya dan meninggalkannya. Siapa saja ditinggalkan Allah, maka janganlah tanyakan tentang kesesatan dan kerugiannya.

 

Wasiat Kedua: Berhati-hati dari nafsu dan kepentingan pribadi dalam berpendapat atau bersikap tentang sebuah peristiwa.

Nafsu dan kepentingan pribadi menggiring seseorang kepada fanatisme dan hizbiyah pada golongan atau sikap tertentu. Penyebabnya adalah minimya keikhlasan pada Allah, sehingga ia tersisih dari taufik dan hidayah. Ada pula yang pada awalnya ikhlas kepada Allah, namun karena ada kepentingan pribadi ketulusannya hilang berganti egoisme atau fanatisme. Artinya, seseorang dituntut untuk senantiasa sigap siaga mengoreksi diri dan niatnya.

Ibn Qayyim al-Jauziyah menulis: "Begitu pula perbedaan antara antusiasme kepada Allah dan manusia. Antusiasme kepada Allah dipicu oleh pengagungan kepada Allah dan perintah-Nya, sedangkan antusiasme kepada manusia dipicu oleh pengagungan pada diri sendiri dan kemarahan karena tak meraih keuntungannya."[2]

 Ketulusan kepada Allah dalam memohon petunjuk kepada kebenaran sikap dan pendapat sangat kontradiksi dengan fanatisme terhadap tokoh atau golongan tertentu. Taklid pada tokoh atau golongan tertentu, menganggap kebenaran hanya milik mereka hingga seolah-olah maksum dari salah dan dosa sedangkan yang lainnya sesat, adalah sikap yang bertentangan dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yang motto mereka adalah sabda Rasulullah: "Aku memohon kepada-Mu kalimat haq/kebenaran di saat marah maupun ridha."[3] Juga motto, "jadikanlah kebenaran standar mengenal figur, jangan jadikan figur sebagai standar kebenaran." Ungkapan lain, "Terimalah kebenaran dari siapa pun, meski dari orang yang engkau benci." Ahlus Sunnah wal Jama'ah menolak slogan, "Siapa yang tidak bersamaku, maka ia adalah musuhku."

Kewajiban kita adalah menerima kebenaran yang berdasarkan dalil kendati bertentangan dengan nafsu atau kepentingan pribadi. Lihatlah Umar radhiyallahu 'anhu. Meski kecintaannya yang tinggi kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, ia tetap mengemukakan pendapatnya yang berbeda tentang memerangi kaum murtaddin dengan diskusi dan debat penuh persaudaraan. Setelah Abu Bakar ash-Shiddiq berhasil menyapu keraguan dari hatinya dengan argumentasi tak terkalahkan,  barulah Umar tunduk dan menerima kebijaksanaan Abu Bakar dengan lapang dada. Sikap ini diambil Umar dalam menghadapi manusia terbaik dan khalifah Rasulullah, maka bagaimana pula dengan orang-orang setelahnya?

Janganlah sekali-kali mengambil sikap hanya karena tokoh atau golongan tertentu mengatakannya, hingga jelas dalil syar'i yang membenarkan atau menyanggahnya. Barulah sikap tersebut diterima atau ditolak. Alangkah indahnya wasiat Umar radhiyallahu 'anhu kepada Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu: "Janganlah ragu untuk rujuk dari keputusan yang engkau putuskan hari ini, jika setelahnya engkau mendapat petunjuk kepada kebenaran. Sebab, kembali kepada kebenaran adalah lebih baik daripada bersikukuh pada kebatilan."[4]

Dalam kitabnya yang cukup bagus at-Tankil, Syekh Abdurrahman al-Mu'allimi rahimahullah menyebutkan beberapa faktor yang menjebak seseorang ke dalam kubangan hawa nafsu dan fanatisme pada kebatilan. Saya (penulis) akan menyebutkannya secara ringkas, agar kita dapat menyadari untuk kemudian menjauhinya. Faktor-faktor tersebut adalah:

·         Prasangka seseorang bahwa jika ia mengakui dan menerima kebenaran berarti juga pengakuan bahwa selama ini ia berada di atas kebatilan. Seorang yang tumbuh dengan mazhab atau aliran yang ia peroleh dari guru atau murabbinya dan telah hidup sekian lama dengan agama dan mazhab tersebut, akan merasa sangat berat untuk meninggalkannya saat menyadari bahwa keyakinannya selama ini adalah batil. Apalagi jika leluhur, ayah, saudara, atau teman-temannya masih meyakini mazhab tersebut, ia merasa bahwa dengan menerima kebenaran berarti ia telah merendahkan mereka, yang esensinya juga merendahkan derajat dan martabatnya sendiri.

·         Ia telah mendapat kemuliaan, popularitas, atau kemakmuran dalam kebatilan ia pegang. Berat baginya mengakui bahwa ia berada dalam kebatilan karena keuntungan-keuntungan tersebut akan hilang darinya.

·         Kesombongan, wal'iyadzu billah. Jika seorang tenggelam dalam kebodohan dan kebatilan kemudian diberi nasehat oleh orang lain dengan hujjah yang kuat, ia akan merasa bila kebenaran tersebut diterima berarti ia mengakui kesalahan dan kekurangannya selama ini. Lantaran itu, kita saksikan banyak intelek yang dengan mudahnya menerima kebenaran berdasarkan riset dan penelitiannya sendiri, namun sangat berat menerima jika kebenaran tersebut datang dari orang lain.

·         Dengki, semoga Allah melindungi kita dari sifat ini. Ia menganggap menerima kebenaran dari orang lain esensinya adalah pengakuan akan ilmu dan kemuliaan orang tersebut. Lantas orang-orang akan meninggalkannya dan memuliakan orang yang menasehatinya, maka tumbuhlah sifat dengki dalam hatinya.[5]

Marilah kita menjauhi faktor-faktor perusak ini. Ketahuilah, bahwa keberadaannya dalam jiwa mengindikasikan kurangnya ikhlas dan ketulusan kepada Allah Ta'ala.

Wasiat kedua ini saya tutup dengan ungkapan Umar ibn Abdul Aziz rahimahullah Ta'ala: "Janganlah engkau termasuk golongan yang mengikuti kebenaran jika sejalan dengan hawa nafsu, dan menentangnya jika bertentangan dengan hawa nafsunya. Engkau tidak akan diberi pahala dalam kebenaran yang kau ikuti, dan akan diberi sanksi dalam kebenaran yang kau tinggalkan. Sebab, pada kedua kondisi tersebut, kau hanya mengikuti hawa nafsu."[6]

 

Wasiat Ketiga:  Bersangka baiklah kepada Allah Azza wa Jalla.

Kita harus berprasangka baik kepada Allah Azza wa Jalla dengan meyakini  bahwa Allah Maha Adil, Bijaksana, dan Maha lembut dalam qadha dan qadar-Nya. Juga meyakini bahwa kasih sayang Allah dalam keputusan-Nya atas seorang muslim mendahului murka-Nya. Keyakinan inilah yang harus dipegang saat musibah atau peristiwa besar terjadi, sebagai manifestasi dari keimanan kepada Asma' al-Husna Allah Ta'ala.

Keyakinan tersebut akan melahirkan ketenangan jiwa serta menolak bisikan setan yang senantiasa menghembuskan rasa putus asa dan syubhat ke dalam hati. Ia yakin bahwa akibat baik hanya bagi orang-orang yang bertakwa.

 

Wasiat Keempat: Ilmu agama dan sadar realita.

Ilmu syariat, pemahaman agama, dan kesadaran akan realita sangat penting untuk mengetahui kebenaran dan ketepatan dalam berbagai sikap. Dengan ilmu semua syubhat yang menutupi kebenaran akan tersingkap. Mayoritas manusia yang jauh dari kebenaran adalah orang bodoh, baik tentang prinsip-prinsip dasar atau hukum agama, maupun dalam memahami realita yang ada dan hakikat jalan orang-orang sesat.

Sebaik-baik perkara yang penting untuk didalami adalah ilmu terhadap kaidah-kaidah syariat, dalil-dalil, dan perannya dalam fikih muwazanat/kesetimbangan dan ta'arudhat/kontradiksi yang acap kali hadir dalam peristiwa atau bencana yang terjadi. Alpanya fikih ini menjadi sumber utama kerancuan sikap dan perselisihan.

Fikih muwazanat yang dimaksud adalah pemahaman tentang kaidah tarjih antara beberapa maslahat atau mafsadat yang saling kontradiksi, atau kontradiksi antara maslahat dan mafsadat. Cara ini ditempuh saat proses jama'/kompromi antara maslahat dan mafsadat tersebut tidak bisa diterapkan. Ilmu ini dapat kita temukan dalam kitab-kitab ushul fikih. Fikih muwazanat harus dipelajari dan dipahami dengan baik agar dapat diapilkasikan untuk menentukan sikap terhadap musibah atau peristiwa yang terjadi.

Penguasaan fikih muwazanat saja tidak cukup, tetapi harus disertai dengan pengetahuan komprehensif terhadap realita dan peristiwa yang terjadi secara detail. Sebab "hukum atas sesuatu adalah bagian dari visualisasi komprehensif tentangnya". Ketidakpedulian terhadap fikih ini akan menimbulkan sikap bimbang dan rancu serta dampak negatif yang besar.

Aplikasi ilmu tersebut dapat kita amati dalam petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Seperti keputusan beliau untuk tidak mengeksekusi gembong-gembong munafikin demi menghindari prasangka orang yang tidak tahu fakta kaum munafik sebenarnya, dengan menyangka bahwa beliau membunuh sahabatnya sendiri. Beliau juga tidak merenovasi Ka'bah sesuai konstruksi versi Nabi Ibrahim'alaihissalam, sebab kaum Quraisy saat itu baru saja masuk Islam. Beliau khawatir perubahan tersebut akan menimbulkan fitnah nantinya. Begitu juga arahan beliau untuk tidak menegakkan hukum hudud dalam peperangan atau di bumi kafir harbi.

 

Wasiat Kelima: Verifikasi dan klarifikasi.

Tergesa-gesa dalam menebarkan berita tanpa verifikasi menjadi faktor terpenting berpaling dari kebenaran. Sebagian orang menerima berita begitu saja sebagai kebenaran pasti/mutlak tanpa verifikasi, lalu dijadikan landasan dalam menetukan sikap dan vonis yang kemudian disesali saat penyesalan tiada berguna. Dampak negatifnya lebih besar lagi jika sikap tersebut keluar dari seorang panutan dalam ilmu, dakwah, atau jihad.

Verifikasi sangat penting terutama di zaman kita sekarang, di mana media sosial dengan cepat merambah hampir ke seluruh pelosok dunia. Orang-orang begitu saja menebar berbagai berita tanpa verifikasi demi memburu popularitas sebagai orang pertama penyebar berita, atau ingin segera menyerang dan menyakiti lawannya.

Perbuatan ini sangat bertentangan dengan banyak ayat-ayat Al-Qur'an. Allah Azza wa Jalla berfirman:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. al-Isra': 36)

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. al-Hujurat: 6)

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang mu'min"(lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia. (QS. an-Nisa': 94)

Verifikasi atas sebuah berita sebelum menjatuhkan vonis adalah petunjuk Al-Qur'an dan manhaj Islam yang lurus. Jika hati dan lisan bisa konsisten dengannya, maka prasangka dan syubhat takkan mendapat tempat di ranah sikap dan hukum/justifikasi. Sungguh banyak orang yang terzalimi dalam harga diri, harta, jiwa, dan agamanya disebabkan ketergesaan dalam menebar berita tanpa verifikasi dan klarifikasi. Betapa banyak tali silaturahmi dan persaudaraan putus akibat memakan isu tanpa verifikasi terlebih dahulu.

Verifikasi yang dimaksudkan meliputi dua tahap:

Pertama, verifikasi atas berita yang dibaca, didengar dan disaksikan untuk kemudian memastikan kebenarannya hingga hati tenang. Boleh jadi setelah proses verifikasi terbukti bahwa berita tersebut palsu atau sudah ditambah dan dikurangi. Kesimpulannya berita tersebut harus ditolak sehingga  seorang muslim dapat selamat dari dosa.

Kedua, bila terbukti berita tersebut benar, maka tidak boleh langsung memutuskan hukum atau menentukan sikap tanpa melalui verifikasi dan investigasi terhadap latar belakang berita, kronologi kejadiannya dan kondisi pembawa berita dengan megedepankan prasangka baik atasnya. Dengan cara ini selain terhindar dari ketidakadilan, keputusan yang tepat dan proporsional dapat diambil. Sebab, boleh jadi setelah kedua tahap dijalankan terbukti bahwa ada alasan syari'at yang memicu pihak tertuduh melakukan perbuatan tersebut.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa melakukan verifikasi saat menerima berita atau menyikapi kesalahan sahabatnya. Sebelum mengambil keputusan atas kesalahan yang dilakukan oleh seorang sahabat, beliau selalu bertanya, "Apa motivmu melakukan perbuatan ini?"[7]untuk memastikan latar belakang sebuah peristiwa atau kesalahan.

Verifikasi dan klarifikasi harus dilakukan terhadap setiap berita baik datangnya dari individu ataupun satu kelompok, sebagai manifestasi dari keadilan dan kesetimbangan yang diperintahkan Allah Subahanahu wa Ta'ala dalam banyak ayat Al-Qur'an.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Maidah: 8)

Firman Allah:

Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu). (QS. al-An'am: 152)

Abdullah ibn Amr ibn al-Ash radhiyallahu 'anhuma berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil (di dunia) kelak berada di sisi Allah di atas mimbar yang terbuat dari cahaya, berada di sebelah kanan Ar-Rahman Azza wa Jalla, dan kedua tangan-Nya kanan. Yaitu mereka yang berbuat adil ketika menetapkan putusan hukum terhadap keluarganya, dan adil terhadap pengikut dan rakyatnya."[8]

Rasulullah juga berdo'a: "Aku memohon kepada-Mu kalimat haq/kebenaran di saat marah maupun ridha."[9]

Ibn Taimiyah rahimahullah berkata: "Allah menyukai perkataan yang didasari ilmu dan keadilan, serta membenci perkataan yang didasari kezaliman dan kebodohan."[10]

 

Wasiat Keenam: Berlemah lembut, tenang, istikharah, dan bermusyawarah.

Tergesa-gesa selalu membawa penyesalan. Dalam setiap peristiwa atau musibah yang terjadi, hendaklah seorang muslim bersikap sabar, tenang dan berlemah lembut.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sabar/tenang dalam segala sesuatu itu baik, kecuali dalam beramal untuk akhirat."[11]

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:"Tidaklah sikap lembut itu ada pada sesuatu kecuali akan menjadi penghias, dan tidaklah ia terlepas dari sesuatu kecuali akan memperburuknya."[12]

Dampak dari lemah lembut dan berlaku tenang senantiasa baik. Salah karena sabar dan lemah lembut jauh lebih baik daripada salah  karena terburu-buru. Maksudnya bukanlah agar seorang muslim menyia-nyiakan kesempatan berharga atau diam tanpa sikap. Tetapi hendaklah seorang muslim  memberikan kesempatan yang cukup buat dirinya untuk meneliti dan verifikasi  sebuah perkara. Selain harus bermusyawarah meminta pendapat ulama serta para ahli yang  bijaksana dan  berpengalaman, ia juga harus beristikharah kepada Allah Ta'ala, sebab hanya Allah Yang Maha Mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang.

Mutharrif ibn Syikkhir berkata: "Siapa mencari pendapat/sikap melalui arah dan di jalan yang tepat, maka ia akan berhasil dan kesalahannya termaafkan." Seseorang bertanya: apa arahnya dan di mana jalannya? Jawabnya: "Ia mulai dengan istikharah kemudian bermusyawarah, dan janganlah ia meminta pendapat kecuali dari orang berilmu dan berpengalaman."[13]

Jika setelah verifikasi yang diiringi dengan istikharah dan musyawarah ia berhasil meyakini bahwa sikapnya benar-berkat taufik dari Allah kemudian usaha kerasnya-,  maka hendaklah ia melangkah maju dengan sikap tersebut. Jika semua proses di atas telah dilakukan, namun ia tidak berhasil menentukan sikap yang diyakini benar, maka hendaklah ia diam dan menanti sampai perkara tersebut benar-benar terang dan jelas baginya. Ia tidak wajib menentukan sikap pada saat itu. Allah Azza wa Jalla tidak akan menghukumnya akibat sikap ini jika ia benar-benar mengharap ridha-Nya dan menghindari murka-Nya.

Termasuk wujud terburu-buru dalam menyikapi peristiwa dan fitnah adalah terburu-buru mengaplikasikan sebuah hadits tentang fitnah akhir zaman atas orang atau golongan tertentu, kemudian langsung menentukan sikap atas justifikasi tersebut. Terjadilah petaka dan fitnah yang besar. Para salaf mengajarkan kita bahwa pelajaran penting yang harus diambil dari fitnah yang terjadi adalah bahwa ia menjadi bukti kebenaran Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam, kemudian akan berlalu sesuai apa yang diberitakan oleh beliau.

Mengkafirkan seorang muslim karena syubhat tanpa memenuhi persyaratan dan penghalang vonis kafir atas seseorang, termasuk salah satu bentuk tergesa-gesa yang tercela.

 

Wasiat Ketujuh: Jangan menyibukkan diri dalam menentukan sikap dari peristiwa yang belum terjadi.

Visualisasi dan prediksi sebuah peristiwa akan berbeda saat sebelum terjadi dan jika telah terjadi. Lantaran itu kaum salaf mencela sikap terburu-buru memberi fatwa tentang hukum peristiwa yang belum terjadi. Karena, bila telah terjadi, maka visualisasi komprehensif akan membantu seorang mufti untuk mencapai hukum dan sikap yang benar.

 Amir al-Sya'bi bercerita, Ammar ibn Yasir radhiyallhu 'anhu ditanya tentang suatu perkara, maka ia menjawab: "Sudahkah perkara ini terjadi?" Orang-orang menjawab: "Belum." Beliau berkata lagi: "Tunggulah, jika telah terjadi kami akan berikan jawaban kepadamu."[14]

Mu'adz ibn Jabal radhiyallahu 'anhu meriwayatkan dari Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam sabda beliau: "Janganlah terburu-buru menghukumi sebuah peristiwa sebelum terjadi. Bila telah terjadi maka senantiasa ada dari kalangan muslimin yang diberi taufik dan petunjuk dalam perkataan atau sikapnya. Sebaliknya jika tergesa-gesa, maka kalian akan terombang-ambing ke mana-mana."[15]

Bahaya lainnya dapat dilihat pada realita sebagian pecinta jihad dan dakwah. Sebagian mereka mengasumsikan perkara yang belum terjadi dan sibuk mencari sikap jika terjadi nantinya. Kemudian mereka berselisih dan berbeda pendapat tentang sikap paling benar. Tidak jarang terjadi perpecahan, bahkan sampai saling membid'ahkan atau mengkafirkan pihak lain hanya karena peristiwa yang belum terjadi. Ini dipicu oleh perbuatan setan dan lemahnya akal sebagian orang.

 

Wasiat Kedelapan: Setia pada jama'ah, menjaga kesatuan hati dan menghindari perpecahan.

Jama'ah yang dimaksud adalah Jama'ah Ahlus Sunnah wal Ittiba'. Allah Azza wa Jalla berfirman:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. (QS. Ali Imran: 103)

Nu'man ibn Basyir radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Persatuan adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab."[16]

Jama'ah adalah dasar, karenanya ia tidak boleh dirusak hanya demi membela furu'/cabang. Fenomena inilah yang sering terjadi di masa ini. Mayoritas kaum muslim berselisih tentang masalah furu'iyah sehingga menimbulkan perselisihan dan perpecahan disebabkan nafsu dan minimnya ilmu. Cukup berbeda dengan manhaj para sahabat Rasulullah. Mereka sangat konsisten menjaga jama'ah kendati terkadang terpaksa harus meninggalkan beberapa amal sunnah.

Abdullah ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah termasuk salah seorang sahabat yang berpendapat bahwa menqashar shalat adalah Sunnah saat jama'ah haji berada di Mina. Ketika Amirul Mukminin Utsman ibn Affan menyempurnakan shalatnya di Mina, Ibn Mas'ud mengikutinya. Saat ditanya tentang perbuatannya tersebut ia menjawab: "Perselisihan itu buruk."[17] Ia juga berkata: "Perkara yang kalian benci dalam berjama'ah, lebih baik daripada perkara yang kalian sukai dalam perpecahan."[18]

Ibn Taimiyah berkata: "Perbedaan pendapat dalam ijtihad yang dibolehkan tidak dianggap  persilisihan dan perpecahan kecuali dengan adanya tindak zalim dan aniaya."[19]

Beliau juga berkata:

Ulama sahabat, tabi'in, dan yang datang setelah mereka jika berbeda pendapat, maka mereka segera mengikuti perintah Allah:

Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-Nisa': 59)

Mereka biasa berdiskusi dalam masalah teoritis ilmiah atau praktis, namun persaudaraan dan keakraban tetap terjaga dengan baik."[20]

Imam Syafi'i  rahimahullah pernah beRkata kepada lawan debatnya: "Wahai Abu Musa, bukankah sangat baik jika kita tetap bersaudara kendati tidak sepakat dalam satu masalah?"

Intinya adalah kita harus berupaya sebisa mungkin untuk memelihara jama'ah dan kebersamaan. Ketika menentukan sikap dan terjadi perbedaan pendapat dalam masalah furu', maka hendaklah masalah furu' tersebut dikesampingkan demi memelihara keutuhan jama'ah. Maslahat umat harus diprioritaskan atas maslahat individu. Perpecahan adalah perbuatan setan yang tidak berhenti pada batas tertentu, namun terus berkembang hingga menjadi permusuhan, saling mengkafirkan, bahkan dapat menjerumuskan pada perang saudara. Sejarah membuktikan bahwa sebagian besar perang saudara dipicu oleh perbedaan pendapat dalam masalah sepele. Orang yang berbahagia adalah ia yang selamat dari fitnah.

Keakraban dan kedekatan hati dapat dipererat dengan menghidupkan sunnah saling menyayangi dan memaafkan antara sesama muslim. Sebagai aplikasi praktis dari firman Allah Ta'ala:

"Yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir." (QS. al-Maidah: 54)

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka." (QS. al-Fath: 29)

Marilah menebar kasih sayang antara sesama muslim dan terus memupuk persaudaraan dengan cinta, persaudaraan, dan prasangka baik.

 

Wasiat Kesembilan: Bertakwa kepada Allah, beramal shalih dan memperbanyak ibadah kepada Allah.

Orang yang saat terjadi peristiwa atau musibah semakin bertakwa kepada Allah Ta'ala serta giat menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, ialah yang beruntung mendapatkan sikap dan pendirian yang benar. Allah Azza wa Jalla berfirman:

Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan. [21](QS. al-Anfal: 29)

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS. ath-Thalaq: 2)

Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. ath-Thalaq: 4)

Allah berfirman tentang Nabi Yunus 'alaihissalam:

Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. (QS. ash-Shaaffaat: 143-144)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jagalah (ketentuan-ketentuan) Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan) Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya selalu berada di depanmu (menolongmu). Kenali Allah dalam kelapangan niscaya Dia akan mengenalmu (menolongmu) dalam kesusahan."[22]

Masih banyak ayat dan hadits lain yang menegaskan bahwa ketakwaan dan amal shalih mempunyai peran besar dalam membantu seseorang mengetahui kebenaran serta mendapat taufik dalam menentukan sikap dan keputusan terbaik.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. (QS. al-Ankabut: 69)

Dalam hadits qudsi, Allah Ta'ala berfirman: "Dan senantiasa seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan perkara-perkara sunnah sehingga Aku mencintainya, maka bila Aku telah mencintainya adalah Aku sebagai pendengarannya yang ia mendengar dengannya, Aku sebagai penglihatannya yang ia melihat dengannya, Aku sebagai tangannya yang ia memegang dengannya, Aku sebagai kakinya yang ia berjalan dengannya, dan tidaklah Aku ragu-ragu terhadap perbuatan yang Aku sendiri melakukannya seperti keraguan-Ku tentang seorang mukmin yang membenci mati, sementara Aku membenci marabahaya yang akan menimpanya."[23]

Alangkah indahnya ungkapan Ibn Qayyim rahimahullah tentang hal ini:

Seorang hamba selalu berputar antara perintah dan musibah. Saat berhadapan dengan perintah ia sangat membutuhkan pertolongan, dan saat berhadapan dengan musibah ia sangat memerlukan kasing sayang. Ia akan memperoleh kasih sayang di saat musibah menimpa, sesuai kadar ketaatannya menjalankan perintah. Jika ia menjalankan perintah dengan sempurna dengan lahir dan batinnya, maka ia akan merasakan kasih sayang tersebut secara lahir batin saat musibah menimpa. Jika ia menjalankan perintah sebatas lahiriah saja, maka ia juga mendapatkan kasih sayang secara lahiriah, sedangkan batinnya tidak begitu merasakannya.

Jika Anda bertanya, apa kasih sayang batiniah itu?

Jawabannya, ia adalah rasa tenang, tenteram, serta hilangnya rasa resah dan gundah gulana yang menimpa hati saat musibah terjadi.[24]

Amal lain yang dapat menolong seorang hamba dalam mencari kebenaran adalah bertaubat kepada Allah serta banyak beristighfar dan berzikir.

Ibn Qayyim berkata: "Saya menyaksikan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah saat dihadapkan pada perkara nan sulit dan rumit, beliau segera bertaubat, memperbanyak istighfar, memelas rahmat dan memohon pertolongan dari Allah agar diberi petunjuk kepada kebenaran dan solusi paling tepat. Dan biasanya tak lama setelah itu pertolongan Allah pun turun dengan derasnya."[25]

 

Wasiat Kesepuluh: Berhati-hati dari kaum munafikin dan konspirasinya.

Di saat musibah dan fitnah melanda kemunafikan muncul, sedang kaum munafik tidak malu-malu lagi menampakkan wujud aslinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS. al-An'am: 112)

Kaum munafik tak pernah lelah menebar syubhat, isu, dan fitnah di tengah-tengah kaum muslim, sehingga sebagian orang tertipu dan mendukung konspirasi mereka. Karena itu, wajib atas ulama dan du'at menentang konspirasi, membantah syubhat dan membongkar hakikat mereka. Publik harus disadarkan akan propaganda kaum munafik dalam menebar fitnah, syubhat, dan rasa takut juga putus asa saat musibah menimpa.  Semua usaha ini termasuk bagian jihad yang Allah Azza wa Jalla perintahkan kepada Rasulullah dan pengikut beliau:

Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. at-Tahrim: 9)

Wallahu a'lam.

 

 


[1]HR Muslim, no. 770.

[2]Ar-Ruh, h. 234.

[3]HR. Nasa'i, no. 304, Syekh al-Albani menyatakan hadits ini shahih. Lihat: Tahqiq al-Ihtijaj bi al-Qadar, jilid I, h. 90.

[4]I'lam al-Muwaqqi'in, jilid I, h. 86.

[5]At-Tankil, h. 180-182

[6]Syarh Aqidah al-Thahawiyah, jilid I, h. 590.

[7]Seperti sabda Rasulullah saat menginterogasi sahabat Hathib ibn Abi Balta'ah. Lihat Shahih Bukhari, bab "Ma Ja'a fii al-Muta'awwilin, hadits no. 6939. Juga sabda beliau kepada Umar ibn Khattab, lihat Shahih Muslim, bab "Man Laqiyallaha bi al-Iman wa Hua Ghairu Syaakkin, hadits no. 31.

[8]HR. Muslim, no.  3406.

[9]HR. Nasa'i, no. 304, Syekh al-Albani menyatakan hadits ini shahih. Lihat: Tahqiq al-Ihtijaj bi al-Qadar, jilid I, h. 90.

[10]Majmu' Fatawa, jilid XVI, h. 96.

[11]HR. Abu Daud, no. 4810, dishahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Silsilah al-Shahihah, no. 1794.

[12]HR. Muslim, no. 2594.

[13]Al-Khathib al-Baghdadi, al-Faqih wa al-Mutafaqqih, jilid II, h. 393.

[14]Al-Mathalib al-Aliyah, babal-Zajr 'an Su'ali Ma Lam Yaqa', jilid XII, h. 603, no. 3028.

[15]Al-Mathalib al-Aliyah, babal-Zajr 'an Su'ali Ma Lam Yaqa', jilid XII, h. 605, no. 3029.

[16]HR. Ahmad, no. 18449, dishahihkan oleh Syekh al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, no. 667.

[17]HR. Abu Dawud, no. 1960, dan dishihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih  Abi Dawud, no. 726.

[18]Al-Laki'ai, al-Sunnah, jilid I, h. 121.

[19]Al-Istiqamah, jilid I, h. 31.

[20]Majmu' Fatawa, jilid II. H. 172.

[21]Furqaan maksudnya petunjuk yang dapat membedakan antara yang hak dan yang batil. Bisa juga diartikan dengan pertolongan. (Tafsir Ibn Katsir, jilid IV, H. 43)

[22]HR. Tirmidzi, no. 2518

[23]HR. Bukhari, no. 6502.

[24]Al-Fawa'id, h. 202.

[25]I'lam al-Muwaqqi'in, jilid IV, h. 178


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir