MARI MENGHIDUPKAN IBADAH TADABBUR

07/09/2014 0:00:00
نبيل عبدالمجيد النشمي Jumlah kali dibaca 904

MARI MENGHIDUPKAN IBADAH TADABBUR


Nabil Abdul Majid al-Nashmi

 

Betapa banyak ibadah yang menanti revolusi hati, intifadhah jiwa, dan pasukan pengingat untuk kembali membangkitkannya dalam kehidupan seorang muslim. Fenomena cinta ibadah telah hilang atau hampir punah. Kendati beberapa individu tetap melestarikannya, tetapi tuntutan menghidupkannya kembali dalam tatanan sosial tetap dibutuhkan. Apalagi jika semua mukallaf dituntut menjalankan ibadah tersebut, sesuai kemampuan masing-masing.

Tadabbur Al-Qur'an yang begitu penting dan berharga kini hanya terbatas pada segolongan orang dan dalam waktu tertentu saja. Tadabbur Al-Qur'an menjadi sebuah ibadah yang asing di tengah masyarakat muslim. Padahal AllahSubhanahu wa Ta'alatelah menjelaskan, bahwa salah satu tujuan utama diturunkannya Al-Qur'an adalah untuk ditadabburi. Allah berfirman:

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.(QS. Shaad: 29)

Ibn Athiyyahrahimahullahberkata:"Ayat ini dengan lugas menunjukkan bahwa tadabbur adalah salah satu sebab diturunkannya Al-Qur'an."[1]

Imam al-Syaukani menambahkan:"Ayat ini menjadi dalil bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan Al-Qur'an untuk ditadabburi dan dipahami maknanya, bukan sekedar untuk dibaca tanpa tadabbur."[2]

Makna ini ditegaskan dalam banyak ayat, berupa motivasi untuk tadabbur Al-Qur'an, dan celaan bagi mereka yang tidak mentadabburinya.[3]  Firman Allah:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?(QS. Muhammad: 24)

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.(QS. an-Nisa': 82)

Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?(QS. al-Mu'minun: 68)

 

Ayat-ayat di atas berisi motivasi untuk tadabbur Al-Qur'an. Juga menjelaskan bahwa tadabbur Al-Qur'an termasuk ibadah paling afdhal, dan bahwa membaca Al-Qur'an dengan tadabbur lebih afdhal daripada membaca dengan cepat sehingga tujuan diturunkannya Al-Qur'an tidak dapat diraih.[4]

Ibadah tadabbur seharusnya dapat dijadikan trend masyarakat muslim yang meramaikan masjid-masjid, dan dilakukan setiap muslim kapan saja dan di mana saja, sesuai dengan kondisinya. Setiap orang berusaha bertadabbur sesuai kapasitas ilmu dan pemahamannya.

Pesantren dan halaqat tahfizh Al-Qur'an dulunya bermula dari ide seseorang, namun kini telah menjamur dan menyebar di hampir setiap pelosok desa dan kota di seluruh penjuru dunia. Semuanya berkat karunia Allah, juga keberhasilan masyarakat muslim menjadikannya perhatian dan tanggung jawab bersama. Sehingga halaqat menghapal Al-Qur'an telah berubah menjadi fenomena publik, dan menjadi bagian dari aktivitas tarbiah anak-anak muslim.

Bila tadabbur bisa dijadikan perhatian publik dan tidak terbatas pada akademisi, lembaga atau yayasan tertentu, sehingga bisa diterapkan di masjid-masjid, lalu dijadikan materi tarbiah oleh para da'i dan murabbi, pasti ia akan menjadi sarana penting memperkuat kembali ikatan manusia dengan Rabbnya. Setiap orang kemudian akan merasakan betapa penting dan mulianya derajat Al-Qur'an bagi mereka.

Berikut beberapa usulan untuk menjadikan tadabbur aktivitas publik yang bermanfaat:

·         Membentuk majelis tadarus umum di masjid-masjid besar. Pembimbing/ustadz membacakan ayat tertentu dari Al-Qur'an, kemudian mengajak jama'ah bersama-sama memahami dan menggali pelajaran, nasehat, dan kesimpulan dari ayat-ayat tersebut.

·         Memasukkan materi tadabbur Al-Qur'an dalam kurikulum pesantren dan halaqat tahfiz Al-Qur'an.

·         Menjadikan tadabbur program harian pribadi. Dimulai dengantahsin tilawah/memperbaiki bacaan tanpa tadabbur, dilanjutkan dengan latihan tadabbur  ayat sedikit demi sedikit dengan cara memahami dan menghayati kandungan makna dari ayat yang dibaca.

·         Mengadakan muktamar, seminar, atau forum tadabbur secara intensif dan dilaksankan secara berkala.

·         Mengajak khalayak ramai untuk sama-sama menjadikan tadabbur Al-Qur'an sebagai tanggung jawab bersama, sehingga berubah menjadi budaya positif. Juga menyadarkan mereka akan urgensi dan fadhilah tadabbur yang begitu besar.

·         Menggantikan sebagian ceremonial pesta atau acara-acara lainnya dengan tadabbur Al-Qur'an bersama.

Tidak dipungkiri bahwa  sudah cukup banyak usaha menghidupkan lagi ibadah tadabbur Al-Qur'an yang dilakukan baik oleh personal maupun lembaga dan yayasan Islam. Tetapi, usaha perlu lebih ditingkatkan lagi dalam lingkup yang lebih luas hingga menembus semua lini dan masyarakat awam.

 


 


[1]Al-Muharrar al-Wajiz Fii Tafsir al-Kitab al-Aziz, jilid IV, h. 503.

[2]Fath al-Qadir, jilid IV, h. 494.

[3]Adhwa' al-Bayan, jilid VI, h. 345. 

[4]Tafsir al-Sa'di, h. 712.

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir