SIKAP PEMIKIRAN KONTEMPORER TERHADAP TERMINOLOGIFIRQATUN NAJIYAH

25/08/2014 0:00:00
ماجد الأسمري Jumlah kali dibaca 894

SIKAP PEMIKIRAN KONTEMPORER TERHADAP TERMINOLOGIFIRQATUN NAJIYAH


Majid al-Asmari

Dalam kancah pemikiran kontemporer, perbincangan tentang berbagai terminologi yang diadopsi dari luar Islam menjadi fokus pembicaraan. Di kalangan sejumlah pemikir, cendikiawan, dan beberapa tokoh Islam, hal tersebut senantiasa menempel pada setiap problem yang didiskusikan. Bahkan dijadikan sebagai landasan untuk menilai dan membedah berbagai opini kontemporer.

Terminologi pluralisme yang mengusung dan membenarkan hak berselisih hingga dalam persoalan aqidah dan pemikiran yang bersifat prinsip termasuk di antara terminologi yang dimaksud.

Terminologi ini telah dibesar-besarkan dalam pemikiran kontemporer, termasuk dalam kebanyakan corak aqidah dan pemikiran. Akibatnya,upaya mengkritik dan meluruskan indikasi terminologi tersebut sudah sangat sulit dilakukan.  Tidak hanya itu, nas-nas syariat yang terkait dengannya, seperti haditsiftiraq/hadits Nabishallallahu alaihi wasallamseputar  perpecahan umat pun telah banyak ditolak.

Haditsiftiraqyang menjelaskan tentang esensi dan manhajfirqatun  najiyahdan menguak tentang manhaj firqah-firqah lainnya dianggap oleh para pemikir kontemporer sebagai ancaman bagi pluralisme yang diusungnya sehingga harus ditolak dan didistorsi maknanya.

Pada masa klasik, para ulama telah mengkaji dan menjelaskan tentang haditsiftiraqtersebut. Sejumlah ulama telah menulis buku terkait dengannya, antara lain: Abu Nu'aim al-Ashbahani, Syarafuddin al-Balkhi, al-Isfrayini, al-Bagdadi, al-Yafi'iy, dan al-Syathibi dalam kitabnya,al-I'tisham. Al-Syathibi menggambarkan: "Hampir tidak ditemukan masalah yang diperselisihkan oleh para ulama hingga tujuh puluhan pendapat selain dari masalah ini."

Ibn Taimiyah mengkajinya secara mendetail  dan memastikan bahwa syi'arfirqatun  najiyahadalah Al-Quran, sunnah dan ijma' dengan Muhammadshallallahu alaihi wasallamsebagai sosok yang diikutinya.Sedang ahlul batil menyelisihi syi'ar tersebut.

Karena urgennya hadits ini, maka setiap sekte berupaya menulis terminologifirqatun najiyahsembari menuduh sekte lain sebagai sekte yang binasa. Sekte Ibadiah misalnya telah menjadikan dua puluh dari sekte Murji'ah, dua belas dari sekte Muktazilah, dan tujuh belas dari sekte  Muhakkimah (Khawarij) sebagai sekte yang binasa. Demikian pula yang dilakukan oleh sekte Syi'ah dan Muktazilah.

Terminologifirqatunnajiyahini sangat penting karena terkait dengan perbedaan aqidah dan sejarah munculnya bid'ah dan penyimpangan, sebagaimana digambarkan oleh al-Barbahari:"Setelah Utsman terbunuh muncullah perpecahan dan bid'ah sehingga manusia terbagi-bagi menjadi beberapa sekte."[1]

Abdur Rahman ibn Hasan menyatakan:"Firqatun  najiyah itu adalah yang komitmen berpegang teguh kepada Al-Quran dan senantiasa mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah."[2]Dengan demikian ia menjadikan tauhid sebagai tolak ukurfirqatun  najiyah.

Dari pemaparan ini, tampak jelas pentingnya mendudukkan dan membicarakan terminologi firqatun najiyah.

Tidak sedikit di antara pemikir kontemporer yang meremehkan persoalan perbedaan aqidah. Alasannya karena munculnya perpecahan di kalangan umat pada asalnya bukan karena persoalan aqidah tetapi dipicu oleh persoalan politik lalu beralih kepada persoalan aqidah seiring dengan pergeseran waktu. Sebagaimana diungkapkan Mustafa al-Syak'ah dalam bukunyaIslam Bila Mazahib/Islam Tanpa Mazhab.[3]

Mayoritas penulis kontemporer menyebutkan bahwa perbedaan politik ini muncul sejak peristiwa Tsaqifah pasca wafatnya Rasulullah. Sedang penulis lainnya menyatakan: setelah terbunuhnya Utsmanradhiyallahu anhu. Pihak lainnya menyatakan bahwa perpecahan itu terjadi pasca terjadinya perselisihan antara Ali dengan Mu'awiyah.

Sebagian penulis kontemporer memperlakukan perbedaan dalam persoalan aqidah sama dengan perbedaan dalam persoalan fiqh. Mereka beranggapan bahwa mujtahid dalam bidang aqidah memperoleh ganjaran sama dengan mujtahid dalam bidang fiqh. Mereka juga mengklaim bahwa Rasulullah mentolerir banyak perbedaan aqidah di kalangan para sahabat tanpa pengingkaran sedikitpun terhadap mereka.

Menyatukan umat manusia di atas aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah semata juga mereka klaim bertentangan dengan firman Allah yang artinya:"Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat."(QS. Hud: 118).

Artikel ini merupakan suatu upaya untuk menyingkap dan menganalisa sikap pemikiran kontemporer terhadap terminologifirqatun  najiyahbeserta konter syubhat-syubhatnya. Tak luput pula menyinggung tentang hubungan terminologi ini dengan terminologi lain sepertithaifah manshurah,umat marhumah,tajdiduddin/reformasi agama, danta'addudiyah/pluralisme.

KOLOM HADITS:

Terhadap keabsahan haditsiftiraq,seperti halnya para ulama hadits klasik, para penulis kontemporer berselisih pendapat; sebagian di antara mereka menshahihkannya sedang sebagian lainnya mendhaifkannya.

Dalam artikel ini, penulis akan menampilkan dua studi penting yang menguak tentang sanadnya. Salah satunya menyimpulkan bahwa riwayat hadits tersebut dapat diterima sedang studi yang kedua menyimpulkan bahwa riwayat tersebut tidak dapat diterima.

Studi pertamadilakukan oleh Dr. Abdullah Yusuf al-Judae' dengan judulAdhwa' 'ala Hadits al-Iftiraq.Judae' berkesimpulan bahwa hadits ini diriwayatkan dari sejumlah sahabat dengan tingkat keabsahan sanad yang berbeda-beda.  Riwayat yang terbaik dalam pandangan para kritikus hadits adalah riwayat Abu Huraerah, Mu'awiyah dan Anas ibn Malik. Juadae' juga menyebutkan bahwa dalam riwayat Abu Huraerah memang tidak disebutkan"semuanya terancam neraka kecuali satu kelompok", tetapi kalimat itu disebutkan dalam riwayat Mu'awiyah dan riwayat Anas. Dan bahwa jalan-jalan periwayatan hadits tersebut saling menopang satu sama lain. Hal ini menguatkan bahwa hadits tersebut shahih.

Studi keduadilakukan oleh Dr. Hakim al-Muthaeri. Dalam studinya yang cukup panjang, Muthaeri mengkaji tiap-tiap jalan periwayatan hadits tersebut. Hasilnya ia melemahkan riwayat Anas dan riwayat Mu'awiyah dan menghasankan riwayat Abu Huraerah yang tidak terdapat di dalamnya kalimat"semuanya terancam neraka kecuali satu kelompok".[4]

KOLOM PEMIKIRAN:

Penulis akan memaparkan sikap beberapa corak pemikiran kontemporer yang berbicara tentang terminologifirqatun  najiyahbeserta kontradiksinya  yang nampak dari beberapa seruan mereka, diikuti dengan analisa dan kritik dari penulis.

Aliran Salafi

Manhaj salafi adalah manhaj yang paling tegas dan lugas dalam menyikapi terminologifirqatunnajiyah. Anda tidak akan menemukan kontradiksi di dalam pandangannya, baik terkait penerimaannya terhadap hadits atau pun terhadapdilalahnya. Hal ini terjadi karena kuat dan tegasnya komitmen mereka dalam berinteraksi dengan nas-nas syariat. Mereka jauh dari upaya memunculkan prediksi-prediksi bersifat kontra terhadap Al-Quran, logika ataupun realita.

Kelompok salafiyun menentukan sikapnya terhadap haditsiftiraqdengan menyatakan bahwa hadits tersebut shahih dan bahwa yang dimaksud denganfirqatun  najiyahyang disebutkan di dalamnya adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang senantiasa mengikuti sunnah Nabi dan melazimi apa yang dilakukan oleh para sahabat. Mereka memandang bahwa orang yang keluar dari Islam karena perbuatan bid'ah maka ia terhitung umat dakwah yang kekal di neraka.[5]

Setelah menshahihkan haditsiftiraq,al-'Allamahal-Albani menyebutkan ciri khasfirqatun najiyah, yaitu: komitmen mengikuti sunnah Rasulullahshallallahu alaihi wasallamdan praktek yang dilakukan para sahabat. Ia menegaskan perlu memahami manhaj para sahabat karena merekalah yang mempraktekkan sunnah Rasulullah.[6]

Sedang Syaikh Abdur Rahman al-Mahmudhafizhahullahmenegaskan bahwafirqatun  najiyahitu adalah kelompok yang mendasarkan manhajnya kepada Al-Qur'an, sunnah dan manhaj para sahabatridhwanullahi alaihim.[7]

Aliran Sekuler

Aliran sekuler sangat lancang menyikapi terminologifirqatun  najiyahhingga banyak menolak esensinya. Mereka tidak segan menentangnya dengan berbagai penentangan yang keliru dan mengindikasikan lemahnya kapasitas keilmuan syariatnya.

Hasan Hanafi misalnya meragukan keabsahan haditsiftiraqdengan dalih bertentangan dengan hadits"umatku tidak akan sepakat atas kesesatan"dan bertentangan dengan kaedah"mujtahid yang keliru mendapat satu pahala dan mujtahid yang tepat memperoleh dua pahala".Selanjutnya Hasan Hanafi menafsirkan hadits tersebut dengan penafsiran politis bahwa yang maksudnajiyahadalah menjaga eksistensi ijtihad negara yang eksis sembari menyematkan kelompok yang menyelisihinya sebagai kelompok yang binasa.[8]

Sebagian kelompok sekuler, ada yang menolak haditsiftiraqdengan dalih bertentangan dengan Al-Quran. Mereka berargumentasi dengan firman Allah:

{إنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِـحًا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ}[المائدة: 69]

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. al-Maidah: 69)

Bahwa Ahlu Kitab saja selamat pada hari kiamat apalagi kaum muslim.[9]

Sedang Jabir Ushfur mengklaim bahwa pemahaman klasik terhadap haditsiftiraqmembuat kita terpecah-pecah, sedang pemahaman kontemporer terhadap hadits ini akan membawa kita kepada rahmat dan kasih sayang. Ia juga memandang bahwa perbedaan itu suatu kemestian, karena mengikut kepada perbedaan tatanan politik, sosial dan ekonomi.[10]

Sedang kelompok ekstrem di kalangan sekuler menolak mentah-mentah hadits ini dengan dalih bahwa Nabishallallahu alaihi wasallamtidak berhak menentukanfirqatun najiyah.[11]

Tokoh sekuler lainnya, Muhammad Arkoun saat ditanya tentang terminologifirqatun najiyah, ia  menjawab: "Pemahaman ini tertanam melalui buku-buku firaq islamiah. . . Pendapat yang menganggap adanya hakekat Islam ideal yang eksis sepanjang sejarah tidak lebih dari sekedar dongeng yang tidak memiliki wujud dalam realita. Mereka mengkhayalkan Islam sunni itu telah ada dan dengan kwalifikasi qurani sejak awal Islam. Padahal anggapan itu tidak lebih dari sekedar khayalan dan fatamorgana."[12]

Adapun Muhammad Abid al-Jabiri  maka sikapnya terhadap terminologi ini bersifat abu-abu. Pada beberapa kesempatan ia mengklaim hadits tersebut memiliki sanad yang shahih tetapi perlu ditakwilkan dengan takwil logika. Ia memuji sikap ulama-ulama Andalusia yang menshahihkan dan menakwilkannya dengan takwil logika. Berbeda dengan ulama dari timur yang menyikapi hadits tersebut dengan sikap yang tidak sejalan dengan logika dan syariat.[13]

Tetapi pada kesempatan lainnya ia mengklaim bahwa hadits tersebut adalah haditsmaudhu'. Menurutnya, hadits ini dipalsukan saat terjadi peperangan antara Ali dan Mu'awiyah demi kepentingan politik.

Pendapat tersebut didukung juga oleh Fahmi Jad'an dalam bukual-Mihnahdan bukuUsus al-Taqaddumyang dikarangnya.Ia berpendapat bahwa hadits tersebut dibuat untuk kepentingan politik dan untuk melegitimasi  realita yang ada. Ia beranggapan bahwa terminologi ini akan memperdalam rasapedih,dukadan putus asa.Dalam padangannya, haditsfirqatun najiyahdan haditskhaerul qurun, keduanya mengisyaratkan bahwa masa depan umat ini semakin buruk.

Sedang pemikir Tunisia, Muhammad al-Haddad memandang bahwa terminologifirqatun  najiyahitu tidak memiliki nilai dalam logika klasik. Ia beralasan dengan pandangan Muhammad Abduh seputarfirqatun najiyah. Ia juga mengklaim bahwa tidak akan terwujud sebuah reformasi, tidak akan sukses dialog, dan tidak akan tersebar pencerahan sebelum aqidahfirqatun  najiyahditinggalkan. Anehnya, ia juga menegaskan pada kesempatan lain bahwa aqidahfirqatun  najiyahitu sepanjang sejarah telah beralih menjadi dasar pemikiran yang mengarahkan cara berpikir kaum muslim.[14]

Aliran Modernisme

Tampaknya, sikap dan pandangan tokoh-tokoh aliran ini terhadap terminologifirqatun  najiyahkacau. Kadang mereka menolak haditsnya tetapi pada kesempatan lainnya mereka menshahihkannya. Dalam takwilnya juga terjadi kerancuan.

Dr. Yusuf Qardhawi, tokoh sentral yang mewakili manhaj aliran ini menyikapi hadits ini dengan dua sikap. Pertama, ia menolak hadits ini dan menganggapnya tidak shahih. Kedua, saat ia berhadapan dengan orang-orang Syi'ah, utamanya kedua tokohnya, Fadhlullah dan Taskhiri, ia menggunakan hadits tersebut sebagai dalil. Ia menyatakan: Kami Ahlus Sunnah adalahfirqatun najiyah. Selain Ahlus Sunnah, semuanya terjerumus ke dalam bid'ah, termasuk aliran Syi'ah.

Termasuk yang menolak hadits ini adalah Dr. Muhammad 'Imarah. Ia beralasan bahwa hadits tersebut bertentangan dengan Al-Quran. Juga karena hadits tersebut mengisyaratkan bahwa Nabishallallahu alaihi wasallammengetahui perkara ghaib. Dan karena realita menunjukkan bahwa jumlah aliran menyimpang lebih banyak dari angka yang disebutkan dalam hadits.[15]

Sebagian di antara pengusung aliran ini menafsirkan hadits ini dengan pluralisme pemikiran dan bahwafirqatun  najiyahitu adalah orang yang mengikuti Rasulullahshallallahu alaihi wasallamdalam bertoleransi dan menjunjung tinggi nilai-nilai ilmu dan kasih sayang.[16]

Sebagian peneliti dan penulis juga memasukkan terminologi sektarian yang merupakan terminologi kontemporer ke dalamdilalahhadits ini. Mereka mengklaim bahwa mayoritas kaum muslim telah masuk ke dalamfirqatun  najiyahini.[17]

Muhammad Abduh juga termasuk yang bimbang dalam menyikapi dan memahami hadits ini. Ia mengklaim bahwafirqatun  najiyahini tidak pernah eksis hingga kini. Padahal dalam kesempatan yang lain ia mengakui eksistensinya dalam sejarah walaupun juga telah punah.[18]Hanya saja ia tetap tidak menolak haditsnya, bahkan ia mengakuifirqatun  najiyahitu hanya satu, yaitu yang komitmen dengan kebenaran. Tetapi ia plinplan dalam menjelaskan firqah ini. Dengan alasan bahwa setiap kelompok mengklaim dirinya sebagaifirqatunnajiyah. Selanjutnya ia memaparkan aqidah para filsuf, para sufi ekstremis, dan Muktazilah yang nampak jelas bertentangan dengan sunnah Rasulullahshallallahu alaihi wasallamdan para sahabat. Lalu ia berkata: Tidak satu pun firqah kecuali orang yang mengamatinya akan mendapatkan di dalamnya terdapat hal-hal yang sejalan dengan Al-Quran, atau sunnah, atau ijma'. Tetapi nas-nas di kalangan mereka itu saling kontradiksi. Aku sangat senang dengan hadits yang menyatakan:"Yang binasa di antara mereka adalah satu kelompok"!

Jadi awalnya ia mengakui dan meyakini eksistensifirqatun  najiyahtetapi setelah itu ia cenderung mendukung firqah yang binasa.

Aliran Syi'ah

Kelompok Syi'ah sangat sering  menisbatkan kepada Ja'far Shadiq  klaimnya sebagaifirqatun najiyah. Ia mengklaim bahwa kelompok yang berpaling dari Ali dan keluarganya adalah kelompok yang binasa. Hal ini diungkapkan oleh Muhammad Kazhim al-Qazwini dalamMausu'ah al-Imam al-Shadiq.[19]

Pada sisi lain, sebagian peneliti Syi'ah menggunakan bahasa sindiran. Mereka menghubungkan antar terminologifirqatunnajiyahdengan kezaliman dan diktatorisme sebagian rezim. Mereka menuduh Ahlul Hadits menggunakan terminologi ini demi untuk menutup-nutupi  kezhaliman dan diktatorisme penguasa dan mengebiri ketentuan syariat demi kepentingan rezim yang zhalim.[20]

Aliran Kalam

 Tokoh-tokoh aliran ini termasuk yang tidak menolak haditsfirqatun najiyah. Mereka mengakui bahwa terminologi ini dapat diterima dalam studi hadits. Bahkan terminologiini sangat sering diangkat dalam karya-karya para tokoh ahli kalam. Hanya saja, mereka menakwilkannya agar sejalan dengan prinsip-prinsipnya. Apalagi karena mereka sadar bahwa kelompok salafy yang dianggap sebagai rivalnya adalah yang paling banyak menggunakan terminologi ini.

Muhammad Said al-Buthi[21]menegaskan bahwa yang dimaksud dengan perpecahan dalam hadits tersebut adalahumat dakwah, sedang yang dimaksudfirqatun  najiyahadalahumat ijabahdengan segala ragam firqah dan aqidahnya!

Selanjutkan, ia menyatakan bahwa mengeluarkan setiap orang yang telah mengucapkan syahadatla ilaha illallahdarifirqatun  najiyahbertentangan dengan hadits: "Barang siapa yang akhir ucapannya la ilaha illallah niscaya masuk surga." Sedang kelompok Jahmiah, Muktazilah, Syi'ah, dan Hasyawiah semuanya mengucapkanla ilaha illallah.Membatasifirqatun  najiyahpada satu kelompok saja menyebabkan lahirnya perpecahan dan sikap mengkafirkan kelompok lain.

Dalam muqaddimahnya terhadap kitabal-Tabshirah fi al-Dienkarya al-Isfrayieni, Muhammad Zahid al-Kautsari mendefiniskanfirqatun  najiyahsebagai orang-orang yang mengikuti tradisi para sahabat dan mayoritas umat dalam perkara yang telah maklum dari agama.

Dalam kitabnya,Ru'yatun Islamiyah,[22]Muhammad al-Qaushi yang termasuk mewakili aliran ini telah berbicara tentang haditsiftiraq. Ia menulis:"Dengan menyorot dilalah hadits ini nampak isyarat yang menunjukkan bahwa Islam akan mencakup semua bentuk pluralisme. Setiap kelompok akan mendapatkan tempat di bawah cahaya Islam yang terang benderang."

Al-Qaushi sependapat dengan gurunya, al-Kautsari, bahwa ukuran menentukanfirqatun  najiyahbagi yang ingin masuk ke dalam gologan ini adalah kesamaan dalam memegang rukun iman yang enam. Selanjutnya ia menegaskan bahwa pemahaman klasik terhadap hadits bertentangan dengan karakter Islam sebagai agama universal, dan bertentangan dengan prinsip pluralisme dan perbedaan pendapat.

Aliran Orientalis

Goldziher dalam bukunya,Doctrine in Islam and Sharia, termasuk tokoh orientalis yang mengkaji haditsfirqatun najiyah. Ia menulis:"Kesalahan ini umumnya kembali kepada ulama kalam itu sendiri. Karena mereka keliru memahami hadits yang ditujukan untuk memuliakan Islam dan meninggikan derajatnya. Lalu dikhususkannya dengan sejumlah keutamaan yang jumlahnya sampai tujuh puluh tiga keutamaan!"

Ia memaknai hadits ini dengan ragam keutamaan yang membedakan Islam dengan agama Yahudi dan agama Kristen.[23]


 


[1] Al-Barbahari,Syarh al-Sunnah, hal. 40-41.

[2]Majmu'ah al-Rasail wa al-Masail al-Najdiah, juz II, hal. 74.

[3]Islam bila Madzahib, hal 86.

[4] Artikel Ilmiah, karya Dr. Hakim dapat dibroasing di internet.

[5] Al-Lajnah al-Daimah li al-Ifta',Fatawa Ulama' al-Balad al-Haram, hal. 191.

[6] Fatawa al-Albani, hal. 94.

[7] Pengantar buku "Hadits Iftiraq al-Ummah", karya Sa'aduddin.

[8] Lihat: Hiwar al-Masyriq wa al-Magrib, hal. 48.

[9] Ahmad al-Qabbanji, Maqalah al-Firqah al-Najiyah, lihat: www.ahewar.org/

[10] Jabir Ushfur,Hawamisy li al-Kitabah, Koran al-Hayat.

[11] Raghib al-Rakkabi, artikel di: www.ahewar.org/

[12] Al-Fikr al-Islami, hal. 246-247.

[13]Hadits al-Masyriq wa al-Magrib, hal 68.

[14] Muhammad al-Haddad,Qawaid al-Tanwir, hal. 12.

[15]Tayyarat al-Fikr al-Islami, hal. 325.

[16] Ali Muhammad Zahrah,al-Aql al-Arabi…Bina' wa Bunya,hal. 7.

[17] Muhammad al-Mukhtar al-Sinqithi, hasil wawancara dengan http://sitealasr.blogspot.com

[18]Hasyiyah 'ala Syarh al-Dawwani li al-Aqa'id al-'Adhudiyah.

[19]Mausu'ah al-Imam al-Shadiq, juz II, hal. 141.

[20] Ahmad al-Katib,Tathawwur al-Fkr al-Siyasi, hal. 179.

[21] Hasil wawancara dengan Syaikh al-Buthi, lihat: www.youtube.com/

[22]Ru'yah Islamiah, hal. 134.

[23] Goldziher,Doctrine in Islam and Sharia, hal. 167.

 

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir