Fitnah Rafidhah terhadap Sahabat Nabi dan

25/08/2014 0:00:00
ناصر بن عبد الله القفاري Jumlah kali dibaca 1442

Fitnah Rafidhah terhadap Sahabat Nabi dan


Nashir ibn Abdullah al-Qifari

 

Kitab-kitab Rafidhah banyak berisi celaan terhadap pribadi para Sahabat Nabiradhiyallahu anhum.Forum dan pertemuan yang diselenggarakan kelompok Syiahini banyak diisi dengan apa yang disebut sebagaimatsalib al-shahabah(kesalahan para Sahabat). Kondisi abnormal ini merupakan hal yang melekat sertatak terpisahkan dari Rafidhah.

Al-Allamah al-Alusi, yang pernah lebih setahun berbaur dengan komunitasRafidhah, menulis:

 “Permulaansetiap perkataan dan perbuatan, bagi kelompok ini, adalah shalawat kepada Nabishallallahu alaihi wasallam dan keluarganya, serta celaan terhadap Abu Bakar,Umar dan Utsman; karena menurut Rafidhah, mereka dibenci oleh Ahlul Bait.Perbuatan ini merupakan kebaikan yang paling utama sehingga menjadi primadonapara khatib dan hiburan bagi khalayak pendengar. Perbuatan ini merupakankesenangan bagi masyarakat Rafidhah. Hampir tidak ada pertemuan yang menghiburkecuali karena pembicara membahasnya. Seakan-akan masyarakat Syiah tidakmengenal dan tidak memahami apa pun kecuali mencela Sahabat Nabi.”[1]

Syekhul Islam Ibn Taimiyyah sesungguhnya telah mengemukakan jawaban global danterperinci terhadap tuduhan-tuduhan yang dikemukakan Rafidhah kepadaSahabat-sahabat Nabi. Garis besarnya sebagai berikut.[2]

Kesalahan-kesalahan yang diriwayatkan dilakukan oleh Sahabat Nabi terbagi kepadadua bagian.Pertama,riwayat dusta, baik itu berupa riwayat yangseluruhnya dusta atau riwayat shahih yang telah diimbuhi tambahan ataupengurangan. Sebagian besar tuduhan yang jelas tertuju kepada para Sahabat Nabimasuk dalam kategori ini. Riwayat-riwayat seperti ini disampaikan oleh rawi-rawiyang terkenal sebagai tukang dusta, seperti Abu Mihnaf Luth ibn Yahya, Hisyamibn al-Sa’ib al-Kalbi, dll. Mereka adalah tokoh-tokoh yang dikenal olehulama-ulama otoritatif sebagai rawi yang gemar mengarang-ngarang beritadusta.    

Kedua,riwayat shahih, namun dalam sebagian besarnya Sahabat Nabi yang melakukankesalahan tersebut punya uzur dan alasan sehingga tidak dapat dianggap sebagaidosa. Kesalahan Sahabat dalam kategori ini adalah termasuk perkara ijtihad yangbila pelakunya benar akan mendapatkan dua pahala sedangkan bila salah akanmendapatkan satu pahala. Sebagian besar riwayat terkait Khulafa Rasyidun masukdalam bagian ini.

Adapun peristiwa-peristiwa yang jelas menunjukkan perbuatan dosa, maka tidakmengurangi kemuliaan dan kedudukan para Sahabat sebagai penghuni Surga. Perludiketahui, siksa Akhirat atas dosa yang jelas dilakukan dapat teranulir denganberbagai sebab, seperti tobat, amal kebaikan, musibah yang menimpa, dsb.[3]

Perlu ditambahkan bahwa kelompok Rafidhah tidak segan-segan melakukan cara licikdalam rangka mencemari nama baik para Sahabat Nabi. Hal ini sebagaimanadiungkapkan oleh sejumlah ulama peneliti.Kelompok ini tidak ragu menukilungkapan yang memuat celaan terhadap Sahabat Nabi atau kritik terhadap kelompokdi luar Rafidhah dari kitab yang mereka sengaja nisbatkan kepada tokoh ulamaAhlus Sunnah, yang sesungguhnya kitab itu tidak pernah ada.”[4]

Kelompok ini mengarang sendiri nama kitab kemudian menisbatkannya kepada seorangimam, selanjutnya membuat kutipan yang sejalan dengan paham mereka yang diambildari “kitab” itu. Tidak jarang, perbuatan dusta ini berhasil mengelabuipihak-pihak yang tidak tahu atau tertipu sehingga pengikut kelompok ini tampakmerujuk kepada “referensi” terpercaya.

Dalam kajiannya, al-Alusi dan al-Suwaidi menemukan bahwa Rafidhah telahmenisbatkan secara dusta beberapa kitab kepada ulama besar Ahlus Sunnah, yangnota bene berisi celaan terhadap Sahabat Nabi.[5]Sebagai contoh kitabSirr al-Alaminyang Rafidhah nisbatkan secara dustakepada Imam al-Ghazali.[6]

Cara lain yangkelompok ini biasa lakukan adalah menukil secara dusta cerita yangberisi celaan kepada Sahabat Nabi dari kitab yang sulit di dapatkan di kalanganAhlus Sunnah. Sedangkan kutipan itu sendiri merupakan cerita yang dikarangsendiri. Tindakan semacam ini banyak dilakukan oleh al-Ardabili dalam kitabnyaKasyf al-Ghummah,al-Huli dalam kitabal-Alfain,Ibn Thawus, dll.[7]

Namun demikian, betapa pun usaha yang dilakukan kelompok Rafidhah, kedudukanSahabat Nabi tidak akan goyah. Sebaliknya, fitnah tersebut justru akanmengangkat derajat mereka. Syair Arab berikut sungguh tepat menggambarkankeadaan para Sahabat Nabi:

وإذا أتتك مذمتي من ناقص

فهي الشهادة لي بأني كاملُ

Jika engkau mendapatkan manusia yang lemah mencelaku,

Maka itu adalah pengakuan terhadap kesempurnaanku.”

Para Sahabat Nabi adalah manusia-manusia generasi terbaik dan merupakan intidari umat Islam. Generasi Sahabat adalah manusia terbaik setelah para Nabi.Mereka telah dipilih oleh AllahTa’alauntuk menjadi pendukung Rasulullahshallallahu alaihi wasallamdan penyampai risalahnya. Seandainya tidakada dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah tentang keutamaan mereka, maka biografi,kisah hijrah, dan pengorbanan mereka dalam membela Rasulullah telah cukupmenjadi bukti terhadap keutamaan Sahabat-sahabat Nabi itu.  

Al-Khatib al-Baghdadi menulis:

 “Andaipuntidak ada keterangan dari Allah tentang keutamaan mereka, seperti yang telahkami uraikan sebelumnya, maka prestasi mereka, berupa hijrah, jihad, dukungankepada Rasulullah, pengorbanan jiwa dan harta, perang terhadap orang tua dananak, perjuangan demi kepentingan agama, serta kekuatan iman dan keyakinan;cukup menjadi bukti kuat tentang kejujuran dan kesucian pribadi-pribadi mereka.”[8]

Ungkapan yang sangat tepat mendiskripsikan generasi Sahabat adalah ucapan IbnMas’udradhiyallahu anhu:

 “Siapa diantara kalian yang mencari teladan, maka ikutilah Sahabat-sahabat Muhammadshallallahu alaihi wasallam. Sebab mereka adalah manusia-manusia yang terbaikhatinya dari umat ini, paling dalam ilmunya, paling sedikit sikapnya yangberlebihan, paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya. Mereka adalahkaum yang telah Allah pilih untuk mengiringi Nabi-Nya shallallahu alaihiwasallam. Maka ketahuilah keutamaan mereka dan ikutilah keteladanannya. Sungguhmereka berada dalam petunjuk yang lurus.”[9]

Cinta dan loyalitas terhadap para Sahabat Nabi merupakan kewajiban umat. Sebabmereka adalah pengiring Rasulullahshallallahu alaihi wasallam,pembawapanji agama, penyampai ajaran syariat. Sahabat-sahabat adalah kekasih, rekan,kerabat, sekaligus penolong Rasulullahshallallahu alaihi wasallam.Lantaran itu, mencela Sahabat sama dengan mencela pribadi Rasulullah.

Imam Malik, sebagaimana ulama lainnya, menegaskan,Mereka yangmendiskreditkan Sahabat-sahabat Rasulullah . . . akan ada yang mengatakan, diaadalah manusia jahat sebab sahabat-sahabatnya adalah manusia-manusia jahat;andaikata dia manusia baik tentu sahabat-sahabatnya adalah manusia-manusia baikjuga.”[10]

Melecehkan para Sahabat sama dengan melecehkan Islam itu sendiri, sebabmerekalah jalur sehingga agama ini sampai kepada kita. Imam Abu Zur’ah al-Razimenulis:

 “Bilaengkau bertemu dengan seseorang yang merendahkan SahabatNabi, ketahuilah bahwadia itu orang zindiq (menyembunyikan kekafiran). Sebab, bagi kita Rasulullahadalah hak, Al-Qur’an hak, sementara yang menyampaikan Al-Qur’an dan Sunnahkepada kita adalah para Sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Mereka(orang-orang zindiq) itu hanya mau mencemari nama baik saksi-saksi kita untukmenjatuhkan Al-Qur’an dan Sunnah. Padahal, merekalah yang lebih layak untukdilecehkan dan mereka adalah orang-orang zindiq.”[11]

Lebih jauh, sikap merendahkan Sahabat Nabi sejatinya merupakan serangan langsungterhadap hikmah dan kebijaksanaan AllahTa’alayang telah memilih merekasebagai sahabat dan penyampai ajaran Nabi-Nya. Abdullah ibn Mas’udradhiyallahu anhumengatakan:

 “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah melihat kepada hati-hati para hamba sehinggaDia mendapati hati Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai hati hamba yangpaling baik. Maka Dia memilih hati itu buat Dirinya yang Dia utus untukmenyampaikan risalah-Nya. Kemudian Dia melihat kepada hati-hati para hambaselain hati Muhammad, maka Dia mendapati hati-hati para Sahabat Nabi merupakanhati-hati para hamba yang paling baik. Maka Dia menjadikan mereka sabagaipendolong bagi Nabi-Nya yang berperang demi untuk (membela) agama-Nya.”[12]

AllahTa’alatelah menjaga Kitab-Nya, menyebarkan Sunnah Nabi-Nya, danmendakwahkan agama-Nya ke barat dan ke timur lewat tangan para Sahabat Nabi.Sehingga para Sahabat itu telah menciptakan peradaban yang tak tertandingi danmengeluarkan manusia dari perbudakan kepada sesama menuju penghambaan kepadaAllah semata. Mereka mengeluarkan manusia dari aniaya agama kepada keadilanIslam dan dari sempitnya dunia kepada keluasan akhirat. Mereka menghancurkanistana Kisra dan Kaisar; dan membangun peradaban yang besar dalam tempo waktuyang sangat singkat: seperempat abad. Kebesaran mereka tak pernah ada yangmenyamainya dalam sejarah berbagai bangsa dan peradaban, tidak dalam sejarahklasik atau modern.

Penulis sendiri menemukan banyak sekali forum, situs jejaring sosial, siaranudara, dan tulisan yang berupaya mengkonter syubhat Rafidhah. Sekelompok AhlusSunnah telah mengalihkan perhatian dan potensinya untuk membalas syubhatpengikut Rafidhah terkait Sahabat Nabi. Namun dalam hemat penulis, upayatersebut tidak efektif. Sebab tujuan sesungguhnya Rafidhah dalam melontarkansyubhat ada dua:

 (1)  MenyibukkanAhlus Sunnah dengan isu Sahabat Nabi sehingga luput untuk mengkritisireferensi-referensi dan rawi-rawi Syiah.

 (2)  Taktik untukmenanamkan keyakinan bagi para pengikut Syiah bahwa isu yang mereka lontarkanmerupakan isu bersama antara Sunni dan Syiah

Upaya Syiah mengungkit masalah Sahabat sejatinya hanya trik untuk menutup-nutupisikap sesungguhnya mereka terhadap Sahabat Nabi. Padahal, sikap itulah yangsesungguhnya merupakan pokok agama Rafidhah.[13]Cukup pembaca ketahui bahwa seandainya para Sahabat ituma’shum(sucidari dosa) dan bersih dari dusta, niscaya Rafidhah tidak akan berubah menghargaiSahabat Nabi. Sebab, “kesalahan” terbesar Sahabat adalah karena mereka membai’atAbu Bakar dan bukannya Ali ibn Abi Thalib. Semua kesalahan dapat diampunikecuali “kesalahan” yang satu itu. Sebagaimana manusia yang penuh dengan lumurandosa bakal selamat di Akhirat bila beriman kepada paham al-Wilayah versi Syiah.

Diceritakan bahwa seorang pengikut paham Rafidhah datang kepada imamnya danbertanya,Aku tinggal dengan komunitas yang aku kagumi. Mereka tidakmendukung kalian tapi mendukung fulan dan fulan. Mereka bersikap amanah, jujur,dan menunaikan kewajiban dengan baik. Sebaliknya, ada komunitas yang mendukungkalian (yaitu Rafidhah) namun mereka tidak amanah, tidak jujur dan tidakmenunaikan kewajiban.”

Maka Abu Abdillah memperbaiki duduknya dan menghadap ke wajahku dengan marah,Tidak ada nilai agama bagi orang yang beragama kepada Allah dengan mendukungimam yang zalim yang tidak ditunjuk oleh Allah. Dan tidak mengapa bagi orangyang beragama dengan mendukung imam yang adil yang ditunjuk oleh Allah.”

Aku berkata,Tidak ada nilai agama bagi yang pertama dan tidak mengapa bagiyang kedua?” “Benar,”jawabnya.[14]

Betapapun prestasi dan jihad Sahabat Nabi maka tidak akan bernilai sedikit punmenurut agama Rafidhah. Walaupun prestasi tersebut selaksa dan tanpa cacat.Prestasi tersebut tidak akan berarti apa pun selama mereka tidak ikut kepadaagama Rafidhah “Saba’iyyah.”

Pengikut Rafidhah bahkan mengklaim bahwa AllahTa’alabersabda,WahaiMuhammad, seandainya seorang hamba beribadah kepadaku hingga diaterpotong-potong dan menjadi tembikar namun dia menolak mendukung mereka (paraimam), maka aku tidak akan memasukkan mereka ke dalam Surga-Ku dan tidak akanmelindungi mereka di bawar Arasy-Ku.”[15]

Rafidhah juga mengklaim bahwa Rasulullahshallallahu alaihi wasallampernah bersabda,Seandainya seorang di antara kalian datang pada hari Kiamatdengan amal sebanyak gunung-gunung tapi tidak membawa wilayah (dukungan) kepadaAli ibn Abi Thalib maka Allah tetap akan memasukkannya ke dalam Neraka.”[16]

Beliau juga berkata, menurut paham Rafidhah,Andai seorang hamba datang padahari Kiamat dengan amal yang sama dengan 70 orang Nabi, maka Allah tidak akanmenerima amalnya hingga dia memberikan wala’ (dukungan) kepadaku dan kepadakeluargaku.”[17]

Ibadah menurut Rafidhah tidak akan diterima kecuali dengan beriman kepadawilayah(dukungan kepada) imam yang dua belas.

Dalam kitabal-Biharoleh al-Majlisi tertulis:Seandainya seoranghamba beridabah kepada Allah 1000 tahun dan datang dengan amalan 72 Nabi, makaAllah tidak akan menerima amalnya hingga dia mengakui wilayah kami Ahlul Bait.Bila tidak, Allah akan menjerumuskan dia ke dalam Neraka Jahannam.”[18]

Tokoh-tokoh Rafidhah menyusun dalam kitab-kitab induk mereka bab-bab khususuntuk menegaskan akidah tersebut, sepertiBab Tidak Diterima Amal SeseorangKecuali dengan Wilayah.Tidak kurang 70 riwayat palsu tercantum di bawahbab tersebut yang dinisbatkan kepada tokoh imam mereka.[19]

Dalam paham Rafidhah, pokok agama dan aqidah adalah iman kepada imam yang duabelas. Pokok aqidah ini merupakan komponen iman bahkan inti dari iman itusendiri.

Dalam kitabUshul al-Kafitermaktub:Islam ialah perkara lahir yangdilakukan oleh manusia: syahadat tiada ilaah yang hak selain Allah yang Esa dantidak berserikat dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya . . .(kemudian iamerinci rukun Islam lainnya versi Syiah, dan berkata) hakekat keimanan adalahmengetahui perkara ini dengan hal ini. Bila hal ini diakui namun tidakmengetahui perkara tersebut maka orang tersebut muslim namun tersesat.”[20]

Dapat disimak, pendapat ini lebih ekstrim daripada paham kelompok Murji’ahekstrim sekalipun, yang nota bene dinilai kafir oleh ulama semacam Imam Ahmaddan Waki’. Sebab, bagi kelompok Murji’ah ekstrim iman ialah mengetahui Allah.Sedangkan menurut Rafidhah, iman adalah mengetahui imam.

Dalam paham Rafidhah, pahala di Akhirat berdasarkan keimanan, bukan keislaman.Penulis kitabal-Kafimenulis satu bab khusus:Bab Islam MemeliharaDarah dan Pahala Berdasarkan Keimanan.[21]

 

Ibn al-Muthahhir al-Hulli, tokoh ulama Syiah, menulis:Sesungguhnya masalahImamah (bagi imam dua belas) merupakan salah satu rukun iman yang menyebabkanseseorang kekal di Surga dan bebas dari azab al-Rahman (Allah yang MahaPemurah).”[22]

Muhammad Jawwad al-‘Amili berkata:Iman itu menurut kami hanya terwujuddengan pengakuan terhadap imam yang dua belas alaihis salam, kecuali mereka yangwafat di masa mereka sebab tidak menjadi syarat keimanan mereka kecualimengetahui imam di zamannya dan iman sebelumnya.”[23]

Amir Muhammad al-Qazwini, seorang tokoh kontemporer Syiah, menulis:Sesungguhnya manusia yang kufur terhadap wilayah dan imamah bagi Aliradhiyallahu anhu telah menggugurkan imannya sehingga gugur pula amalnya.”[24]

Bila demikian halnya parameter keimanan, kebaikan dan keburukan menurut pahamRafidhah, maka kelirulah pihak yang mencoba berdebat dengan pengikut Rafidhahsoal kekeliruan Sahabat. Sebab, seandainya Sahabat itu tidak melakukan kesalahansekalipun tetap saja mereka musyrik dan kafir menurut paham Rafidhah. Konsepkufur, syirik, kezalaiman dalam paham Rafidhah berbeda jauh dengan konsepnyamenurut syariat sebagaimana dalam Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ Salaf dan ulama.

Dalam ajaran Rafidhah, sekadar mengklaim punya hak untuk menjadi imam makaotomatis kafir walaupun belum menjadi imam. Dalam teks Rafidhah:Barangsiapamengklaim imamah sedangkan dia tidak berhak maka dia kafir.”[25]

Karena yang berhak hanya imam yang dua belas atau wakil-wakilnya/ulama-ulamaSyiah. Konsekuensi dari paham ini adalah pengkafiran terhadap seluruh pemimpinkaum Muslim sejak Abu Bakar al-Shiddiqradhiyallahu anhuhingga hariKiamat.

 “Ada tigagolongan yang Allah tidak melihat kepada mereka pada hari Kiamat, tidakmensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih: orang yang mengakumendapatkan imamah dari Allah yang bukan haknya, orang yang menolak imam dariAllah, dan orang yang mengakui keduanya (yaitu Abu Bakar dan ‘Umar) punya bagiandalam Islam.”[26]Keyakinanseperti ini merupakan pengkafiran terhadap seluruh pemimpin, rakyat, dan seluruhkaum Muslim.

Ibn Babawaih al-Qummi, tokoh Syiah dan penulis kitabMan Laa Yahdhuruhual-Faqih,menulis dalamal-I’tiqadat,yang bagi Syiah merupakan pokokajaran agama Imamiyah:

 “Barangsiapa yang mengklaim imamah padahal dia bukan imam maka dialah manusiazalim dan terlaknat, barangsiapa yang meletakkan imamah pada selain ahlinya makadia zalim dan terlaknat. Nabi shallallahu alaihi wa aalihi bersabda, ‘Barangsiapa yang menolak imamah bagi Ali setelahku maka dia telah menolakkenabianku, barangsiapa yang menolok kenabianku maka dia telah menolakrububiyyah Allah.’ Berkata al-Shadiq, ‘Barangsiapa yang ragu terhadap kufurnyamusuh-musuh kami dan orang-orang yang menganiaya kami maka dia kafir.”[27]

Ni’matullah al-Jaza’iri berkata,Kami tidak bersepakat dengan mereka(Asya’irah dan pengikutnya) tentang Tuhan, Nabi, dan imam. Sebab merekaberpendapat bahwa Rabb mereka adalah yang Muhammad merupakan Nabi yang Dia utusdan khalifahnya dalah Abu Bakar. Padahal, kami tidak menerima Rabb dan Nabiseperti ini. Menurut kami, Rabb yang pengganti Nabi-Nya adalah Abu Bakarbukanlah Rabb kami dan Nabi-Nya bukan pula Nabi kami.”[28]

Berkata al-Mufid,Aliran Imamiyah (Rafidhah) sepakat bahwa siapa yangmenolak imamah satu dari para imam (yang dua belas) atau menolak kewajiban taatyang diberikan kepadanya, maka dia kafir, sesat, dan berhak untuk kekalselama-lamanya di dalam Neraka.”[29]

Di lain kesempatan, ujarnya:

 “AliranImamiyah sepakat bahwa penganut Bid’ah seluruhnya adalah kafir, dah bahwa imamwajib meminta mereka bertobat saat mampu setelah mengajak dan memberikanpenjelasan. Bila mereka tobat dari perbuatan Bid’ah mereka dan kembali kepadakebenaran (maka mereka bebas), bila sebaliknya mereka harus dibunuh karenamurtad dari keimanan. Siapa pun dari mereka yang mati atas keyakinan itu makadia adalan penghuni Neraka.”[30]

Senada dengan itu ialah ungkapan al-Thusi,Menolak imamah adalah kekufuransebagaimana menolak nubuwah, sebab jahil terhadap keduanya sama tingkatannya.”[31]

Tidak berbeda dengan al-Majlisi,Riwayat yang mutawatir menyebutkan bahwaamal tidak akan diterima kecuali dengan (iman kepada) al-wilayah.”[32]

Ungkapan dan riwayat semacam ini banyak sekali jumlahnya, sebab perkara inimerupakan inti aqidah dan pokok penilaian terhadap orang lain. Barangsiapa yangiman kepada al-wilayah maka tidak ada ketakutan dan kesedihan baginya.Sebaliknya, siapa yang kufur terhadap al-wilayah, maka menurut Rafidhah dia akankekal di Neraka.

Mereka telah menempatkan agama al-wilayah terhadap para imam sebagai ibadahkepada Allah yang menjadi agama para Nabi dan pokok dakwah (QS. Al-Anbiya’/21: 25;QS. al-Nahl/16: 36; juga hadits Mu’adz ibn Jabal ketika diutus ke Yaman,riwayat Bukhari dan Muslim).[33]

Dalam membantah klaim Ibn al-Muthahhir al-Hulli bahwa imamah merupakan poroskeimanan, Syekhul Islam Ibn Taimiyah menulis:

 “Allah Ta’ala telah berfirman: ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalahmereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabiladibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dankepada Rabblah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalatdan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulahorang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperolehbeberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rezki (nikmat)yang mulia.’ (QS. Al-Anfal/8: 2-4). Allah mengakui keimanan mereka tanpapenyebutan imamah.

 “Allah juga berfirman, ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalahorang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidakragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah,mereka itulah orang-orang yang benar.’ (QS. Al-Hujurat/49: 15). Allah menyebutmereka sebagai orang-orang yang benar dalam keimanan tanpa penyebutan imamah.

 “Allahberfirman, ‘Bukanlahmenghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapisesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Akhirat,Malaikat-malaikat, Kitab-kitab, Nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainyakepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukanpertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hambasahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepatijanjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan,penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar(imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.’ (QS.Al-Baqarah/2: 177). Tidak ada penyebutan imamah di dalamnya.

 “AllahAzza Wajalla berfirman, ‘Alif laam miim.Kitab(Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yangbertaqwa.(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat,dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan merekayang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu danKitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya(kehidupan) Akhirat.Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb mereka,dan merekalah orang-orang yang beruntung.’ (QS. Al-Baqarah/2: 1-5). Allah menjadikan mereka orang-orang yang mendapatkanpetunjuk dan beruntung, dan tidak disebutkan imamah.

 “Dan jugakita ketahui secara pasti dari agama Muhammad shallallahu alaihi wasallam bahwadahulu manusia beriman tanpa (Rasulullah) kaitkan dengan pengetahuan terhadapimamah. Beliau bahkan tidak menyebut sedikit pun tentang itu. Bila termasukrukun iman, tentu Rasulullah harus menjelaskannya kepada orang-orang yangberiman agar terwujud iman mereka (yang sempurna). Bila diketahui pasti bahwaperkara ini tidak pernah dipersyaratkan oleh Rasulullah dalam masalah iman,jelaslah bahwa menjadikannya sebagai syarat iman hanya pendapat tukang dusta.”[34]

Oleh karena itu, dialog dan debat dengan pengikut Rafidhah dalam masalah SahabatNabi seharusnya berangkat dari pokok persoalan yang merupakan asas agamaImamiyah.

Perkara penting ini telah diungkapkan oleh al-Qadhi Abd al-Jabbar al-Mu’tazili,yang menulis:

 “Dalam banyak kasus, penganut paham Imamiyah bertanya tentang Utsman yangmengangkat kerabatnya sebagai pejabat dan isu-isu lainnya; tentang perjalananThalhah, Zubair, dan Aisyah ke Bashrah, karena ketidaktahuan mereka. Karena jikaUtsman tidak pernah mengangkat kerabatnya sebagai pejabat atau kebijakanlainnya, dia tetap kafir dan musyrik menurut Imamiyah. Alasannya, Utsman telahmengakui imamah bagi dirinya sendiri dan bagi Abu Bakar dan Umar. SeandainyaThalhah, Zubair, dan Aisyah dalam pasukan Ali dan berperang bersamanya, merekatetap musyrik menurut keyakinan mereka. Sebab tokoh-tokoh itu menerimakepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu anhum.

 “Maka barangsiapa yang berdialog dengan Imamiyah dalam isu-isu yang diangkat inisama seperti berdialog dengan orang Yahudi tentang wajibnya niat dalam thaharah(bersuci) atau berdialog dengan orang Nasrani dalam keyakinan mereka yangmenghalalkan minuman keras.

 “Permasalahan yang dibahas tadi relevan hanya bagi yang berkeyakinan bahwaUtsman tidak melakukan kesalahan kecuali karena dia menggunakan tanah hima(tanah negara) danmengangkat kerabat sebagai pejabat. Kalau tidak, maka diatidak ada bedanya dengan Umar ibn Khattab. Permasalahan yang dibahas tadirelevan hanya bagi yang berkeyakinan bahwa Thalhah, Zubair, dan Aisyah tidakmelakukan kesalahan kecuali karena mereka menuju Bashrah. Kalau tidak, makamereka tidak ada bedanya dengan Abu Ubaidah, Abdurrahman, dan Ibn Mas’ud.Camkanlah hal ini dan jangan membahas isu-isu tadi. Berdialoglah dengan merekahanya dalam masalah nash, karena itulah pokok persoalan yang sebenarnya.”[35]***

 


[1]Al-Wasyi’ah,h. 17.

[2]Lihat: Ibn Taimiyyah,Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah,Juz III, h. 19dan seterusnya.

[3]Ibid.

[4]Mukhtasharal-Shawa’iq,h. 51; lihat:al-Suwaidi,Naqd ‘Aqa’id al-Syi’ah,h. 25. (Manuskrip).

[5]Mukhtasaral-Tuhfah al-Itsnay ‘Asyariyah,h. 33; al-Suwaidi, h. 25.

[6]Dr.Abdurrahman Badawi melaporan bahwa terdapat tiga orang tokoh orientalisyang menyimpulkan bahwa kitab tersebut palsu, mereka adalah IgnazGoldziher, Maurice Bouyges,Duncan BlackMacDonald.

Badawi juga sampai pada kesimpulan yang sama bahkan memastikannya.Alasannya,Bukti yang memastikan bahwa kitab tersebut bukanlahtulisan al-Ghazali adalah teks pada halaman 82 yang berbunyi, ‘Al-Ma’rrimengungkapkan sya’ir buatku sedang aku seorang pemuda, dan dia bersamadengan Yusuf ibn Ali Syekhul Islam.’ Padahal, al-Ma’arri wafat tahun 448H sedangkan al-Ghazali lahir tahun 450 H, sehingga bagaimana mungkin diamengungkapkan sya’ir.”Mu’allafat al-Ghazali,h. 271.

[7]Mukhtasharal-Shawa’iq,h. 51; lihat:al-Suwaidi, h. 25. Untuk kajian lebih lanjut, lihat:Mas’alahal-Taqrib,Juz I, h. 58 dst.

[8]Al-Kifayah,h. 49;lihat juga: al-Iyji,al-Mawaqif,h. 413.

[9]JamiBayan al-‘Ilm wa Fadhlih,Juz II, h. 947;al-Hujjah fii Bayan al-Mahajjah,Juz II, h. 519.

[10]Lihat:Majmu’ Fatawa,Juz IV, h. 429.

[11]Al-Kifayahfii ‘Ilm al-Riwayah,h. 49.

[12]Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalamal-Musnad,no. 3600;al-Bazzar, no. 1816; al-Thabrani dalamal-Mu’jam al-Awsath,no. 3602,danal-Mu’jam al-Kabir,no. 8582; dan Syekh Ahmad Syakirmenilainya sebagai shahih.  

[13]Lihat detail masalah tersebut dalam:Ushul Madzhab Syi’ah,JuzII, h. 653.

[14]Ushulal-Kafi,Juz I, h. 375.

[15]Biharal-Anwar,Juz XXVII, h. 169

[16]Amalial-Thusi,Juz I, h. 314.

[17]Biharal-Anwar,Juz XXVII, h. 172.

[18]Ibid, h. 197.

[19]Ibid, h. 166 dst.

[20]Ushulal-Kafi,Juz II, h. 24.

[21]Ibid.

[22]Minhajal-Karamah fii Ma’rifah al-Karamah,h. 1.

[23]Miftahal-Karamah,Juz II, h. 80.

[24]Al-Syi’ahfii ‘Aqa’idihim wa Ahkamihim,h. 24.

[25]Al-Kafi, “Kitab al-Hujjah, Bab Man Idi’a al-Imamah wa Laisa Laha bi Ahl,Juz I, h. 372.

[26]Al-Kafi,Juz I, h. 373. Lihat:Tafsir al-‘Iyasyi,Juz I, h. 178;Tafsiral-Burhan,Juz I, h. 293;Bihar al-Anwar,Juz VIII, h. 218.

[27]Salah satu referensi pokok paham aliran. Lihat:Ushul Madzhabal-Syi’ah,Juz I, h. 354 dst.

[28]Al-Anwaral-Nu’maniyyah,Juz II, h. 279.

[29]Al-Masa’ilsebagaimana dikutip dalamBihar al-Anwar,Juz VIII, h. 366.

[30]Awa’ilal-Maqalat,h. 53. Lihat:Bihar al-Anwar,Juz VIII, h. 366.

[31]Talkhisal-Syafi,Juz IV, h. 131. Lihat:Bihar al-Anwar,Juz VIII, h. 368.

[32]Biharal-Anwar,Juz VIII, h. 369.

[33]HR. Bukhari, no. 1458; Muslim, no. 19.

[34]Minhajal-Sunnah al-Nabawiyyah,Juz I, h. 108-109.

[35]TatsbitDala’il al-Nubuwwah,Juz I, h. 294.


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir