PRINSIP APLIKASI HUKUM-HUKUM JIHAD DALAM PERSFEKTIF HUKUM FIQH

06/07/2014 0:00:00
د. هاني بن عبد الله بن محمد الجبير Jumlah kali dibaca 1112

PRINSIP APLIKASI HUKUM-HUKUM JIHAD DALAM PERSFEKTIF HUKUM FIQH


Dr. Hani ibn Abdullah al-Jubaer·

Pujian terhadap seorang faqih yang mengindikasikan kebaikan dan keistimewaan seseorang sangat banyak disebutkan dalam nas-nas syariat. Dalam nas-nas syariat dikemukakan bahwa berupaya menjadi faqih melalui proses belajar itu lebih utama daripada berjihad yang juga memiliki keutamaan yang sangat agung.

Dalam kitabShahihaindisebutkan bahwa Nabishallallahu alaihi wasallambersabda:

"Barangsiapa diinginkan Allah kebaikan padanya niscaya dijadikannya faqih dalam usuran agama."[1]

Nabishallallahu alaihi wasallampernah mendo'akan Ibn Abbas dengan do'anya:

 اللهم فقه في الدين

"Ya Allah, jadikanlah ia faqih dalam urusan agama."[2]

AllahTa'alaberfirman:

{وَمَا كَانَ الْـمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إذَا رَجَعُوا إلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُون}[التوبة: 122 ]

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.(QS. at-Taubah: 122).

Penggunaan shigattafa'ulyang mengindikasikan adanya beban upaya, dalam kalimatliyatafaqqahumenunjukkan proses belajar itu memerlukan upaya dan kesungguhan. Thahir ibn Asyur menulis:"at-Tafaqquh adalah takalluf al-fuqahah/beban mencari ilmu. Karena untuk mendapatkan ilmu itu memerlukan bakat dan kecerdasan yang cukup maka kata fiqh dalam ayat tersebut menggunakan shigat tafa'ul. Hal ini memberi isyarat bahwa memahami persoalan agama termasuk hal yang cukup rumit dan sulit diperoleh. Oleh sebabnya maka ulama menetapkan bahwa fiqh itu merupakan cabang ilmu yang paling utama."[3]

Kini aplikasi teori fiqh dalam realita kehidupan termasuk problem utama yang masih diwarisi dari zaman klasik.

al-Hatthab berkomentar:"Penggunaan kaedah-kaedah fiqh yang bersifat umum dan aplikasinya dalam berbagai realita kehidupan manusia termasuk perkara rumit bagi mayoritas manusia. Kondisi tersebut semakin rumit dan tingkat kesulitannya semakin terasa di era ini."[4]

Kesulitan ini sangat nampak dari lemahnya pendalaman ilmu dan kemampuan menerapkan hukum-hukum fiqh yang bersifat teoritis terhadap realita perjuangan jihad. Karena biasanya, seorang mujahid tidak memiliki wawasan fiqh yang cukup. Hal itu cukup logis karena biasanya yang dituntut dari seorang mujahid hanyalah keterampilan dan ketangkasan yang seringkali menghalangi dirinya meneruskan perjalanan menuntut ilmu. Kondisi ini sejalan dengan  ayat di atas yang membedakan antara orang yang berangkat berjihad dengan orang yang konsentrasi belajar dan mengajar orang lain.

Syaikh Abdur Rahman al-Sa'diy menegaskan:

 "Ketidakpergian berjihad sebagian di antara mereka membawa kemaslahatan yang dapat hilang sekiranya mereka turut berangkat berjihad. Karenanya Allah berfirman:Litafaqqahu/agar mereka yang tidak pergi berjihad belajar tentang urusan agamali yunziru qaumahum iza raja'uu ilaihim/agar dapat memperingati jika mereka telah kembali. Artinya hendaknya mereka mempelajari ilmu syar'i, mengkaji makna dan rahasianya lalu mengajarkannya kepada orang lain  dan memperingati orang-orang  yang pergi berjihad setelah mereka kembali. Hal ini menunjukkan tentang keutamaan ilmu dan bahwa ilmu termasuk perkara yang paling penting, utamanya ilmu syar'i."[5]

Kondisi seperti ini diakui oleh Khalid ibn Walid sebagaimana dalam ungkapannya:"Berjihad di jalan Allah telah banyak menghalangi aku membaca Al-Quran."[6] 

Hal ini juga merupakan salah satu akibat dari kurangnya bermajelis dengan para ulama. Sebab bermajelis dengan mereka merupakan cerminan dan aplikasi nyata yang dapat disaksikan untuk mengetahui berbagai kriteria yang bersifat otomatis dan dapat berpengaruh dalam menganalisa berbagai peristiwa dan penerapan hukum atasnya dan atas berbagai hal yang terkait dengannya.

Sayangnya sangat sedikit orang yang dapat bersabar dalam bermajelis dengan para ulama pada halaqah-halaqah ilmu dan yang siap berkorban dengan waktu dan kesempatannya dalam mendalami berbagai disiplin ilmu.

al-Syathibi menegaskan:

"Cara terbaik dalam menimba ilmu adalah dengan tatap muka langsung karena Allah telah menjadikan keistimewaan dalam tatap muka antara pelajar dan guru yang dapat disaksikan oleh setiap orang yang bergelut dengan ilmu dan ulama. Setiap masalah yang dibaca atau dilewati oleh seorang pelajar dalam sebuah buku dan tidak dipahami lalu dipaparkan kepada sang guru niscaya ia bisa langsung memahaminya.

Ini termasuk di antara manfaat bermajelis dengan para ulama. Dengan cara ini seorang pelajar dapat memahami sesuatu yang tidak dapat dipahami tanpa perantaraan ulama. Manfaat ini akan tetap eksis selama para pelajar itu aktif mengikuti gurunya.

Imam Malik pernah tidak merekomendasikan menulis pelajaran, lalu ditanya: Apa yang harus dilakukan? Dijawab: "Kalian berupaya memahaminya agar hati kalian dapat mendapatkan cahaya darinya, dengan demikian kalian tidak perlu lagi menulis."[7]

Oleh karena itu, sering ditemukan dalam buku-buku biografi para ulama ungkapan semacam:tafaqqaha bi fulanartinya ia belajar ilmu fiqh dibawah asuhan si fulan.

Tidak seorang pun dapat meragukan betapa penting melakukan upaya persiapan untuk urusan dunia dan agama. Orang yang mengamati kehidupan para salaf akan mendapati realita ini. seseorang di antara mereka berlatih menunaikan tugas yang akan dibebankan kepadanya.

Salah satu contohnya adalah latihan memberi fatwa. Nabishallallahu alaihi wasallambenar-benar telah melatih para  sahabat  mengeluarkan fatwa. Hal itu dipraktekkan di hadapan Nabishalallahu alaihi wasallamsebagai bentuk latihan bagi mereka dalam lapangan ijtihad dan fatwa.

Muhammad ibn Hasan al-Hajawie al-Tsa'alabi telah menyebutkan dalam kitabal-Fikr al-Samisekitar sepuluh contoh terkait hal ini.

Abu Ishba' Isa ibn Sahl menegaskan:"Fatwa merupakan sebuah profesi, saat aku ditunjuk sebagai mufti, aku tidak tahu apa yang harus  aku katakan dalam majelis pertama, padahal aku telah hafal dengan lancar kitab al-Mudawwanah dan al-Mustakhrajah . . . Karenanya latihan itu merupakan dasar bagi setiap disiplin ilmu yang selalu dibutuhkan."[8]

Muhammad ibn Abdissalam menyatakan:"Anda mendapati seseorang yang banyak menghafal hukum-hukum fiqh dan mengajarkannya kepada orang lain, tetapi jika ia ditanya tentang peristiwa yang dialami sebagian orang awam terkait ibadah shalat atau ibadah yang bersifat fardhu ain lainnya maka ia tidak dapat menjawabnya dengan tepat bahkan mungkin ia tidak mengerti dengan baik maksud pertanyaan si penanya."[9]

Imam Malik menyatakan:"Aku tidak berani berfatwa sebelum aku mendapatkan tujuh puluh rekomendasi berfatwa. Aku tidak berfatwa hingga aku meminta tanggapan dari Rabi'ah dan Yahya ibn Said dan kedua menyuruhku berfatwa. Sekiranya mereka melarangku niscaya aku tidak berfatwa."[10]

Al-Qarafi berkomentar:"Fatwa merupakan pintu yang sangat lebar, ia memerlukankearifan yang besar dan kewaspadaanyang ekstra, bakat yangtinggi, danlatihan yang cukup,serta bantuan dariAllahTa'ala."[11]

Jika kondisi ini telah mendapat perhatian serius pada masa klasik maka seharusnya persoalan ini mendapat perhatian yang lebih serius di zaman telah banyak berkembang dan berubah-ubah ini.

Karena kebanyakan realita keilmuan mujahid itu lemah akibat sibuk latihan fisik dan  perang, sedang aplikasi hukum-hukum fiqh terhadap realita kehidupan termasuk perkara rumit, maka seorang mujahid sangat perlu diingatkan untuk banyak berkonsultasi dan meminta fatwa kepada para ahli ilmu. Ia harus mengalahkan pendapatnya di hadapan pendapat para ulama, dan mengikuti pendapat mereka. Karena Allah telah memerintahkan hal itu dalam firman-Nya:

{فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إن كُنتُمْ لا تَعْلَمُون}  [النحل: 43]

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.(QS. An-Nahl: 43).

Ketika Rasulullahshallallah alaihi wasallamberundingdengan orang-orang Mekah untukmelakukan gencatan senjata selamasepuluh tahun, dengan ketentuan bahwa setiap orang yang datang berislam kepada Nabi harus ditolak, maka Umar ibn Khattabradhiyallahu anhuprotes kepada Nabishallallah alaihi wasallamdan menyatakan: Ya Rasulullah! Bukankah Engkau benar-benar seorang Nabi? Nabi menjawab: Benar, aku seorang Nabi. Umar melanjutkan pertanyaannya: Bukankah kita berada di atas kebenaran sedang musuh kita berada di atas kebatilan? Nabi menjawab: Iya, benar. Umar berkata: Kalau demikian, kenapa kita rela menerima kehinaan dalam persoalan agama kita. Nabi menegaskan:"Sungguh aku adalah rasul Allah, dan aku tidak akan menyelisihi-Nya."[12]

DalamShahih Bukhari, Abu Wail berkata: Ketika Sahl ibn Hunaif kembali dari perang Shiffin, maka kami mendatanginya untuk mendengarkan informasi daripadanya. Lalu Shal menegaskan: "Tinggalkan pendapat pribadimu, sungguh aku bangga dengan pendapat pribadiku pada saat perang Abi Jandal. Sekiranya aku dapat menolak perintah Rasulullahshallallah alaihi wasallampada waktu itu niscaya aku menolaknya. Sedang Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu."[13]

Prinsip-prinsip Aplikasi Hukum-hukum Jihad

Prinsip-prinsip yang akan dikemukakan dalam artikel ini hanya sebagian saja. Oleh karena itu maka peluang untuk mengembangkannya tetap terbuka. Prinsip-prinsip ini merupakan arahan yang dapat membantu untuk aplikasi yang lebih ideal.

Akan tetapi tulisan ini bukanlahpenggantidari kemampuan diri untuk memahami,kekuatanketangkasan, dan keselamatanjiwauntuksampai kepadapemahaman yang tepat danaplikasi hukum syariatIslam.Oleh karena itu, ia bukanlah pengganti untuk aplikasi ilmu pengetahuan dan menimba ilmu dari tangan para ulama.

Anda dapati tulisan iniakan menyinggung persoalan perang secara global.

Pertama,argumentasi dan pembatasan hukum dalam pembahasan jihad dibangun atas kemaslahatan

Kendati kebanyakan permasalahan dalam pembahasan jihad bersifatqath'i/pasti dan tidak dapat diotak-atik lagi. Seperti permasalahan loyalitas dan anti loyalitas, perbedaan antara negeri kafir dan negeri Islam, perlunya jihad opensif dan depensif secara syar'I, dan lain-lain, tetapi tinjauan maslahat tetap tampak dan kental dalam hukum-hukum fiqhnya. Teori ini hendaknya lebih tampak dalam penerapan hukumnya terhadap realialitas yang ada.

Meski penetapan tinjauan maslahat sebagai suatu dalil independen masih diperselisihkan di kalangan para ahli ushul fiqh, tetapi penerapannya dalam banyak permasalahan jihad tampak jelas sebagai dalil yang dipakai oleh semua kalangan, termasuk kalangan yang tidak menyetujuinya sebagai dalil independen. Demikian juga oleh kalangan yang tidak menyetujuinya sebagai unsur pengikat dalil yang bersifat mutlak.

Dalil maslahat yang dimaksud mengandung upaya mendatangkan dan mewujudkan kemaslahatan, menolak dan menghilangkan mafsadat, mengukur tingkat maslahat dan mafsadat sesuatu. Termasuk ketentuan dalam kacamata syariat bahwa setiap hal yang maslahatnya lebih dominan maka harus diwujudkan dan setiap perkara yang mafsadatnya lebih banyak maka ia tercela.

Ketentuan tersebut harus bertolak dari kacamata syariat. Karena kemaslahatan tersebut dimaksudkan untuk menjagamaqasid/tujuan umum syariat. Sedangmaqasidsyariat hanya diketahui melalui dalil Al-Quran, sunnah dan ijma'.

Dengan demikian, setiap maslahat yang tidak bertolak dari upaya menjaga salah satumaqasidyang dipahami dari Al-Quran, sunnah dan ijma', apalagi jika maslahat tersebut termasuk maslahat yang asing dan tidak sejalan dengan nilai-nilai syariat maka ia dipandang sebagai malsahat batil dan tertolak.[14]

Di antara aplikasi kaedah tersebut dalam cabang-cabang fiqh adalah sebagai berikut:

-        Pembatasan nas yang menjelaskan bahwazimmahkaum muslim itu dianggap satu dan diusung oleh semuanya termasuk yang terendah di antara mereka. Nas ini dibatasi bahwa itu hanya berlaku untuk kalangan pribadi atau jumlah terbatas seperti rombongan kecil atau benteng pertahanan kecil saja. Karena pemberlakuan nas tersebut secara mutlak dapat berimplikasi kepada pembatalan kewajiban jihad dan hilangnya hak pengambilan kebijakan bagi pemimpin dalam urusan perdamaian.[15]

-        Demikian juga perintah hijrah dari negeri kafir dibatasi dengan ketentuan bahwa jika keberadaan mereka di negeri tersebut tidak membawa maslahat bagi kaum muslim.[16]

-        Dan pembatasan persyaratan izin pemimpin bagi seorang muslim untuk ikut berjihad dengan pembatalan persyaratan tersebut saat kondisi negeri yang dihuni oleh muslim tersebut diserang kaum kafir.[17]

Dengan demikian kita dapati bahwa kaedah kemasalatan ini memiliki porsi aplikasi dalam pembahasan jihad.

Kaedah ini melahirkan ketentuan berikut:

1.         Pandangan perporsional terhadap penjelasan para fuqaha dalam pembahasan jihad. Jika penjelasan tersebut dibangun di atas landasan maslahat maka dalam pengaplikasiannya hendaknya maslahat tersebut dijaga agar tidak hilang. Maslahat tersebut tidak boleh hilang hanya karena ada mafsadat lebih besar, atau karena maslahat tersebut dapat menghilangkan masalahat yang lebih penting, atau karena masalahat tersebut tidak mampu mewujudkan maslahat yang menjadi tujuan. Tiga ketentuan ini harus diperhatikan.

2.         Selama unsur kemaslahatan ini ditekankan dalam fiqh teoritis jihad, kendati harus mengorbankan kemutlakan dan keumuman nas dengan membawanya kepada makna tepat yang diketahui sebagai tujuan syariat, maka hal ini menjadikan aplikasi hukum-hukum jihad tunduk kepada kemaslahatan besar yang menjadi tujuan syariat meski terpaksa harsu mengorbankan nas-nas parsial.

Ketentuan ini didukung oleh praktek Umar ibn Khatthab di bumiSawad. 

Hanya sajai'tibarmasalahat ini termasuk persoalan rumit, utamanya bagi yang belum mendalam ilmunya, dan tidak istiqamah pribadi dan akhlaknya. Karenanya, persoalan ini sering menjadi sumber terjadinya kesalahan sikap dan pemahaman. Orang yang tidak memandang dengan cahaya syariat dan taufiq Allah niscaya tersesat dan keluar dari kebenaran.

Kedua,jihad terikat dengan berbagai perjanjian dan fiqh realita politik

Kita harus memahami berbagaikonsekuensi dan memperhatikan segalakontrak dan perjanjian. Oleh karena itu, makamungkinsaja jihaddiperlukanuntuk membela orangkafirmu'ahad, sebaliknya bisa saja jihad untuk membela seorang muslim dan ahli tauhid terlarang.

Ibn Qayyim menegaskan:

"Petunjuk dan sunnah Nabishallallahu alaihi wasallamapabila melakukan perjanjian dan memberikan suaka kepada suatu kaum, lalu kaum yang lain turut ikut dalam perjanjian tersebut, maka memerangi orang yang turut dalam perjanjian tersebut sama dengan memerangi Nabi. Dengan sebab ini, beliau memerangi penduduk Makkah. Karena mereka telah mengadakan perjanjian gencatan senjata selama sepuluh tahun. Dalam masa itu Bani Bakar ibn Wail bersekutu dengan Quraisy, sedang Khuza'ah bersekutu dengan Rasulullahshallallahu alaihi wasallam. Kemudian Bani Bakar menyerang Khuza'ah dengan bantuan amunisi dari Quraisy hingga berhasil membunuh sebagian di antara qabilah Khuza'ah. Atas dasar itu maka Rasulullah menganggap Quraisy telah melanggar perjanjian damai dan membolehkan memerangi Bani Bakar karena telah memerangi sekutunya.[18]

Waktu itu, tidak semua penduduk Khuza'ah beragama Islam. Pembelaan kepada mereka bukan karena keislamannya tetapi karena perjanjian sekutu dengannya. Dalam bait syair salah seorang di antara mereka dikatakan:

يَا رَبّ إنّي نَاشِدٌ مُحَمّدًا                         حِلْفَ أَبِينَاوَأَبِيهِ الْأَتْلَدَا

Wahai Rabb, sungguh aku menyeru Muhammad,

Sekutu orang tua kami dan orang tuanya yang beranak pinak.[19]

Sebaliknya AllahTa'alaberfirman:

{وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُم مِّن وَلايَتِهِم مِّن شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُوا وَإنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إلَّا عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ }[الأنفال: 72].

Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Anfal: 72).

Artinya janganlah kalian menolong orang-orang muslim yang meminta bantuan untuk melawan orang-orang kafir yang telah kalian berikan perjanjian damai dengannya sebagai bentuk kesetiaan kepada perjanjian tersebut.

Thahir ibn Asyur menafsirkan firman Allah yang artinya:"Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama."

Bahwa jika mereka meminta pertolongan dalam urusan agama, yaitu untuk menghilangkan fitnah dalam urusan agama mereka saat orang-orang musyrik memaksa mereka kembali kepada kesyirikan maka wajib menolong mereka. . . Ini adalah suatu kewajiban. Apakah terdapat orang-orang yang terang-terangan meminta pertolongan atau tidak, jika sebab-sebab peperangan itu terpenuhi.

Allah menjadikan permintaan tolong kaum muslim yang belum hijrah itu salah satu sebab disyariatkannya jihad. . .

Pengecualian dalam firman-Nya:"Kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka."Pengecualian yang terkait dengan pertolongan orang yang akan ditolong. Alasannya adalah karena perjanjian itu mengharuskan untuk tidak memerangi mereka kecuali jika mereka melanggar janji. Sedang perjanjian dengan kaum muslim tidak terikat kecuali dengan kaum muslim yang memiliki entitas dan negera yang berdaulat yang pada waktu itu adalah kaum Muhajirin dan Anshar.

Adapun orang-orang yang telah masuk Islam sedang mereka belum berhijrah maka kaum muslim tidak bertanggung jawab membela mereka. Kaum muslim tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada diri mereka. Karena mereka tidak mewakili jamaah kaum muslim yang berdaulat. Sehingga apa yang terjadi antara orang-orang kafirmu'ahaddengan orang-orang muslim yang berdomisili dan tidak berhijrah dari negeri-negeri kafir maka tindakan orang-orang kafir tersebut tidak dipandang sebagai bentuk pelanggaran terhadap perjanjian damai dengan kaum muslim. Karena mereka dapat berkilah bahwa kami tidak mengetahui saat kami mengikat perjanjian dengan kalian bahwa mereka itu adalah bagian dari kalian kaum muslim.

Sedang firman-Nya:"Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."Merupakan ancaman bagi kaum muslim agar tidak terbawa oleh perasaan kasihan kepada orang-orang muslim untuk memerangi kaum yang telah terikat perjanjian dengan mereka.

Ancaman ini mengindikasikan perlunya menjaga kesetiaan terhadap perjanjian dan bahwa perjanjian tersebut tidak lepas kecuali dengan sesuatu yang sangat jelas."[20]

Hal demikian dapat dijumpai dalam ketetapan-ketetapan para fuqaha yang menegaskan nilai dari identitas seorang muslim dan komitmennya terhadap janjinya.

Kaedah ini melahirkan ketentuan berikut:

1.      Tidak boleh menetapkan sesuatu yang bertentangan atau melanggar butir-butir perjanjian.

2.      Tidak boleh menjadikan perasaan kasih sayang kepada orang-orang muslim sebagai alasan untuk melanggar perjanjian, kecuali dengan cara yang prosedural yaitu jika lawan melanggar perjanjian terlebih dahulu.

Ketiga, ektra hati-hati dalam urusan darah termasuk darah orang kafir

Kendati jihad itu identik dengan peperangan tetapi di dalam syariat Islam tidak dapat lepas dari nilai-nilai kasih sayang dan ihsan. Aplikasi jihad dalam Islam berjalan di atas realitas ini.

Syaddad ibn Ausradhiyallahu anhumenceritakan bahwa Rasulullahshallallahu alaihi wasallambersabda:"Sesungguhnya Allah tetap menetapkan kewajiban berbuat ihsan atas segala sesuatu, maka jika kalian membunuh maka berbuat ihsanlah terhadap yang dibunuh."[21]

Abdullah ibn Mas'udradhiyallahu anhujuga menceritakan bahwa Rasulullahshallallahu alaihi wasallambersabda:"Orang yang paling lembut dalam membunuh adalah orang-orang beriman."[22]

Oleh karena itu maka tindakantamtsilorang-orang terbunuh,membunuhperempuan dan anak, danmemusnahkanternak, semuanya dilarangdalam peperangan. Peperangan  tidak berarti bahwa martabat manusia dan kemanusiaannyadapat dinjak-injak padahal Allah telah berfiman:"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam."(QS. Al-Isra': 70).

Bahkan Allah telah perintahkan berbuat ihsan kepada para tawanan perang dalam firman-Nya:

{وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا}[الإنسان: 8]

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.(QS. Al-Insan: 8).

Al-Baidhawi menafsirkan fiman-Nya:"orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan"bahwa"Mereka itu adalah orang-orang kafir yang ditawan, karena jika tawanan itu dibawa kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam maka beliau menyerahkannya kepada sebagian sahabatnya seraya berwasiat:"Berbuat ihsanlah kepadanya."Atau orang mukmin yang ditawan, termasuk di dalamnya hamba sahaya dan orang yang dipenjara, sebagaimana dalam hadits:"Orang yang berutang padamu adalah tawanan maka berbuat baiklah kepada tawananmu."[23] 

Ketetapan-ketetapan para fuqaha juga berjalan di atas kaedahektra hati-hati dalam urusan darah.

Ibn Qudamah menegaskan:

"Barang siapa meminta suaka, jaminan keamanan dengan kompensasi akan membuka pintu benteng pertahanan kafir lalu mereka benar-benar membukanya kemudian setiap orang di antara mereka (kaum muslimin) mengatakan: Aku memberikan jaminan keamanan, maka tidak boleh seorang pun di antara musuh itu dibunuh. Alasannya adalah jika kaum muslim mengepung benteng pertahanan musuh, lalu salah seorang di antara musuh tersebut berteriak: Beri aku jaminan keamanan, niscaya aku buka pintu untuk kalian! Maka boleh bagi kaum muslim memberinya jaminan keamanan.

Karena pada waktu pasukan Ziyad ibn Labid mengepung benteng Nujaer, Asy'ats ibn Qais berteriak: "Beri aku jaminan keamanan untuk sepuluh orang niscaya aku akan buka benteng buat kalian! Lalu mereka pun melakukannya.

Apabila yang memberi jaminan keamanan tidak mengetahui person yang ia telah beri jaminan dan diklaim oleh semua orang yang berada di benteng tersebut, maka apabila ia berhasil mengetahuinya maka jaminan tersebut harus benar-benar diberikan kepada person tersebut. Tetapi jika ia tidak mampu mengetahui personnya maka tidak boleh seorang pun di antara mereka di bunuh. Karena setiap orang di antara mereka mungkin benar-benar jujur. Sedang dalam kondisi ini telah berbaur antara yang boleh dibunuh dan yang haram dibunuh tanpa unsure darurat maka diharamkan semuanya dibunuh.

Kasus seperti ini sama dengan kondisi berbaurnya antara bangkai dan sembelihan, atau berbaurnya antara saudari seseorang dengan wanita asing baginya, atau berbaurnya antara pezina laki-laki yang muhsan dengan laki-laki suci.

Imam Syafi'I berkomentar dalam hukum tersebut: "Aku tidak mengetahui adanya khilaf dalam hal ini."[24]   

Termasuk dalam kasus ini adalah orang telah putus perjanjiannya dengan kaum muslim, konsekwensi putusnya perjanjian tersebut tidak berlaku atas istri dan anak-anaknya, padahal saat perjanjian tersebut masih berlaku konsekwensinya berlaku juga untuk istri dan anak-anaknya.

Demikian pula, orang kafir yang memasuki negeri kaum muslim tanpa jaminan keamanan, karena biasanya mereka masuk tanpa perlu jaminan tersebut, maka mereka tidak boleh diganggu.

Kaedah ini melahirkan ketentuan berikut:

1.      Kondisi perang tidak cukup menjadi alasan yang membolehkan untuk menumpahkan darah manusia dan merampas hartanya meski ia termasuk kelompok kafirmuharib, maka harus bersikap ekstra hati-hati,  kecuali jika terdapat bukti meyakinkan.  Jika seorang pejuang muslim ragu maka hendaklah ia bertanya kepada ulama. Kalau ia sendiri atau pasukan muslim lainnya tidak dapat berkomunikasi dengan para ulama maka ia harus menahan diri dan tidak boleh membunuh musuhnya kecuali dengan bukti yang meyakinkan.

2.      Pentingnya menerapkan nilai-nilai kasih sayang dan ihsan dalam kondisi aman dan kondisi perang, dan berpaling dari sikap angkuh dan ambisi menang. Karena pada saat kepala seorang penguinyang telah dipenggal  dibawa ke hadapan Abu Bakar, ia mengingkarinya. Lalu dikatakan kepadanya: Wahai Khalifah Rasulullah, mereka melakukan hal demikian terhadap kami. Lalu Abu Bakar berkata: Itu adalah tradisi Persia dan Romawi. Jangan lagi ada kepala yang dipenggal dibawa ke hadapanku. Cukup dengan surat dan informasi disampaikan kepadaku.[25]

Keempat,bolehnya peperangan tidak otomatis boleh membunuh

Peperangan dapat dilakukan dengan alasan membela diri atau untuk memaksa pihak lain untuk mengikuti atau menerapkan suatu hukum dan ketetapan. Sedang membunuh tidak dibolehkan kecuali jika syarat-syaratnya terpenuhi.

Renungkan misalnya; seorang kafir boleh dibunuh saat peperangan terjadi, tetapi jika ia menjadi tawanan perang maka ia tidak boleh dibunuh kecuali berdasarkan ketentuan hukum tawanan.

Ibn Qudamah berkomentar:"Jika seorang muslim membunuh tawanannya, atau tawanan orang lain maka ia telah berbuat buruk dan dosa."[26]

Ibn Hajar menyatakan:

"Abu Bakar ash-Shiddiq telah memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat tetapi tidak terdapat satu pun keterangan bahwa ia membunuh salah seorang di antara mereka di luar peperangan. . . Ibn Daqiq al-'Ied dalam kitabal-Umdah  sangat panjang menjelaskan pengingkarannya terhadap orang yang beristidlal dengan hadits  ini. Ia menegaskan:  'Bolehnya peperangan tidak otomatis boleh membunuh, karena peperangan dalam bahasa Arab disebut dengan shigatmuqatalahsetimbang denganmufa'alah yang mengindikasikan adanya dua kubu yang saling berperang dan membunuh. Sedangqatl/membunuh tidak demikian.

Imam al-Baihaqi menukil dari Imam Syafi'i bahwa ia berkata:"Perang tidak sama dengan membunuh karena seseorang kadang kala boleh diperangi tetapi tidak boleh ia dibunuh."[27]

Para fuqaha menegaskan bahwa orang yang membunuh musuh yang lari sedang ia dilarang memburuhnya maka ia harus menanggung diyatnya.

Ibn Qudamah mencatat tentang orang-orangbugat/pemberontak:

"Jika seseorang membunuh orang yang dilarang dibunuh maka ia harus menanggung diyatnya, karena ia telah membunuh jiwa yang terlindungi yang tidak disuruh bunuh. . .   . Adapun orang yang tawan dari mereka, maka apabila ia menyatakan siap untuk taat maka hendaknya ia dilepas. Tetapi jika ia tidak siap tunduk dan taat sedang ia adalah orang yang perkasa dan termasuk di antara anggota pasukan perang maka ia harus ditawan dan dipenjara selama peperangan berlangsung. Namun apabila peperangan telah berakhir maka ia harus dibebaskan dengan mengambil janjinya untuk tidak turut kembali dalam peperangan lainnya. Adapun jika tawanan tersebut bukan anggota pasukan perang seperti ibu-ibu, anak-anak dan kakek-kakek maka mereka langsung dibebaskan tanpa dipenjara menurut salah satu pendapat dalam mazhab Hanabilah.

Apabila para pemberontak itu membunuh tawanan dari masyarakat, masyarakat tidak boleh membunuh tawanan dari kalangan mereka. Karena mereka tidak boleh dibunuh dengan alasan tindakan jinayat orang lain dan mereka tidak menanggung dosa orang lain.[28]

Kelima,tidak setiap orang berhak menjadi penengah dalam perang fitnah

Perang fitnah adalah peperangan yang terjadi antara dua kubu muslim yang masing-masing tidak memiliki dasar yang kaut, dan tidak diketahui kubu mana yang benar di antara keduanya. Termasuk pula peperangan yang terjadi akibat perebutan kekuasaan. Perang jenis ini tidak disyariatkan.

Sikap yang wajib diambil saat terjadi perang fitnah adalah menjauhi peperangan tersebut dan tidak terlibat pada salah satu di antara kubu yang berperang.

Ibn Taimiyah menegaskan:"Di antara prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah komitmen terhadap jama'ah kaum muslim, tidak memerangi dan berontak kepada pemimpin, dan menjauhi perang fitnah."[29]

Ahnaf ibn Qais menceritakan pengalamannya: "Aku keluar untuk memerangi orang ini, (yakni Mu'awiah, pent.), lalu aku dijumpai Abu Bakrah dan bertanya kepadaku: Hendak kemana engkau wahai Ahnaf? Aku jawab: Aku ingin menolong sepupu Rasulullahshallallahu alaihi wasallamyakni Ali. Maka Abu Bakrah berkata kepadaku: Kembalilah wahai Ahnaf, karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullahshallallahu alaihi wasallambersabda: "Jika dua orang muslim berhadap-hadapan dengan masing-masing membawa pedang maka yang membunuh dan yang terbunuh masuk neraka."Ia menyatakan, aku bertanya atau ditanyakan kepada Rasulullah, ini balasan yang pantas bagi pembunuh tetapi bagaimana dengan yang terbunuh? Rasulullah menjawab:"Sesungguhnya ia juga berambisi membunuh lawannya."[30]

Ahban ibn Shaifiradhiyallah anhumenyatakan bahwa Ali ibn Abi Thalibradhiyallah anhupernah menyampaikan kepadanya bahwa: Kekasihku telah berwasiat kepadaku, dan sepupumu, yakni Rasulullahshallallahu alaihi wasallambersabda: "Akan terjadi perang fitnah dan perpecahan. Apabila hal itu terjadi maka patahkan pedangmu dan gantilah dengan pedang dari kayu."[31]

Sikap inilah yang diambil oleh para shahabat. Ibn Taimiyah mengomentari sikapnya:"Mereka tidak berselisih dalam memerangi kelompok Khawarij sebagaimana mereka berselisih dalam menyikapi fitnah pada perang Jamal dan perang Shiffin. Pada waktu itu mereka terbagi tiga kelompok. Satu kelompok bergabung kepada salah satu di antara dua kubu, kelompok kedua bergabung dengan kubu lawannya, sedang kelompok ketiga bersikap abstain dan tidak ikut peperangan. Nas-nas yang ada mentarjih sikap kelompok yang ketiga ini."[32]

Atas sikap ini pula hendaknya hadist-hadits tentanguzlahdiberlakukan dan jiwa harus dijauhkan dari sumber-sumber fitnah.

Pemimpin kaum muslim atau yang menempati posisi yang sama dengannya dalam hal kedudukan, kemampuan dan kekuatan berkewajiban mendamaikan dua kubu yang berperang dan mengajak mereka menghentikan pertikaian. Sebagaimana firman Allah:

{وَإن طَائِفَتَانِ مِنَ الْـمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإن بَغَتْ إحْدَاهُمَا عَلَى الأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإن فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْـمُقْسِطِينَ}[الحجرات: 9].

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.(QS. Al-Hujurat: 9).

Tugas mengajak dan mendamaikan ini tidak dibebankan kepada setiap orang karena tidak akan berguna kecuali dari orang yang memiliki pengaruh.

Thahir ibn Asyur menulis: "Cap pemberontak resmi jika disampaikan oleh ahli ilmu bahwa kelompok ini berontak kepada kelompok lain, atau dicap oleh seorang khalifah yang alim lagi istiqamah, atau dengan berontak dan enggan taat kepada khalifah dan keluar dari jama'ah kaum muslim. Yaitu  dengan menggunakan senjata jika khalifah itu memerintah tanpa kezaliman dan tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah dalam pembangkangan kepadanya. Karena akibat buruk dari fitnah itu lebih besar dari kezaliman selain menghilangkan kemaslahatan umum kaum muslim. Hal itu karena keengganan taat kepada khalifah termasuk pemberontakan terhadap jama'ah yang mendukung khalifah."[33]

Saat fitnah terjadi, Imran ibn Hushain berkata kepada Hujair ibn Rabi' al-Adawi: "Datangilah kaummu dan cegahlah mereka dari fitnah. Hujair menjawab:"Sunguh aku tenggelam dan tidak memiliki pengaruh di tengah mereka."[34]

Para fuqaha telah menegaskan bahwa selama tidak terdapat pemimpin menyerukan perdamaian kemudian memerangi kelompok yang berontak maka wajib menjauhi fitnah tersebut. Karena kalau tidak demikian maka akan muncul kelompok yang pro  dan membela masing-masing kubu bertikai dan peperangan akan terus berlanjut.[35]

Kaedah ini melahirkan ketentuan berikut:

Ajakan untuk berdamai dan semacamnya yang terkait dengan hukum syar'i berupa kebolehan perang tidak tepat dilakukan oleh person biasa. Tetapi seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin yang disegani, atau sosok lain yang disegani karena keahlian dan kemampuannya. Adapun jika ajakan damai tidak terkait dengan hukum tersebut maka dituntut dilakukan oleh setiap orang, karena termasuk di antara bentuk amar makruf.


 


·Seorang Hakim di Kantor Pengadilan Riyadh.


[1] HR. Bukhari, No. 71, dan Muslim, No. 2356.

[2] HR. Bukhari, No. 143, dan Muslim, No. 6451.

[3]Al-Tahrir wa al-Tanwir, Juz VI, hal. 404.

[4]Mawahib al-Jalil, Juz VI, hal. 87.

[5]Tafsir al-Sa'diy, Juz I, hal 355.

[6] Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah,al-Mushannaf, Juz IV, hal. 214; Abu Ya'la, Juz XIII, hal 111; Imam Ahmad,Fadhil al-Shahabah, Juz II, hal. 814; Abu Ubaid al-Qashim ibn Sallam,Fadhail Al-Quran, hal 254 , semua melalui jalur Qais ibn Abi Hazim, ia menyatakan: Aku pernah  mendengar Khalid berkata: . . . lalu menyebutkan perkataannya. Dan dishahihkan oleh Ibn Hajar dalamal-Mathalib al-'Aliyah, Juz IV, hal. 277; dan al-Haetsami dalamMajma' al-Zawaid, jiz IX, hal. 353.

[7]Al-Muwafaqat, Juz I, hal. 96.

[8] Juz I, hal. 220.

[9] Lihat:al-Mi'yar al-Muarrab, Juz X, hal 79.

[10] Abu Nu'aim,al-Hilyah, Juz VI, hal, 345.

[11]Al-Ihkam fi Tamyiz al-Fatawa 'an al-Ahkam, hal. 28.

[12] Lihat: Zaad al-Ma'ad, Juz III, hal. 263.

[13]  HR. Bukhari, No. 2944.

[14] Disadur dari al-Gazali,al-Mustashfa', Juz I hal. 449.

[15]Al-Syarh al-Kabir 'ala al-Muqni', Juz X, hal. 433.

[16]Kassyaf al-Qina', Juz III, hal 342.

[17] Ibid

[18]Zaad al-Ma'ad, Juz III, hal. 124.

[19] Ibid, Juz III, hal. 347.

[20]Al-Tahrir wa al-Tanwir, Juz VI, hal 206.

[21] HR. Muslim, No. 5096.

[22] HR. Abu Daud, No. 2666; Ibn Majah, No. 2682.

[23]Tafsir al-Baidhawi, Juz V, hal. 352.

[24]Al-Mugni, Juz XII, hal 15.

[25] Disadur dari Ibn Qudamah,al-Mugni, Juz XII, hal 192.

[26] Ibid, Juz XX, hal. 471.

[27]Fath al-Bari, Juz I, hal 41.

[28]Al-Mugni, Juz XII, hal 428.

[29]Majmu' Fatawa ibn Taimiyah, Juz VI, 337.

[30] HR. Muslim, No. 7355.

[31] HR. Ahmad, Juz V, hal 69; al-Tirmidzi, No. 2203, dan ia menyatakan:hadits hasan garib.

[32]Majmu' Fatawa ibn Taimiyah, Juz I, 283.

[33]Al-Tahrir wa al-Tanwir, Juz XIV, hal 17.

[34] Diriwayatkan oleh Tabrani, lihat: Majma' al-Zawaid, Juz VII, hal 299, dan ia menyatakan:rijalnya adalah rijal kitab shahih.

[35] Lihat:Bada'i' al-Shana'i', Juz VII, hal. 140; Ibn al-'Arabi,Ahkam Al-Quran, Juz IV, hal. 1709;Subul al-Salam,Juz IV, hal. 40.

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir