Takut Kepada Allah

30/06/2014 0:00:00
الشفيع الماحي أحمد Jumlah kali dibaca 1147

Takut Kepada Allah


Dr. Syafie' el-Mahi Ahmad

Takut adalah karakter  alami  yang ditanamkan Allah dalam setiap jiwa sebagai fitrahnya. Pada dasarnya takut muncul akibat dua hal. Pertama, prediksi akan bahaya atau perkara buruk yang akan menimpa.Kedua,menanti  terjadinya perkara yang senantiasa dihindari, baik ia yakin atau ragu terhadapnya. Baik prediksi atau penantian, keduanya berhubungan dengan masa mendatang.

Khauf/takut adalah reaksi jiwa yang menyebabkan hati tidak stabil dan kontra terhadap apa yang dirasakan oleh jiwa. Sebab,  jiwa akan terkejut dan panik saat merasakan sesuatu yang tidak sejalan dengannya, sehingga hati menjadi sempit atau gelisah. Sebaliknya, jika jiwa sejalan dengan perkara yang tidak ditakuti atau dibenci, maka hati akan tetap stabil dan merasa aman. Rasa aman akan menggantikan rasa takut  ketika tidak ada perkara buruk yang akan mengancam.

Takut kepada Allah berbeda dari dua hal di atas. Ia tidak berhubungan dengan perkara buruk yang diprediksi akan terjadi, atau melindungi diri dari perkara yang wajib dihindari. Takut kepada Allah esensinya adalah manifestasi wajib dari rasa takut itu sendiri, yakni dengan menjauhi maksiat, memilih ketaatan serta  konsisten di dalamnya untuk selamanya.

AllahAzza wa Jallaberfirman:

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.(QS. Ali Imran:175)

Maksudnya, janganlah kalian melakukan maksiat karena takut kepada makhluk ciptaan Allah, akan tetapi karena takut kepada Allah, maka jauhilah semua maksiat dan bersegeralah menuju ketaatan dengan sungguh-sungguh dan penuh ketulusan.  Tidak dianggap takut kepada Allah, orang yang enggan meninggalkan maksiat.

Dalam beberapa ayat disebutkan bahwa Allah menakut-nakuti hamba-Nya, seperti firman Allah:

Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allahmempertakutihamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertaqwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku.(QS. az-Zumar:16)

Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untukmenakuti.(QS. al-Isra': 59)

Maksudnya adalah untuk mendorong mereka melakukan ketaatan dan bersungguh-sungguh melestarikannya. Sehingga takut kepada Allah menjadi kondisi abadi yang terpatri dalam jiwa setiap muslim, yang terus menambah kedekatannya kepada AllahTa'ala.

Dalam ayat lain disebutkan kataal-khifah, yang secara Bahasa mengindikasikan sebuah kondisi tertentu, namun pada hakikatnya tidak demikian. AllahTa'alaberfirman:

Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan'khifah'/rasa takut, dan dengan  tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(QS. al-A'raf: 205)

Khifahdi sini adalah reaksi jiwa yang dirasakan oleh seorang mukmin dalam hati sanubarinya, akibat rasa pengagungan yang tinggi terhadap Dzat yang sedang dihadapi dalam do'anya. Karenanya,khifahdiumpamakan sebagai rasa takut yang disertai pengagungan kepada Allah, dan berdampak pada suara yang merendah lagi khusyu'.

Adapunkhifah yang berhubungan dengan malaikat dalam firman Allah:

Dia-lah Rabb yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karenakhifah/takutkepada-Nya(QS. ar-Ra'd:12-13)

Maksudnya bahwa malaikat mensucikan dan mengkultuslan Allah karena rasa takut kepada-Nya, atau khawatir Allah tidak ridha kepada mereka. Rasa takut ini merupakan sifat asli malaikat yang tidak akan lenyap selamanya.

Intinya,  takut kepada Allah adalah kombinasi antara usaha keras untuk menjauhi perkara yang diharamkan, dengan kehatia-hatian super tinggi menjaga jiwa agar tidak terjerumus ke dalam kubangan maksiat dan keburukan. AllahSubhanahu wa Ta'alamenegaskan:

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nyatakutakan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.(QS. an-Nur: 63)

Dalam ayat ini, takut bermakna peringatan agar berhati-hati dengan menjaga diri dari pelanggaran karena takut kepada Allah. Sehingga seorang mukmin senantiasa siaga dari perkara yang ditakuti akan terjadi nantinya, baik ia yakin perkara tersebut benar-benar akan terjadi atau sekedar prediksi kuat.

Dalam ayat lain peringatan tersebut dipertegas:

Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. DanAllah memperingatkan kamuterhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).(QS. Ali Imran: 28)

Dalam ayat ini Allah memperingatkan kita agar senantiasa takut kepada Dzat-Nya Yang Maha Tinggi, agar rasa takut tersebut tetap hadir pada setiap saat dan kondisi. Sebab, jika perintahnya agar  takut dari kemarahan Allah semata, seseorang boleh saja berkilah bahwa ridha Allah lebih tinggi, sehingga tidak mengapa jika sengaja melanggar larangan-Nya.

Sedangkan peringatan yang ditujukan kepada kaum mukmin dalam firman Allah:

Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.(QS. Ali Imran: 30)

Peringatan ini ditujukan hanya kepada hamba-hamba Allah yang beriman, sebagai indikasi bahwa mereka terhindar dari pelanggaran tersebut, meski kemungkinannya tetap ada. Peringatan ini adalah demi maslahat mereka sendiri, lantaran itu Allah menutup ayat ini dengan  firman-Nya;Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.

Peringatan tersebut ditegaskan lagi dengan bahasa yang lebih lugas. AllahTa'alaberfirman:

Dan Al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur'an (kepadanya).(QS. al-An'am: 19)

Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala.(QS. al-Lail: 14)

Allah memberi peringatan kepada hamba-Nya hanya demi kebaikan mereka sendiri.  Jika perkara yang ditakuti begitu besar, maka manfaat dari peringatan juga akan lebih besar. Lantaran itu Rasulullah adalah manusia yang paling besar pahalanya, karena beliau telah memperingatkan seluruh manusia dari azab AllahAzza wa Jallapada hari kiamat nanti.

Khaufdankhasyahadalah dua kata yang bersinonim, namun ada perbedaan tipis antara keduanya. Jikakhaufadalah rasa gelisah dan sakit di jiwa akibat dosa yang dilakukan dan kelalaian dari ketaatan, makakhasyahjuga adalah rasa gelisah dan sakit di hati, namun biasanya terjadi karena dua hal:

-          Terlalu banyak melakukan dosa atau meninggalkan kewajiban.

-          Saat mengetahui dan merasakan keagungan serta kebesaran AllahTa'ala.

Jadi,khasyahadalah rasa takut yang disertai pengagungan kepada Dzat yang ditakuti. Pengagungan tersebut muncul dari pengetahuan mendalam tentang Dzat yang ditakuti dan dari azab-Nya. Derajat,khasyahlebih tinggi daripada khauf.Karenanya,khasyahhanya dimiliki oleh para ulama. Firman AllahTa'ala:

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.(QS. Faathir: 28)

Allah mengaskan dalam ayat ini bahwa yang memiliki rasakhasyahkepada-Nya dari kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sedangkan orang berilmu, namun ilmu tersebut tidak ada korelasinya dengan pengetahuan tentang Allah dan manhaj-Nya, maka ilmu tersebut tidak akan mendekatkan mereka kepada rasakhasyahtersebut. Sebab orang yang mengenal Allah akan melihat jelas hakikat syariat, ia sadar akan akibat baik atau buruknya, maka ia berbuat hanya demi ridha Allah. Jika suatu saat ia terjatuh pada pelanggaran akibat nafsu atau kepentingan dunia, maka ia segera merasakan akan bahaya besar yang siap menantinya, lantas ia segera bertaubat dan meninggalkan kesalahannya.

Mayoritas ayat Al-Qur'an yang menyebutkan katakhasyahsecara umum, maka yang dimaksudkan adalah pengertian di atas. Di antaranya:

-          Firman Allah:

Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).(QS. Thaha: 1-3)

Ayat ini ditujukan kepada mereka yang ingin selamat dari azab akhirat, maksudnya mereka takut kepada Allah dari kesudahan mereka di akhirat nantinya.

-          Firman Allah:

Padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang-orang beriman.(QS. at-Taubah: 13)

Maksudnya, takutlah kepada Allah saat dalam jiwa kalian terbetik rasa tidak taat atau enggan menjalankan perintah-Nya.

-          Firman Allah:

(Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat,"(QS. Qaf: 33)

Dalam ayat ini katakhasyah  disebutkan untuk menjelaskan dampaknya, yakni karena takut kepada Allah  seseorang  akan melakukan ketaatan secara tulus tanpa mengharap pujian atau takut dari celaan.

Pengaruhkhasyahberupa kepatuhan pada perintah Allah tidak hanya terbatas pada manusia, tetapi benda mati juga bereakasi akibatnya. AllahTa'alaberfirman:

Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya, dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. (QS. al-Baqarah: 33)

Khasyahmembuat batu padas yang tidak memiliki hati itu pecah, hingga tunduk pada perintah kauniah AllahTa'ala.

Wajljuga termasuk salah satu sinonimkhauf. Bedanya,wajlbiasanya lebih samar darikhauf, sehingga seseorang lebih sering mengungkapkannya dengan kata-kata.Wajlbisa diartikan dengan takut yang berbaur dengan rasa malu, lawan dari tenang dan rasa aman. Perbedaan tipis ini telah dijelaskan dalam Al-Qur'an. Firman Allah:

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yangtakut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.(QS. al-Mukminun: 60)

Maksudnya, mereka melakukan amal shalih dan ketaatan seraya berusaha menyembunyikannya, mereka khawatir Allah tidak ridha akan amalan tersebut, atau takut jika tidak memperoleh sama seperti amal shalih orang lain. Karenanya mereka lebih bersungguh-sungguh lagi meningkatkan ketaatan.

Dalam ayat lain Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman  itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlahhati mereka.(QS. al-Anfal: 2)

Ketika nama Allah disebut, kaum mukmin juga terbayang akan pahala dan hukuman Allah. Kondisi ini membuat hati mereka bergetar dan gelisah, sehingga takut terkena azab atau tidak akan mendapat pahala. Sehingga mereka lebih semangat lagi berbuat baik dan menghindari murka Allah.

Kata lain yang mirip dengankhaufadalahrahbah.Rahbahsangat mirip denganwajl, hanya sajawajllangsung hilang saat penyebabnya hilang, sedangkanrahbahadalah takut yang bersifat permanen. Karenarahbah, seseorang selalu takut jatuh ke dalam maksiat, dan senantiasa melakukan ketaatan.Rahbahdapat dideteksi dengan adanya sesak di hati dan raut sedih di wajah.

AllahAzza wa Jallaberfirman:

Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).(QS. al-Baqarah: 40)

Firman Allah:

Dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Rabbnya.(QS. al-A'raf: 154)

Selanjutnya adalahfaza'.Faza'adalah rasa takut yang disertai dengan rasa terkejut. Kata ini lebih sering digunakan untuk menggambarkan kondisi manusia pada hari kiamat.

Saat mennyebutkan tiupan sangkakala, Allah berfirman:

Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, makaterkejutlahsegala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.(QS. an-Naml: 87)

Karena dahsyatnya tragedi di hari kiamat, manusia menjadi terkejut dan sangat takut. Peristiwa ini pasti terjadi, dan manusia benar-benar takut menghadapi peristiwa-peristiwa kiamat selanjutnya.

Dalam ayat lain Allah berfirman:

Dan tiadalah berguna syafa'at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa'at itu, sehingga apabila telah dihilangkanketakutandari hati mereka, mereka berkata: "Apakah yang telah difirmankan oleh Rabb-mu?" Mereka menjawab: "(Perkataan) yang benar", dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar .(QS. Saba': 23)

Pasa saat itu, Allah mengizinkan orang-orang baik untuk memperoleh syafa'at-Nya. Adapun orang-orang yang belum mendapat syafa'at, hati mereka takut dan galau sambil menunggu syafa'at dari Allah Yang Maha Pemurah. Maka ketika mereka juga memperoleh syafa'at, rasa takut tersebut langsung sirna dari hati dan merekapun bergembira ria. Sedangkan orang-orang yang sama sekali terhalang dari syafaat akan putus asa, dan hanya menanti azab yang siap menimpa mereka kapan saja.

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir