Definisi Istilah dalam Koridor Syariat

02/04/2014 0:00:00
محمد أمحزون Jumlah kali dibaca 790

Definisi Istilah dalam Koridor Syariat


Prof. Dr. Muhammad Amahzun

 

Invasi pemikiran Eropa Jahiliyah di era modern ini telah membawa dampak besar dalam mempengaruhi pemikiran banyak kaum Muslim. Akibatnya, kaum Muslim terseret jauh dari pemahaman yang benar terhadap Al-Qur’an dan Sunnah Nabishallallahu alaihi wasallam.

Kolonialisme Eropa telah mengupayakan, lewat saluran kurikulum, pendidikan dan doktrin ideologi; rekonstruksi pemikiran kaum Muslim agar sejalan dengan cara pandang Barat terhadap alam, manusia, dan kehidupan. Tujuannya, agar kaum Muslim terputus hubungannya dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Semenjak kita, bangsa-bangsa Muslim, terwarnai dengan pemikiran materialisme dan peradaban kaum Kafir yang dominan, maka pekerjaan kita adalah menuliskan kembali pemikiran dan mereproduksi gagasan Barat tapi dalam bahasa Arab/lokal. Kendati pemikiran dan gagasan tersebut jauh dari pedoman dan orisinalitas Al-Qur’an dan Sunnah.

Sebagaimana lemahnya pengaruh Islam dalam realitas kehidupan kaum Muslim dewasa ini sesungguhnya merupakan dampak dari miskonsepsi serta kebingungan dan pemutarbalikan pemahaman dengan konsep-konsep Barat yang menyerbu. Bahkan sebagian dari konsepsi Islam telah mengalami distorsi sehingga hampa dari esensinya yang sejati. Tak ayal, kaum Muslim mengalami keterbelahan personalitas dalam pemikiran dan tindakan.

Kondisi ini sendiri telah membawa perdebatan serta kontradiksi terhadap sesama dan internal umat Islam. Akibatnya, orisinalitas gagasan hilang dan persepsi yang lahir kacau sehingga dialog yang konstruktif dan membangun sulit tercapai. Itu sebabnya sehingga umat selalu mengalami perpecahan, tak ubahnya jebakan lingkaran rantai yang tidak dapat diurai untuk misi perbaikan dan pembangunan. 

Lantaran itu, untuk bisa bangkit kembali, umat Islam harus mengembalikan definisi istilah kepada posisinya yang benar dengan berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Sebab, sumber pertama petunjuk bagi umat Islam adalah wahyu. Sehingga dalam konteks ini, wahyu dikembalikan fungsinya untuk merevisi pemikiran kaum Muslim dan mengembalikannya kepada petunjuknya. Sehingga pemikiran kaum Muslim kembali berorientasirabbaniyahdannabawiyah. Inilah prasyarat utama untuk kebangkitan kembali umat Muslim menjadi sokoguru bagi kehidupan manusia.

Dalam kerangka ini dapat dipahami bahwa salah satu prioritas dalam upaya kebangkitan dan reformasi kaum Muslim adalah proyek mengembalikan fungsi Al-Qur’an kepada posisinya yang semestinya dalam kehidupan kaum Muslim. Dimulai dengan mengkaji dan bertadabbur terhadap maknanya, mengaplikasikan kandungannya, hingga menjadikannya pedoman dan rujukan dalam penyelesaian masalah dalam segala aspek kehidupan.

Hanya saja, kembali kepada Al-Qur’an membutuhkan pemahaman yang benar. Sedangkan pemahaman yang benar itu hanya dapat diperoleh lewat tafsir khususnya tafsirbi al-ma’tsur(riwayat dari sahabat dan tabi’in). Pasalnya, para sahabat, tabi’in, dan ulama yang otoritatif tersebut, seperti Imam Ibn Jarir al-Thabari, telah mewarisi metodologi dalam pemahaman dan argumentasi tersebut dari Nabishallallahu alaihi wasallam. Sehingga sungguh benar bahwa mereka adalah kelompok umat yang paling dalam ilmunya, luas pengetahuan dan wasasannya, serta dalam penghayatannya. Mereka lebih paham tentangasbab nuzuldan lebih mampu menangkap nuansa argumentasi. Karena itulah sehingga generasi tersebut mampu mencapai tingkatan yang tidak dicapai oleh generasi setelahnya.

Dan karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka, sedangkan mereka jauh lebih paham tentang bahasa, keluasan, sastra, makna serta kultur bahasa Arab saat Al-Qur’an diturunkan, wajar jika mereka lebih paham terhadap makna Al-Qur’an. (Lihat: al-Syathibi,al-Muwafaqat, Juz III, h. 204).

Dewasa ini, sebagai akibat dari lemahnya iman dan rendahnya pengetahuan masyarakat luas tentang ajaran Islam lahirlah fenomena kesalahpahaman terhadap kandungan serta arti dari nash-nash Al-Qur’an. Dan fenomena ini berujung kepada penyimpangan terhadap sikap dan perilaku kaum Muslim.

Secara bahasa, definisi/”mushthalah”dalam bahasa Arab merupakan bentukmaf’ulyang berarti sepakat. Sehingga bila suatu kaum sepakat maka dikatakan“ishthalaha.”Dengan kata lain,“mushthalah”ialah kesepakatan suatu komunitas tentang penempatan kata tertentu untuk makna tertentu. (Lihat: al-Jurjani,al-Ta’rifat, h. 44; al-Fayyumi,al-Mishbah al-Munir, entri:sh-l-h; Ibrahim Musthafa, dkk,al-Mu’jam al-Wasith, h. 520).

Adapun secara teknis,“mushthalah”berarti kata yang arti dan batasannya diketahui dari syariat, karena katerkaitannya dengan hukum tertentu, seperti shalat, zakat, puasa, haji, iman, islam, kufur, nifaq, dsj.

Patut dicatat bahwa makna sebuah definisi boleh jadi berbeda antara komunitas, tempat, waktu, paham yang berbeda. Bahkan bisa berbeda antara pengikut satu agama yang sama. Ambil contoh istilah “adil” yang menurut paham Muktazilah bermakna penafian terhadap takdir Allah, makna yang sama sekali berbeda dengan paham Ahlus Sunnah. Kasusnya sama dengan istilah tauhid dantanzih(menyucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan) yang dalam paham Ahl al-Kalam berbeda dengan Ahlus Sunnah. Begitu pula istilah iman yang berbeda maknanya antara Murji’ah, Khawarij, dan Asya’irah di satu sisi dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah di sisi lain.

Di sinilah pentingnya mendudukkan istilah sesuai dengan maknanya yang telah ditetapkan oleh ajaran syariat, yaitu melalui wahyu Allah yang diberikannya kepada Nabi-Nyashallallahu alaihi wasallam. Tidak seorang pun boleh mengubah makna dari istilah-istilah tersebut. Sebaliknya, istilah dengan maknanya itulah yang dijadikan rujukan dalam membentuk persepsi.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah menulis:

“Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menjelaskan maksud dari istilah-istilah ini tanpa kita perlu untuk mencari dalilnya baik dari pembentukan kata atau penggunaan bangsa Arab atau selainnya. Kita wajib merujuk kepada penjelasan yang diberikan Allah dan Rasul-Nya terkait arti dari istilah-istilah tersebut. Karena penjelasan tersebut pasti komprehensif dan memadai. Bahkan secara umum, arti dari istilah-istilah tersebut diketahui oleh masyarakat awam dan sarjana. Sehingga siapa pun yang mengkaji pendapat Khawarij dan Murji’ah tentang makna iman, pasti dia akan tahu penyimpangan makna tersebut dari ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.(Majmu’ Fatawa, Juz VII, h. 287).

Lantaran sumber dari istilah-istilah tersebut yang bersifatrabbaniyah, maka dia tidak berubah baik dari segi susunan maupun maknanya. Istilah-istilah tersebut bersifat absolut dan tetap, sehingga perubahan apa pun terhadap susunan dan maknanya merupakan penyimpangan.

Kita kutip kembali Ibn Taimiyah:

“Istilah apa pun yang disebutkan oleh Allah yang terkait dengan hukum tertentu berupa perintah, larangan, halal, dan haram; maka tidak seorang pun yang boleh mempersempit maknanya kecuali dengan petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya.”(Ibid, Juz XIX, h. 236).

Arti dan konsepsi yang dikandung oleh istilah-istilah syariat sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah bersifat lugas dan tidak akan berubah oleh perbedaan budaya dan lingkungan. Karena istilah-istilah tersebut berasal dari wahyu yang tidak dapat diselewengkan.

Sikap yang tepat terhadap istilah-istilah seperti ini adalah konsisten menjaga bentuk dan artinya. Sehingga istilah tertentu tidak digunakan kecuali untuk menunjukkan arti sebenarnya dan tidak digunakan untuk selain itu, dengan tujuan apa pun.

Tidak ketinggalan untuk diingatkan di sini terhadap bahaya sikap kelompokinferiority complexyang tertipu oleh istilah-istilah Barat dan phobi terhadap istilah-istilah Islam. Padahal, seharusnya kaum Muslim waspada dari sikap fanatik buta terhadap Barat yang berakibat pada larutnya kepribadian Muslim dalam arus peradaban Barat yang jahiliyah. 

Istilah-istilah syariat seharusnya dapat digunakan secara akurat dan tepat dalam kajian-kajian kita. Sebab, istilah tersebut mengandung ketepatan makna serta arahan dalam menyikapi peristiwa atau pihak-pihak tertentu. Al-Qur’an, misalnya, membuat kategori manusia kepada tiga kelompok: mukmin, kafir, dan munafiq. Setiap kategori memiliki karakter yang spesifik yang tidak bisa dicampurbaurkan.

Sehingga tidak tepat bila kita malah menggunakan istilah yang lahir dari lingkungan yang tidak islami, seperti penggunaan istilah “kanan” atau “kiri” atau istilah-istilah lain yang tidak berpedoman kepada syariat dan juga tidak akurat dan sangat longgar. Tidak berbeda dengan ukuran prestasi yang menggunakan istilahkhair/baik,syarr/jahat, hak, batil, adil, zalim yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Dibandingkan dengan parameter pemikiran Barat dengan istilah semacam progresif, konservatif, terorisme, demokrasi, diktator, ideologi, atau istilah jahiliyah modern lainnya.

Pembaca yang kritis sendiri tentunya mengetahui betapa besar upaya ulama Muslim, klasik maupun kontemporer, dalam penggunaan dan penyusunan istilah sehingga setiap istilah mencapai taraf yang komprehensif namun terbatas. Sehingga konsepsi-konsepsi tidak berbaur dan tertukar. Upaya tersebut karena kesadaran ulama tersebut tentang bahaya penggunaan istilah yang serampangan di samping karena tidak dapat diterima secara ilmiah.

Ulama klasik yang kokoh dalam penguasaan ilmu sangat sadar tentang hal ini. Sehingga mereka telah membuat klasifikasi antara arti hakekat dan majaz; arti asal bahasa, arti syar’i, dan arti teknis; sebagaimana makna mereka bagi kepadanash, zhahir, musytarak, mujmal, mubham, ‘aam, khaash, mafhum, manthuq, fahwa, isyarah,dll. yang terdapat dalam ilmu ushul fiqh. (Lihat: Abdus Salam al-Basyuni, “al-Ghazw al-Mushthalahi,”al-Bayan,no. 137).

Ulama tersebut juga mengerahkan upaya dalam memberi batasan yang jelas terhadap istilah-istilah dalam setiap cabang ilmu: ushul fiqh, ilmu hadits, ilmu Al-Qur’an, nahwu, mantiq, dll. Sehingga lahir pula karya-karya yang khusus membahas istilah-istilah: al-Kindi,Hudud al-Asy-yaa’ wa Rusuumiha;”al-Khawarizmi,“Mafatih al-‘Ulum;”al-Baaji,“al-Hudud;”al-Mathrazi,“al-Mughrib fii Lughah al-Fiqh;”Abu Hilal al-‘Askari dan selanjutnya al-Amidi,“al-Furuq al-Lughawiyah;”al-Jurjani,“al-Ta’rifat;”al-Kafawi,“al-Kulliyat;”al-Thahanawi,“Kassyaf Ishthilahat al-Funun.”

DUA ISU KRUSIAL DALAM DISKURSUS ISTILAH

Pertama,istilah sebagai media gagasan yang tersistem, saluran komunikasi dan intelektual, serta alat bagi pengembangan dan transfer ilmu dari generasi ke generasi. Hal ini dengan asumsi bahwa istilah memiliki kandungan yang jelas dan sangat spesifik.

Dalam kerangka inilah kita wajib untuk konsekuen dalam penggunaan istilah-istilah syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Setiap konsep diambil dari teks-teks wahyu sekaligus dengan kandungannya. Bahkan kita bisa beriman terhadap redaksi teks kendati belum mengetahui persis kandungannya. Sebab Rasulullahshallallahu alaihi wasallamtidak akan menyampaikan kecuali kebenaran dan umat Muslim mustahil bersatu dalam kesesatan. (Lihat: Ibn Taimiyah,Majmu’ Fatawa, Juz V, h. 298).

Dengan catatan bahwa istilah yang diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah dan telah jelas maknanya dari penjelasan Rasulullahshallallahu alaihi wasallamtidak lagi memerlukan bukti berupa pendapat ahli bahasa dan semacamnya. Adapun bahasan tentang pembentukan dan segi penunjukan makna, maka hal ini termasuk ilmubayan(cabang ilmu balaghah) dan pemaparanillathukum. Keduanya tidak lebih sebagai penguat dan pengurai terhadap hikmah dalam teks Al-Qur’an, dan sama sekali tidak membatasi metode untuk mengatahui makna istilah. (Ibid, Juz VII, h. 286).

Kedua,waspada terhadap invasi terminologi dari kelompok Salibis Barat mengingat bahwa persoalan terminologi ini sangat besar pengaruhnya dalam membentuk pemikiran serta budaya masyarakat. Karena lewat terminologilah konsep-konsep diintrodusir ke publik.

Sebuah terminologi atau istilah saja dapat mengubah cara berpikir bahkan mengaburkan pemikiran seseorang. Lantaran itu, invasi jenis ini merupakan bentuk serangan dan pendudukan yang sangat berbahaya.

Invasi jenis ini menjadikan korbannya bertindak bebas dan sukarela, namun sebenarnya terkendali dan di luar kehendak pribadinya. Korbannya akan bekerja demi kepentingan kelompok yang dia kagumi pemikirannya. Dia angkat nama kelompok tersebut dan dia mendedikasikan dirinya untuk itu. Tanpa sadar dia mengubur sendiri pemikiran dan budaya umatnya.

Fenomena ini terjadi akibat ketidaksadaran kelompok intelektual sekuler bangsa kita bahwa istilah-istilah impor sesungguhnya lahir dari kerangka pemikiran Barat yang subjektif. Istilah-istilah tersebut mengandung makna serta muatan historis dan sosiologis yang tidak mungkin dipisahkan dari lingkungan subjektif yang melatarbelakanginya.

Kita harus sadar tentang bahaya invasi pemikiran ini terhadap umat Islam. Ancaman invasi ini bukanlah isapan jempol semata. Usaha untuk memadamkan cahaya agama Allah lewat lisan adalah usaha yang telah lama ada namun selalu aktual.

Di era dominasi peradaban Barat dewasa ini terhadap potensi bangsa-bangsa di dunia, tujuan invasi pemikiran ini adalah:

1.            Menimbulkan teror terhadap gerakan-gerakan Islam yang mengupayakan penerapan syariat Islam dalam segala aspek kehidupan. Sebaliknya, mengupayakan support terhadap gerakan-gerakan sekuler liberal dan sosialis yang loyal dan bekerja sesuai dengan agenda kepentingan Barat.

2.            Menimbulkan kekacauan pemikiran di kalangan generasi muda Muslim dan menjadikan mereka jauh dari kesadaran yang mendalam, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai pendidikan yang baik. Betapa banyak generasi muda Muslim yang sibuk dengan istilah-istilah yang sengaja diwacanakan untuk mengalihkan perhatian mereka dari petaka yang menimpa Islam dan untuk menimbulkan friksi di kalangan mereka.

3.            Infiltrasi pemikiran yang jauh dari ajaran dan peradaban Islam lewat rekayasa istilah. Di era ini, sejumlah istilah dapat kita ambil contoh, seperti: fundamentalisme, ekstrem,enlightment, rasionalisme, sekularisme, post-modernisme, dll.

4.            Dis-marketing terhadap istilah-istilah yang sejatinya baik, sehingga orang yang membawanya merasa minder dan tidak mau diafiliasikan kepadanya, seperti: salafiyah, fundamentalisme, jihad, hijab, dan tekstualisme. Istilah-istilah ini telah digunakan secara tidak proporsional sehingga istilah salafiyah bisa menjadi delik tuduhan, fundamentalisme dapat dipidanakan, pelaku jihad terancam penjara dan hukuman, sedangkan hijab adalah stigma kebodohan dan kemunduran. Sebagaimana tekstualisme menjadi bahasa pejoratif sebagian tokoh munafik kontemporer terhadap Imam Ahmad ibn Hambal di satu sisi dan Ibn Abi Dawud dan Bisyr al-Marrisi di sisi yang lain.

5.            Memanipulasi istilah-istilah keliru yang tidak sejalan dengan ajaran Islam sehingga kelihatan menarik, walaupun sumbernya adalah paham gereja atau atheis, seperti determinisme, rasionalisasi, progresivisme,enlightment, post-modernisme, sekularisasi, modernisme, globalisasi, dll. Istilah-istilah ini dipromosikan lewat media sehingga menjadi lazim. Tidak heran bila ada pihak-pihak dari kaum Muslim yang ikut-ikutan menjajakannya, khususnya dari kelompok sekuler murtad yang banyak merusak keyakinan umat.         

Sebagai penutup, sesungguhnya konfrontasi antara umat Islam dengan lawan-lawannya dari kelompok Yahudi dan Nasrani tidak berbentuk monolog: perang fisik. Konfrontasi yang terjadi berlangsung di dua wilayah: fisik dan pemikiran.

Harus dipahami bahwa musuh bekerja keras dalam memasarkan pemikirannya di kalangan Muslim. Karena mereka paham bahwa bangsa yang mengkonsumsi pemikiran tersebut akan terperangkap dalam jaring poros yang mereka ciptakan.

Tidak heran bila dalam Al-Qur’an Allah melarang kita dari menjadikan mereka sebagai penolong.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإنَّهُ مِنْهُمْ إنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِـمِينَ}

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”(QS. al-Ma’idah/5: 15).

Kenyataan inilah yang pernah disinyalir oleh Rasulullahshallallahu alaihi wasallam. Dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari, Rasulullah bersabda:

«لتتّبعن سنن من كان قبلكم شبراً شبراً وذراعاً ذراعاً، حتى لو دخلوا حجر ضب تبعتموهم،

قلنا: يا رسول الله! اليهود والنصارى؟ قال: فمن؟»

 

“Kalian akan menuruti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sedepa demi sedepa, hingga andai mereka masuk ke lubang biawak sahara maka kalian akan tetap mengikutinya.” Kami (sahabat-sahabat) bertanya, “Ya Rasulullah, (apakah mereka) Yahudi dan Nasrani?” Jawabnya, “Siapa lagi?!”(Shahih al-Bukhari, Juz VIII, h. 151).

Dalam hadits yang lainnya:

«يوشك أن تداعى عليكم الأمم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها، قالوا: أمن قلة نحن يومئذ

يا رسول الله؟ قال: إنكم يومئذ كثير، ولكنكم غثاء كغثاء السيل»

 

“Telah hampir (tiba masa) umat-umat memperebutkan kalian sebagaimana binatang buas memperebutkan mangsanya. Mereka (sahabat-sahabat) bertanya, “Apakah karena jumlah kami yang minoritas saat itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kalian pada saat itu banyak, tapi kalian buih sebagaimana buih air yang mengalir.”(Musnad Ahmad, Juz V, h. 278).

Sesungguhnya dominasi musuh dan terperangkapnya kita kepada kondisi “mangsa” merupakan indikasi adanya “lobang menganga” dalam konstruk pemikiran dan terminologi dalam tubuh umat. Kendati kita kerap mengklaim berada di atas manhaj yang benar.

Tokoh-tokoh perbaikan dan ishlah hendaknya mampu membedakan antara “sumber penyakit” dan “gejala penyakit” yang menimpa umat. Sumber sebenarnya penyakit yang menimpa umat bersifat pemikiran yang berakar pada keyakinan, nilai-nilai, konsep, dan istilah. Sedangkan gejalanya bisa politik, ekonomi, dan sosial.

Awal perbaikan hendaknya dimulai dari masalah konsep dan istilah. Semakin kokoh fondasi umat dalam bidang pemikiran dan istilah yang sumbernya adalah Al-Qur’an dan Sunnah, semakin mampu pemikiran tersebut memberi kontribusi dalam perbaikan berbagai aspek dalam kehidupan umat. Itulah titik tolak perbaikan.“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”(QS. Yusuf/12: 21).***       


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir