Etika dan Prinsip dalam Membantah Orang yang Menyelisihi

01/04/2014 0:00:00
عبد العزيز بن ناصر الجُلَيِّل Jumlah kali dibaca 1232

Etika dan Prinsip dalam Membantah Orang yang Menyelisihi


Abdul Aziz al-Julayyil

 

Sebelum mulai membantah orang yang menyelisihi, baik dengan tulisan ataupun dengan lisan, maka wajib terlebih dahulu diperhatikan beberapa etika dan prinsip syar'i. Tujuannya agar bantahan tersebut dapat membuahkan hasil yang diharapkan dan tidak menimbulkan efek negatif yang lebih besar ketimbang dengan tidak membantah.

Di antara beberapa prinsip dan etika terpenting dalam membantah adalah sebagai berikut:

Pertama,orang yang membantah hendaknya memiliki ilmu syar'i yang benar dan sejalan dengan sunnah Nabishallallahu alaihi wasallam. Utamanya yang berhubungan dengan obyek permasalahan yang didiskusikan. Pembahasannya harus dilandasi dengan ilmu, dalil, dan cara beristidlal/berargumentasi yang tepat. Termasuk yang perlu diperhatikan adalah mengecek dan mengkonfirmasi ungkapan atau tulisan orang yang dibantah melalui tulisan-tulisan dan pernyataan-pernyataannya secara langsung. Tidak boleh didasarkan pada prasangka atau ungkapan dan pernyataan orang lain. Orang yang membantah juga perlu menentukan titik dan obyek permasalahan yang diperselisihkan.

Kedua,orang yang membantah harus bersifat ikhlas dan tulus karena Allah, jauh dari pengaruh hawa nafsu, fanatisme, ataupun keinginan membalas dendam. Hal ini mengharuskan ia memiliki beberapa karakter, antara lain: bersifat adil kepada lawan, jauh dari sifat aniaya dan melupakan kebenaran dan kebaikan yang ada pada diri lawan. Konsekwensinya, ia harus waspada terhadap pengaruh hawa nafsu dan fanatisme buta.

Imam Syaukanirahimahullahtelah mengungkapkan beberapa faktor yang sering menyebabkan seseorang berlaku aniaya dan tidak adil. Ia menegaskan: "Ketahuilah bahwa faktor yang menyebabkan seseorang keluar dari prinsip keadilan dan terjerumus ke dalam fanatisme jumlahnya sangat banyak, antara lain:

1.      Lingkungan yang di dalamnya seorang penuntut ilmu tumbuh. Dimana seseorang mungkin tumbuh di suatu lingkungan yang penduduknya biasa terikat dengan mazhab tertentu. Atau ia menuntut ilmu di bawah bimbingan ulama tertentu sehingga ia fanatik dan tidak adil.

2.      Cinta kedudukan dan harta, mencari posisi dan kesenangan pada orang-orang terpandang dan memiliki jabatan, sehingga ia menyampaikan perkara-perkara yang sejalan dengan keinginan mereka sampai ia tidak bersifat adil.

3.      Larut dalam diskusi dan debat dengan para ahli ilmu, senang beradu argumentasi, suka tampil dan menang sendiri sehingga ia berupaya mempertahankan pendapatnya dan tidak adil.

4.      Cenderung mendukung pendapat kerabat, mencari argumen pendukung untuk berbangga diri dengan pendapat kerabatnya. Akibatnya ia fanatik dengan pendapatnya meski keliru dan tidak bersikap adil.

5.      Malu menarik pendapat, fatwa, dan dukungan terhadap suatu pendapat yang ternyata keliru sehingga ia tetap mempertahankan pendapat tersebut demi untuk menghindari rasa malu, akhirnya ia tidak bersifat adil.

6.      Keliru dalam debat melawan orang yang usianya lebih muda, ilmu dan prestisenya lebih sedikit. Sehingga ia fanatik dengan kesalahan dan tidak bersikap adil.

7.      Berpegang teguh dengan kaedah tertentu sehingga ia membenarkan perkara yang sejalan dengan kaedah tersebut dan menyalahkan perkara yang menyelisihi. Padahal kaedah tersebut tidak sepenuhnya tepat. Akibatnya ia fanatik terhadap aplikasi kaedah tersebut dan tidak berlaku adil.

8.      Menjadikan dalil-dalil hukum yang terdapat dalam buku-buku mazhab sebagai landasan utama karena ia akan mendapati dalil-dalil pendukung mazhab dan mengesampingkan dalil yang kontra, akibatnya ia akan bersikap fanatik dan tidak berlaku adil.

9.      Berpegang pada buku-buku yang fanatik dalamjarh wa ta'dil.Karena mereka akan menta'dil orang yang pro dan menjarh orang yang kontra. Akibatnya orang yang mengacu kepada buku-buku mereka dapat bersifat fanatik pula dan tidak berlaku adil.

10.  Persaingan antara dua orang yang memiliki posisi yang sama dalam hal keutamaan dan kedudukan. Hal ini kadang kala mendorong seseorang menyalahkan kebenaran orang lain karena fanatik dan jauh dari sikap adil.

11.  Berpegang teguh kepada pemikiran dan pendapat logika yang dipoles dengan ilmu ijtihad seperti ushul fiqh. Akibatnya muncul fanatisme terhadap pendapat tersebut dan keluar dari sifat adil.[1]

· Keikhlasan mengharuskan kita waspada terhadap sikap menimbang dengan dua timbangan, yaitu timbangan untuk diri sendiri yang menuntut terpenuhinya semua hak-hak pribadi dan timbangan untuk orang yang menyelisihi dan digunakan untuk merugikan dan menghilangkan hak orang tersebut.

"Dalam menimbang sikap orang lain, betapa banyak kita mengingkari sikap orang yang kita selisihi lalu berjalan beberapa waktu hingga kita temukan sikap yang sama lahir dari orang yang sejalan dengan kita atau orang yang kita cintai tetapi kita memberinya alasan dan berprasangka baik kepadanya. Bahkan kita mungkin terlalu membesar-besarkan hikmah yang dimiliki orang tersebut yang tidak dipahami oleh akal kita! Mengapa kita dapat menerima dari seseorang hal yang sama dengan yang kita tolak dari seseorang dan menjadikannya sebagai aib jika terjadi pada orang lain?!

Anda mungkin dapati seseorang yang berlebih-lebihan dalam memuji dan mencintai orang tertentu, bahkan mungkin tidak ada lagi kemuliaan di dunia ini kecuali ia sandarkan kepadanya, lalu berlalulah kejadian demi kejadian, ditambah dengan banyaknya interaksi dengannya baik dalam keadaan safar atau menetap, juga hal-hal yang terkait dengan uang maka tiba-tiba orang yang memuji tersebut berubah menjadi pencoreng dan pencela dan orang yang dipuji-puji menjadi orang yang dicela-cela

Fenomena seperti ini sering kita temukan pada diri para pemberi nasehat, khotib, pengarah dan pembimbing yang memandang bahwa apa yang sedang mereka kerjakan adalah kewajiban syar'i yang tidak boleh didiamkan. Tapi apabila Anda menasehati, memberinya petuah, membuka dan memasukkan pelajaran ke dalam pendengarannya maka hal itu berubah menjadi etika yang salah dan prasangka buruk, atau menjadi kezaliman dan kritik yang dilarang secara syar'i. 

Kita menyaksikan fenomena membeberkan aib dan menafsirkan niat orang lain dan diklaim sebagai kritik danta'dil. Tetapi anehnya jika orang tersebut dijadikan sebagai obyek yang dijarh dan dikritik maka tindakan tersebut disebut sebagai ghibah dan namimah atau tidak menutup aib dengan cara menasehati secara tersembunyi."[2]

Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk menimbang dengan dua timbangan.

· Keikhlasan juga mengharuskan orang yang membantah berbaik hati kepada orang yang dibantah. Ia harus waspada terhadap sikap balas dendam dalam membantah dan berdebat. Karena keikhlasan mengharuskan lahirnya cinta kebaikan, kasih sayang dan belas kasih kepada orang lain. Sikap ini dimiliki oleh Ahlus Sunnah dan Ittiba' sebagaimana ditegaskan oleh Ibn Taimiahrahimahullah: "Ahlu sunnah, ilmu dan iman memahami kebenaran dan menyayangi makhluk."[3]

Abu Bakarradhiyallahu anhudipuji oleh Rasulullahshallallahu alaihi wasallamdalam sabdanya: "Umatku yang paling penyayang kepada umatku adalah Abu Bakar."[4]

Ibnu Abbas yang dikenal sebagaiturjumanul Qur'anpernah menyebutkan tentang dirinya bahwa ia mencintai kebaikan untuk kaum muslim di mana saja meski ia tidak mengenalnya atau tidak memperoleh manfaat apapun dari mereka.

Hal itu disebutkan oleh Ibn Buraidah al-Aslami bahwa seseorang pernah mencaci Ibn Abbas lalu Ibn Abbas menjawab:"Anda mencaci aku sedang pada diriku terdapat tiga sifat; aku membaca ayat dalam Al-Quran dan aku sangat ingin agar semua orang memahami apa yang aku pahami darinya. Aku mendengar seorang pemimpin yang memimpin kaum muslim dengan adil sehingga aku gembira padahal mungkin tidak akan berperkara kepadanya. Dan aku mendengar informasi turunnya hujan kepada negeri kaum muslim dan aku sangat gembira padahal aku tidak memiliki ternak di negeri tersebut."[5]

Ketiga,waspada terhadap sikap reaktif yang berlebihan karena sering kali membawa orang yang membantah mengambil posisi ekstrim yang berlawanan dengan posisi orang yang dibantah dan meninggalkan posisi pertengahan, adil dan seimbang.

Keempat,menerima kebenaran yang nampak dari lawan dengan penuh kegembiraan dan tetap menolak dan membantah pendapatnya yang batil.

Seseorang pernah meminta wasiat kepada Ibn Mas'udradhiyallahu anhudengan mengatakan: "Nasehatilah aku dengan nasehat yang bermutu!... maka di antara nasehatnya:"Siapapun yang memperlihatkan kepadamu kebenaran maka terimalah meski ia jauh dan dibenci. Dan siapapun memperlihatkan kepadamu kebatilan maka tolaklah meski ia dekat dan dicintai."[6]

Dalam wasiatnya kepada para duat, Syaikh Bakar Abu Zaidrahimahullahberpesan:"Komitmenlah kepada keadilan dengan tidak mengikari kelebihan orang lain. Jika ia terjatuh ke dalam dosa maka janganlah bergembira dengan dosanya. Janganlah engkau menjadikan sikap-sikap spontanitas yang tidak disengaja sebagai ukuran bagi kondisi seseorang apalagi menjadikannya sebagai titik bedah untuk menusuk dan melukai, tetapi hendaklah engkau mendo'akan hidayah baginya. Adapun menambah-nambah dan mencari-cari kesalahan maka hal itu termasuk dosa yang berlipat. Sedang menanamkan sifat adil sangat memerlukan akhlak yang tinggi dan sikap keagamaan yang kuat."[7]

Kelima,tidak menjatuhkan lawan dengan konsekwensi pendapatnya karena konsekwensi pendapat seseorang tidak serta merta menjadi pendapatnya.

Artinya konsekwensi batil dari pendapat seseorang tidak boleh disandarkan kepada orang tersebut hanya karena sekedar konsekwensi yang dapat muncul dari pendapatnya. Karena hal tersebut termasuk kezaliman. Misalnya orang yang berpendapat dan membolehkan tuak yang terbuat dari anggur tidak boleh dinisbatkan kepadanya konsekwensi pendapatnya bahwa ia telah membolehkan sesuatu yang diharamkan AllahAzza wa Jalla. Juga tidak boleh mengatakan bahwa orang tidak berpendapat bolehnya menjamak shalat dalam safar sebagai orang yang menolak sunnah atau meninggalkan sunnah.

Tidak boleh menisbatkan konsekwensi suatu pendapat seseorang kepadanya hingga ia sendiri mengakui konsekwensi tersebut dan mengungkapkannya secara langsung atau ia ditanya dan mengakuinya sehingga konsekwensi tersebut menjadi bagian dari pernyataannya dan menjadi hujjah atasnya.

Konsekwensi suatu pendapat hanya dikemukan dalam rangka untuk membantah dan menolaknya sekaligus untuk menjelaskan kesalahan dan kontradiksi orang yang dibantah dengan harapan ia dapat menarik pendapatnya.

Ibn Hazmrahimahullahmenyatakan:"Orang yang mengkafirkan orang lain dengan dasar konsekwensi pendapatnya maka tindakan itu salah. Karena hal tersebut termasuk dusta atas nama lawan dan mengatasnamakan suatu perkataan yang tidak pernah ia katakan. Kalau hal itu benar-benar merupakan konsekwensi pendapat maka akibatnya tidak lebih dari sekedar kontradiksi. Sedang pendapat kontradiksi bukanlah kekafiran. Bahkan ia telah bersikap baik karena ia lepas dari kekafiran. . .  . Dengan demikian jelaslah bahwa seseorang tidak akan kafir kecuali dengan perkataannya secara langsung, atau aqidah yang diyakininya secara langsung. Dan tidak berguna seseorang mengungkapkan keyakinan seseorang dengan ungkapan yang memperindah manhajnya, tetapi yang dihukumi hanyalah konsekwensi pendapatnya saja."[8]

Keenam,berupaya membantah lawan dengan fokus pada pendapatnya tanpa mengintervensi pribadi atau niat dan keinginannya. Kecuali jika terdapat indikasi yang sangat kuat atas keburukan niat dan keinginannya.

Ketujuh,berupaya semaksimal mungkin untuk menyampaikan ungkapan baik secara lisan ataupun tulisan dengan bahasa yang tegas dan lugas dan menjauhi ungkapan yang asing dan aneh agar pernyataan tidak disalahpahami.

Setelah mengemukakan prinsip-prinsip tersebut, penulis menasehati dirinya dan saudara-saudaranya dengan mengingatkan hal-hal berikut:

Timbangan adil dalam mengkritik kesalahan dan sikap terhadap orang yang menyelisihi:

Dalam menyikapi orang yang menyelisihi dan mengkritik kesalahannya manusia terbagi tiga, yaitu dua kubu saling berlawanan ditambah dengan kubu pertengahan:

Kubu pertama adalah kelompok ekstrem yang senantiasa berlebih-lebihan:

Yaitu kelompok yang bersikap ekstrem dalam mengkritik orang lain atau kesalahan orang lain hingga terkadang mereka menjadikan perkara furu' menjadi ushul dan masalah parsial menjadi masalah pokok. Mereka terbiasa fokus mencari kesalahan dan membesar-besarkannya dengan penuh kegembiraan. Mereka tidak simpati kepada para penuntut ilmu yang terjatuh ke dalam kesalahan. Bahkan mereka berlaku zalim dan berburuk sangka kepadanya dan kepada niat dan keinginannya. Mereka melupakan hak-haknya, menghilangkan kebaikan dan melupakan pengorbanan, jihad, dakwah, ilmu, jasa, dan pendidikannya. Sikap seperti ini jelas melampaui batas dan jauh dari keadilan.

Orang yang bersikap seperti itu sangat lanyak masuk dalam sindiran al-Sya'birahimahullah:"Demi Allah, seandainya aku bersikap benar sebanyak 99 kali dan aku keliru  1 kali niscaya mereka akan mengkritikku dengan kesalahan yang satu itu."[9]

Sekiranya saat para kritikus itu keliru, mereka bertanya kepada diri sendiri apakah mereka senang diperlakukan oleh saudaranya dengan cara  zalim seperti yang mereka pakai dalam memperlakukan orang lain niscaya pertanyaan seperti itu akan menjadi pemicu bagi mereka untuk mengintrospeksi diri  dan mengungkap kekeliruan metode mereka dalam mengkritik orang lain dan menyelesaikan masalah.

Ibn Taimiahrahimahullahmenyatakan:"Bukanlah persyaratan menjadi wali Allah yang bertaqwa, bebas dari kesalahan dalam beberapa hal tertentu yang mungkin tetap diampuni. Bukan juga persyaratannya harus bebas dari dosa-dosa kecil secara mutlak. Dan tidak termasuk persyaratannya harus meninggalkan dosa besar atau kekafiran yang telah ditaubatkan. Karena Allah Ta'ala telah berfirman:

"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik, agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. az-Zumar: 33-35).  Mereka disebut oleh Allah sebagai orang-orang bertaqwa.  Sedang orang-orang bertaqwa itu adalah wali-wali Allah. Kendati demikian, Allah tetap memaafkan dosa yang mereka lakukan. Hal ini termasuk perkara yang telah disepakati oleh ahli ilmu dan iman."[10]

Dalam mengomentari firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. al-Maidah: 8),Ibnul Qayyimmenyatakan:"Apabila Allah melarang hambaNya dari menjadikan kebencian terhadap lawan sebagai dalih untuk tidak berlaku adil padahal permusuhan, penyimpangan dan pendustaan terhadap Allah dan Rasul-Nya sangat jelas dari mereka maka bagaimana mungkin seorang yang beriman menjadikan kebencian kepada suatu kelompok yang menisbatkan dirinya kepada umat Rasulullah Muhammad- yang dapat benar dan salah - untuk tidak berlaku adil kepada mereka? Apalagi sampai fokus memusuhi dan memberinya mudarat!? Padahal mungkin kelompok tersebut lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya dan lebih komitmen dengan ajaran Nabi, baik dalam bentuk ilmu, amal, ataupun dakwah kepada Allah di atas landasan ilmu."[11]

Kubu kedua adalah kelompok apatis yang acuh dan tak acuh

Kelompok ini selain bersikap apatis dalam mengambil kebenaran dan menolak kebatilan ditambah dengan taklid buta, mereka juga telah bersikap ekstrem dalam membela tokoh yang diikuti dan kesalahan-kesalahannya. Sikapnya seakan-akan menggambarkan bahwa tokoh-tokoh tersebut bersifat maksum.

Oleh karena itu, Anda akan mendapati seseorang di antara mereka merasa terganggu jika dikatakan bahwa gurunya atau syaikhnya keliru dalam pendapat ataupun sikapnya. Karena kecintaan yang berlebihan,  sikap fanatik dan over etika kepada guru sehingga ia tidak segan-segan membenarkan semua pendapat dan perbuatan gurunya dengan polesan dalih yang dipaksakan.

Setelah menyebutkan keutama ulama-ulama Islam, Ibnul Qayyim menggambarkan sikap kedua kubu di atas dengan menyatakan:"Keutamaan, ilmu, dan nasehatnya kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam tidak mengharuskan kita menerima semua pendapat mereka.  Kesalahan fatwa terkait masalah-masalah yang tidak jelas bagi mereka penjelasan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga mereka berfatwa sesuai dengan ilmunya, padahal fatwanya keliru, tidak menyebabkan kita harus menolak semua pendapatnya atau mencaci dan merendahkan mereka. Kita tidak menyalahkan dan tidak juga memaksumkan. Kita tidak mengikuti sikap orang-orang Rafidhah terhadap Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu anhu ataupun sikapnya terhadap Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma.[12]

Ibnul qayyim juga mengkritik kedua kubu tersebut dengan lebih tegas lagi dalam mengkritik kekeliruan Imam al-Harawirahimahullahdalam bukunyaManazil al-Sairindan klasifikasi manusia dalam menyikapi kekeliruan ini.

Ibnul Qayyim menegaskan: "Syaikhul Islam (al-Harawi. Pent) sangat kami cintai tetapi kebenaran jauh lebih kami cintai daripada beliau. Semua orang, selain Nabi yang maksumshallallahu alaihi wasallamdapat diambil ataupun ditolak pendapatnya. Kami berupaya memahami perkataannya dengan pemahaman terbaik kemudian menjelaskan kekeliruan yang ada di dalamnya. . ." hingga Ibnul Qayyim menyebutkan: "Ini dan kekeliruan lainnya yang diharapkan dapat terampuni dengan banyaknya kebaikannya, atau  karena imbang dengan kejujuran, ketulusan, keikhlasan dan kemurnian tauhidnya. Apalagi tidak ada jaminan kemaksuman bagi siapa saja sepeninggal Rasulullahshallahu alaihi wasallam.

Kekeliruan ini menyebabkan manusia terbagi tiga kelompok dalam menyikapinya:

Kelompok pertama,menjadikan kekeliruan tersebut sebagai hijab yang menutupi segala kebaikan, kehalusan jiwa, dan ketulusan muamalah ataupun sikap kelompok tersebut. Mereka sangat mengingkari kebaikannya dan berprasangka buruk kepadanya secara mutlak. Sikap seperti ini merupakan kezaliman dan berlebih-lebihan. Seandainya setiap orang yang keliru atau salah harus ditinggalkan pendapatnya secara total dan dibuang kebaikannya niscaya semua ilmu, kreatifitas dan hukum itu rusak dan pilar-pilarnya runtuh.

Kelompok kedua,menjadikan kebaikan, kelembutan hati, kekuatan tekad, dan bagusnya muamalat satu kelompok sebagai hijab yang menutupi kekeliruan dan kekurangan kelompok tersebut. Akibatnya mereka menyeret kekeliruan tersebut dibawah kebaikannya,mentolerir kekeliruan tersebut dan membelanya. Bahkan mereka mengamalkan kekeliruan tersebut dalam perilakunya. Kelompok ini jelas bersikap  apatis yang berlebihan.

Kelompok ketiga,adalah kelompok yang bersikap adil dan pertengahan. Yaitu kelompok yang senantiasa memberikan setiap hak-hak kepada pemiliknya, dan menempatkan setiap orang pada posisinya yang layak. Mereka tidak memvonis kebenaran dengan vonis yang salah  dan tidak mevonis kesalahan dan kebenaran, tetapi mereka menerima sesuatu yang patut diterima karena keberanarannya dan menolak yang patut ditolak karena kekeliruannya.[13]

Kubu ketiga adalah kubu yang adil dan pertengahan:

Kubu inilah yang disebut Ibnul Qayyim sebagai kelompok ketiga dalam pernyataan:"Mereka adalah kelompok yang bersikap adil dan pertengahan. Yaitu kelompok yang senantiasa memberikan setiap hak-hak kepada pemiliknya, dan menempatkan setiap orang pada posisinya yang layak. Mereka tidak memvonis kebenaran dengan vonis yang salah  dan tidak mevonis kesalahan dan kebenaran, tetapi mereka menerima sesuatu yang patut diterima karena keberanarannya dan menolak yang patut ditolak karena kekeliruannya."[14]

Artinya mereka tidak terjatuh ke dalam kesalahan orang-orangguluwdan ekstrem yang membesar-besarkan kesalahan dan menghilangkan hak dan kebaikan orang yang keliru bahkan mengintervensi niatnya. Mereka senantiasa menjaga hak-hak orang yang keliru, tidak melupakan pengorbanan, jihad, dan kebaikannya. Mereka berinteraksi dengan kesalahan-kesalahannya secara proporsional dan membandingkan antara kebaikan dan keburukannya.

Pada saat yang bersamaan mereka juga tidak mengkultuskan apalagi menganggapnya sebagai sosok yang maksum. Justru mereka memandang orang-orang yang keliru sebagai sosok yang tidak maksum. Tetapi kecintaan dan etika mereka terhadap gurunya tidak menyebabkan mereka taklid buta dan mengikuti semua pendapat dan perbuatan gurunya.

Setelah sikap yang adil dan pertengahan ini jelas dan kekeliruan dua kubu lainnya dipahami maka penulis menyebutkan contoh aplikatif dari sikap Nabishallallahu alaihi wasallamyang mengarahkan kita kepada jalan yang lurus dan adil dalam mengkritik orang yang menyelisihi. Jalan ini harus diikuti oleh setiap muslim, utamanya para penuntut ilmu dan duat dan menerapkannya di antara mereka.

Contoh tersebut adalah langkah Rasululullahshallallahu alaihi wasallamdalam menyikapi kesalahan Hathib ibn Abi Balta'ahradhiyallahu anhuketika ia berupaya menyurat kepada Quraisy dan membocorkan rencana kedatangan Rasulullahshallallahu alaihi wasallampada tahun fathu Makkah. Dalam sikap ini terdapat tiga tahapan:

Tahapan pertamaadalah validasi adanya kesalahan.

Dalam kasus ini, validasi terjadi dengan merujuk kepada sumber informasi yang paling akurat, yaitu wahyu.  Dimana Allah mewahyukan kepada Rasulullahshallallahu alaihi wasallamdan menginformasikan tentang surat yang dikirim oleh Hathib via seorang wanita, dan mengabarkan tentang posisi wanita tersebut.

Tahapan keduaadalah validasi tentang sebab-sebab yang mendorong Hathib melakukan kesalahan.

Tahapan ini tergambar dalam pertanyaan Nabishallallahu alaihi wasallamkepada Hathib:"Apa yang menyebabkan engkau melakukan perbuatan ini?"tahapan ini sangat urgen karena kemungkinan akan ketahuan adanya uzur syar'i dalam pelanggaran dan akhirnya permasalahan ini berakhir sampai di situ. Tetapi apabila permasalahannya tidak berhenti sampai di situ sebagaimana kasus Hathib ini, apalagi uzur yang disampaikan kepada Rasulullahshallallahu alaihi wasallamitu tidak terlalu meyakinkan meskipun Nabi tetap membenarkan kejujuran Hathib dan bahwa ia tetap masih muslim. Maka beralih kepada tahapan berikutnya.

Tahapan ketigayaitu mengumpulkan kebaikan dan jasa-jasa pelaku kesalahan dan membandingkannya dengan kesalahan tersebut. Karena boleh jadi kesalahan-kesalahan itu itu lebur dalam lautan kebaikannya.

Cara inilah yang ditempuh Rasulullahshallallahu alaihi wasallamdalam menyikapi kesalahan Hathibradhiyallahu anhu. Dimana Nabishallallahu alaihi wasallammengatakan kepada Umar ketika ia meminta izin membunuhnya:"Bukankan dia termasuk salah satu pasukan perang Badar?Lalu beliau menegaskan:"Semoga Allah telah membuka tabir para pasukan perang Badar lalu berfirman: Lakukanlah apa yang kalian inginkan karena surga telah ditetapkan bagi kalian, atau Aku telah mengampuni kalian".

Ibnul Qayyim telah menyebutkan pernyataan yang baik seputar permasalahan ini dalam membantah orang-orang yang menyatakan bahwa "Allah memaafkan orang-orang jahil pada perkara yang tidak dimaafkan dari orang-orang yang berilmu." Ia menulis: "Jawabannya adalah apa yang kalian kemukakan ini benar dan tidak diragukan lagi. Tetapi di antara prinsip syariat dan sejalan dengan hikmah bahwa orang yang memiliki banyak kebaikan dan memberi pengaruh di dalam Islam maka ia dapat dimaklumi sedang orang lain tidak dapat dimaklumi. Ia dapat dimaafkan sedang orang lain tidak dapat dimaafkan. Hal itu karena kemaksiatan itu ibarat kotoran sedang air jika kapasitasnya sampai dua qullah maka dianggap telah bebas dari kotoran. Berbeda dengan kapasitas air yang sedikit, ia tidak dapat lepas dari kotoran sesedikit apapun.

Masuk dalam kategori ini pernyataan Nabishallallahu alaihi wasallamkepada Umar: "Siapa yang memberitahukan engkau! Boleh jadi Allah telah melihat hati-hati pasukan perang Badarlalu berfirman: Lakukanlah apa yang kalian inginkan karena sesungguhnya Aku telah mengmpuni kalian".

Hathib telah melakuan dosa besar dan Nabishallallahu alaihi wasallammengabarkan bahwa ia termasuk pasukan badar. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman baginya telah ada tetapi kontribusinya pada perang Badar menjadi penghalang dijatuhkannya sanksi atasnya. Akhirnya kesalahannya larut dalam kebaikan yang dimilikinya."[15]

 


[1] Lihat:al-I'tilaf, hal 101-102 dengan sedikit adaptasi.

[2] Ibid.

[3]Majmu' al-Fatawa, Juz XVI, hal. 96.

[4]Musnad Ahmad, Juz III, No, 2881, dan dishahihkan oleh al-Albani dalamal-Silsilah al-Shahihah, No. 1224.

[5] Majma' al-Zawaid, Juz IX, hal. 284. Al-Haitsami menyatakan:"Dikeluarkan oleh at-Thabrani dan rijalnya adalah rijal shahihain."

[6]Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Juz Iv, hal. 586.

[7]Tashnif al-Naas baina al-Dhann wa al-Yaqin, hal. 77-78.

[8]  Al-Fishal, Juz III, hal. 294.

[9]Nuzhah al-Fudhala', Juz I, hal. 504.

[10]Majmu' al-Fatawa, Juz XI, hal. 66-67.

[11]Bada'i al-Tafsir, Juz II, hal. 105.

[12]I'lam al-Muwaqqi'in, Juz III, hal. 358.

[13] Diringkas dari:Madarij al-Salikin, Juz II, hal. 220-224.

[14] Ibid.

[15]Miftah Dar al-Sa'adah, hal. 192.

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir