Adab Dalam Menghadapi Takdir yang Berat

01/04/2014 0:00:00
هشام عبد القادر عقدة Jumlah kali dibaca 1043

Adab Dalam Menghadapi Takdir yang Berat


Dr. Hisyam Abdul Qadir Uqdah

 

Mukaddimah

Dunia memang penuh dengan gangguan.“Dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”(QS. Fathir: 34).

Negeri emas dan perak, sampai-sampai terkadang kesempitan dan kesulitan justru datang dari arah yang disangka akan datang darinya kenyamanan dan kesejahteraan.“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu.”(QS. at-Taubah: 55).

Nar[1]adalah akhir kata dinar             

Ham[2]adalah akhir kata dirham

Manusia diantara keduanya jika tak berhati-hati       

Hatinya tersiksa antara kesedihan dan api.

Karena itu seorang hamba harus mempersiapkan jiwanya dalam kehidupan dunia ini untuk menghadapi berbagai macam gangguan, musibah dan takdir-takdir yang berat.

Iman kepada takdir yang baik dan yang buruk

Ini adalah sunnatullah dalam kehidupan.“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”(QS. al-Anbiya: 35).

Karena itulah termasuk di antara rukun-rukun keimanan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Sebab diriwayatkannya hadits Jibril[3]juga untuk menegaskan keimanan kepada takdir yang baik dan yang buruk.

Namun keburukan tersebut bukanlah keburukan ketika datang dari sisi Allah akan tetapi dia hanyalah keburukan dalam pandangan hamba. Karena AllahAzza wa Jallatidak menciptakan keburukan yang mutlak. Dia tidak menciptakan sesuatu yang buruk (dalam pandangan hamba) kecuali ada hikmah di dalamnya. Oleh karena itu maka keburukan tidak dinisbatkan kepada Allah meskipun Dia yang menciptakannya.

 

Bagaimana menghadapi takdir Allah yang berat?

Ketika takdir dapat berupa sesuatu yang buruk dimana seorang hamba pasti mendapatkan takdir seperti itu sebagaimana firman AllahTa’ala:

}وَلَنَبْلُوَنَّكُمبِشَيْءٍمِّنَالْـخَوْفِوَالْـجُوعِوَنَقْصٍمِّنَالأَمْوَالِوَالأَنفُسِوَالثَّمَرَاتِوَبَشِّرِالصَّابِرِينَ{

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”(QS. al-Baqarah: 155).

Maka setiap hamba harus mengetahui adab-adab dalam menghadapi musibah atau takdir yang berat.

Di antara adab-adab tersebut adalah :

1.      Sabar dan ridha

2.      Tidak menisbatkan keburukan kepada Allah dan tidak menganggap keburukan itu sebagai keburukan mutlak. Sebaliknya dia harus memperhatikan kebaikan dan hikmah yang terdapat di balik keburukan tersebut.

3.      Tidak menyangka keburukan tersebut akan berkepanjangan, sebaliknya dia harus meyakini bahwa hal itu tidak akan berlangsung terus-menerus dan berharap keburukan itu berganti menjadi kebaikan. Karenasunnatullahdalam kehidupan dunia ini adalah bahwa tetapnya suatu keadaan tanpa perubahan adalah sesuatu yang mustahil.

 

Pertama, ridha kepada takdir

Ini adalah tingkatan yang lebih tinggi dari kesabaran yang Allah berfirman tentangnya :

}وَبَشِّرِالصَّابِرِينَ   .الَّذِينَإذَاأَصَابَتْهُممُّصِيبَةٌقَالُواإنَّالِلَّهِوَإنَّاإلَيْهِرَاجِعُونَ{

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.”(QS. al-Baqarah: 155-156).

Dan doa Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam:“Aku memohon kepada-Mu sikap ridha setelah datangnya takdir”

Juga perkataan seorang Arab Badui ketika banyak untanya yang mati: “Demi Allah aku tidak bergembira melihat unta-untaku beristirahat sementara apa yang telah ditakdirkan Allah tidak terjadi.”

 

Perbedaan antara keadaan sebelum terjadinya takdir yang berat dan setelah terjadinya:

Ridha kepada takdir tidak bertentangan dengan berdoa agar takdir berubah atau berusaha untuk mendapatkan yang baik. “Penyakit yang menimpa ternakmu obatilah dan berdoalah”

-          Tidak menolak takdir yang buruk kecuali do'a.

-          Doa bermanfaat untuk yang sudah terjadi dan yang belum terjadi.

-          Ambillah pelajaran dari musibah dan takdir berat yang menimpa.

 namun ridha terhadap takdir hanya bertentangan dengan  keyakinan bahwa tidak ada hikmah dan kebaikan dari sisi Allah dalam takdir buruk tersebut atau sakit hati karenanya dan hanya mengeluh kepada makhluk dan tidak harus tidak mengeluh.

Berkata Imam Syafi’i :

Biarkan masa berbuat sekehendaknya

Kuatkan jiwa saat takdir menimpa

Jangan sedihkan musibah-musibah malam

Musibah dunia takkan kekal selamanya

Jadilah lelaki tegar dalam kesulitan

Berhiaskan akhlak pemaaf dan kesetiaan

 

Kedua, keyakinan bahwa keburukan tidak kembali kepada Allah sehingga tidak boleh menisbatkan keburukan kepada-Nya

Sebagaiamana telah dijelaskan sebelumnya bahwa Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak sehingga keburukan yang terdapat dalam alam ciptaan-Nya itu hanyalah buruk dalam pandangan hamba yang dibelakangnya ada kebaikan yang sifatnya umum atau kebaikan yang dikhususkan untuk hamba tersebut. AllahTa’alamenguji Anda untuk memperbaiki Anda, membuat Anda sakit untuk menyembuhkan Anda, membuat Anda merasa sempit untuk mengangkat derajat Anda di akhirat dan menurunkan musibah kepada Anda untuk menjadikan Anda beribadah kepadaNya.

 Karena itulah Rasul bersabda:“Segala kebaikan di Tangan-Mu dan keburukan tidak (dinisbatkan) kepadaMu”.

Al Quran juga mengajarkan kita untuk tidak menisbatkan keburukan kepada Allah[4]:

1-}وَأَنَّالانَدْرِيأَشَرٌّأُرِيدَبِمَنفِيالأَرْضِأَمْأَرَادَبِهِمْرَبُّهُمْرَشَدًا{

 “Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.”(QS. a- Jin: 10)

2-}صِرَاطَالَّذِينَأَنْعَمْتَعَلَيْهِمْغَيْرِالْـمَغْضُوبِعَلَيْهِمْوَلاالضَّالِّينَ{

“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”(QS. al-Fatihah: 7)

3-}زُيِّنَلِلنَّاسِحُبُّالشَّهَوَاتِمِنَالنِّسَاءِوَالْبَنِينَوَالْقَنَاطِيرِالْـمُقَنطَرَةِمِنَالذَّهَبِوَالْفِضَّةِ{

 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak.”(QS. Ali Imran: 14)

Allah menciptakannya sebagai perhiasan.

}وَلَكِنَّاللَّهَحَبَّبَإلَيْكُمُالإيمَانَوَزَيَّنَهُفِيقُلُوبِكُمْ{

 “tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu.”(QS. al-Hujurat: 7)

4- }أَمَّاالسَّفِينَةُفَكَانَتْلِـمَسَاكِينَيَعْمَلُونَفِيالْبَحْرِفَأَرَدتُّأَنْأَعِيبَهَا{

“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu.”(QS. al-Kahfi: 79).

}وَأَمَّاالْـجِدَارُفَكَانَلِغُلامَيْنِيَتِيمَيْنِفِيالْـمَدِينَةِوَكَانَتَحْتَهُكَنزٌلَّهُمَاوَكَانَأَبُوهُمَاصَالِـحًافَأَرَادَرَبُّكَأَنيَبْلُغَاأَشُدَّهُمَاوَيَسْتَخْرِجَاكَنزَهُمَارَحْمَةًمِّنرَّبِّكَ{

 “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.”(QS. al-Kahfi: 82).

Dengan demikian keburukan tidak dinisbatkan kepada Allah akan tetapi keburukan itu dalam pandangan hamba.

 

 

Ketiga, mengharap keburukan akan berganti dan tidak meyakini kekalnya keburukan

           

Hanya dalam hitungan kedipan mata                        

Allah rubah keadaan ke lainnya

Banyak urusan nampak buruk di waktu pagi

Tatkala sore kesenangan pun menghampiri

 

Berkata Ibnu Abbasradhiyallahu 'anhu tentang firman AllahTa’alayang artinya:“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam urusan.”(QS. Ar Rahman: 29)."Dia menghidupkan dan mematikan, memuliakan dan menghinakan dan Dia melakukan apa yang Dia inginkan."

Berkata Abud Darda’:'Di antara urusan Allah adalah mengampuni dosa, mengangkat musibah, meninggikan satu kaum dan merendahkan kaum lainnya.

Dari Mujahid meriwayatkan dari Ubaid bin Umair berkata:Di antara urusan Allah adalah memenuhi doa, memberi yang meminta, melepaskan himpitan dari yang kesulitan atau menyembuhkan yang sakit.

 

Karena itulah berputus asa dari rahmat Allah merupakan kesesatan dan kekufuran. Firman Allah:

}قَالَوَمَنيَقْنَطُمِنرَّحْمَةِرَبِّهِإلَّاالضَّالُّونَ{

 “Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat."(QS. Al-Hijr: 56)

}يَابَنِيَّاذْهَبُوافَتَحَسَّسُوامِنيُوسُفَوَأَخِيهِوَلاتَيْأَسُوامِنرَّوْحِاللَّهِإنَّهُلايَيْأَسُمِنرَّوْحِاللَّهِإلَّاالْقَوْمُالْكَافِرُونَ{

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir."(QS. Yusuf: 87)

 

Dalam syair Imam Syafi’i disebutkan :

Jangan sedihkan musibah-musibah malam   

Musibah dunia takkan kekal selamanya

Sedih tak akan kekal juga kesenangan                       

Sengsara tak kekal juga kebahagiaan

 

Keadaan yang tidak akan berubah adalah suatu kemustahilan karena Allah merubah keadaan hamba-hambaNya dari satu takdir ke takdir lainnya dan boleh jadi satu keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat dimana kebaikan lahir dari satu keburukan, karunia keluar dari rahim satu ujian dan jalan keluar lahir dari satu kesempitan. Contohnya  firman AllahTa’ala:

}إنَّالَّذِيفَرَضَعَلَيْكَالْقُرْآنَلَرَادُّكَإلَىمَعَادٍ{

"Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (yakni Makkah).”(QS. al-Qashash: 85)

Perhatikanlah keadaan Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau keluar berhijrah dari kota Mekkah dan keadaan beliau ketika kembali ke kota Mekkah pada saat fathu Makkah.

Juga firman Allah :

}وَأَوْحَيْنَاإلَىأُمِّمُوسَىأَنْأَرْضِعِيهِفَإذَاخِفْتِعَلَيْهِفَأَلْقِيهِفِيالْيَمِّوَلاتَخَافِيوَلاتَحْزَنِيإنَّارَادُّوهُإلَيْكِوَجَاعِلُوهُمِنَالْـمُرْسَلِينَ{

 “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.”(QS. Al Qashash : 7)

Juga firman Allah :

}وَقَالَالَّذِياشْتَرَاهُمِنمِّصْرَلامْرَأَتِهِأَكْرِمِيمَثْوَاهُعَسَىأَنيَنفَعَنَاأَوْنَتَّخِذَهُوَلَدًا{

 “Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: "Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak."(QS. Yusuf: 21).

Juga firman Allah :

}وَكَذَلِكَمَكَّنَّالِيُوسُفَفِيالأَرْضِيَتَبَوَّأُمِنْهَاحَيْثُيَشَاءُنُصِيبُبِرَحْمَتِنَامَننَّشَاءُوَلانُضِيعُأَجْرَالْـمُحْسِنِينَ{

Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Yusuf: 56).

Ini adalah kabar gembira bagi Nabi Yusuf dan keberhasilan yang hakiki setelah Yusuf berkata:"Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan."(QS. Yusuf: 55).

 

Berkata al-Mu’tamid, Khalifah Andalusia dalam bait-bait syairnya ketika terjadi prahara di negerinya dan dia ditawan oleh kaum murabithun:

 

Dahulu aku gembira dengan datangnya hari raya

            Tapi tertawan di Aghmat hari raya menyedihkanmu

Melihat putri-putrimu berpakaian kusam kelaparan

            Memintal tuk orang lain tak berpunya walau qithmir[5]

Mereka muncul di hadapanmu menyerah tertunduk

            Tatapan mata mereka sayu dan hampa

Menapak tanah  bertelanjang kaki

            Seakan tak pernah menginjak kafur kasturi

 

Bahkan boleh jadi berbaliknya keadaan dapat terjadi dalam sekejap. Sebagian ulama telah mencatat beberapa kejadian unik dalam sejarah tentang hal itu seperti yang diceritakan Syamsuddin bin Thulun dalamLuma’at Barqiyyah:

“Al-Allamah Badruddin al-Asdi meriwayatkan kejadian-kejadian di tahun 556 H bahwa seorang pemimpin kaum Asyraf (keturunan Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam.Pent.) di Damaskus menderita sakit yang parah yang tidak ada harapan lagi untuk disembuhkan, maka Sultan Nuruddin menyerahkan kepemimpinannya dan semua jabatan yang didudukinya kepada anaknya. Maka mulailah anak tersebut mempersiapkan perlengkapan jenazah untuk ayahnya dan menggalikan kubur untuknya lalu tiba-tiba sang ayah disembuhkan Allah dan sang anak justru yang jatuh sakit dan kemudian meninggal lima hari setelah itu! Maka jenazahnya pun diurus dengan perlengkapan yang sudah disiapkannya untuk kematian ayahnya dan dikuburkan di lubang yang dibuatnya untuk ayahnya.[6]

Sebagian ulama mengantarkan sebuah jenazah di Bagdad dan mereka diikuti oleh seorang yang suka membongkar kubur. Ketika tiba waktu malam pembongkar kubur itu datang ke kubur dan membuka jenazah tersebut yang ternyata mayat seorang pemuda yang meninggal karena serangan jantung. Ketika dia membongkar kubur tersebut tiba-tiba mayat pemuda itu bangkit dan duduk lalu si pembongkar kuburpun meninggal dan jatuh ke dalam lubang kubur itu dan pemuda tadi keluar dari kuburnya dan kembali ke rumah keluarganya.

Berkata al-Allamah Badruddin tentang kejadian tahun 534 H:  Pada tahun tersebut seorang yang shalih dari penduduk Babul  Azj, sebuah kawasan yang luas dan mempunyai banyak pasar di bagian timur kota Bagdad, meninggal dunia. Maka diserukanlah untuk menunaikan shalat jenazah atasnya di madrasah Syekh Abdul Qadir. Ketika akan dimandikan jenazah itu bersin dan hidup kembali lalu yang memandikannya terkejut dan pingsan lalu meninggal dunia (al-Kawakib al-Durriyyah, hal 110).

Kisah ini juga diceritakan Ibnul Jauzi dalamal-Muntazhim, tapi sebagai ganti dari kisah meninggalnya yang memandikannya disebutkan: Maka dihadirkanlah jenazah yang lain dan orang shalih itupun menshalatinya. (Juz IV, hal 18. Juga disebutkan dalamal-Bidayah wa al-Nihayah, Juz VI, hal. 216-217)

           

Berapa banyak orang sakit masih hidup setelah

            Meninggalnya sang dokter dan pembesuknya

            Boleh jadi seekor burung yang diburu selamat dengan cepat

            Dan takdir kematian menimpa sang pemburu

 

Di antara perubahan keadaan yang unik bahwa seseorang membuat alat penyiksa untuk seorang raja ternyata dialah orang yang disiksa dengan alat itu. Muhammad bin Abdul Malik membuatkan untuk al-Watsiq sebuah alat penyiksa berupa pembakaran kayu dengan paku-paku yang berdiri tegak lalu dia sendiri yang disiksa dengan alat itu berhari-hari hingga tewas.

 

Kalau Anda memperhatikan berbaliknya keadaan dalam kehidupan manusia kemudian Anda memperhatikan sifat manusia itu sendiri maka Anda akan mendapatkan hal-hal yang berlawanan. Seperti antara keindahan dan keburukan atau  kepandaian dan kebodohan, hal ini berbeda dengan keadaan manusia di surga dimana tidak ada lagi orang yang dungu dan bodoh.

 

Diantara hal-hal yang berlawanan di dunia adalah kedermawanan dan kekikiran.

Syair tentang kedermawanan :

Seandainya dia tak memiliki sesuatu selain nyawanya          

Pasti kan didermakannya, maka takutlah kepada Allah siapa yang meminta darinya

 

Syair tentang kekikiran seorang bernama Isa:

           Isa kikir kepada diri sendiri                

Padahal dia tak akan tinggal dan kekal

            Andai dia mampu lebih kikir lagi                   

Dia kan bernafas dengan satu lubang hidung

 

Inti yang tak terlihat dan terlihat namun tanpa inti.

Jalinus pernah melihat seorang laki-laki yang memakai pakaian yang mewah namun terjatuh dalam kata-katanya maka Jalinus berkata kepadanya:“Bicaralah dengan perkataan yang menyerupai pakaianmu atau pakailah pakaian yang meyerupai perkataanmu.”

Dan diantara perkataan menyedihkan yang diucapkan Curchill: Saya penah melihat  ketika saya melewati sebuah pemakaman sebuah kubur yang ditulis pada batu nisannya “di sini bersemayam seorang pemimpin politik dan laki-laki yang shalih” maka sayapun heran bagaimana bisa dua orang dikuburkan dalam satu liang lahad? Ini menurut pandangan politik modern yang dihasilkan oleh Barat dan dunia pada umumnya[7], kecuali siapa yang dirahmati oleh Allah.

Yang lebih menyedihkan dari itu adalah apa yang diriwayatkan Anasradhiyallahu 'anhuketika Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallammeniup ke sebuah nampan maka makanan itu diberkahi dan cukup untuk ratusan orang sementara Musailamah al-Kadzdzab, ketika mengaku sebagai Nabi, meludah di sebuah sumur tiba-tiba sumur itu menjadi kering. Dan dia pernah mengusap kepala seorang anak kecil tiba-tiba rambut anak itu berguguran.

Tepat kiranya menutup tulisan ini dengan dengan bait-bait syair dari Ali ibnul Jahm yang berisi ketiga adab dalam menghadapi takdir yang berat yang telah kami sebutkan di atas yaitu sabar dan ridha, dan bahwa takdir tersebut bukanlah keburukan mutlak, dan bahwa keadaan yang tidak akan berubah adalah kemustahilan.

Tentang ridha:

Dia berkata: engkau dipenjara, aku berkata: tidak menyusahkanku

Penjaraku, karena pedang mana yang takkan masuk ke dalam sarungnya

Tdakkah kau lihat singa berdiam di padangnya dengan sombongnya

Sementara pemangsa-pemangsa lain berpindah-pindah

Dan mentari andai dia tak terhijab dari pandangan

Takkan pernah dia menyinari bintang-bintang

 

Melihat kebaikan yang tersembunyi dalam ujian dan kesulitan:

           Besi bergelombang takkan meluruskan gelombangnya

            Kecuali alat pelurus dan api yang menyala

            Dan api yang tersembunyi di dalam batu

            Takkan menghangatkan jika tak membakar kayu

 

Kondisi akan berubah:

           Air hujan terkumpul dalam awan hingga tak nampak

            Kecuali jika gerimisnya datang dan mengguntur

            Berapa banyak orang sakit terlangkahi kematian

            Dia selamat, justru dokter dan penjenguknya yang mati

           


[1] .Nardalam bahasa Arab bermakna api atau neraka (pent.)

[2].Hamdalam bahas Arab bermakna kesedihan (pent.).

[3] . Hadits yang menyebutkan rukun Islam dan rukun Iman (pent.)

[4] . Dalam ayat-ayat ini keburukan disebutkan dalam bentuk pasif dengan tidak disebutkan subyeknya sementara kebaikan disebutkan bahwa yang melakukannya adalah Allah. Demikian pula keburukan disandarkan kepada kehendak hamba sementara kebaikan disandarkan kepada kehendak Allah (pent.).

[5] .Qithmiradalah selaput tipis yang membungkus biji kurma (pent.)

[6].Al Kawakib Ad Duriyah fi As Sirah An Nabawiyahhal. 159 dengan perantaraanLuma’at Barqiyyah fi Nukat Tarikhiyah.

[7] . Yaitu bagaimana mungkin seorang pemimpin politik bisa menjadi orang yang shalih? (pent.)

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir