Bahasa Dakwah Antara UmmatDakwahdan UmmatIjabah[1]

01/04/2014 0:00:00
أمين الدميري Jumlah kali dibaca 984

Bahasa Dakwah Antara UmmatDakwahdan UmmatIjabah[1]


Amin al-Demery

 

Metodeindzar/peringatan yang berisi ancaman adalah ciri khas dakwah kepada ummat dakwah, adapun metodetadzkir/peringatan yang berisi pelajaran adalah ciri khas  dakwah kepada ummatijabah.

Pada dasarnya dakwah adalah ajakan untuk mentauhidkan AllahTabaraka wa Ta’alaatau ajakan untuk masuk ke dalam Islam. Jika seseorang telah masuk ke dalam Islam maka dia telah tergolong ke dalam ummatijabahsehingga materi dakwah yang disampaikan kepadanya beralih kepada materi yang berisi pengenalan, pengajaran dan peringatan.

Nabishallallahu 'alaihi wa sallam memulai dakwahnya dengan memberikanindzarkepada kaumnya dengan mengajak mereka untuk mentauhidkan AllahAzza wa Jallasebagaimana disebutkan dalam firman AllahTa’ala:

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”(QS. asy-Syu’ara: 214)

Dan firman AllahTa’ala: “Bangunlah, lalu berilah peringatan.”(QS. Al Muddatstsir : 2)

Dan firman AllahTa’ala:

{وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إلَيْكَ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِّتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنذِرَ يَوْمَ الْـجَمْعِ لا رَيْبَ فِيهِ فَرِيقٌ فِي الْـجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ}

 “Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam.”(QS. asy-Syura: 7)

Beliau terus mengajak kaumnya dan menyampaikan dakwah tauhid kepada kabilah-kabilah Arab dengan metodeindzar. Ketika ada di antara mereka yang menerima dakwah dan beriman maka yang disampaikan kepada mereka adalah penguatan iman tersebut, perintah-perintah dan pengajaran tentang konsekwensi tauhid.

Di samping itu beliau juga menyampaikan peringatan untuk menapaki akhlaq yang tinggi dan mulia sebagaimana dalam firman AllahTa’ala:

{إنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِـمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَوَهُوَ شَهِيدٌ}

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”(QS. Qaaf: 37)

Dan firman AllahTa’ala:

{وَذَكِّرْ فَإنَّ الذِّكْرَى تَنفَعُ الْـمُؤْمِنِينَ}

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. adz-Dzariyat: 55)

Dan firman AllahTa’ala:

{سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَى}

“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.”(QS. al-A’la: 10)

Dalam hadits Mu’adzradhiyallahu 'anhuketika Nabishallallahu 'alaihi wa sallammengutusnya ke Yaman, beliau bersabda kepadanya:“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum Ahli Kitab, maka jika engkau sampai kepada mereka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah...”[2]Karena Ahli Kitab yang telah tersesat dari tauhid yang benar, dengan mempersekutukan Allah dan menisbatkan kepada-Nya apa yang tidak layak untuk-Nya seperti mempunyai istri dan anak, adalah ummat dakwah sehingga materi dakwah yang disampaikan kepada mereka adalah mentauhidkan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Dalam menjelasankan hadits ini, Imam Nawawi berkata:“Sunnahnya adalah bahwa orang-orang kafir diajak kepada tauhid.”[3]Kemudian Nabishallallahu 'alaihi wa sallambersabda kepada Mu’adz dalam lanjutan hadits tadi:“Jika mereka mentaatimu dalam hal tersebut maka ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka lima kali shalat dalam sehari semalam.”Karena dengan menerima pokok agama yaitu tauhid mereka telah menjadi ummatijabahsehingga materi dakwah untuk mereka adalah pengajaran syi’ar-syiar dan syariat-syariat Islam.

            Di antara karakteristik dan tujuan Al-Quran adalah bahwa Al-Quran mengajak ummat dakwah dan ummatijabahdan memberikan petunjuk kepada keduanya yang berupa penjelasan dan tuntunan.  Kelompok yang pertama adalah kelompok yang tidak bertauhid, baik mereka dari golongan Nasrani, penyembah berhala, atheis ataupun orang yang murtad. Adapun kelompok yang kedua adalah kaum muslimin dan mukminin.

Seruan untuk kedua kelompok tersebut telah disebutkan secara bersamaan di awal surat Al A’raf, yaitu dalam firman AllahTa’ala:

{كِتَابٌ أُنزِلَ إلَيْكَ فَلا يَكُن فِي صَدْرِكَ حَرَجٌ مِّنْهُ لِتُنذِرَ بِهِوَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ}

 “Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.”(QS. al-A’raf: 2)

Firman-Nya yang artinya “supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir)”ditujukan kepada kelompok pertama yaitu kaum musyrikin yang merupakan ummat dakwah. Adapun firman-Nya yang artinya “dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman”adalah seruan khusus untuk ummatijabah.

Dalam ayat ini ummatijabahdisebutkan secara eksplisit dengan kataal-mu’minin, sebagai penghargaan untuk mereka, sementara ummat dakwah tidak disebutkan secara eksplisit sebagai bentuk penghinaan kepada mereka.

Al-Quran juga mengkhususkan seruan untuk ummat dakwah dengan panggilan“ya ayyuhannas”dan “ya ayyuhal insan”, yang bermakna wahai manusia. seruan model ini merupakan ciri ayat-ayat yang turun dalam periode Mekkah. Karena seruan tersebut ketika itu ditujukan kepada seluruh manusia untuk mentauhidkan Allah tanpa disertaitaklif/pembebanan berupa perintah dan larangan.

Adapun seruan yang dikhususkan kepada ummatijabahadalah“ya ayyuhalladzina amanu”, yang bermakna wahai orang-orang yang beriman. Seruan model ini merupakan ciri kebanyakan ayat-ayat yang turun dalam periode Medinah. Karena perintah dan larangan ditujukan kepada ummatijabahsetelah mengakarnya tauhid dan iman.

Ada tiga pembebanan kepada ummatijabah:

1.      Menjaga kemurnian tauhid, memperbaiki hubungan ke dalam dan meningkatkan kualitas iman mereka, dengan cara menerapkan hak-hak ukhuwah islamiyah dan ikatan keimanan. Juga dengan menguatkan kesolidan jamaah secara intern, menyebarkan suasana kesucian, penjagaan kehormatan diri, kejujuran dan amanah, serta menanamkan nilia-nilai keadilan dan saling menyayangi. Semua ini dapat dilakukan dengan cara saling menasehati dan beramar ma’ruf nahi mungkar dengan cara yang penuh hikmah dan pelajaran yang baik.

2.      Berupaya dan bekerja untuk menegakkan agama secara sempurna. Ini merupakan perintah yang tersirat dalam firman AllahTa’ala:

 “Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama…”(QS. asy-Syura: 13).

Karena tidak cukup, bahkan tidak dibolehkan, sekedar seseorang taat menjalankan agama secara pribadi, akan tetapi agama harus ditegakkan secara keseluruhan, dari sisi aqidah dan syariah, ibadah dan muamalah, serta hukum dan akhlak. Sebagaimana tidak cukup dan tidak dibolehkan sekedar seseorang menjadi shaleh secara pribadi, akan tetapi keshalehannya tersebut dibuktikan oleh upaya melakukan perbaikan sebagaimana firman AllahTa’ala:

 “Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.”(QS. al-A’raf: 170)

3.      Mendakwahi kaum yang tidak bertauhid. Inilah adalah gerakan keluar untuk mewujudkan globalisasi Islam dan menyebarkan risalahnya sehingga agama di bumi seluruhnya hanya untuk Allah. Agar seluruh makhluk hanya menghambakan diri kepada Allah. Hal ini dilakukan dengan cara menjelaskan perbedaan antara jalan yang lurus dan jalan yang menyimpang dan menjelaskan pokok-pokok agama. Setelah itu manusia memiliki kebebasan untuk memilih tanpa adanya paksaan.

AllahTa’alaberfirman:“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.”(QS. al-Baqarah: 256).

Islam tidak memaksa seseorang untuk masuk ke dalamnya, akan tetapi Islam juga tidak akan membiarkan para penentang dan penyebar fitnah dan kerusakan untuk menghalangi-halangi sampainya dakwah kepada seluruh manusia. karena setiap penghalang dakwah harus disingkirkan sesuai kemampuan.

Ketika dakwah itu mengajak kepada mentauhidkan Allah dan iman kepada-Nya dan  obyek dakwah telah menerima dakwah tersebut maka kita gandeng tangannya dan mengajarkannya untuk bersama-sama menapaki tangga-tangga menuju derajat iman tertinggi dan derajat ihsan.

Dalam tahapan ini materi dakwah beralih kepada amar ma’ruf nahi munkar dan nasehat serta peringatan. Tujuan dakwah dalam tahapan ini adalah menegakkan agama secara sempurna sebagaimana telah dijelaskan di atas dan sesuai firman AllahTa’ala:

 “(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”(QS. al-Hajj: 41)

Itulah rambu-rambu Islam yang utama dalam berdakwah. Namun demikian keadaan bisa saja tidak berjalan sebagaimana mestinya karena seringkali terjadi pencampuradukan, seperti ketika diabaikannya faktor perbedaan negeri dan tahapan.

Sebagai contoh; dakwah di negeri Islam berbeda dengan dakwah di negeri yang lain, demikian pula dakwah dalam kondisi lemahnya kaum muslimin berbeda dengan dakwah dalam kondisi eksisnya kaum muslimin. Boleh jadi para juru dakwah mendakwahi ummat dakwah dengan materi yang merupakan konsumsi ummatijabah, bahkan terkadang seorang da’i tidak membedakan antara seorang yang bertauhid dengan yang tidak bertauhid dalam menyampaikan dakwahnya.

Musibah yang paling besar dalam hal ini terjadi ketika hakikat keimanan dan konsekwensinya telah terlupakan, dan makna tauhid sudah menjadi kabur dalam pemahaman ummatijabah. Mereka lupa akan konsekwensi tauhid dan bahkan melakukan hal-hal yang membatalkan tauhid! Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Yang lebih parah lagi apabila para juru dakwah sudah menyepelekan pelanggaran-pelanggaran aqidah baik dalam tataran pemahaman atau dalam tataran perbuatan, seperti meniru metode-metode yang datang dari Barat dan mengikuti jalan selain jalannya orang-orang beriman,  mendiamkan kemungkaran dengan tidak mengingkarinya baik karena setuju atau karena mengalah dan meninggalkan prinsip. Sehingga turunlah hukuman, musibah datang secara beruntun dan kekalahan menimpa orang-orang yang mengaku beriman dan orang-orang yang merasa dirinya sebagai ahli tauhid!

Sesungguhnya AllahTa’alatidak akan memberikan pertolongan kecuali kepada orang-orang yang beriman dengan hak dan memiliki tauhid yang murni. Kehinaan dan menjadi permainan musuh-musuh Islam sesungguhnya disebabkan oleh dosa-dosa, kelemahan iman dan kekurangan-kekurangan orang-orang yang bertauhid. Karena tidaklah musibah menimpa kecuali disebabkan karena dosa dan tidaklah diangkat derajat kecuali dengan taubat dan kembali meluruskan arah perjalanan.

Dalam masalah ini Ibnul Qayyimrahimahullahmenyampaikan wasiat yang sangat berharga yang layak untuk dipelajari dan direnungkan:

 “Sesungguhnya Allah hanya menjamin pertolongan dan kemenangan untuk agama, golongan dan wali-wali-Nya yang menegakkan agama-Nya dengan ilmu dan amal. Dia tidak menjamin pertolongan untuk kebatilan meskipun pelakunya menyangka dia di atas kebenaran. Demikian pula kemuliaan dan ketinggian hanya untuk ahli iman yang dengan iman tersebut Allah mengutus Rasul-Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Dimana iman itu adalah ilmu, amal dan keadaan. AllahTa’alaberfirman :

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”(QS. Ali Imran: 139). Maka seorang hamba akan mendapatkan ketinggian sesuai kadar keimanannya.  Allah juga berfirman :

 “Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.”(QS. al-Munafiqun: 8). Maka seorang hamba akan mendapatkan kemuliaan sesuai dengan kadar keimanannya dan hakikat keimanannya.

Jika seorang hamba tidak mendapatkan ketinggian dan kemuliaan maka hal itu sekadar dengan kurangnya hakikat keimanan yang dimilikinya baik dari sisi ilmu ataupun amal, baik yang lahir ataupun yang batin. Demikian pula kemenangan dan pertolongan hanyalah untuk mereka yang memiliki iman yang sempurna. Allah berfirman :

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).”(QS. Ghafir: 51)

Maka siapa yang berkurang imannya berkurang pula bagiannya dari kemenangan dan pertolongan Allah. Karena itu jka seorang hamba mendapatkan musibah pada dirinya atau pada hartanya atau dia menjadi permainan musuh-musuhnya maka sesungguhnya hal tersebut disebabkan oleh dosa-dosanya, baik itu berupa meninggalkan kewajiban atau melakukan perbuatan yang haram dan itulah kekurangan imannya…”[4]

 


[1]. Yang dimaksud dengan ummat dakwah adalah mereka yang belum masuk ke dalam Islam dan yang dimaksud dengan ummatijabahadalah mereka yang telah menerima Islam sebagai agama mereka. Pent.

[2] . HR. Bukhari No. 1359; Muslim No. 19.

[3] .syarah shahih Muslim, Juz I, hal. 167, cet. asy- Sya’b-Kairo

[4] .Ighatsatu Al Lahfan min Mashaiyid Asy Syaithan, Juz II, hal. 135, cet. Maktabah Qayyimah- Kairo

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir