MEMAPARKAN KISAH NABAWI DALAM KHOTBAH JUM'AT

01/04/2014 0:00:00
إبراهيم بن محمد الحقيل Jumlah kali dibaca 1076

MEMAPARKAN KISAH NABAWI DALAM KHOTBAH JUM'AT


Ibrahim ibn Muhammad al-Huqail

Nabishallallahu alaihi wasallamdiperintah AllahTa'ala menyampaikan kisah dan membacakan berita umat-umat terdahulu kepada umatnya agar mereka mengambil pelajaran dari kisah umat-umat tersebut dan supaya mereka beriman. Perintah tersebut disampaikan berulang kali di dalam Al-Quran. Hal itu karena kisah itu memiliki pengaruh yang kuat terhadap jiwa manusia.

Allah berfirman:

"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya." (QS. al-Maidah: 27).

"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab)." (QS. al-A'raf: 175).

"Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir." (QS. al-A'raf: 176)

"Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh" (QS. Yunus: 71).

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim." (QS. asy-Syu'ara: 69).

Imam Qurtubirahimahullahmenyatakan:"Allah memerintahkan Nabi shalallahu alaihi wasallam untuk mengingatkan mereka dengan kisah umat-umat terdahulu dan menakut-nakuti mereka dengan azab yang pedih akibat kekafiran mereka."[1]

Sedang menurut Ibn Asyurrahimahullah : "Dan kisah yang dimulai dengan perintah "Bacakanlah kepada mereka" dimaksudkan untuk memberi peringatan kepada orang-orang musyrik terkait pelaku kisah,dengan alasan Allah menyebutkan: 'Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.' (QS. al-A'raf: 176) yang dengan cara itu terwujud salah satu bentuk pengajaran."[2]

Perintah itu telah dilaksanakan Nabishallallahu alaihi wasallamdengan menyampaikan Al-Quran yang di dalamnya terdapat banyak kisah umat-umat terdahulu. Beliau juga telah menyampaikan kepada para sahabat banyak kisah yang diberitakan Allah dan tidak terdapat di dalam Al-Quran. Dalam kisah-kisah tersebut terdapat pelajaran indah dan peringatan penting bagi yang ingin mengambil faedah.

Oleh karena itu, sebaiknya para khatib menyelingi khotbahnya dengan kisah-kisah yang terdapat dalam hadits-hadits Nabishallallahu alaiji wasallam,dibarengi dengan petikan pelajaran-pelajaran penting  dan disampaikan kepada jamaah jum'at. Karena kisah-kisah nabawi itu termasuk di antara kisah-kisah terindah dan terbanyak pengaruhnya kepada pendengarnya.

Menyadari besarnya pengaruh kisah terhadap jiwa manusia, para ulama hadits pun membuat bab-bab khusus dengan judul kisah-kisah di dalam kitab-kitab mereka.

Imam Bukhari, yang dijuluki sebagaiamir al-mukminin fi al-hadits, misalnya membuat judul bab:

Bab tentang kisah Ya'juj dan Ma'juj.

Bab tentang kisah Ishak ibn Ibrahimalaihimassalam.

Bab tentang kisah masuk Islamnya Abu Zarrradhiyallahu anhu.

Bab tentang kisah Khuza'ah.

Bab tentang kisah Zamzam.

Bab tentang kisah al-Habsy.

Bab tentang kisah baiat dan kesepakatan memilih Utsman radhiyallah anhu.

Bab tentang kisah Abu Thalib, dan sebagainya.[3]

 

Sebab-sebab Kisah Berpengaruh pada Diri Pendengar

Kisah mampu memberikan pengaruh yang sangat besar pada diri pendangar karena banyak faktor, antara lain:

·         Hobi dan kecenderungan manusia mendengarcerita. Sampai-sampai Nabishallallahu alaihi wasallammengomentari kisah  Khidir bersama Nabi Musaalahimassalam:"Kita berhadap seandainya Musa dapat bersabar agar Allah mengisahkan kepada kita pengalaman mereka berdua."[4]

·          Kisah itu lebih unggul memberi pengaruh dibanding pengarahan langsung.

Ibn Qayyimrahimahullahmenyatakan: "Jiwa manusia itu menyukai sepenuhnya hal-hal yang diperumpamakan dan benci terhadap hal-hal aneh, sepi dan tidak berpasangan. Penggunaan perumpamaanmenjadikan jiwa lebih tenang, lebih siap menerima dan melaksanakankandungan perumpamaantersebut.Kenyataan ini tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun. Semakin kuatperumpamaan itu semakin jelas pula makna dan kandungannya. Karenanyaperumpamaan itu dipandang sebagai gambaran makna yang diinginkan dan sponsor baginya."[5]

·         Pembaca dapat memahami maknanya, karena ia mengikutinya dengan konsentrasi sehingga kisah yang dipaparkan membekas dalam jiwanya.

·         Sarana yang sangat mudah dan mendapatkan posisi di kalangan masyarakat umum.[6]

Imam Ahmadrahimahullahmenyatakan: "Betapa manusia membutuhkan ahli kisah yang jujur!"[7]

Nabishallallahu alaihi wasallamberinteraksi dan terpengaruh dengan kisah-kisah Al-Quran. Interkasi dan pengaruh tersebut dapat dilihat dalam beberapa sikapnya, antara lain:

-        Kesannya tentang kisah Isaalaihissalam, termasuk pengkultusan beliau dan ibunya oleh orang-orang Kristen yang menjadikannya sebagai  salah satu unsur trinitas. Kesan tersebut menjadikan beliau perhatian terhadap tarbiah para sahabat dan melarang mereka mengkultuskan dirinya. Nabishallallahu alaihi wasallambersabda:"Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana orang-orang Kristen mengkultuskan Isa ibn Maryam. Aku hanyalah seorang hamba maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya."[8]

-        Kesan Rasulullahshallallahu alaihi wasallamatas kejahatan Bani Israil kepada Musaalaihissalamdan kesabarannya menghadapi umatnya. Rasulullah bersabda:"Semoga Allah merahmati Musa. Ia telah disiksa dan direpotkan lebih dari siksaan ini tetapi beliau tetap bersabar."[9]

-        Kesan Nabishallallahu alaihi wasallamatas siksa yang diturunkan kepada orang-orang yang diadzab.  Aisyahradhiyallahu anhamenceritakan bahwa apabila Nabishallallahu alaihi wasallammelihat gumpalan awan, atau mendengar suara angin kencang, nampak rasa takut di wajahnya. Aisyah bertanya: Wahai Rasulullah, orang lain kalau melihat awan merasa gembira karena berharap hujan turun. Sedang Engkau kelihatan dari wajahmu rasa sedih dan takut. Nabi menjawab:  Wahai Aisyah, siapa yang menjamin bahwa itu bukan azab? Kenyataannya ada umat yang disiksa dengan angin kencang. Ada juga suatu kaum yang melihat siksaan, tapi mereka hanya berkata:"Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami".[10]

 

Keistimewaan Kisah-kisah Nabawi

Keutamaan wahyu atas perkataan lainnya ibarat keutamaan Allah atas semua ciptaan-Nya. Kisah-kisah Nabi pada hakekatnya adalah peristiwa gaib yang disingkapkan Allah kepada Nabishallallahu alaihi wasallamlalu diungkapkan Rasulullah. Sosok yang tidak pernah berbicara menurut kemauan hawa nafsunya."Ucapannya hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya".(QS. An-Najm: 4).

Oleh karena itu, kisah-kisah nabawi memiliki banyak keistimewaan yang tidak ditemukan secara utuh pada kisah-kisah lain, baik pada kisah-kisah klasik maupun kontemporer. Di antara keistimewaannya adalah:

·          Peristiwanya nyata dan realistis.

Hal itu karena kisah nabawi merupakan wahyu yang diberikan Allah kepada Rasulullahshallallahu alaihi wasallam. Ia bukan imajinasi yang dirangkai oleh pembawa kisah buat pembaca dan pendengarnya. Kisah nabawi merupakan metode aksidalam menata kehidupan orang-orangyangingin meniti jalan menuju surga yang penuh kenikmatan.[11]

Kisah nabawi, selaintidak cenderung menyimpan nafsu fantasi,ia jugatidak cenderungbergaya filsafat yang rumit. Ia juga tidakdangkalatau tidak seperti bejana yang dikemas tapi tak berisi apa-apa. Bukan pula kisah yang diikat dengan puluhan syarat dan ketentuan seperti kisah orang-orang Barat.

Kisah nabawi adalah kisah yang lahir dari fitrah suci sang pembawa kisah, mampu mewujudkan tujuannya, sangat indah urutan peristiwa, kerangkadialog danpotret profilnya.[12]

Kisah nabawi adalah kisah nyata. Berbeda dengan kisah-kisah palsu Bani Israil atau kisah-kisah tukang dongeng, yang di dalamnya terdapat banyak berita aneh yang tidak dapat diterima akal sehat,  atau banyak kontradiksi.

Imam Suyuthi menukil  perkataan ibn al-Jauzi bahwa:"Mayoritas hadits palsu itu lahir dari para tukang dongeng. Karena mereka ingin menyampaikan hadist-hadist yang meringankan hati sementara hadits shahih seputar itu terbatas jumlahnya."[13]

·          Lebih mementingkantema/isi dantujuankisahtanpapeduli pada aktor danwaktunya.

Oleh karena itu, metode penyampainnya pun beragam, misalnya: salah seorang di antara umat-umat terdahulu,  salah satu sosok Bani Israil, termasuk kisah tiga sosok yang diuji:  sakit lepra, botak, dan buta, kisah tiga orang yang terperangkap di dalam gua, kisahgulam al-ukhdud.Model kisah seperti ini akan selalu relevan dengan kehidupan tanpa dipengaruhi faktor waktu dan tempat.[14]

·          Metode penyampaiannya terseleksi.

Metodenya tidak dibuat-buat dan dipaksakan tapi tidak juga asal-asalan. Karena itu, saat para imam/khatib membacakan kisah nabawi kepada masyarakat umum, orang awam terkesan dan dapat memahaminya. Para sastrawan pun terkesima  mendengarkannya. Hal itu karena kisah nabawi menghimpun banyak sifat, antara lain: mudah diungkapkan, cepat dipahami, rasa bahasanya elok, struktur kalimatnya rapi, dan alur kisahnya saling terkait. Kisah-kisah yang dialami para sahabat juga memiliki karakter seperti itu, misalnya peristiwa yang dialami Aisyahradhiyallahu anhadalam kasusal-ifk, juga kisah Ka'ab ibn Malik saat absen mengikuti perang Tabuk. 

·         Integritas, suci, danmenggunakan kiasandalamperkara-perkara khusus.

Misalnya: "bertaqwalah kepada Allah dan jangan buka cincin itu kecuali dengan cara yang legal" atau  "pada saat dia duduk di sampingnya seperti duduknya seorang suami di sisi isterinya...".

·          Dengan demikian kita dapat memahami betapa jorok kisah-kisah Barat, ataupun kisah-kisah pengekor Barat dari kalangan liberal Arab yang penuh dengan kisah seksaul, atau melukiskan masalah seksual secara mendetail agar memancing birahi atau membawa pembacanya ke alam syahwat. Cara ini sepertinya disengaja untuk menutupi kelemahan struktur kisah dalam cerita-cerita murahan tersebut.

·          Tidak detail menggambarkan kelemahan dan kelalaian.

Hal itu karena kelemahan dan kelalaian bukanlah karakter mendasar pada diri seorang mukmin yang cinta kebaikan dan kesucian. Bukan juga tujuan dari kisah. Kondisi-kondisi lemah dan lalai merupakan kondisi sampingan yang terjadi karena faktor temporal semata.

·          Akselarasi dalam menceritakan hingga intikisahkemudian fokus dan memberi penekanan padanya. Karena kondisi demikianlah yang layak bagi seorang mukmin.

 

Klasifikasi Kisah dilihat dari Panjang ataupun Pendeknya

Kisah nabawi terbagi atas:

·         Kisah panjang,seperti kisahal-ifk,[15]kisah taubat Ka'ab ibn Malik,[16]kisah wahyu perdana,[17]kisah Ibrahim bersama Hajar,[18]dan sebagainya.

·         Kisah menengah,seperti kisah tiga orang yang diuji,[19]kisah tiga orang yang terperangkap di dalam gua,[20]kisah sapi yang dapat berbicara,[21]dan sebagainya.

·         Kisah pendek,seperti kisah orang yang berwasiat dibakar jasadnya setelah wafat lalu ditabur debunya,[22]kisah orang yang membeli properti dan mendapatkan emas di bawah tanahnya,[23]kisah Isaalaihissalambersama seorang pencuri,[24]  dan sebagainya.

Kisah-kisah panjang

Kisah-kisah panjang sebaiknya dipaparkan secara tuntas pada khotbah pertama, dengan catatan muqaddimah khotbahnya dipersingkat. Tujuannya agar tidak terasa panjang dan menjenuhkan jama'ah. Lalu pada khotbah kedua, dipilih intisari kisah berdasarkan skala prioritas kebutuhan jama'ah.Hal ini tentu berbeda-beda tergantung pada waktu, tempat dan momennya.

Sebagai contoh, seandainya seorang khatib menyampaikan kisahal-ifkpada khotbah pertama, sementara sebagian jama'ahnya terpengaruh dengan kebiasaan sebagian ahli bid'ah yang menjelek-jelekkan Aisyahradhiyallahu anha, maka pada khotbah kedua hendaknya ia menjelaskan bahwa menuduh Aisyahradhiyallahu anhaberzina hukumnya kafir karena termasuk tindakan mendustakan Al-Quran. sedang orang yang mendustakan Al-Quran adalah kafir. Juga sebaiknya ia membahas realita orang-orang munafik pada masa klasik dan masa kini. Demikian pula sebaiknya ia menjelaskan keutamaan Aisyahradhiyallahu anha karena dibela oleh Allah. Tentunya modelnya penyampaiannya dipersingkat.

Mungkin khatib tersebut memaparkan kisah tersebut untuk menjelaskan bahwa akibat tindakan menuduh, bahaya desas-desus. Maka pada khotbah kedua, ia akan menjelaskan mudarat yang menimpa rumah tangga Nabi akaibat desas-desus yang berkembang.

Mungkin juga khatib memaparkan kisah ini dengan tujuan tarbawi. Maka ia akan menjelaskan nilai-nilai tarbawiah dari sosok Nabishallallahu alaihi wasallamdalam menyikapi peristiwa ifk, Aisyah dan kedua orang tuanya, beserta para sahabat yang tersebut namanya di dalam kisah.

Oleh karena itu, hendaknya seorang khatib menentukan lebih dahulu tujuan dari pemaparan sebuah kisah, agar ia dapat fokus dan menyorot poin-poinnya pada khotbah kedua.

Tentu sangat keliru kalau ia beranggapan bahwa dirinya mampu menyinggung semua pelajaran yang terdapat di dalam kisah yang dipaparkannya. Karena hal itu akan memperpanjang khotbah dan membosankan jama'ahnya. 

Tidak ada halangan bagi khatib untuk mengulangi kembali kisah yang sama pada kesempatan yang lain. Tetapi pada setiap khotbah keduanya, ia mesti menyinggung perkara-perkara penting yang dapat dipetik dari kisah tersebut. Tetap dengan mempertimbangkan kondisi yang ada. Dengan demikian khotbah pertama berulang tetapi khotbah kedua tetap berbeda.

Kalau suatu kisah memiliki beberapa versi riwayat dan masing-masing panjang periwayatannya, maka riwayat-riwayat tersebut hendaknya disampaikan secara terpisah, hingga semuanya tuntas. Model ini meniru tradisi para ahli hadits seperti kebiasaan Imam Bukharirahimahullah.

Kisah-kisah menengah

Jika kisah yang dipaparkan ukurannya sedang maka penjelasan faedah dan pelajaran yang dapat dipetik lebih fleksibel. Dalam memaparkannya, para khatib memiliki dua cara:

·        Cara pertama, khatib langsung menjelaskan faedah dan pelajaran dari kisah secara langsung di sela-sela pemaparan kisah. Hal ini membutuhkan kepandaian merangkai kata-kata dan dalam memilih faedah ataupun pelajaran. Agar konsentrasi pendengar tetap fokus dan tidak bercabang.

Kelebihan cara ini adalah dapat menjadikan khotbah lebih singkat dan membantu pendengar mendeteksi titik pengambailan pelajaran.

Cara ini mirip dengan cara mensyarah kisah atau hadits dan cara mengurai kata-kata dalam kisah. Hendaknya orang yang mengambil cara ini waspada jangan sampai khotbahnya berubah menjadidars/pengajian atausyarah. Hendaknya gaya pemaparannya tetap menggunakan gaya khotbah. Sayangnya, terbatas jumlah khatib yang menguasai model ini.

·        Cara kedua, khatib memaparkan kisah secara tuntas terlebih dahulu, lalu menjelaskan faedah dan pelajaran yang dipetik dengan tetap menyebutkan titik pengambilan setiap poin dari kisah tersebut.

Keistimewaan cara ini, dapat memberikan pemahaman utuh terhadap kisah tanpa interupsi dari khatib. Hal ini menjadikan pendengar lebih fokus dan pengaruhnya lebih besar. Juga lebih aman bagi khatib yang tidak piawai menyisipkan faedah dan pelajaran di sela-sela pemaparan kisah.  Sayangnya cara ini mengharuskan terjadinya pengulangan kisah secara parsial. Karena khatib pertama kali memaparkan kisah secara tuntas kemudian ia mengulangi kisah atau potongan kisah saat menjelaskan faedah dan pelajaran yang dipetik daripadanya.

Kisah-kisah pendek

Adapun kisah-kisah pendek maka dilihat dari faedahnya, kisah-kisah initerbagi dua:

·        Pertama, kisah yang memiliki banyak faedah dan pelajaran yang cukup untuk satu khotbah, maka khatib hendaknya menyampaikannya dalam khotbah tersendiri.

·        Kedua, kisah pendek yang tidak mengandung banyak faedah dan pelajaran. Kisah seperti ini hendaknya ditambahkan dengan kisah yang mirip sebab kalau tidak demikian maka khatib terpaksa harus memanjangkan muqaddimah dan penutupnya, agar khotbahnya tidak kelihatan terlalu pendek. Atau ia harus membumbuinya dengan banyak kata-kata kosong. Atau terpaksa ia harus mengulang-ulang pernyataannya, yang pada gilirannya mengakibatkan khotbahnya banyak kesalahan ucap. Semua itu dapat merusak keindahan khotbah dan membosankan pendengar.

 

Klasifikasi Kisah Berdasarkan Pelakunya

Pertama,Kisah-kisah umat terdahulu, utamanya kisah-kisah Bani Israil, karena kisah merekalah yang terbanyak dalam hadits-hadits Nabishallallahu alaihi wasallam. Antara lain; kisah Khidir,[25]kisah pezina yang memberi minum seekor anjing,[26]kisah Juraij, sang ahli ibadah,[27]dan kisah-kisah lain yang banyak dalam sunnah Nabi.

Banyaknya kisah-kisah Bani Israil di dalam hadits Nabishallallahu alaihi wasallammungkin disebabkan karena: dekatnya mereka dengan kebangkitan nabawi secara waktu dan tempat. Terbukti dengan adanya orang-orang Yahudi yang berdomisili di Medinah, orang-orang Kristen di Jazirah Arabiah, beberapa suku Arab, dan di Syam. Juga karena Nabi diutus pada masa transisi yang sebelumnya telah diutus sejumlah nabi dari Bani Israil.

Faktor lain adalah karena Bani Israil masih memegang bagian-bagian tertentu di antara isi kitab suci. Hal ini menjadi bukti kebenaran Nabi saat berbicara tentang kisah yang mereka ketahui. Sebab lainnya adalah sebagai upaya menarik simpati mereka, karena jika mereka mendengarkan kisah pendahulu mereka maka peluang mereka masuk Islam lebih besar. Sayangnya kedengkian yang  memenuhi hati para pendeta dan rahib menyebabkan mereka sesat dan menyesatkan masyarakat umum.

Kedua,Kisah-kisah yang terjadi pada diri Nabishallallahu alaihi wasallam 

 Kisah-kisah ini terbagi dua:

1.      Kisah yang terjadi sebelum kenabian. Seperti peristiwa pembedahan dada Nabi, penyusuan Nabi di kampung Bani Sa'ad, penunjukan beliau menjadi hakim dalam perselisihan saat peletakan  ka'bah/hajar aswad, dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini, kisah Nabi saat masih kanak-kanak dan remaja. Juga karamah yang disaksikan orang banyak pada sosok Nabi sedang beliau tetap suci, amanah, dan berakhlak mulia.

2.      Kisah-kisah yang terjadi pasca kenabian.  Hal ini sangat banyak, baik kisah pribadi beliau seperti kisah terputusnya wahya, peristiwa isra' mi'raj. Atau kisah beliau bersama ahli baitnya. Seperti kisahnya bersama istri-istrinya, peristiwaifk, kasus i-la' istri-istrinya, juga pemberian opsi kepada istrinya untuk memilih hidup mendampingi Nabi atau memilih kesenangan dunia. Juga kisah-kisahnya bersama para sahabat; seperti kisah hijrahnya, kisahnya bersama Abu Bakar di dalam gua, kisah kelaparannya saat mengali parit pada perang Khandak dan jamuan Jabirradhiyallahu anhu. Termasuk kisah-kisahnya  dalam menghadapi orang-orang musyrik, Yahudi, dan Kristen. Kisah model ini tidak sangat banyak.

Ketiga,kisah-kisah para sahabat yang terjadi di masa Nabishallallahu alaihi wasallammasih hidup, seperti kisah Ka'ab ibn  Malik dan perang Tabuk, kisah Tamim ad-Dari bersama Dajjal, dan sebagainya.

Keempat,kisah-kisah mimpi, seperti hadits "aku melihat Tuhanku,"[28]dan hadits "adakah salah seorang di antara kalian melihat mimpi?"[29]

Kelima,kisah-kisah perumpamaan, seperti perumpamaan antara orang yang menjaga ketentuan-ketentuan Allah dan orang-orang yang melanggar ketentuan Allah…,[30]atau hadits perumpamaan kalian dan orang-orang Yahudi, dan Kristen adalah ibarat seseorang yang menyewa buruh…,[31]dan hadits perumpamaan petunjuk/hidayah yang aku diutus dengannya[32].

Keenam,kisah-kisah masa depan, seperti kisah-kisah Dajjal, binatang melata, Ya'juj, perang akhir zaman, kisah-kisah hari kiamat, dan orang terakhir masuk surga.

Dalam menjadikan kisah nabawi sebagai tema khotbah, hendaknya seorang khatib memperhatikan hal- hal berikut:

1.      Mengecek kevalidan kisah yang dipilih. Hal ini telah dibahas dalam artikel berjudul  "argumentasi sunnah bagi khatib," "berkhotbah dengan sebuah hadits," barang siapa ingin memperluas wawasannya maka sebaiknya ia merujuk artikel tersebut.

2.      Menukil kisah dari referensi aslinya dan tidak menukil dari referensi perantara. Tujuannya adalah untuk memperkuat kebenaran referensi dan menghindari kesalahan dalam menukil, menulis dan mencetak.

3.      Mengumpulkan riwayat-riwayat kisah, baik pada tingkat sahabat secara personal, atau secara kolektif. Karena boleh jadi dalam salah satu riwayat itu terdapat tambahan yang memperjelas kisah dan menambah kandungan makna dan pengaruh.

Dalam mengumpulkan riwayat-riwayat ini, hendaknya khatib mengecek kevalidan kisah tambahan dari referensi aslinya sebagaimana ia mengecek kevalidan kisah induk dari referensi yang asli. Karena tidak semua tambahan kisah itu valid, mungkin ada yangsyaadz, dhaif, dan mungkar. Bahkan mungkin ada yang kontra dengan kisah aslinya dan membingungkan jamaah pendengar.

4.      Memilih riwayat yang paling valid dan lengkap. Jika salah satu riwayat kisah disepakati oleh para huffazh, atau syaikhan, sedang riwayat lainnya hanya diriwayatkan oleh salah seorang huffazh, atau dikeluarkan oleh salah satu di antara dua imam; Bukhari-Muslim, maka hendaknya memilih riwayat yang diriwayatkan oleh sejumlah huffazh, atau yangmuttafaq alaih, karena lebih kuat dan lebih selamat dari kesalahan.

Jika riwayat yang lebih valid lebih singkat dari riwayat yang tingkat kevalidannya lebih rendah maka hendaknya ia menyempurnakan riwayat yang singkat tersebut dengan riwayat yang lebih panjang. Karena riwayat panjang itu mengandung faedah lebih banyak. Dengan ketentuan riwayat panjang itu valid dan tidak menyelisihi riwayat lebih yang singkat.

Seandainya seorang khatib mampu menggabungkan antara kedua riwayat tersebut dan menjadikan riwayat yang lebih valid sebagai kisah asal maka tentu dengan cara ini ia dapat mewujudkan dua tujuan. Karena dengan cara demikian jamaah mengetahui bahwa riwayat singkat tersebut lebih kuat sedang riwayat kedua lebih sempurna dan mendetail.

Pemaparan riwayat lengkap suatu kisah akan memudahkan bagi khatib dalam menambahkan penjelasan dari riwayat valid yang lain. Hal itu karena biasanya tambahan para riwayat lain hanya sedikit dan sekedar melengkapi kisah saja. Dengan cara seperti ini struktur kisah teratur dan terjamin, dan pendengarnya lebih nyaman mendengarkan kisah-kisah nabawi.

 

 


[1]Tafsir al-Qurthubi, Juz VIII, hal, 362.

[2]Al-Tahrir wa al-Tanwir, Juz IX, hal. 173.

[3] Lihat:Shahih al-Bukhari, editing Mustafa al-Bugha, Juz III, hal. 1220, 1234, 1294, 1297, 1297, 1352, , 1535, 1591, 1592, 1593, 1596.

[4] HR. Bukhari No. 4725.

[5]I'lam al-Muwaqqi'in, Juz I, hal. 183.

[6] Lihat: Dr. Thal'at Muhammad Afifi Salim,Mukhtarat min al-Qashash al-Shahih fi al-Sunnah al-Nabawiah,Terbitanal-Zahra' lil-I'lam al-Arabi, Cet. I, tahun 1408, hal. 20-26.

[7]Ihya' Ulum al-Din, TerbitanDar al-Ma'rifah-Beirut, Juz I, hal 35.

[8] HR. Bukhari, hadits Ibn Abbas dari Ibn Umarradhiyallahu anhum, No. 3445.

[9] HR. Bukhari, dari hadits Ibn Mas'ud radhiyallahu anhu, No. 3150.

[10] HR. Bukhari, No. 4829; Muslim, No. 899, dengan redaksi Imam Muslim.

[11] Lihat: Dr. Syahir Dzaib Abu Syuraih,Mausu'ah al-Qashash al-Nabawi,TerbitanDar Shafa-Yordania, Cet. I, hal. 7. 

[12] Lihat: Dr. Kamal Izzuddin,al-Hadits al-Nabawi min al-Wijhah al-Balagiah, TerbitanDar Iqra'-Beirut, Cet. I, Tahun 1404, hal. 459.

[13] Lihat: Dr. Abdul Hakim Abdul Latif al-Sha'idi,Aqbas min Qashash al-Sunnah,Terbt.Maktabah al-Dar al-Arabiah-Kairo, Cet. I, Tahun 1420, hal.18.

[14] Dr. Muhammad al-Shabbag (editor),Tahdzir al-Khawash min Akadzib al-Qashshahsh,Terbt.Al-Maktab al-Islami-Beirut, Tahun 1394 H, hal. 155.

[15] HR. Bukhari, No. 4141; Muslim, No. 2770.

[16] HR. Bukhari, No. 4418; Muslim, No. 2769.

[17] HR. Bukhari, No. 4953; Muslim, No. 160.

[18] HR. Bukhari, No. 3364, 3365.

[19] HR. Bukhari, No. 3464; Muslim, No. 2964.

[20] HR. Bukhari, No. 2215; Muslim, No. 3743.

[21] HR. Bukhari, No. 3471; Muslim, No. 2388.

[22] HR. Bukhari, No. 3481; Muslim, No. 1756.

[23] HR. Bukhari, No. 3472; Muslim, No. 1721.

[24] HR. Bukhari, No. 3444; Muslim, No. 2368.

[25] HR. Bukhari, No. 74.

[26] HR. Bukhari, No. 173, 3467; Muslim, No. 2244, 2245.

[27] HR. Bukhari, No. 1260; Muslim, No. 2550.

[28] HR. al-Darimi, No. 2195; Muslim, No. 2550.

[29] HR. Bukhari, No. 7047.

[30] HR. Bukhari, No. 2493.

[31] HR. Bukhari, No. 3459.

[32] HR. Bukhari, No. 79; Muslim, No. 2282.

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir