Masihkah Kita Memuliakan Baitul Maqdis

01/04/2014 0:00:00
قـلـم الـتحـرير Jumlah kali dibaca 1176

Masihkah Kita Memuliakan Baitul Maqdis


Redaksi

 Alhamdulillah, semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan sahabat beliau serta pengikutnya.

Salah satu pokok keimanan seorang Muslim yaitu sikap pemuliaan terhadap segala hal yang AllahTa’alaangkat kedudukannya. Sehingga semakin kenal seorang hamba kepada Rabbnya, semakin kuat pula sikap pemuliaan tersebut. Sikap ini berlaku kendati hal tersebut tidak terkait dengan ibadah tertentu. Sehingga apabila hal tersebut terkait dengan ibadah tertentu, maka sikap pemuliaan seorang Muslim seharusnyalah lebih besar lagi. 

Dalam konteks ini, kita bisa medudukkan posisi Baitul Maqdis, negeri yang Allah muliakan. AllahTa’alatelah mewajibkan kepada seluruh nabialaihimus salamuntuk beribadah di dalamnya. Kewajiban tersebut menyusul pembangunan masjid oleh Nabi Ibrahimalaihis salam. Kelak, masjid yang dikenal sebagai Masjidil Aqsa ini menjadi titik tolak dakwah bagi puluhan bahkan ratusan nabi utusan Allah. Sebuah estafet nubuwah yang berkesinambungan hingga Nabi Muhammadshallallahu alaihi wasallammenjadi imam shalat bagi seluruh nabi di Masjidil Aqsa.  

Kemuliaan Baitul Maqdis yang terkait dengan mukjizat Nabi Muhammad terbesar yang bersifat material, berupa perjalanan Isra’ dan Mikraj; selanjutnya dipertegas dengan perintah Nabi. Nabishallallahu alaihi wasallammenetapkan dalam syariatnya anjuran untuk melakukan perjalanan ibadah ke Masjidil Aqsa. Anjuran ini hanya berlaku terhadap tiga masjid di muka bumi ini bersamaan dengan pelipatgandaan pahala shalat yang dilakukan di dalamnya.

Anjuran tersebut termaktub dalam sabda Rasulullahshallallahu alaihi wasallam:        

(لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد: مسجدي هذا، ومسجد الحرام، ومسجد الأقصى)

“Tidak boleh sengaja melakukan perjalanan kecuali kepada tiga masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsa.”

Petaka menimpa kita, kaum Muslim di era ini, dengan dirampasnya Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsa. Hal itu terjadi setelah kita menerima amanah dari Allah untuk menjaga Baitul Maqdis dengan tauhid, yang dilambangkan dengan shalatnya imam para ahli tauhid, yaitu Rasulullah di dalamnya. Juga setelah negeri tersebut dibebaskan oleh para Sahabat Nabi di zaman Umar ibn Khattab kemudian oleh pendahulu kita di bawah pimpinan panglima agung Shalahuddin al-Ayyubi.

Namun pada tahun 1918, kekuatan Salib Inggris berhasil merampasnya dan setelah 30 tahun menyerahkannya kepada pihak yang lebih kufur dan lebih keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman: Yahudi. Seakan kedua kekuatan yang dimurkai dan sesat tersebut telah sepakat sebelumnya untuk tidak mengembalikannya kepada kaum Muslim hingga hari Kiamat kelak. Kelompok Yahudi dan Nasrani sama-sama memposisikan Baitul Maqdis sebagai kunci sekaligus negeri kebebasan. Keduanya sepakat bahwa kebebasan akan tercipta saat al-Masih turun. Dan kendati mereka tidak satu kata tentang personalnya, namun mereka sepakat tentang pra-kondisi turunnya dan misi yang dibawanya kelak. Misi yang dapat diringkas pada upaya membebaskan pengikut al-Masih dari lawan-lawan mereka, khususnya kaum Muslim yang dalam persepsi mereka penyembah berhala (!).

Selama lebih dari seratus tahun kekuatan Yahudi dan Nasrani telah bersatu padu untuk menyiapkan Baitul Maqdis bagi kedatangan al-Masih sesuai dengan mitologi mereka. Sementara di sisi lain dan pada waktu yang sama, kaum Muslim belum mengerahkan bahkan 10% upaya atau prestasi dalam rangka mengagungkan Baitul Maqdis.

Pengamatan sepintas terhadap upaya kaum Muslim, yang sejatinya mencerminkan kegagalan, dapat menjadi barometer seberapa besar sesungguhnya nilai Baitul Maqdis bagi kita:   

-                     Penolakan Sultan Abdul Hamid, khalifah terakhir Utsmaniyah, terhadap permintaan Theodor Herzl untuk membeli sebidang tanah di Palestina buat membangun sebuah wilayah pemukiman bagi Yahudi. Penolakan ini menjadi latar belakang bagi lahirnya kerja sama antara Yahudi internasional dengan negara-negara Nasrani kolonial untuk meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah dan mendirikan negara Yahudi di atas puing-puingnya. Oleh karena itu, pasca kekalahan Turki Utsmani pada PD I, Inggris segera menduduki Palestina pada tahun 1918 untuk dipersiapkan bagi Yahudi sesuai dengan deklarasi Balfour tahun 1917.

-                     Palestina dan al-Quds bagian barat jatuh di tangan milisi Yahudi melalui Perang 1948 menyusul pengunduran diri pasukan Inggris yang telah menduduki Baitul Maqdis selama 30 tahun. Saat itu, Yahudi memproklamirkan negara merdeka dan berperang melawan bangsa Arab hingga mencapai kemenangan. Pasukan Arab selanjutnya tidak pernah berhasil mengembalikan tanah yang telah direbut bahkan wilayah yang jatuh bertambah luas. Setelah itu, bukannya mempersiapkan diri untuk membebaskannya, otoritas Arab Palestina justru menyepakati serah terima al-Quds bagian barat kepada Yahudi tanpa adanya keharusan bagi pihak yang disebut terakhir untuk mengembalikan wilayah yang telah didudukinya. Kesepakatan ini berdasarkan perjanjian Oslo 1993 bersama Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang secara sepihak dijadikan sebagai satu-satunya perwakilan rakyat Palestina.

-                     Pada perang Juni 1967, Yahudi menduduki al-Quds bagian timur yang mencakup Masjidil Aqsa. Sekira lima tahun berikutnya, pihak Mesir dan Suriah terlibat dalam perang Oktober 1973 melawan pendudukan Yahudi. Namun demikian, al-Quds tidak masuk dalam sasaran strategis kedua pihak tersebut. Buktinya, Suriah sendiri tidak serius dalam membebaskan kawasan Golan yang notabene wilayahnya. Selanjutnya, kesepakatan damai Kamp David 1978 antara Mesir dan Israel menyepakati bahwa itulah perang terakhir antara kedua belah pihak.

-                     Setelah pihak Arab menjadikan perdamaian sebagai satu-satunya pilihan strategis dalam konflik Arab – Israel, pihak yang disebut terakhir bersikukuh untuk mengeluarkan al-Quds dari semua negosiasi. Hal ini sejalan dengan pengumuman resmi Israel tanggal 30 Juli 1980 bahwa al-Quds merupakan ibukota abadi bagi negara Israel.

-                     Kolonial Israel terus melakukan upaya yahudisasi kota al-Quds. Sekira 88% wilayah al-Quds dikavling buat proyek perumahan Yahudi yang dikenal sebagai wilayah pemukiman. Sedangkan 12% wilayah sisanya dijadikan bahan negosiasi politik bilateral. Itupun bukan dalam status dikembalikan kepada warga Palestina, tetapi hak tinggal dibawah kontrol pendudukan Yahudi. Lantaran itu, undang-undang resmi melarang warga al-Quds melakukan pembangunan hingga ada kesepakatan antara Israel dengan otoritas Palestina.

-                     Perluasan wilayah pemukiman Yahudi dari segala penjuru pada bagian timur kota al-Quds. Upaya ini di bawah proyek pembangunanGreatal-Quds. Selanjutnya, pembangunan pagar tinggi sepanjang 167 km untuk menjamin keberlangsungannya dan menjadikan perluasan tersebut bersifat permanen.                    

-                     Untuk menghapus identitas Arab dan Islam, Israel memindahkan warga keluar al-Quds dan mengubah nama-nama distrik dan jalan-jalan ke dalam bahasa Ibrani dengan arti yang juga murni memuat nilai-nilai Yahudi. Hal yang penting dicatat bahwagoogle mapsmenggunakan istilahtemple mount/bukit ibadah untuk Masjidil Aqsa.

MASJIDIL AQSA ADALAH KUNCI  

David Ben-Gurion, perdana menteri pertama Israel, secara ringkas menjelaskan kedudukan Baitul Maqdis bagi Yahudi:“Israel tidak ada artinya tanpa al-Quds, dan al-Quds tidak ada artinya tanpa Haikal.”

Itulah sebab sehingga Yahudi gigih hendak meruntuhkan Masjidil Aqsa dan menggantikannya menjadi Haikal Sulaiman. Kawasan masjid dijadakan sebagai simbol Israel yang melambangkan bintang Dawud yang bermata enam. Masjidil Aqsa yang kini tersandera menghadapi ancaman Yahudi yang berpotensi mengubah arah sejarah. Pemerintah kolonial Israel silih berganti berjalan dengan arah kebijakan yang sama: menghancurkan masjid dan menghilangkan jejak-jejak Islam di al-Quds. Sejalan dengan perluasan pemukiman Yahudi yang permanen di bagian timur masjid.

Sejak awal pendudukan, Israel telah melakukan penggalian-penggalian dengan dalih mencari sisa-sisa peninggalan budaya Yahudi. Namun sesunggunya yang mereka lakukan adalah langkah-langkah pembangunan Haikal ke-3 lewat penghancuran fondasi Masjidil Aqsa.

Pemerintahan Israel juga mendukung penyerbuan berkali-kali yang dilakukan oleh kelompok fundamentalis Yahudi. Tujuannya, untuk mengubah wilayah Masjidil Aqsa sebagai kawasan wisata religi yang terbuka bagi pengunjung Yahudi dan Barat. Akibatnya, posisi masjid berubah seperti museum yang tidak lagi sakral dan sewaktu-waktu dapat dipugar bahkan diruntuhkan. Israel juga giat membangun sinagog di sekitar masjid tersebut. Seperti sinagog Madrasah Tankaziyah, Jembatan Wilson, Khaymah Ishaq, dan Houver. Yang terbesar adalah yang didirikan tahun 2010, yaitu sinagog Hurva.

Galian di bawah Masjidil Aqsa telah sampai ke tahap yang sangat berbahaya. Setelah tanah dan batu hasil galian diangkat dari bawah masjid dan Kubah Hijau, keduanya kini terancam runtuh kapan saja terjadi gempa, alami atau buatan.                   

JALAN KELUAR

Posisi umat Islam kini, tanpa Baitul Maqdis, berada dalam kondisi tersesat yang jauh lebih buruk daripada tersesatnya Bani Israil 40 tahun di padang sahara dahulu. Kondisi tersebut akan membawa kepada benturan ideologis dan menentukan eksistensi umat Islam bersama umat Yahudi dan Nasrani. Dalam hemat penulis, benturan tersebut tidak akan berakhir hingga terjadinya peristiwa akhir zaman, saat kaum Muslim memerangi kaum Yahudi dan mukjizat-mukjizat terjadi. Namun takdir yang ditetapkan itu tidak berarti kita harus menunggu. Sebab ajaran syariat mendorong kita untuk menjalankan perintah agama tanpa menjadikan takdir sebagai alasan untuk tidak berbuat. Terkait dengan Masjidil Aqsa dan al-Quds, lembaga-lembaga fiqh terpercaya dan ulama-ulama besar telah menetapkan pedoman-pedoman penyikapan, yang terpenting di antaranya adalah:

§    Pembebasan Baitul Maqdis adalah kewajiban setiap Muslim yang tidak dapat lepas kecuali ada golongan yang telah melakukannya.

§    Persatuan kaum Muslim dalam agama Allah dalam menghadapi ancaman Yahudi merupakan kewajiban yang tidak boleh ditunda apalagi ditinggalkan.

§    Persiapan untuk melakukan jihad membebaskan Baitul Maqdis tetap menjadi kewajiban bagi pemimpin politik dan seluruh komponen umat Islam. Dan kewajiban ini tidak dapat ditinggalkan hanya dengan alasan tidak mampu atau berpura-pura. 

§    Kesepakatan perjanjian damai atau negosiasi dengan musuh yang telah merampas dan terus menduduki Baitul Maqdis adalah pengkhianatan terhadap amanah Allah, Rasulullahshallallahu alaihi wasallam, dan kaum Muslim.

Semoga AllahTa’alamembangkitkan kembali kesucian al-Quds dalam hati kaum Muslim, sehingga tanah suci tersebut dan wilayah-wilayah yang terjajah dapat kembali ke naungan tauhid dan pengikut-pengikutnya. Amin.*** 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir