SYI'AH SUFISTIS

30/03/2014 0:00:00
ناصر بن عبد الله القفاري Jumlah kali dibaca 1986

SYI'AH SUFISTIS


 Sudah banyak ulama dan peneliti yang menulis tentang Tasawuf, korelasi erat antara Sufisme[1]dan Syi'ah,[2]berikut penjelasan tentang kesamaan ideologi dan manhaj antara keduanya. Misalnya ideologiwilayahdalam ajaran Sufi sangat mirip dengan ideologiimamahdalam ajaran Syi'ah. Ideologiimam ma'shumversi Syi'ah sama dengan ideologiwali mahfuzhversi Sufi.Ta'wil bathiny/interpretasi internal dalam pandangan Syi'ah sama dengan Sufi yang biasa mereka sebut denganrumuz/kode danisyarah/sinyal. Jika aliran Sufisme mengklasifikasikan agama kepada syariat dan hakikat, maka Syi'ah juga membaginya menjaditanzildanta'wil. Sebagian ulama telah membahas topik-topik ini secara spesifik.[3]

Topik bahasan kali ini terfokus pada  kesamaan ideologi antara aliran Sufisme dan Syi'ah. Menurut pengamatan penulis, belum ada studi spesifik yang membahas bahaya aliran tersembunyi Rafidhah yang menyamar, berpenetrasi, menunggangi, lantas merusak aliran Sufisme. Karenanya sebagian cendikiawan muslim menyatakan, bahwa saat ini tidak ada lagi aliran Sufisme moderat, melainkan semua aliran Sufisme yang ada sekarang adalahghulat/esktremes.[4]Karena ideologi esktremes Syi'ah sudah sangat mengakar dalam aliran Tasawuf, merekalah yang dari dulu dan sampai saat ini menuntun Sufisme kepada radikalisme dan esktremisme.

Penulis sangat mengenal golongan ini (Syi'ah Imamiyah) dan menyadari urgensi mengkajinya secara mendalam. Karenanya, sudah lebih tiga puluh tahun lamanya penulis berkecimpung dalam dunia Syi'ah, baik dengan kajian, menulis,[5]mengajar, dan bepergian untuk mencari data-data tentang Syi'ah, menemui tokoh dan organisasinya. Mengamati agenda dan aktivitasnya, merevisi kurikulum, dan mengunjungi situs-situs keagamaannya, dst.

Penulis juga telah membuat kajian dan tulisan tentang Tasawuf,[6]juga sering mengajarkan materi ini kepada mahasiswa dan mahasiswi di kampus.[7]

Korelasi dan kemiripan ideologi antara Sufisme dan Syi'ah muncul dari sel-sel rahasia yang berpenetrasi dan menyebar dalam Tarekat-tarekat Sufi. Mereka senantiasa memakai topeng Tasawuf, sampai ada dari sebagian kaum Sufi mempelajari Tasawuf Sunni yang terbebas dari cengkraman radikalisme dan ekstremisme Syi'ah Rafidhah sufistis.

Dari pengalaman sekian lama, penulis sangat menyadari betapa besar bahaya yang dibawa oleh Syi'ah Bathiniah yang menyebar dalam Tarekat Sufi yang penuh dengan khurafat, dimana Sufisme menjadi kuda tunggangan bagi Syi'ah untuk memuluskan berbagai agenda rahasianya.

Yang menarik perhatian adalah bahwa kedua sekte ini, selalu menjadi senjata musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam.  Buktinya, tokoh-tokoh Orientalis sangat tertarik untuk mempelajari kedua sekte ini. Bahkan Donaldson, sang Orientalis Barat tinggal di Iran selama enam belas tahun untuk mempelajari Syi'ah, sehingga berhasil menulis buku yang berjudulAqidah al-Syi'ah.

Orientalis asal Perancis, Massignon, telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk mempelajari Tasawuf. Ia sangat menggandrungi tokoh ekstremes Sufisme seperti al-Hallaj, hingga ia dijuluki'Asyiq al-Hallaj/pecinta al-Hallaj.

Padahal semua orang tahu bahwa para orientalis tersebut bekerja sebagai penasehat bagi lembaga intelijen dan Kemenlu di negaranya masing-masing. Negaranya menjadikan kajian dan penelitian mereka sebagai dasar mengatur strategi perang dan manuver politik.

Syekh Muhammad al-Ghazali bercerita, bahwa ia pernah membaca laporan rahasia seorang orientalis yang menyatakan bahwa cara terbaik untuk menghadang penyebaran Islam adalah dengan memelihara dan mendukung sekte dan aliran-aliran sesat yang ada.

Bahaya besar Syi'ah Shafawi tidak terbatas pada misi akidahnya, tetapi juga misi keamanan, politik, dan sosialnya. Majusi Persia yang menjadikan "Syi'ah" sebagai sarana untuk merealisasikan berbagai agendanya termasuk mendirikan Imperium Persia Raya, telah berhasil berpenetrasi  ke dalam aliran Sufisme khususnya, dan masyarakat Islam umumnya. Sufisme dan berbagai aliran lain yang terbius telah menjadi alat penyebaran misi-misi mereka.

Banyaknya varietas tarekat-tarekat Sufi yang tersebar luas di seluruh dunia juga tingginya posisi sebagian Syekh Sufi di hadapan beberapa petinggi politik menjadi faktor utama keberhasilan Syi'ah berpenetrasi  ke dalam barisan Sufisme. Sebagai bukti, Anda dapat melihat bagaimana Iran berhasil mempengaruhi untuk selanjutnya menyetir beberapa sekte Syi'ah Zaidiah sepertial-Jarodiah,[8]dan menjadikannya boneka untuk melaksanakan agenda-agenda politiknya di negara Yaman dan sekitarnya.[9]Lihat pula keberhasilan mereka menguasai politik Libanon melalui milisi Syi'ah "Hizbullah".

Lebih jauh lagi kita saksikan usaha keras Syi'ah Iran merangkul Syi'ah Nushairiah Suria. Padahal dalam referensi validnya, Syi'ah Imamiah Iran jelas-jelas mengkafirkan Syi'ah Nushairiah.[10]Sebaliknya, Nushairiah juga sangat antipati terhadap Syi'ah Iran disebabkan aliran kebatinan yang mereka anut. Akan tetapi, Iran menjadikan isu Syi'ah sebagai jalan untuk menyebarkan agamanya di kalangan masyarakat Suria, hingga sesuaiKhitthah Khamsiniah/rencana 50 tahunnya, Iran berhasil merangkul Nushairiah.

Ini ditandai dengan 'saling cumbu' antara ayat Qom dengan pemuka agama Nushairiah. Ambil contoh Hasan al-Syairazi, pasca kunjungannya ke Suria ia langsung menulis bukual-Alawiyun Syi'atu Ahlu al-Bait/Alawiah adalah pendukung Ahlul Bait.[11]Hubungan tersebut meningkat hingga sampai pada sesi berbahaya, yakni pengerahan tentara untuk membela rezim Nushairiah Alawiah di Suria yang dilakukan oleh paraMalali Rafidhahdi Qom. Milisi-milisi yang mereka kerahkan meliputi Hizbullah dari Libanon, Brigade Abul Fadhl al-Abbas dari Irak, dan Garda Republik dari Iran.[12]

Saat ini, Syi'ah Iran sedang melancarkan mega proyek merangkul kaum Sufi dengan merusaknya, lalu mengerahkannya untuk merealisasikan berbagai misi Rafidhah, sama persis dengan Yahudi yang memperalat Kristen demi mencapai ambisinya.

Mayoritas peneliti selalu mengupas isu kesamaan ideologi dan prinsip antara Syi'ah dan Sufisme. Namun mereka alpa dari eksistensi gerakan rahasia Rafidhah yang berpenetrasi  di tubuh Sufi. Sama halnya dengan kaum Sufi sendiri yang tidak menyadari esensi gerakan rahasia yang bertopengkan Sufisme tersebut. Mereka lalai terhadap kekuatan yang menggerakkan dari belakang, dan tidak menyadari konspirasi besar yang memperalatnya. Kecendrungan Sufisme menjadi Syi'ah saat ini adalah bukti kelicikan missionaris Syi'ah dan kelihaian mereka menerobos pusat-pusat kekuatan dalam tubuh umat Islam.

Tapi ternyata Ahlus Sunnah pun tak luput dari sasaran penyusupan Syi'ah.[13]Dan yang lebih mengejutkan lagi, bahwa di antara mereka yang menjadi korban adalah kalangan Ahlul Hadits dari Ahlus Sunnah, padahal mereka sangat terkenal dengan ketelitian dan kehati-hatiannya.

Syekh Abdullah al-Suwaidi menceritakan cara Syi'ah mengelabui ulama hadits. Beliau berceritera:

Beberapa tokoh Syi'ah turut berkecimpung dalam ilmu hadits dengan mendengar hadits dari ulama Ahlus Sunnah yangtsiqah/terpercaya dan menghapal hadits-hadits tersebut berikut sanadnya. Mereka berusaha menghiasi diri dengan ketakwaaan dan sikap wara', sehingga dapat dianggap sebagai ulama hadits Ahlus Sunnah. Mereka meriwayatkan hadits shahih dan hasan, kemudian menyusupkan haditsmaudhu'/palsu yang mendukung mazhab Syi'ah. Dengan demikian beberapa ulama hadits Ahlus Sunnah dan banyak dari kaum awamnya tertipu dengan ulah mereka. Akan tetapi Allah telah memilih ulama hadits dari umat ini yang mampu menyingkap konspirasi tersebut, mengeluarkan hadits-hadits palsu buatan Syi'ah dan menjelaskannya kepada umat,walhamdulillah.[14]

Cara lain yang diperaktekkan oleh tokoh Syi'ah adalah dengan menyamar menjadi ulama Ahlus Sunnah, menciptakan pemikiran yang mirip dengan pemikiran Syi'ah, kemudian menyebarkannya di kalangan Ahlus Sunnah.  Syekh Muhammad Abu Zuhrah menganggap Najmuddin al-Thufi (wafat tahun 716 H) adalah salah satu tokoh Syi'ah yang telah memeraktekkan cara ini untuk menyebarkan ajarannya. Pemikiran yang dipromosikan adalah bahwa maslahat harus didahulukan atas nash.  Ini murni pemikiran Syi'ah. Sebab Syi'ah mengklaim pasca wafatnya Rasulullah, para imam mereka berhak untuk mengotak-atik nash Al-Qur'an maupun hadits dengan membatasi cakupan atau menghapus nash dan hukumnya. Al-Thufi menjiplak pemikiran ini dengan mengganti kata imam menjadi maslahat, agar pemikirannya laris di kalangan Ahlus Sunnah. Menurut Abu Zuhrah, dengan cara ini al-Thufi bermaksud mengurangi pengkultusan terhadap nash-nash syariat yang selama ini diyakini oleh umat Islam.[15]

Kita tidak perlu heran, sebab sekte Syi'ah memang menjadikanTaqiyyah/kemunafikan bagian dari agamanya. Lantaran itu, Khomaini mendorong pengikutnya agar berpenetrasi  ke dalam pemerintahan negara-negara Islam demi membela pergerakan rahasia Syi'ah, dan mereka menyebutnyaal-Dukhul al-Syakli/partisipasi formalitas dalam birokrasi negara.[16]

Muhammad Jawad Mughniah, Hakim Ketua di Mahkamah al-Ja'fariah, Beirut justru mewajibkanMachiavellianisme, yang berarti menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuan, ia menegaskan bahwa inilah maknataqiyyahdalam agama mereka.[17]

Bila Anda masih meragukan besarnya bahaya dari skandal Syi'ah dengan Sufisme, maka perhatikanlah komunikasi tak henti dan kunjungan yang silih berganti antara petinggi-petinggi dua sekte ini. Tingginya kooperasi antara keduanya, bantuan politis tokoh Sufi untuk Syi'ah, dan pengkultusan tokoh Syi'ah yang berhasil berpenetrasi  ke tubuh Sufisme, mungkin dapat dijadikan bukti tambahan.

Saat ini kita melihat fenomena baru, dimana Syi'ah memperalat aliran Sufi untuk menghujat dan menyerang Ahlus Sunnah. Terkadang mereka mengambil argumen dari referensi Sufi yang mendukung Rafidhah, lalu mengklaim bahwa itulah manhaj Ahlus Sunnah sebenarnya.

Sebagai contoh, Muhammad Husein al-Zein, salah seorang penulis Syi'ah, dalam bukunyaal-Syi'ah fi al-Tarikh, berargumen dengan interpretasi Sulaiman al-Hanafi al-Naqsyabandi terhadap salah satu hadits Rasulullah:"Sesungguhnya perkara ini tidak akan selesai hingga berlalu dua belas Khalifah di antara mereka, semuanya dari suku Quraisy."[18]  Menurut al-Naqsyabandi mereka adalah imam 12 Syi'ah.[19]Dengan demikian al-Zein mengklaim bahwa mazhabnya telah didukung oleh ulama Ahlus Sunnah.[20]

Padahal sebagaimana ditegaskan oleh Dr. Mustafa al-Syaibi:"Tidak ada korelasi sedikitpun antara referensi di atas dengan Ahlus Sunnah, pemikiran yang dianut oleh al-Naqsyabandi adalah pemikiran Sufi yang condong kepada Syi'ah."[21]Menurut saya (penulis) ini adalah pemikiran 'Syi'ah Sufistis' yang berpenetrasi  ke aliran Sufisme. Sejak dulu, Ibn Taimiah telah mengingatkan bahaya besar dari fenomena ini, beliau menulis:"Di antara mereka yang berafiliasi ke salah satu mazhab yang empat, ada orang yang sebenarnya berpaham Rafidhah esktremes."[22]

Mayoritas kaum muslim mengira bahwa kesamaan ideologi antara Syi'ah dan Sufi hanyalah suatu kebetulan dan tidak mengindikasikan adanya hubungan rahasia atau terang-terangan antara pemimpin kedua sekte tersebut. Sebagian lain menganggap kedekatan ideologi ini lumrah adanya sebagai akibat dari perang pemikiran yang dilancarkan Syi'ah atas Sufisme. Pemahaman ini tentu sangat keliru, walaupun hampir semua orang meyakini demikian. Aliran Sufisme benar-benar telah disusupi bahkan digerakkan oleh tokoh-tokoh Syi'ah yang sejak sekian lama telah bersemayam di dalamnya dan masih terus merongrong dengan berbagai kamuflase dan tipuan, sampai kaum Sufi tunduk sepenuhnya pada ideologi Syi'ah esktremes.

Beberapa Surat Kabar Mesir pernah mempublikasikan laporanMajma' Buhuts Islamiahtentang proyek penyebaran ideologi Syi'ah kepada para pengikut Sufi di Mesir. Proyek ini dijalankan oleh berbagai lembaga Syi'ah yang menjual isu persamaan Syi'ah dengan Sufisme. Dana proyek tersebut terus mengalir, terlebih lagi setelah Hassan Shinawi, pemimpin tertinggi kaum Sufi Mesir menyatakan tidak ada perbedaan antara Syi'ah dengan Sufi. SelanjutnyaMajma' Buhutsmewanti-wanti dari kemungkinan meningkatnya penganut syi'ah di Mesir, terlebih lagi setelah semakin meningkatnya pengungsi Syi'ah yang migrasi dari Irak.[23]

Syi'ah Sufistis telah berusaha mengampanyekan berbagai ideologinya di kalangan Sufisme sejak sekian lama, dengan istilah yang berbeda, namun arti dan hakikatnya sama. Di lain pihak, kita hampir tak pernah mendengar suara moderat dari ahli tasawuf, yang pada hakikatnya tasawuf adalah zuhud terhadap dunia dan konsentrasi penuh dalam ibadah kepada Allah. Ibn Taimiah menulis:"Sebenarnya ahli tasawuf  adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan, sebagaimana kesungguhan mereka yang senantiasa taat kepada Allah."[24]

Sesuai dengan strategi terencana, Syi'ah sengaja menanamkan ideologial-wilayahdi kalangan penganut Sufi yang diadopsi dari ideologi imamah.Al-Hifzh/penjagaan Allah atas wali dijadikan pengganti al-Ishmah/imam ma'sum. Syi'ah Sufistis juga membagi agama kepada syariat dan hakikat, sebagaimana Syi'ah Imamiah membaginya kepadatanzildanta'wil. Syi'ah Sufistis mengklaim bahwa Rasulullah datang membawa syariat dan wali datang membawa hakikat. Sedangkan Syi'ah Imamiah mengkalim bahwa Rasulullah datang membawatanzil, dan Ali datang membawata'wil.

Selain itu Syi'ah Sufistis atau Rafidhah Sufisme juga sengaja menanamkan ritual syirik dan atheisme di kalangan kaum Sufi. Di Mesir contohnya, kini terdapat lebih dari 6000mausoleum(bangunan makam yg luas dan megah; monumen makam) yang dikelola oleh Majelis Tinggi Sufi. Menteri Agama Mesir menyampaikan bahwa pada periode 10/07/2005 -30/06/2006, uang sebanyak 52.670.579 Pound Mesir (EGP) telah berhasil dikumpulkan dari 'sumbangan/nazar' para pengunjung monumen makam tersebut, padahal jutaan rakyat Mesir hidup di bawah garis kemiskinan.

Situs resmi Sufi merilis berita bahwamausoleumyang dikunjungi orang setiap harinya untuk Distrik Tihamah (Yaman) saja sudah  mencapai 178 monumen. Di tempat ini para pengunjung mempersembahkan kurban, sesajen, dan sumbangan sembari memohon hajat, meminta pertolongan dan keselamatan. Para ilmuan muslim telah membuktikan bahwa Syi'ah Bathiniah adalah oknum pertama yang menciptakan wisata kuburan dan ibadah kubur di tengah umat Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam.[25]

Penetrasi Syi'ah ke interen Sufi, peningkatan jumlah, pengaruh  praktis, tipu muslihat dan kelicikan, serta bahaya kesyirikan dan atheisme yang mereka bawa, semuanya menjadi faktor utama kegelapan yang selama ini menimpa kaum Sufi. Sehingga mereka saat ini telah disulap menjadi alat Syi'ah untuk merealisasikan agenda-agenda imperialismenya tanpa mereka sadari.

Kerusakan yang dilakukan oleh sel rahasia gerakan Syi'ah Rafidhah, dampaknya sangat jelas terlihat pada aliran Sufisme zaman ini. Mayoritas tarekat Sufi kini hanya terikat dengan figur Ali ibn Abi Thalib dan Salman al-Farisiradhiyallahu anhuma. Semuanya mengklaim menyimpan ilmu batin tertulis warisan Aliradhiyallahu anhu. Bahkan, asal muasal beberapa tarikat Sufi seperti Naqsyabandiah 100% berasal dari Persia.

Biasanya, setelah sel rahasia Syi'ah berhasil mengkonversi sebuah tarekat Sufi menjadi Syi'ah tulen, maka mereka akan menyingkap tabir taqiyyahnya kepada publik. Inilah yang terjadi padaTarekat Alkhatmiah. Tarekat SufiAlkhatmiahtelah mendeklarasikan diri sebagai Tarekat Syi'ah dalam semua aspeknya. Maka tidak mengherankan jika tokoh-tokoh kontemporer tarekat ini selalu berargumentasi dengan hujjah Syi'ah dan mencaci sahabat sama seperti Rafidhah. Begitu pula yang terjadi denganTarekat Bektashi, sehingga al-Kautsari menyatakan bahwa Bektashi adalah salah satu julukan dari Syi'ah Imamiah.[26]Hal yang sama terjadi padaTarekat Alazmiah.[27]Kemudian orang-orang yang tidak mengetahui esensi gerakan Bathiniah ini mengklaim bahwa persamaan antara kedua sekte tersebut hanyalah sebuah kebetulan.

Manuver lain yang biasa mereka praktekkan adalah klaim berpindah agama dari Ahlus Sunnah kepada Syi'ah, lantas menulis buku yang menceritakan alasan-alasan mengapa ia konversi ideologi. Tipuan ini dipercayai begitu saja oleh sebagian orang, padahal esensinya adalah Rafidhah Bathiniah yang selama ini bersembunyi di balik jubah tasawuf.[28]

Sedikit sekali orang yang bisa membedakan antara Syi'ah Sufistis dan Syi'ah Sufisme dengan Sufisme tulen yang pada dasarnya beraliran Sunni. Topik yang dibahas di sini adalah Syi'ah Sufistis. Adapun Syi'ah Sufisme, maka para pemukanya dengan terang-terangan menampakkan prinsip-prinsip 'tasawuf menyimpang' dan 'Syi'ah ekstremes'. Boleh jadi ini adalah bagian dari rencana strategis untuk mengakomodasi semua jenis tarekat Sufi, sama dengan strategi akomodasi berbagai sekte Syi'ah yang pernah ada dan memadukannya dengan ideologi Syi'ah Imamiah.[29]

Khomaini, pendiri Negara Shafawiah Modern misalnya, adalah anggota dari barisan Sufi ekstremes yang meyakini ideologihululdanittihad/menyatunya Tuhan dengan hamba-Nya. Khomaini adalah penganut Syi'ah Sufisme, ini dibuktikan dengan pemikiran esktremes Sufi yang ia tuangkan dalam karyanyaMishbah al-Hidayah[30]danSirr al-Shalat.[31]Ia juga mengadopsi pemikiran tokoh esktremis Sufi seperti Ibn Arabi, yang ia gelari denganal-Syaikh al-Kabir,[32]dan al-Qanawi yang ia beri gelarKhalifah al-Syaikh al-Kabir Muhyiddin,[33]dan keduanya adalah penganut Syi'ah Sufisme esktrem.  Khomaini juga mengadopsi pemikiran Sufisme esktremes yang menyatakan bahwa kenabian adalah hasil usaha,[34]dan masih banyak lagi prinsip-prinsip dasar Syi'ah yang sama dengan pemikiran Sufisme esktremes.[35]

Syi'ah Sufistis adalah gerakan yang memperalat Sufisme untuk merealisasikan misi-misinya dan berusaha mengubah aliran Sufi menjadi kekuatan politik yang loyal kepada Iran dan antipati terhadap Islam.

Syi'ah menjadikan tasawuf sebagai pintu gerbang untuk mempromosikan ideologi Rafidhah dan Zindiq ke tengah umat Islam. Mereka juga percaya bahwa lingkungan yang dipenuhi dengan kaum Sufi adalah lahan subur untuk pertumbuhan Rafidhah. Seorang cendekiawan Irak pernah memperlihatkan kepada saya (penulis) sebuah laporan tentang rencana rahasia Rafidhisasi Mesir. Laporan tersebut mengungkapkan keyakinan Syi'ah bahwa Mesir adalah lahan subur untuk perkembangan Syi'ah karena banyaknya tarekat Sufi di sana, ditambah lagi bertebarannya situs mausoleum yang diklaim milik Ahlul Bait, seperti Husein dan Zainab. Didukung dengan populasi Kabilah Jaafirah yang berdomisili di Saeid, Mesir.

Muhammad Eldreny, warga Mesir yang berkonversi ke agama Syi'ah menyebutkan bahwa berdasarkan laporan perkembangan agama di Mesir yang dipublikasikan oleh Departemen Luar Negeri AS, populasi Syi'ah di Mesir mencapai 750.000 orang, namun Eldreny mengkalim populasi Syi'ah melebihi angka tersebut."Kita harus memperhitungkan jutaan kaum Sufi Mesir yang menganut ideologi Syi'ah, sama halnya dengan Sudan dan negara-negara Afrika lainnya,"ungkapnya. Artinya ia mengungkapkan tentang realita Syi'ah Sufistis di Mesir, yakni mereka yang berpakaian Sufi dan berideologi Syi'ah.[36]

Bahaya yang mengancam semakin besar ketika Amerika dan Barat ikut membiayai Aliran Sufisme yang notabene mengandung 'janin Rafidhah Bathiniah' dalam rahimnya. Dr. Abdul Wahhab al-Musairi menulis:"Dunia Barat dengan sengaja mendukung pergerakan kaum Sufi untuk memerangi Islam. Karya-karya Ibn Arabi dan sya'ir-sya'ir Jalaluddin al-Rumi menjadi buku terlaris di sana. Kongres AS bidang kebebasan beragama telah merekomendasikan agar negara-negara Arab lebih serius lagi mendukung kaum Sufi. Dengan demikian budaya zuhud serta berpaling dari urusan duniawi begitu juga politik akan memperlemah kekuatan mereka melawan imperialisme Barat."[37]

Steven  Rashmut,[38]orientalis asal Jerman mengklaim:"Masa depan dunia Islam pasti akan menjadi milik aliran Sufi."[39]

Daniel Pipes[40]menulis:"Barat berusaha mendukung Sufisme agar dapat mengisi arena agama dan politik dengan ideologi pemisahan agama dan kehidupan, serta menjauhkan agama dari aspek ekonomi dan politik. Cara inilah yang dulu mereka terapkan untuk meminggirkan Kristen di Eropa dan AS."[41]

Pada musim panas tahun 2004, RAND Corporation[42]merilis laporan[43]yang mengarahkan pemerintah Amerika agar mendukung penyebaran Sufisme di kalangan masyarakat Islam.[44]

Prof. Fahmi Huwaedi menanggapi laporan tersebut dengan sebuah artikel. Di antara tanggapan yang ia tulis:"Laporan tersebut secara vulgar mendukung tasawuf, yang intinya adalah kampanye kepada Islam pelarian[45]yang memfokuskan agama pada sisi ruhaniah saja. Secara lugas laporan ini menyatakan urgensi memperkokoh aliran Sufisme dengan menjadikan negara yang memiliki sejarah Sufistis sebagai pusat konsentrasi, dan memasukkan Sufisme dalam kurikulum pembelajaran. Bahkan ajakan tersebut lebih dipertegas lagi dengan ungkapan, 'perhatian lebih besar harus diarahkan pada Islam Sufistis'."[46]

Pada 24 Oktober 2003, Nixon Center[47]mengadakan konferensi keamanan nasional di Washington, dengan tujuan mengeksplorasi peran tasawuf yang berkaitan dengan visi politik luar negeri Amerika. Sidang berlangsung dalam tiga sesi dan salah satunya diadakan secara tertutup.

Sesi pertama, tentang tasawuf, sejarah, filsafat, dan kelompok.

Sesi kedua, tentang Sufisme di Eropa dan Asia.[48]

Orientalis Bernard Lewis[49]mengungkapkan simpati mereka kepada Sufisme dikarenakan:"Sufisme menganggap asal semua agama adalah satu, memiliki tujuan yang sama, dan membawa satu misi. Mereka semua juga menyembah Tuhan yang sama, Tuhan berada di Masjid dan di Gereja."[50]

Pada tahun 2005, Surat Kabar US News merilis laporan bertajukHearts, Minds and Dollars, yang mengungkapkan strategi jitu untuk menembus dunia Islam. Dalam laporan ini diungkapkan:"Para penyusun strategi AS sampai pada keyakinan bahwa gerakan Sufisme dengan cabangnya yang terbentang di seluruh dunia bisa dijadikan salah satu senjata ampuh."Majalah tersebut juga memberitakan bahwa Washington telah mendanai stasiun penyiaran radio dan TV serta berbagai seminar untuk menjajakan 'Islam moderat'  di lebih dari 24 negara Islam.[51]

Dubes AS di Kairo ikut menghadiri perayaan Maulid al-Badawi pada 16 Syawal 1426 H. Pada kesempatan itu ia mengungkapkan kekagumannya yang besar pada tokoh Sufisme. Disebutkan juga bahwa ia berafiliasi ke Tarekat Ahmadiah dan menjadi salah seorangmuriddi dalamnya, dengan mengambil ikrar dari salah seorang tokoh Sufi pada peringatan maulid Syekh al-Badawi.[52]

Francis Ricciardone, Dubes AS untuk Mesir (periode 2005-2008) pernah mengadakan pertemuan dengan pemimpin tertinggi Sufisme Hassan Shinawi. Sedangkan Dubes AS di Maroko pernah ikut tarian Sufi di Rabat.[53]

Sudah banyak tulisan ilmiah tentang perhatian besar dunia terhadap tasawuf. Fakta ini dipicu oleh berbagai hal, di antaranya:

1.            Prasangka sebagian orang bahwa tasawuf adalah sumber sekaligus landasan toleransi terhadap pihak lain. Mereka lupa bahwa toleransi sejati yang bersih dari kesyirikan dan bid'ah ada pada Islam.

2.            Konspirasi atas kaum muslim dengan memanfaatkan Sufisme untuk menyebarkan kebodohan dan mengabadikan keterbelakangan umat.

3.            Mayorias kaum muslim tidak mengetahui eksistensi aliran Bathiniah yang bersembunyi di balik aliran Sufisme.

Sufisme dengan semua unsur dan elemennya saat ini bukan lagi golongan yang selalu bersembunyi di balik tembok. Mereka telah berubah menjadi organisasi besar lintas benua. Saya (penulis) yakin bahwa mesin politik dan organisasinya adalah Syi'ah Sufistis yang terkenal mahir berstrategi dan berkamuflase. Untuk melawan gerakan ini kita membutuhkan dua hal:

Pertama,mengungkap bahaya besar aliran ini terhadap kaum muslim umumnya dan penganut tasawuf khususnya. Ideologi dan strategi mereka harus dijelaskan kepada umat, sebab mengetahui kondisi dan ideologi lawan adalah dasar utama untuk menjelaskan kebenaran kepadanya. Sebagaimana Nabishallallahu alaihi wasallammemberi tahu Mu'adz ibn Jabal kondisi dan ideologi penduduk Yaman sebelum menjelaskan metode dakwah terhadap mereka. Beliau berpesan:"Sesungguhnya engkau akan mendatangi orang-orang Ahli Kitab, maka hendaklah perkara pertama yang kau serukan adalah  ajakan beribadah kepada Allah… ."[54]

Kedua,menebarkan sunnah dan memerangi bid'ah dengan hikmah dan nasehat baik, sesuai firman Allah:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik(QS. an-Nahl: 125).

Juga firman Allah:

Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata."(QS. Yusuf: 108)

Kewajiban lain yang tak kalah penting adalah membuat riset dan kajian ilmiah tentang gerakan rahasia nan berbahaya yakni 'Syi'ah Sufistis' atau 'Sufi Rafidhis', tidak hanya sekedar komparasi ideologi, tetapi lebih fokus pada strategi dan konspirasi berbahaya aliran ini. Tentu ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

1.            Studi lapangan tentang kondisi tasawuf di negara-negara yang terindikasi diserang aliran Syi'ah Sufistis.

2.            Mendata dan memonitor majalah dan buletin Sufisme.

3.            Mengumpulkan buku-buku referensi valid Sufisme.

4.            Menemui tokoh-tokoh Sufi.

5.            Memonitor aktivitas Sufisme modern.

6.            Meneliti sarana dan metode yang diterapkan oleh aliran Bathiniah.

7.            Mengenal ideologi-ideologi Bathiniah yang ada pada aliran dan tarekat Sufi.

8.            Mencari dan mendata tokoh-tokoh Bathiniah yang berpenetrasi ke dalam aliran Sufi melalui jejak-jejak mereka.

Semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan tugas ini dan menuangkannya dalam artikel lebih mendetail, insya Allah. Hanya Allah-lah Pemberi petunjuk menuju jalan yang lurus.

 


[1]Tasawuf atau Sufi adalah tingkatan kedua atau ketiga dalam aliran Sufisme. Pada masa awalnya esensi Sufismeadalah zuhud terhadap dunia dan konsentrasi penuh hanya untuk beribadah kepada Allah, serta bersungguh-sungguh dalam ketaatan. Selanjutnya Sufisme berubah menjadirahbaniah/monastik/biarawan yang penuh dengan bid'ah dan khurafat. Kemudian berubah menjadi penyimpangan akidah dan ritual yang mendalam hingga sampai pada ideologihululdanittihad/menyatu dengan Tuhan. (Lihat,Majmu al-Fatawa, juz XI, h. 18, dst.)

[2]Tasyayyu'atau Syi'ah yang dimaksudkan disini adalah Syi'ah Imamiah atau 12 imam. Sebab saat ini jika Syi'ah disebut maka merekalah yang dimaksud. Selain golongan ini ada juga Isma'iliah dan Zaidiah.Esensinya aliran Imamiah bukanlah Syi'ah, melainkan Sabaiah Bathiniyah Rafidhah. (Lihat,Ushul Mazhab al-Syi'ah, cet IV, juz I, h. 61-65)

[3]Di antaranya:

         -            Al-Syaibi, Dr. Mustafa Kamil (Penganut Syi'ah dari Irak),al-Shilah Baina al-Tashawwuf wa al-Tasyayyu'danal-Fikr al-Syi'i wa al-Niza'at al-Shufiyah Hatta Mathla' al-Qarn al-Tsani Asyr.

         -            Mundakar, Falah ibn Isma'il,al-Alaqah Baina al-Tasyayyu' wa al-Tashawwuf.

         -            Al-Hamam, Ziyad ibn Abdullah,al-Alaqah Baina al-Shufiyah wa al-Imamiyah.

[4]Seperti Syekh Ihsan Ilahi Zhahir. Beliau pernah berkata:"Dulunya aku mengira bahwa sebagian tokoh ekstremeslah yang merusak Sufisme, dan bahwa sikap esktrem dan radikal yang telah menjerumuskan mereka kepada celaan sehingga menyerupai Syi'ah. Akan tetapi, setelah mengkaji secara mendalam, berafiliasi ke dalam sekte-sekte mereka, membaca karya tulis, meneliti biografi dan sejarah mereka, aku simpulkan bahwa tidak ada kemoderatan dalam aliran Sufisme, persis sama dengan Syi'ah. Bagi mereka kemoderatan adalah perkara tabu."(Al-Tashawwuf, al-Mansya' wa al-Mashdar, h. 6)

[5]Di antara hasil karya penulis,Mas'alat al-Taqrib Baina al-Sunnah wa al-Syi'ah, UshulMazhab al-Syi'ah al-Imamiah al-Itsna Asyariah,Brutukulat Ayat Qum,al-Bid'ah al-Maliah Inda al-Syi'ah al-Imamiah,Haqiqat Ma Yusamma Bi Zabur Aal Muhammad, al-Bara'ah Min al-Musyrikin Inda al-Syi'ah al-Imamiah, al-Syi'ah wa al-Tasyayyu'(Buku ini disusun bersama Dr. Salman al-Audah, kajian atas buku karya Ahmad al-Kasrawi, professor di Tahran University dan ketua MK Iran).

[6]Seperti bukual-Mujaz Fi al-Adyan wa al-Firaq wa al-Mazahib, yang disusun bersama Prof. Dr. Nashir al-Aql, juga bukual-Aqidah wa al-Adyan wa al-Ittijahat al-Mu'ashirah, yang dijadikan kurikulum kelas III SMA.

[7]Mata pelajaran Tasawuf, mata pelajaran yang terbaru di Qassim University, dan baru pertama kali diterapkan di Saudi Arabia.

[8]Houtsiyah yang berkembang di Yaman pada dasarnya beraliran al-Jarodiah. Namun kini mereka telah bermetamorfosa menjadi Syi'ah Itsna Asyariyah. Artinya mereka adalah kolaborasi dari ideologi Jarodiah Rafidhah dengan Itsna Asyariah kontemporer.

[9]Lihat Aljazeera Center For Studies, Sana,al-Houtsiyah Fi al-Yaman. Lihat juga, al-Hajari, Abu Saleh ibn Abdullah, Tahawwulat al-Zaidiah wa Awamil Zhuhur al-Houtsiah. 

[10]LihatBihar al-Anwar, juz XXV, h. 285. 

[11]LihatMas'alat al-Taqrib, juz I, h. 383,Ushul Mazhab al-Syi'ah, juz III, h. 20.

[12]Dana yang digunakan untuk membiayai tentara bayaran ini diambil dari minyak milik rakyat Irak.

[13]Untuk mengetahui konspirasi mereka lebih detail, silahkan bacaMuhktashar al-Tuhfah al-Istna al-Asyariah, h. 25-47,Mas'alat al-Taqrib, juz I, h. 61-83.

[14]Naqdh Aqa'id al-Syi'ah, h. 25-26.

[15]LihatIbn Hanbal, h. 361. Dalam kitab ini Abu Zuhrah menyebutkan biografi al-Thufi (h, 361-362). Biografi al-Thufi juga tercantum di, Ibn Rajab,Dzail Thabaqat al-Hanabilah, juz IV, h. 409-421.

[16]Al-Hukumah al-Islamiah, h. 142.

[17]Al-Syi'ah Fi al-Mizan, h. 49. 

[18]HR. Muslim, Kitabal-Imarah, Baban-Nas Taba'un Liquraiys wa al-Khalifatu Min Quraisy, no. 1821.

[19]Interpretasi tersebut jelas keliru. Sebab dari 12 imam versi Syi'ah hanya Ali dan Hasanradhiyallahu anhumayang pernah menjadi khalifah.Tidak seorang pun dari mereka mengklaim haknya menjadi khalifah, bahkan Hasan menyerahkan khilafah kepada Muawiyah ibn Abi Sufyanradhiyallahu 'anhuma. Sedangkan imam ke-12 yang mereka klaim adalah sosok fiktif yang tak pernah ada, lalu bagaimana ia diangkat menjadi imam atau khalifah?

[20]LihatAl-Syi'ah Fi al-Tarikh, h. 118.

[21]Al-Shilah Baina al-Tashawwuf wa al-Tasyayyu', h. 110.

[22]Minhaj al-Sunnah, juz IV, h. 133.

[23]Situs Islam Memo,http://www.islammemo.cc/akhbar/arab/2007/11/01/53752.html.

[24]Majmu' al-Fatawa, juz XI, h. 18.

[25]Lihat Ibn Taimiah,al-Radd Ala al-Akhna'i, h. 47.

[26]Lihat MuqaddimahKasyf Asrar al-Bathiniah.

[27]Buktinya dapat dilihat pada bukuSyubhat Haula al-Syi'ah, terbitan Lembaga Riset Tarekat Alazamiah. Dalam buku ini mereka membela dan ikut  mempromosikan beberapa ideologi Syi'ah, seperti Imamah (juz I, h. 110-112),  Abdullah ibn Saba' hanya legenda dan sosok fikif (juz II, h. 17, 94), legalisasi taqiyyah (juz III, h. 13), kritik atas kejujuran sahabat (juz III, h. 70), klaim kemaksuman para imam (juz IV, h. 45, 99), legalisasi nikah Mut'ah (juz V, h. 89-90), ideologial-Bada'(juz VI, h. 51-52),al-Intizhar/penantian imam ghaib (juz VI, h. 84,al-Raj'ah/kembalilnya imam ghaib (juz VI, h. 116).

[28] Di antara penganut Sufsime esktremes adalah Muhmammad al-Tijani, ia telah menulis beberapa buku yang mendukung pemikirannya, namun dalam berbagai dialog interaktif di beberapa stasiun TV seperti AlMustakillah TV, ia malah tidak berkutik sama sekali. Sosok lain adalah Muhammad Mare al-Antaki, ia pernah mengklaim diri sebagaiQadhi al-Qudhat/hakim tertinggi Ahlus Sunnah di Aleppo, Suria, padahal tak seorangpun dari ulama Aleppo yang mengenalnya. Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah pernah berkata kepadaku (penulis):"Orang ini anonim sama sekali tidak dikenal baik di Aleppo, apalagi di Suria, ia bodoh dan tak mampu berargumen."  Menurut penulis orang ini termasuk dalam dalam barisan rahasia aliran Bathiniah, atau memang tokoh fiktif.

[29]LihatUshul Mazhab al-Syi'ah, juz III, h. 19-dst.

[30]LihatMishbah al-Hidayah, h. 134, 142, 145.

[31]LihatSirr al-Shalat, h. 178.

[32]Idem, h. 84, 94, 112.

[33]Idem, h. 110.

[34]Idem, h. 148-149.

[35]LihatUshul Mazhab al-Syi'ah, juz III, h. 213-216.

[36]Mereka termasuk pemicu konflik yang terjadi di Mesir sekarang ini baik dengan aksi nyata maupun dari balik layar.

[37]Situs berita Aljazeera, http://www.aljazeera.net/NR/exeres/...551912A33B2.htm.

[38] Profesor studi syariat dan ilmu Islam, Ruhr University, Bochum, Jerman.

[39]Ammar Ali Hasan,al-Shufiyah Hal Takunu al-Namudzaj al-Amriki Li al-Taghyir?Artikel yang dimuat dihttp://www.onislam.net/arabic/madarik/culture-ideas/97678-2005-02-06%2019-24-06.htm.

[40]Sejarawan Amerika, spesifikasi kritik Islam. Pendiri sekaligus DirekturMiddle East Forum. Tokoh konservatif terkenal di Amerika dan termasuk salah satu pemimpin Zionisme, ia juga disinyalirsebagai penghasut utama perang atas Irak.

[41]Muhammad ibn Abdullah al-Maqdi,al-Tashawwuf Baina al-Tamkin wa al-Muwajahah, h. 8.  Dan dirilis oleh Surat Kabar Alzaman, edisi 1633, 12/10/2003.

[42]RAND Corporation adalah lembaga riset yang sekarang berada langsung di bawah komando Gedung Putih. Didirikan pada tahun 1946 sebagai pusat pengembangan proyek penelitian ilmiah, politik dan militer milik AU, Kementrian Pertahanan Amerika. Lembaga ini didirikan untuk membantu militer dalam menghadapi tantangan yang berhubungan dengan terorisme dan keamanan nasional Amerika. Laporan RAND menjadi acuan utama untuk mengarahkan politik pemerintah Amerika.

[43]Laporan ini disusun oleh Cheryl Benard, peneliti RAND bidang keamanan nasional. Ia adalah isteri dari Zalmay Khalilzad, yang pernah menjabat sebagai asisten khusus Presiden Bush, penasehat senior bidang keamanan nasional yang bertanggung jawab atas Teluk Arab dan Asia Tenggara, ia juga pernah menjadi Dubes Amerika untuk Irak, termasuk beraliran konservatif baru, dan memiliki pemikiran ekstremes, berasal dari Afghanistan.

[44]Al-Islam al-Dimuqrati al-Madani, al-Mawarid, al-Istiratijiyat, al-Syuraka', h. 7.

[45]Islam tidak boleh disebut pelarian. Jika ada pelarian dari konfrontasi Islam vs agama lain, maka itu dilakukan oleh sebagian pemeluk Islam.

[46] Surat Kabar Ahram, edisi 42981, 10/08/2004.

[47]Nixon Center adalah yayasan politik umum nonpartai yang didirikan pada tahun 1994 oleh Richard Nixon, mantan Presiden AS. Lembaga ini berspesifikasi menganalisa tantangan politik Amerika dengan fokus kepentingan keamanan nasional Amerika. (Lihat prolog dari laporan yang bertajukUnderstanding Sufism and Its Potential Role in US Policy)

[48]Lihat laporanUnderstanding Sufism and Its Potential Role in US Policy  versi Arab, h. 6.

[49]Bernard Lewis lahir di London tahun 1916 dari keturunan Yahudi. Ia adalah seorang Zionis berkewarganegaraan Amerika. Menjadi penasehat senior bagi kaum konservatif baru di Amerika dan menjadi dosen bidang sejarah Timur dan Afrika. Ia disinyalir menjadi pemrakarsa pemecahbelahan negara-negara Arab dan Islam. Saat Zionisme mengadakan jamuan kehormatan baginya di Tel Aviv, mereka memujinya dengan mengatakan: "Bernard Lewis telah mengajari kita cara memahami sejarah rumit Timur Tengah, dan bagaimana menuntunnya memasuki periode baru, demi membangun dunia terbaik bagi generasi mendatang."

[50]Lihat laporanUnderstanding Sufism and Its Potential Role in US Policy  versi Arab, h. 28.

[51]Surat Kabar US News edisi 25 April 2005, dinukil darial-Tashawwuf Baina al-Tamkin wa al-Muwajahah, h. 29-30.

[52]Surat Kabar Asharq al-Awsat edisi 16 Syawal 1426 H.

[53]Surat Kabar Alwatan Alarabi, edisi 5 Mei 2006, dinukil darial-Tashawwuf Baina al-Tamkin wa al-Muwajahah, h. 32.

[54]HR. Bukhari, no. 1458, Muslim, no. 19. 

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir