Korelasi Antara Hidayah dan Rububiah

23/03/2014 0:00:00
د. توفيق علي زبادي Jumlah kali dibaca 1175

Korelasi Antara Hidayah dan Rububiah


AllahSubhanahu wa Ta'alamengorelasikan antara hidayah dengan Rububiah di dalam Al-Qur'an al-Karim. Seperti firman Allah,

Mereka itulah yang tetap mendapat hidayah/petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang berjaya. (QS. al-Baqarah:5)

Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.(QS. al-Hajj: 67)

Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat hidayah/petunjuk dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.(QS. Luqman: 5)

Dan sesungguhnya telah datang hidayah/petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.(QS. an-Najm: 23)

Hidayah

Hidayah artinya memberi petunjuk secara lembut.

Hidayah yang dianugerahkan Allah kepada manusia ada empat jenis, yaitu:

Pertama,hidayah universal yang diberikan kepada semua mukallaf berupa akal, kecerdasan dan pengetahuan umum yang sangat mendasar, masing-masing orang sesuai kadarnya. Allah berfirman,

"Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk."(QS. Thaha: 50)

Kedua, Hidayah berupa penerimaan terhadap dakwah para Nabi dan wahyu yang diturunkan Allah. Inilah maksud firman Allah,

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.(QS. As-Sajdah: 24)

Ketiga, hidayah taufik yang dikhususkan bagi mereka yang mendapat petunjuk. Inilah makna firman Allah,

Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaannya. (QS. Muhammad:17)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh keni'matan.(QS. Yunus: 9)

Keempat, hidayah menuju surga di akhirat kelak. Firman Allah,

Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka. dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.(QS. Muhammad: 5-6)

Keempat jenis hidayah ini saling berurutan, siapa yang tidak mendapat tingkatan pertama tidak akan mendapat tingkatan kedua bahkan ia tidak dianggap mukallaf, siapa saja tidak mendapat hidayah kedua maka ia tidak akan mendapat hidayah yang ketiga dan keempat. Jika seseorang mendapat hidayah keempat, berarti ia telah mendapat tiga hidayah sebelumnya. Keempat hidayah ini juga berinversi, mungkin saja ia mendapat hidayah yang pertama namun tidak mendapat hidayah yang kedua dan atau yang ketiga. Seseorang tidak bisa memberi hidayah kepada orang lain melainkan hanya dengan mendakwahi dan mengajarinya jalan yang lurus.[1]

Rabb

Rabb artinya adalah pengasuh semua makhluk, Yang menciptakan, menurunkan ayat-ayat sebagai petunjuk, memberi segala kenikmatan yang tanpanya mereka takkan bisa bertahan hidup di muka bumi ini. Semua anugerah dan kenikmatan hanya dari Allah semata.

Tarbiah Allah atas hamba-Nya ada dua jenis, yakni umum dan khusus.

Tarbiah umum adalah dengan menciptakan semua makhluk, memberi rezeki dan petunjuk kepada kebaikan mereka di dunia dan akhirat kelak.

Tarbiah khusus, yakni tarbiah Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman, dengan menganugerahkan keimanan kepada mereka, menjaga dan menyempurnakannya, serta menyingkirkan semua penghalang atau pemaling yang dapat menjauhkan mereka dari keimanan tersebut. Memberi mereka taufik kepada kebaikan dan menjauhkan mereka dari semua keburukan. Barangkali inilah rahasia dibalik doa para nabi yang senantiasa menggunakan kata Rabb. Sebab, semua permintaan mereka termasuk bagian dari rububiah khusus ini.[2]

Rahasia ini jualah yang menjadikan hidayah menjadi hak prerogatif AllahSubhanahu wa Ta'ala.

Ketika menafsirkan firman Allah{أُوْلَـئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ}, Ibn Abbasradhiyallahu 'anhumaberkata,"maksudnya mendapat cahaya dari Rabb mereka, sehingga mampu istiqamah dalam agama Islam."[3]

Dalam ayat ini Allah menggunakan kata'Alaa/di atas, sedangkan tentang kesesatan digunakan kataFii/di dalam seperti firman Allah{وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى أَوْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ}, untuk menunjukkan bahwa orang yang mendapat petunjuk memiliki posisi yang tinggi dan mulia, sedangkan orang sesat berada di lembah kehinaan.[4]

Min Rabbihim/dari Rabb mereka,  yang senantiasa mentarbiah mereka dengan kenikmatan, menolak mara bahaya. Inilah hidayah khusus yang dianugerahkan Allah kepada para wali-Nya, yakni hamba-hamba-Nya yang beriman. Ini adalah tarbiah paling utama.[5]

Redaksi'Alaa Hudan/di atas hidayah,  menunjukkan kesempurnaan eksistensi mereka dalam hidayah tersebut.[6]

Hidayah ini menjadi sangat mulia karena bersumber dari AllahAzza wa Jalla, yang menunjukkan bahwa mereka senantiasa berada dalam peliharaan Allah, juga sebagai indikasi kemuliaan manusia sebagai hamba Allah.[7]

Faidah dari penggunaan kata'Alaa/di atas dalam ayat ini untuk menunjukkan eksistensi dan konsekuensi seorang mukmin dalam hidayah serta tingginya derajatnya. Sebaliknya, kataFii/di dalam digunakan untuk kesesatan, yang bermakna betapa rendah dan hinanya derajat orang yang terjerumus dalam kesesatan. Firman Allah,

Dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.(QS. at-Taubah: 45)

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu dan berada dalam gelap gulita.(QS. al-An'am: 39)

Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.(QS. al-Mukminun: 54)

Perhatikan pula firman Allah,

Dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.(QS. Saba': 24)

Jalan kebenaran akan menghantarkan penempuhnya semakin tinggi menuju Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar, sedang jalan kesesatan akan mendorong penempuhnya jauh ke bawah hingga terjerumus ke dalam lembah kehinaan.[8]

Mungkin Anda bertanya, lantas apa perbedaan antara هُدى من الله/petunjuk dari Allah dengan هدى من ربهم/petunjuk dari Rabb mereka ?

Rabb adalah Dzat yang merawatmu, membuatmu ada dari tiada, memberimu nikmat sebelum engkau tahu cara memintanya, dan membiarkanmu berjalan sesuka hati di atas bumi sembari menikmati ciptaan-Nya.

Lantaran itu Allah mengajarimu agar jangan bertanya kepada-Nya tentang rezeki esok hari, sebab Dia telah memberimu rezeki sebelum engkau tahu cara meminta dan mencarinya, sedangkan Allah tidak menuntutmu hari ini untuk beribadah esok hari. Maka hendaklah seorang hamba beradab terhadap RabbnyaAzza wa Jalla. Dari sini kita pahami dengan jelas bahwa rububiah adalah pemberian dan uluhiah adalah penugasan.[9]

Firman Allah من ربهم/dari Rabb mereka, berfungsi sebagai pengingat, agar mereka tetap menyadari bahwa mereka tidak akan sampai pada kondisi mulia ini tanpa karunia dan kemurahan dari Allah. Sehingga mereka senantiasa meletakkan jidad di tanah karena takut dari sifat ujub.[10]

Konklusi

Korelasi antara hidayah dengan rububiah mengajarkan beberapa makna penting, di antaranya,

-          Hidayah yang diperoleh hamba adalah karunia dari Allah. Dialah yang telah mentarbiah mereka hingga mencapai puncak keimanan. Karenanya mereka harus membalas karunia tersebut dengan beribadah sebaik-sebaiknya.

-          Hidayah harus diminta dari AllahAzza wa Jalla. Karenanya, Rasulullah selalu berdoa,"Ya Allah, berilah kami hidayah sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri hidayah."[11]  Beliau juga berdoa,"Ya Allah,  aku memohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, kesucian, dan kekayaan."[12]

Siapa saja yang berusaha mencapai hidayah, maka Allah akan memudahkan jalan hidayah baginya. AllahTa'alaberfirman,Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaannya.(QS. Muhammad:17)

Bahkan Allah Yang Maha Pemurah memberi karunia melebihi permintaan seorang hamba. Lihatlah bagaimana Allah memberi mereka ketakwaan sebagai tambahan atas hidayah yang telah dianugerahkan.

-          Hidayah akan menuntun hamba hingga sampai kepada AllahTa'ala.


 


[1]Al-Mufradat, h. 839.

[2]Tafsir al-Sa'di, h. 39.

[3]Tafsir al-Thabari, juz I, h. 250.

[4]Tafsir al-Sa'di, h. 40.

[5]Tafsir al-Sa'di, h. 646. 

[6]Tafsir al-Manar, juz I, h. 115.

[7]Tafsir al-Razi, juz I, h. 243.

[8]Ibn Qayyim,Tafsir al-Qayyim, h. 14.

[9]Tafsir al-Sya'rawi, h. 7235. 

[10]Nazham al-Durar, juz VI, h. 6. 

[11] HR. Ibn Hibban, no. 722. Syuaib al-Arnauth menyatakan(:) "hadits ini shahih"(i).

[12] HR. Muslim, no. 7079.

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir