Mengubah Syariat Setelah Memarginalkannya

23/03/2014 0:00:00
قـلـم الـتحـرير Jumlah kali dibaca 1272

Mengubah Syariat Setelah Memarginalkannya


Redaksi

Alhamdulillah, shalawat dan salam atas Rasulullah, keluarga, dan sahabat-sahabatnya.

Syariat Islam telah dan masih terus menghadapi berbagai tantangan yang berusaha melemahkan atau menegasikan posisinya dalam kehidupan manusia. Sistem sekuler hanya satu dari senjata terakhir yang pernah digunakan kelompok phobi Islam untuk menganeksasi ajaran Islam dari kehidupan manusia. Sistem ini mempersempit syariat Islam semata pada aspek yang paling kecil sehingga hampir tidak punya peran sama sekali.

Sebagai respon terhadap tantangan tersebut, ulama dan pemikir Islam bangkit melakukan perlawanan. Untuk itu, para ulama telah mengerahkan potensi mereka dalam berbagai bentuk dan bidang: pendidikan, kajian, amar ma’ruf dan nahi mungkar, dll. Tidak jarang, ulama dan pemikir itu harus menghadapi sikap represif penguasa yang hipokrit dan menjadi agen sekularisasi di negara mereka. Namun semua itu pasti tidak akan luput dari perhitungan hari Kiamat kelak, ketika segala sesuatunya akan mendapat ganjarannya, baik atau buruk.

Perlawanan dan kontribusi yang dilakukan ulama, sebagaimana di atas, di sisi lain mendapatkan sambutan yang hangat dari mayoritas masyarakat Muslim. Usaha para ulama lewat tulisan dan ceramah yang mengingatkan bahaya sekularisme terhadap masyarakat akhirnya membangkitkan kesadaran umat. Masyarakat Muslim semakin sensitif dan mampu mengendus tokoh-tokoh yang berusaha meminggirkan peran agama serta agenda yang kelompok ini jalankan.

Kesadaran masyarakat Muslim terhadap ancaman sekularisme cukup merata. Sehingga seorang Muslim awam yang hidup di pedalaman dan jauh dari pengaruh langsung sekularisme pun punya wawasan. Masyarakat Muslim menjadi lebih perduli terhadap keselamatan agama dan moralitas mereka terhadap ancaman budaya asing yangnotabenebertentangan dengan nilai-nilai lokal dan masyarakat.

Pada gilirannya, masyarakat Muslim menolak undang-undang dan hukum selain syariat. Akibatnya, sejumlah ulama dan muballig yang tegar dengan agamanya terpaksa mengalami tekanan hingga pengasingan, penjara bahkan pembunuhan. Umat Islam terlibat perang pemikiran yang sengit demi membendung kekuatan yang hendak memaksakan pemberlakuan hukum manusia atau kesepakatan-kesepakatan yang bertentangan dengan ajaran agamanya. Di sisi lain, penguasa represif dan militeristik terus merongrong masyarakatnya agar menerima undang-undang sekuler sebab mereka paham bahwa sekali saja umat merasakan kebebasan yang dijamin syariat maka mereka tidak akan rela kepada hukum selainnya.  

Namun satu hal yang disayangkan ialah adanya sekelompok ulama dan dai yang lemah. Kelompok ini belum mengerahkan upaya maksimal sebagaimana rival mereka. Bahkan muncul fenomena baru yang berbahaya di tengah masyarakat Muslim. Di sejumlah negara Muslim, fenomena ini bahkan dibungkus oleh fatwa “resmi” ulama lokal.    

Fenomena tersebut ialah mencocokkan hukum syariat sejalan dengan norma politik yang berlaku sehingga bersifat elastis, bisa memanjang dan bisa pula menjadi pendek. Akibatnya, sekelompok “syekh” tidak lebih merupakan boneka yang dipermainkan oleh tangan penguasa sesuai dengan hawa nafsu dan godaan syetan yang menguasainya.

Bahaya terbesar dari fenomena ini adalah bahwa aktor yang memainkan peran ini adalah orang-orang yang menggunakan baju ulama dan ahli agama. Kelompok ini memanipulasi perbuatan mereka dengan menggunakan teks-teks suci agama dengan memutarbalikkan arti dan tujuannya. Mereka telah menggunakan ilmu mereka demi kepentingan dunia orang lain dan untuk tujuan-tujuan yang bagaimanapun akan lenyap. Bahaya inilah yang banyak membingungkan masyarakat karena melihat kontradiksi yang tidak dapat diterima oleh fitrah yang suci.

Dalam Al-Qur’an, AllahTa’alamenceritakan tentang perumpamaan tokoh-tokoh seperti ini:

{وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ. وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ. سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ. مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْـمُهْتَدِي وَمَن يُضْلِلْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْـخَاسِرُونَ. وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِـجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْـجِنِّ وَالإنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أضَلُّ أُوْلَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ}

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Alkitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi. Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”(QS. al-A’raf/7: 175-179).

Termasuk bencana besar ialah menjadikan ilmu sebagai alat untuk menyelewengkan agama Allah sehingga hukum-hukum-Nya ditundukkan kepada kehendak penguasa. Perkara yang jelas halal menjadi haram yang pasti atau sebaliknya. Akbiatnya, nyawa person-person tertentu tergadaikan, negara menjadi rusak, sumber daya alam dirampok, peraturan dilanggar, masjid-masjid lumpuh, kebaikan dimandulkan, dan kedurhakaan dimasyarakatkan.

Padahal, kepada orang kafir dan jahil pun Al-Qur’an mengecam mereka bila berkata tentang AllahTa’alatanpa dasar ilmu yang jelas.

{وَلا تَقُولُوا لِـمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ

إنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ}

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.”(QS. al-Nahl/16: 116-117).

{قُلْ إنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْـحَقِّ

وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ}

“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui."(QS. al-A’raf/7: 33).

{فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِّيُضِـلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ إنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِـمِينَ}

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”(QS. al-An’am/6: 144).

Bila ini berlaku kepada orang kafir dan jahil, betapa berat ancaman bagi yang sengaja melakukan kedustaan atas nama Allah dengan secara lancang mengubah ajaran agamanya. Padahal, dia sendiri tahu persis bahwa kebenaran justru sebaliknya dari apa yang dia sampaikan.

Dalam konteks ini, sangat tepat mengutip ungkapan dari Ibn al-Arabi al-MalikirahimahullahdalamAhkam al-Qur’an:“Bila seseorang menghukum sesuai dengan kehendaknya dengan mengatasnamakan Allah, maka perbuatannya itu adalah bentuk mengubah agama Allah. Tindakan ini bisa membawa kepada kekufuran.”(Juz II, hal. 426).    

Kelompok ahli agama yang memanipulasi agama tersebut menggunakan nash-nash agama bukan pada tempatnya atau mengutip pendapat-pendapat yang lemah dan ganjil (syadz). Tidak jarang, kelompok ini berdalih menggunakan visi tujuan syariat (maqashid al-syariah) atau pertimbangan maslahat atau kondisi darurat atau perubahan situasi dan kondisi (‘umum al-balwa) atau alasan-alasan lain yang semata untuk kepentingan penguasa. Sehingga agama, dalam kondisi ini, tidak lebih dari selembar kain yang telah usang akibat banyaknya guntingan dan jahitan di sana-sini. Dan cukuplah Allah yang membalas penyimpangan yang mereka lakukan terhadap agama-Nya.

Tapi kita tidak akan berputus asa. Di tengah tangangan ini, sekolah-sekolah dan institusi pendidikan agama masih menyimpan manusia-manusia yang teguh dengan agamanya. Mereka tidak takut pada siapa pun selain Allah. Mereka tetap menyuarakan kebenaran, kendati bertentangan dengan keinginan para penguasa atau kelompok berpengaruh. Allah menjaga agama, syariat, dan hukum-hukum-Nya lewat lisan dan tangan mereka.

Kewajiban kita tentu tidak terbatas pada menjelaskan hukum-hukum Allah semata, walau hal ini sangat urgen. Di samping itu, kita juga harus menjelaskan ke publik tentang bahaya fenomena ini. Bila perlu, aktor-aktor yang menyelewengkan agama itu diungkap ke masyarakat. Karena sebagian dari aktor-aktor itu sesungguhnya tidak punya modal apa pun selain penampilan lewat jubah, sorban dan jenggotnya. Sebagian lagi bahkan hanya bermodalkan jabatan resmi atau publisitas media.  

Pada kesempatan ini, penulis juga menitipkan pesan agar kelas-kelas dan kurikulum pendidikan syariat hendaknya memuat nilai-nilai tarbiyah yang akan membawa pelajar kepada jalan yang diridhai Allah. Tarbiyah yang akan menumbuhkan dalam diri mereka karakter rabbani sehingga selalu memperbarui amalan hati mereka. Tujuannya, untuk melindungi mereka dari godaan nafsu harta dan jabatan. Pengalaman telah menunjukkan bahwa kesesatan sebagian manusia yang mengaku berilmu adalah karena godaan duniawi atau sikap paranoid atau keyakinan yang lemah atau kurangnya tawakkal kepada AllahTa’ala.

Namun agama Allah akan tetap terjaga sebagaimana Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nyashallallahu alaihi wasallam. Selanjutnya, lewat majelis-mejelis ilmu kepada ulama-ulama dan guru-guru agama. Yang lewat ulama itu para murid belajar tentang adab, nilai zuhud, pendirian, dan ketetapan di hadapan godaan penguasa. Penguasa, yang sekali saja seseorang menjulurkan tangan kepada istananya yang “gelap”, maka dia akan larut di dalamnya tanpa mampu selamat.***

 

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir