AL-QURAN PASTI JAYA DAN TAK TERKALAHKAN

10/03/2014 0:00:00
قـلـم الـتحـرير Jumlah kali dibaca 1064

AL-QURAN PASTI JAYA DAN TAK TERKALAHKAN


الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد،وعلى آله وصحبه أجمعين.

Musuh-musuh Islam tidak akan pernah berhenti menipu kaum muslim. Hal itu didorong oleh rasa dengki yang ada dalam jiwa mereka setelah kebenaran itu jelas. Kadang kala mereka menyerang Al-Quran, sunnah-sunnah Nabishallallahu alaihi wasallam, sedang di lain waktu mereka menyerang prinsip-prinsip yang ditetapkan agama.

Tetapi kenyataannya, setiap kali mereka berupaya memadamkan cahaya Islam, cahaya tersebut semakin cerah. Setiap kali mereka berusaha mencabutnya dari jiwa manusia, cahaya tersebut semakin mengakar dalam dada mereka. Berikut beberapa buktinya:

Pada tahun 1977, Oxfard University mengeluarkan sebuah buku karya seorang orintalis berkebangsaan Amerika, bernama John Wansbrough. Dalam bukunya, orintalis tersebut mengklaim bahwa Al-Quran itu hanya perkataan manusia. Ia juga mengklaim bahwa Al-Qur'an tidak muncul kecuali setelah Rasulullahshallallahu alaihi wasallamwafat, yaitu pada abad ke III Hijriah.

John Wansbrough mengklaim tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Al-Qur'an ada di wilayah Hijaz (Mekah dan Medinah, pent.). Barang siapa ingin menemukannya maka hendaklah ia mencarinya di dalam warisan orang-orang Yahudi dan Kristen di negara-negaraMesopotamia.

Klaim seperti ini juga diadopsi oleh Patricia Crohn  dan Michael Cook dalam bukunya"Hagarism",juga diadopsi oleh Christoph Luxenberg dalam bukunya"Read Syriac/Aramaic for Quran".Demikianlah kondisinya,"sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia".

Di antara hikmah-Nya, AllahAzza wa Jallamenjadikan bantahan terhadap klaim John Wansbrough ini dilakukan orang-orang non muslim. Yaitu para ilmuan dan tokoh orientalis. Agar tidak ada yang mengira bawa bantahan tersebut hanya didorong perasaan atau fanatisme buta.

Dalam konteks ini, kiranya tepat jika sebahagian dari kesaksian mereka dalam membela Al-Quran dan kritiknya terhadap logika para orientalis dikemukakan pada kesempatan ini.

William Muir yang dikenal sangat fanatik, dalam bukunyaThe Life of Mahomet,mengakui eksistensi Al-Quran. Setelah pembahasan tentang perselisihan yang terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Utsman radhiyallahu anhu, Muir menyatakan: "Meski perselisihan itu terjadi, mereka (para sahabat) itu tidak memiliki Al-Quran kecuali hanya satu. Konsensus yang terjadi setiap abad atas penggunaan kitab suci tersebut hingga zaman ini, 1858 M, menjadi bukti kuat bahwa naskah yang ada saat ini adalah naskah yang diinstruksikan dikodifikasi oleh Utsman …."[1]

Setelah melakukan studi terhadap model bacaan Hafsh dan Warsy, Adrian Brukit menyimpulkan: "Sesungguhnya riwayat teks Al-Quran pasca wafatnya Muhammadshallallahu alaihi wasallam, pada dasarnya stabil dan tidak bersifat dinamis. Teks Al-Quran hanya satu macam saja…."[2]

Penegasan ini membantah klaim Wansbrough bahwa teks Al-Quran mengalami dinamika sepanjang masa dan tidak sempurna kecuali pada abad ketiga hijriah. Klaim seperti ini tentu tidak memiliki dasar. Pantas jika orientalis ternama Guinbl mengomentari teori Wansbrough tersebut sebagai teori "minum dengan kumisnya"[3].

Dalam bantahannya terhadap klaim Wansbrough bahwa "adanya nasakh dan pengulangan ayat dalam Al-Quran menunjukkan bahwa Al-Quran itu merupakan kumpulan riwayat-riyawat yang masing-masing berdiri sendiri." R. B. Serjeant menulis:"Dengan cara ini Wansbrough berusaha mencopy proses pengakuan terhadap kitab-kitab konstusi dalam bible lalu menerapkannya terhadap Al-Quran, tetapi cara ini tidak akan mampu mendukung teorinya."[4]

Motivasi inilah yang sebetulnya yang mendorong Wansbrough memunculkan teorinya yang aneh tersebut. Yaitu pada saat ia gagal membuktikan kebenaran kitab suci yang banyak mengalami distorsi itu, ia mengalihkan perhatiannya terhadap Al-Quran yang tidak tersentuh oleh kebatilan. Harapannya adalah agar ia dapat meruntuhkan kedudukan Al-Quran dari orang-orang mukmin.

Tentu upaya tersebut masuk dalam sinyalir Allah dalam firman-Nya:

"Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir." (QS. an-Nisa': 89)

Tetapi Allah meruntuhkan teori tersebut melalui tangan-tangan para orientalis yang seprofesi dengannya.

Klaim Wansbrough dan para pendukungnya tidak berdasar dan bertahan di hadapan kritik ilmiah yang obyektif. Sehingga tidak aneh jika teori tersebut dibantah oleh para orintalis Yahudi dan Kristen yang dikenal tidak pernah pro terhadap Islam dan kaum muslim.

Orientalis terkenal John Burton dalam bukunya"Compilation of the Qur'an"menulis: Teks Al-Quran tidak pernah mengalami perubahan sejak masa Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Pernyataan ini dikomentari R. B. Serjeant bahwa: John Burton dalam karya terakhirnya"Compilation of the Qur'an"(Cet. Cmabrg 1979) dengan cara yang lebih meyakinkan daripada teori Wansbrough yang tidak berdasar itu ingin membuktikan bahwa teks Al-Quran yang ada saat ini adalah tekas yang ada di zaman Nabishallallahu alaihi wasallam."[5]

Sikap seperti ini sebetulnya telah dimunculkan oleh para orientalis sebelumnya, seperti Arthur Arberry dalamThe Koran Interpreted: A Translation,telah menegaskan bahwa "…Al-Quran yang dicetak pada abad ke XX sama persis dengan Al-Quran yang dipakai oleh Utsman lebih dari 1300 tahun silam."[6]

Sementara itu dua orientalis lainnya, masing-masing Patricia Crohn dan Michael Cook dalam bukunya"Hagarism"meniru gaya Wansbrough dipandang tidak profesional dalam menciptakan dan mengembangkan dusta, hingga keduanya dipertanyakan oleh R. B. Serjeant:"Apakah kedua penulis amatir ini pernah membaca Al-Quran dengan seksama? Atau keduanya hanya menggunakan analisa yang lebih sederhana daripada reputase yang diperoleh seorang ahli bahasa Ibrani yang menganalisa hubungan antara Yesus dan tumbuhan cendawan".Dalam hal ini, R. B. Serjeant menyinggung John Allegro dengan bukunya"The Sacred Mushroom and the Cross"..

Terakhir, artikel ditutup dengan ocehan penulis buku"Read Syriac/Aramaic for Quran", Fransia De Balwa, dosen Islamic Studies di London University, mengomentari penulisnya Kriestop Lowkseneg sebagaimana dikutip koran New York Time sebagai ahli Bahasa Smith Klasik. Fransia berkomentar: "Penulis dimaksud tidak ahli dalam bahasa-bahasa Smith klasik. Ia hanya berbicara dengan salah satu dialek bahasa Arab. Ia juga memiliki kemampuan berbicara yang belum memadai dengan bahasa Arab fushha/standar. Ia hanya memiliki bekal bahasa Syriac yang cukup untuk merujuk kepada ensiklopedi bahasa. Ia tidak memiliki metodologi cukup untuk mengkomparasi bahasa-bahasa Smith. Bukunya bukanlah buku ilmiah. Buku tersebut tidak lebih dari sekedar buku rendahan dan tidak sfesial."[7]

Perhatikan bagaimana para ahli yang notabene non muslim itu membela Al-Quran, seakan sikap mereka menyatakan: "Al-Quran itu manis, mempesona, dan puncaknya penuh dengan buah, sedang dasarnya mengakar ke bumi. Sungguh Al-Quran itu akan senantiasa jaya dan tak terkalahkan." Sayangnya, mereka menolak mengikuti jalan sehingga mereka terus tersesat.

                                                                                                                                


[1]William Muir,The Life of Mahomet, vol. I, chapter I.

[2]Andrew Rippin (Ed.), Approaches to the History of Interpretation of the Qur'an(Oxford: Clarendon Press, 1988), p. 44.

[3]Richard Martin,  Approaches to Islam in Religious Studies(University of Arizona Press, 1985), p. 232.

[4]R. B. Serjeant,The Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland, No. 1 (1978), Cambridge University Press, pp. 76.

[5]R. B. Serjeant,The Journal of the Royal Asiatic Society, No. 1 (1978), pp. 76-78.

[6]Arthur Arberry,The Koran Interpreted: A Translation(Simon & Schuster, 1996).

[7]Journal of Qur'anic Studies, 2003, Volume V, Issue 1, pp. 92-97.

 

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir