ANALISIS POLITIK DALAM PERSPEKTIF SYARIAT

10/03/2014 0:00:00
د. هاني بن عبد الله بن محمد الجبير Jumlah kali dibaca 1235

ANALISIS POLITIK DALAM PERSPEKTIF SYARIAT


Dr. Hani ibn Abdullah al-Jubair

Kondisi umat yang hari ini berada di tengah persaingan global di antara negara-negara adikuasa mengharuskan; lahirnya perhatian yang cukup terhadap persoalan kemampuan menganalisis berbagai sikap dan kebijakan, menyeleksi jalur yang tepat lalu memunculkan solusi yang bijak dan memberikan alternatif yang memungkinkan, juga diperlukan lahirnya koalisi sesuai hasil analisis terhadap dinamika perubahan yang sangat cepat.

Perhatian terhadap dinamika politik global ini memerlukan kematangan berpikir dan perhatian tingkat tinggi disertai analisis politik yang kuat dan mendalam.

Sebagai tuntutan sikap bijak dan mendahulukan kemaslahatan, perlu senantiasa melakukan analisis terhadap akibat yang dapat muncul dari segala sesuatu. Juga perlu kesiapan mental untuk menghadapi masa depan, dan melakukan perencanaan sebelum kehilangan kesempatan. 

Hal itu karena orang bijak adalah orang yang mampu mendeteksi sebab berbagai persoalan lalu mempersiapkan diri menghadapi akibatnya. Para ulama dikenang jasanya karena sikapnya yang bijak saat mulai muncul suatu gejala dan kemampuannya mengalisis akibat yang dapat muncul dari gejala tersebut. Tingkat keistimewaan masing-masing ulama ditentukan oleh tingkat sikap dan analisis mereka pada setiap gejala yang muncul. Karena tingkat pengetahuan antara ulama dan non ulama setelah suatu persoalan terbongkar tentu akan berimbang.[1] 

Umat Islam banyak kehilangan peluang kebaikan dan sering tertimpa mudarat akibat minimnya perhatian dan studi terhadap kondisi mereka beserta sikap yang harus diambil pada setiap kondisi. Juga karena minimnya studi terhadap berbagai dinamika perubahan yang dialami beserta sikap yang  perlu dilakukan setelah melakukan kajian dan analisis politik yang matang dan berdasar pada asas-asas ilmiah dan data-data yang akurat.

Jika kita ingin menjadikan analisa politik ini sejalan dengan ketentuan syariat Islam yang merupakan penentu dan pengarah manusia dalam berbagai urusan, maka hendaknya kita mengikatnya dengan pengarahan dan ketentuan syariat.

Tujuannya agar analisa politik itu mewakili pandangan Islam. Karena ide-ide yang terikat dengan syariat Islam dan rindu terhadap penerapannya biasanya bersifat komprehensif. Hal itu karena Islam menyatukan berbagai aspek kehidupan. Mengarahkan perjalanan manusia di atas muka bumi. Juga memadukan antara aspek rohani, fisik dan akal manusia. 

Dengan karakter ini, ide-ide yang diusung pemikir seperti ini memiliki keselarasan yang sangat tinggi dengan berbagai aspek kehidupan. Pada gilirannya pemikiran model ini akan melahirkan pandangan yang islami terhadap alam semesta dan kehidupan ini.

"Hal itu karena aqidah memiliki pengaruh kuat dalam peningkatan kwalitas ibadah. Sedang aqidah dan ibadah berpengaruh terhadap pembentukan akhlak. Sementara akhlak memiliki pengaruh dalam pengawasan terhadap konstitusi. Dan konstitusi memiliki peran yang kuat dalam mengangkat dan melestarikan suatu negara. Sedang negara berperan sangat besar dalam menjaga eksistensi aqidah, ibadah, akhlak dan segala aturan konstitusional.  Sehingga segala komponen tersebut saling memiliki keterkaitan dan pengaruh satu sama lain. Oleh karena itu, maka perhatian terhadap segala hal tersebut perlu ditingkatkan, utamanya jika kita ingin membangun kehidupan yang ideal,komprehensifdan seimbang sebagaimana yang dikehendaki Allah."[2]

Tulisan ini merupakan suatu upaya dalam menguak dan memaparkan beberapa prinsip dalam melakukan analisa politik.

BAGIAN I, PENGANTAR ANALISIS POLITIK

Pertama,definisi politik

Secara etimologi, politik yang dalam bahasa Arab disebutsiyasah,berasal dari katasasa.Katasasabermakna mengelola sesuatu dan mengaturnya dengan baik.  Dalam ungkapan Arab dikatakan:sasa al-daabbah izaa raadhaha wa ta'ahhadaha bi ma yushlihuha/ ia telah mengelola kendaraannya apabila ia melatih dan mengaturnya dengan yang bermanfaat. Dalam ungkapan lain dikatakansasa al-amr, apabila seseorang berupaya memperbaikinya.

Juga dikatakan: sasa al-ra'iyah,apabila seseorang menjabat pemerintahan rakyat dan menegakkan urusan mereka dengan baik.[3]

Dalam terminologinya, makna etimologi tersebut juga terpakai.

Al-Maqrizi mendefinisikan siyasah sebagai:"Konstitusi yang dibuat untuk mengatur etika dan kemaslahatan serta ketertiban umum."[4]

Sedang al-Laknawi mendefinisikannya sebagai:"Upaya mensejahtrakan masyarakat dengan mengarahkan mereka kepada jalan yang memberi keselamatan, baik di dunia ataupun di akhirat."[5]

Siyayah/politik digunakan untuk kepentingan individu, kelompok, ataupun masyarakat secara kolektif. Karena hakekatnya adalah upaya yang dimaksudkan untuk memperbaiki dan menuntun kepada jalan kebenaran, keadilan dan konsistensi.

Berbeda dengan makna di atas, kinisiyasah/politik telah menjadi disiplin ilmu tersendiri yang mengkaji pola hubungan antara pemerintah dan masyarakat dan pola hubungan internasional. Dan  memiliki pengaruh yang sangat kuat di masyarakat. Meski penjelasan para penulis dalam mendefinisikannya belum sepakat. Hal itu karena sulitnya menentukan semua unsur dan fenomena yang masuk di dalamnya. Juga karena faktor-faktor yang mempengaruhinya terus berubah dan dinamis, ditambah dengan sudut pandang mereka dalam melihat esensinya.

Namun yang pasti bahwa tema sentral yang diusung dalam ilmu politik modern adalah kekuasaan dilihat dari berbagai aspeknya. Baik dari aspek keharusan penerapannya di masyarakat, aspek komitmen masyarakat, aspek absolusitas dan legalitasnya ataupun pemetaan dan penentuan titik yang diperdebatkan berkaitan dengannya.[6]

Atas dasar itu, maka ilmu politik modern didefiniskan sebagai  "studi tentang proses pemetaan kekuasaan berdasarkan nilai-nilai yang beragam untuk kemaslahatan masyarakat."[7]

Ataustudi tentang kekuasaan dan para penguasa, mencakup bentuk, cara dan waktu perolehannya.[8]

Sebagian ahli politik kontemporer memandang bahwa batasan ilmu politik berkembang sesuai dengan perkembangan yang dialaminya. Di masa klasik, negara merupakan obyek ilmu politik ditinjau dari konstitusinya di dalam negeri ataupun pola hubungannya dengan dunia internasional.  Pada perkembangan selanjutnya, kondisi  tersebut mulai bergeser. Dimana kekuasaanlah yang menjadi obyek yang dominan di dalamnya. Selanjutnya kemampuan menciptakan pengaruh di masyarakat menjadi obyek perhatiannya. Sehingga pengenalan terhadap para penguasa, bentuk kekuasaan dan pengaruhnya di dalam dan di luar negeri menjadi unsur terpenting dalam ilmu politik kontemporer. Tentu ilmu ini tidak akan berhenti atau berakhir di sini, karena kemungkinan munculnya berbagai hal baru dan menjadi obyek studi ilmu ini tetap terbuka.[9] 

Kelompok-kelompok lobi, aliansi dan partai-partai politik, juga media memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam pengambilan kebijakan, sehingga semuanya, kini telah menjadi aspek yang dipelajari dalam ilmu politik.

Kedua,analisis politik

Analisis adalah salah satu metode penelitian yang menguji suatu obyek dengan maksud mencari kesimpulan tertentu dari obyek tersebut.

Sedang analisis politik adalah penggunaan analisa pikiran yang sistematis terhadap berbagai obyek terkait tema tertentu. Tujuannya adalah untuk menghasilkan kesimpulan berupa deskripsi tentang suatu kondisi, atau untuk mengarahkan, memprediksi hasil yang akan dicapai, dan menentukan sikap yang perlu dilakukan. Jadi analisis politik merupakan metode memahami berbagai peristiwa beserta latar belakangnya.

Karena tujuan pembelajaran ilmu politik pada dasarnya adalah untuk membantu memahami dan mengalisis suatu realita maka dapat dikatakan bahwa analisis politik itu merupakan penggunaan yang paling tepat bagi ilmu politik.[10]

Dengan kata lain, analisis politik itu merupakan tujuan praktis dari ilmu tersebut.

Analisis politik tampak semakin urgen di era kontemporer ini. Hal itu disebabkan karena pengaruh globalisasi yang menjadikan dunia internasional seakan-akan hanya sebuah kampung kecil dengan batas geografis yang sangat dekat. Akibatnya, pengaruh peristiwa politik yang terjadi pada salah satu negara Barat dapat melintasi berbagai batas teritorial dengan negara lain hingga menyebar ke berbagai belahan dunia.

Penulis memandang bahwa kita tidak akan berselisih jika dikatakan bahwa analisis politik telah menjadi salah satu di antara perkara mendasar yang dibutuhkan dalam kehidupan kontemporer saat ini. Hal itu dibutuhkan oleh kalangan birokrat yang bekerja sebagai praktisi politik dan para pengamat politik. Juga dibutuhkan oleh orang-orang yang berminat memperluas wawasan agar mampu memahami realita pergulatan politik dan tidak menjadi korban sedang mereka memiliki kemampuan untuk itu bahkan mampu menjadi agen perubahan.

Ketiga,asas dan metode analisis politik

Analisis politik dibangun di atas dua asas:

1.      Pemahaman yang mendalam terhadap berbagai kasus dan peristiwa.

Yaitu dengan mendalami semua kasus politik yang ada, bukan sebatas pemahaman yang dangkal. Karena suatu kasus politik dapat bersifat multi interpretasi dan yang nampak di permukaan kadang-kadang berbeda dengan yang tersembunyi.

Asas ini mengharuskan adanya pengetahuan dan perhatian yang cukup tentang berbagai kasus sebelumnya, utamanya peristiwa yang berhubungan dengan kasus tersebut. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah pengetahuan seputar karakter person ataupun negara yang terlibat dalam kasus tersebut.

2.      Pengetahuan tentang sebab-sebab yang melatarbelakangi munculnya kasus dan peristiwa tersebut.

Analis politik senantiasa mencari dan meneliti sebab-sebab yang melatari munculnya kasus tersebut, baik yang nampak ataupun yang tidak nampak. Sebab-sebab tersebut biasanya tidak diketahui kecuali orang-orang yang ahli dan mengerti tentang prinsip-prinsip analisis politik.

Metode analisis politik banyak macamnya, antara lain:

1.      MetodeNukhbah/Elit:

Yaitu metode yang fokus mengkaji para elit politik eksekutif yang merupakan kelompok yang memegang pemerintahan secara langsung atau yang menyetir dan mempengaruhi mereka.

Kajian ini diarahkan untuk mengenal asal-usul, latarbelakang, loyalitas dan hubungan antar sesama elit. Tak lupa pula mengkaji kekuatan politik internal ataupun eksternal yang mempengaruhi mereka. Karena proses dan dinamika politik merupakan produk para elit tersebut sehingga pengenalan terhadap para elit politik eksekutif itu dapat membantu memahami dan menganalisa dinamika tersebut.

Metode ini sangat urgen tetapi dipandang masih belum cukup. Karena boleh jadi elit-elit politik itu tidak lebih dari sekedar aktor yang memerankan skenario politik bagi kekuatan yang ada dibalik layar. Yaitu kekuatan yang membuat kebijakan, menentukan arah politik dan memimpin negara.[11]

2.      Metode Analisis Kolektif:

Metode ini dibangun di atas prinsip bahwa rezim politik itu merupakan himpunan berbagai kubu yang saling bersaing sehingga proses perpolitikan itu merupakan hasil dari persaingan dan pertarungan politik antar kubu tersebut. Kubu-kibu politik tersebutdapatberbentuk partai, atau serikat, ataupun komunitas.

Metode ini cocok untuk mengalisis beberapa rezim politik kontemporer tetapi tidak cocok untuk kebanyakan rezim politik lainnya.

3.      MetodeDecision-Making/Penentu Kebijakan:

Metode ini fokus pada cara menentukan kebijakan politik, mulai dari munculnya suatu problem yang menuntut adanya penyelesaian. Dilanjutkan dengan proses pengumpulan data yang terkait dengan problem tersebut . Disusul  usulan beberapa solusi penyelesaian dengan memperhatikan tingkat pengaruhnya masing-masing secara positif atau negatif terhadap penyelesaian masalah. Dan terakhir penentuan solusi yang paling dominan membawa kemaslahatan dan paling minim mudaratnya.

Metode ini sebetulnya metode parsial terkait dengan kebijakan dan penanganan masalah. Ia tidak dapat membantu memahami bagaimana suatu lembaga negara bekerja, atau memahami arah kebijakan umum bagi suatu negara.[12]

Keempat,Corak Analisis Politik

Corak analisis politik banyak ragamnya. Secara umum, setiap corak itu memiliki justifikasi,dasar pemikiran, danmekanismetersendiri. Masing-masing  corak mengusung ide dan teori tersendiri, misalnya teori konspirasi,benturan peradaban, konflik agama, etnis,sektarian, politikekonomi, atau dominasi, dan sebagainya.

Di antara corak analisis politik yang paling menonjol adalah:

1.      Corak ideologis

Yaitu corak analisis yang mengkaji kasus politik berdasarkan ideologi masing-masing kelompok. Corak ini berusaha menampilkan dan menganalisis setiap pertarungan politik sebagai bentuk pertarungan ideologi.

2.      Corak nasionalisme

Corak ini menganalisis setiap fenomena dan kasus politik atas dasar motivasi kepentingan suatu bangsa. Corak ini memandang bahwa inti dari pertarungan politik itu adalah kepentingan nasional suatu bangsa. Ia memandang bahwa munculnya konflik internasional itu sebagai akibat dari pertarungan kepentingan antar bangsa dan negara.

3.      Corakrealism

Corak analisis ini tidak tunduk kepada sebab tertentu, tetapi ia memandang bahwa di sana terdapat sejumlah faktor yang dapat membantu dalam menginterpretasi, menganalisis dan mengungkap kasus politik. Ia tidak sangsi atas pengaruh historis, nasionalisme, ataupun konflik agama terhadap pengambilan kebijakan politik, interpretasi kasus dan fenomena politik dan sebagainya. Ia juga tidak memungkiri adanya pengaruh psikologis hubungan antara negara, bangsa, nasionalisme, agama ataupun mazhab terhadap muncul atau runyamnya suatu kasus politik.

BAGIAN I

PERSPEKTIF SYARIAT DALAM ANALISIS POLIITIK

Orang yang mengamati bukti-bukti syariat akan mendapati beberapa bukti perhatian Islam terhadap interaksi politik. Juga penentuan sikap terhadapkompleksitas hubungan dan sikap yang wajib dan disarankan dalam Islam.

Kaum muslim selalu peduli dengan interaksi politik. Mereka takut kepada  akibatnya,sehingga melakukan berbagai upaya untuk menangkal ataupun meminimalkan akibat tersebut. Halini jelas dalam syariat dantidak perlumencaribukti-buktinya.

Kekhawatiran kaum muslim akan kemenangan bangsa Persia atas bangsa Romawi yang beragama Kristen itu merupakan salah satu bukti atas hal tersebut.

Hal itu disebebkan karena bangsa Romawi merupakan ahlul kitab, berbeda dengan bangsa Persia. Di samping karena bangsa Persia juga terlanjur memerangi bangsa Arab dengan tujuan ekspansi ke wilayah mereka pada perangZi Qaar.

Atha' al-Khurasani berkomentar:"Aku diceritakan oleh Yahya ibn Ya'mar bahwa Kaisar Romawi mengirim pasukan dari Roma, dan Kisra Persia juga mengirim pasukan lalu keduanya bertemu dan berperang di perbatasan Syam. Perang ini dimenangkan pasukan Persia atas pasukan Romawi sehingga orang-orang kafir Quraisy gembira ria, sementara kaum muslim bersedih dan tidak senang dengan kemenangan tersebut."

Ikrimah melukiskan kejadian tersebut bahwa saat orang-orang musyrik bertemu dengan para sahabat Nabishallallahu alaihi wasallam, mereka menghasut: kalian adalah ahlu kitab, orang-orang Kristen juga ahlu kitab, sedang kami adalah kaumummiyyuntetapi saudara-saudara kami dari Persia telah mengalahkan saudara-saudara kalian dari ahlu kitab sehingga apabila kalian memerangi kami maka pasti kami akan mengalahkan kalian. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

}الـم . غُلِبَتِ الرُّومُفِي أَدْنَى الأَرْضِ وَهُم مِّنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْسَيَغْلِبُونَفِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُوَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْـمُؤْمِنُونَبِنَصْرِ اللَّهِ يَنصُرُ مَن يَشَاءُوَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ.}[الروم: 1-5]

Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang. (QS. ar-Ruum: 1-5)[13]

Riwayat-riwayat yang disebutkan dalam buku-buku sirah telah menjadi bukti atas perhatian Islam terhadap interaksi politik, sepertiperjanjian dengan orang-orang Yahudi,perjanjian Hudaibiyah,negosiasi Nabishallallahu alaihi wasallamdenganUyainahibn Hishn atas hasil bumi kota Medinah agar mereka tidak mengepungkota tersebut.

Analisis politik merupakan upaya manusia untuk mengkaji berbagaifakta dan data, dan menghubungkannyadenganberbagai  informasi yangtelahdikumpulkan oleh analis. Dengan tujuan agar dapat menghasilkanpemahaman yang benar tentang realitas dan motifnya. Juga untuk mengevaluasi kasus tersebut danmenjelaskankonsekuensi yang dapat timbul daripadanya. Oleh karena itu maka upaya manusia tersebut harus mengikuti beberapa ketentuan syariat yang mengikat ijtihadnya. Di antara ketentuan-ketentuan tersebut adalah sebagai berikut:

1.      Validitas data yang dianalisis

Allah telah mewajibkan kaum muslim untuk selalu memvalidasi danmemverifikasikeabsahan data yang akan dikajidanmengharamkan sikap terburu-terburu dalam menyikapi suatu informasi. Allah berfirman:

}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنتُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ{[الحجرات:6]

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. al-Hujurat: 6)

Nabishallallahu alaihi wasallambersabda:"Jauhilah prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka buruk itu pembicaraan yang paling dusta."[14]

Oleh karena itu maka pada saat menganalisis data, seorang peneliti harus memastikan bahwa data yang sedang dianalisis itu benar-benar data ril dan bukan spekulasi.

Ketentuan ini sangat ditekankan hari ini, disebabkan karena kebohongan media telah nyata dan dilakukan dengan sengaja. Baik dengan tujuan mengaburkan fakta ataupun untuk memancing reaksi massa, ataupun tujuan lainnya.

Hal ini menjadikan tugas ini semakin berat karena di samping mengalisis data, seorang analis juga dituntut melakukan validasi dan komparasi berbagai data agar dapat memastikan kebenaran data tersebut.

2.      Analisis tidak mengandung kecaman tanpa bukti

Pada dasarnya manusia itu bertanggung jawab atas semua perkataannya. Ia akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban atas perkataanya. Perkataan itu juga yang paling banyak menyeret manusia masuk ke dalam neraka.

Muazradhiyallahu anhupernah bertanya kepada Rasulullahshallallahu alaihi wasallamdengan mengatakan: Wahai Nabi Allah, apakah kita akan dihukum dikarenakan perkataan kita? Nabi bersabda:Tsakilatka ummuka ya muaz,wajah atau leher manusia itu tidak diseret di neraka kecuali karena hasil perkataan lidah mereka."[15]

Oleh karena itu maka ungkapan itu merupakan amanah yang harus diperhatikan oleh seorang muslim.

Pada waktu Rasulullah melakukan umrah dan sebelum memasuki kota Mekah, onta yang dikendarainya berhenti. Melihat hal itu, para sahabat yang menyertainya berkomentar bahwa al-Qashwa, onta Rasulullah sedih sehingga tidak mau berjalan. Mendengar komentar tersebut, Nabi bersabda:"Onta itu tidak sedih, kesedihan seperti ini bukanlah akhlaknya. Ia berhenti karena tertahan oleh penahan gajah."

Ibnul Qayyim mengomentari peristiwa tersebut dan menyatakan:"Dalam peristiwa tersebut terdapat kewajiban menolak perkataan yang batil meski hanya disandarkan kepada makhluk yang tidak mukallaf. Karena Nabi membantah saat mereka menyandarkan kepada onta tersebut sesuatu yang bukan akhlak dan karakternya."[16]

Kalau sikap ini diberlakukan kepada hewan maka pemberlakuannya terhadap manusia yang dimuliakan Allah itu jauh lebih pantas. Dan perberlakuannya terhadap sesama saudara atau orang yang seagama, sebangsa dan senasib seperjuangan bagi seorang analis jauh lebih pantas lagi.

Sungguh memilukan, betapa banyak kita saksikan analisis terhadap beberapa sikap dari berbagai faksi mengandung kecaman dan peringatan, atau dalih melawan faksi lain tanpa alasan yang jelas. Padahal Allah telah mengisahkan berita orang yang menjadi saksi dalam kisah Nabi Yusuf dan bagaimana kesaksian itu menjadi kenyataan.

"Kejadian itu dikisahkan dan dibenarkan oleh Allah tanpa diingkari. Tujuannya adalah untuk dijadikan contoh tauladan. Karena pengkisahan, pembenaran dan pujian Allah kepadanya menunjukkan bahwa Allah meridhainya dan bahwa saksi tersebut mengikuti hukum dan keridhaan Allah."[17]  

Allah berfirman:

}وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنْ أَهْلِهَا إن كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِن قُبُلٍ فَصَدَقَتْوَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ . وَإن كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِن دُبُرٍ فَكَذَبَتْوَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ}[يوسف: 26-27]

Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar." (QS. Yusuf: 26-27).

Tidak hanya demikian, seorang muslim bahkan dituntut untuk menyembunyikan suatu kebenaran demi melindungi jiwa saudaranya. Atau untuk menghalangi seorang penjahat menzaliminya atau mendapatkan legitimasi untuk menzaliminya.

Imam al-'Aini menegaskan bahwa hal itu:"Menunjukkan bolehnya melakukan rekayasa untuk menyelamatkan diri dari orang-orang zalim. Bahkan apabila ia tahu bahwa ia tidak akan bisa melepaskan diri dari mereka kecuali dengan berdusta maka ia boleh berdusta. Dan dalam beberapa kasus, telah konsensus ulama bahwa dusta seperti ini kadang-kadang berstatus wajib untuk menyelamatkan kaum muslim dari musuh-musuhnya."[18]

Para fuqaha mengatakan bahwa seandainya seorang zalim meminta dan menanyakan tempat titipan seorang untuk diambil secara paksa maka wajib diingkari dan dibohongi bahwa tempatnya tidak diketahui.[19]

3.      Terikat dengan ketentuan dan prinsip-prinsip syariat

Nash-nash syariat telah menetapkan beberapa ketentuan dan prinsip yang harus dipegang dalam kehidupan ini, utamanya dalam melakukan suatu studi dan penelitian. Sebagaimana kita harus menjadikan prinsip-prinsip syariat itu sebagai ukuran yang terpenting dalam mengukur hasil yang dicapai dalam suatu studi.

Sebagai contoh, dalam menentukan beberapa pilihan, maka asas yang digunakan akan kaedah-kaedah perbandingan dan komparasi syariat. Dengan analisis syariat, kita dapati bahwa umat Islam itu memiliki aset keimanan, kebanggaan agama, ukhuwah islamiah yang harus dipertimbangkan  dalam peta politik.

Di antara contoh prinsip-prinsip syariat terkait dengan pembahasan ini adalah:

Tidak mungkin terjadi perubahan pada kondisi umat Islam secara umum kecuali jika terjadi perubahan pada pribadi-pribadinya. Allah berfirman:

}إنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْوَإذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّندُونِهِ مِن وَالٍ}[الرعد: 11]

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. ar-Ra'd: 11)

Tidak akan terwujud kejayaan Islam dan keamanan bagi umat manusia kecuali jikaubudiah/penghambaan kepada Allah telah terwujud sebagaimana mestinya. Allah berfirman:

}وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِـحَاتِلَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْوَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُممِّنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا}[النور: 55]

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. (QS. an-Nur: 55)

Akibat dari kezaliman adalah kebinasaan. Allah berfirman:

}وَتِلْكَ الْقُرَى أَهْلَكْنَاهُمْ لَـمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِـمَهْلِكِهِممَّوْعِدًا}[الكهف:59]

Dan (penduduk) negeri telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka. (QS. al-Kahf: 59)

Penyimpangan dan berpaling dari manhaj Allah mengakibatkan datangnya siksa Allah dan munculnya kerusakan di muka bumi. Allah berfirman:

}ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِلِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}[الروم: 41]

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. ar-Rum: 41).

Ekspansi orang asing ke sebuah negara akan merusak akhlak dan kehidupan sosial masyarakatnya. Allah berfirman dan mengutip perkataan Ratu Saba':

}إنَّ الْـمُلُوكَ إذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَأَهْلِهَا أَذِلَّةً وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ}[النمل: 34]

"Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. (QS. an-Naml: 34).

Ibn Abbas mengatakan bahwa potongan ayat:{وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ}tersebut difirmankan Rabb Azza wa Jalla.[20]

Permusuhan orang-orang Yahudi dan Kristen terhadap kaum Muslim tidak akan berubah selama mereka berpegang kepada agama Islam. Allah berfirman:

}وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ}[البقرة: 120].

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (QS. al-Baqarah: 120)

Secara normatif pertolongan itu tidak akan datang kecuali setelah ujian. Allah berfirman:

}أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْـجَنَّةَ وَلَـمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُالَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُوَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُاللَّهِ أَلا إنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ}[البقرة: 214].

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. al-Baqarah: 214).

Sekelompok dari kaum muslim akan tetap eksis di atas kebenaran dan berjihad melawan musuh-musuh Islam dan memenangkan peperangan atas mereka sepanjang zaman.

Rasulullahshallallahu alaihi wasallambersabda:

«لا تزال عصابة من أمتي يقاتلون على أمر الله قاهرين لعدوهم، لا يضرهم من خالفهم،حتى تأتيهم الساعة وهم على ذلك»

Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang selalu berperang atas perintah Allah dan menang atas musuh-musuhnya. Mereka tidak peduli dengan orang yang menyelisihinya hingga datang hari kiamat sedang mereka tetap seperti itu.[21]

Dalam segala kondisi, kemenangan itu berada di tangan orang-orang yang komitmen dengan syariat Allah kendati terkadang datangnya terlambat. Allah berfirman:

}وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْـمُرْسَلِينَ.إنَّهُمْ لَهُمُ الْـمَنصُورُونَ.وَإنَّ جُندَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ }[الصافات: 171-173]

Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. (QS. ash-shaffat: 171-173).

Allah juga berfirman:

}إنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْـحَيَاةِ الدُّنْيَاوَيَوْمَ يَقُومُ الأَشْهَادُ}[غافر: 51]

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). (QS. Ghafir: 51).

4.      Yakin atas kebenaran pendapat yang diusung

Seseorang diwajibkan untuk tidak berbicara kecuali dengan sesuatu yang pasti dan diyakini kebenarannya. Kecuali dalam kondisi tertentu seperti yang disebutkan dalam kasus analisis politik di atas. Karena dalam kondisi seperti itu dimaksudkan untuk sesuatu yang tidak tampak, seperti dalam kondisi peperangan yang dikatakan oleh Nabishallallahu alaihi wasallam:"Peperangan itu kuncinya pada tipu daya."[22]

Nabi sendiri kalau ingin melakukan peperangan sengaja menyembunyikan dan melakukan gerakan yang menutupi keinginan tersebut.[23]Tetapi beliau tetap tidak menginjak-injak perkara yang mengharuskan terjadinya peperangan, perselisihan dan sebaginya.

Selain kondisi ini, maka seorang analis politik wajib berpegang pada metode ilmiah yang ditetapkannya untuk melakukan studi dan analisis terhadap data-data dan berbagai fakta yang ada untuk sampai pada kesimpulan yang tepat dan jujur. Ia harus memastikan dan meyakini validitas kesimpulan yang dihasilkannya. Kalau tidak maka ia dusta. Kedustaan ini tidak hanya menyimpang dari kode etik penelitian tetapi merupakan salah satu dosa besar yang wajib dihindari seorang muslim.

5.      Prinsip dan hukum syariat tidak boleh ditinggalkan dengan dalih kemaslahatan politik

Karena tujuan dari politik adalah mewujudkan kemaslahatan masyarakat. Sedang maslahat masyarakat terbesar adalah penerapan syariat Allah yang menjamin kemaslahatan bagi manusia. Oleh karena itu maka tidak boleh bagi seseorang mengusulkan atau mengusung ide yang menyimpang dari syariat Allah dengan dalih mewujudkan kemasalahatan.

Pada hakekatnya semua kemaslahatan yang menyelisihi syariat maka ia merupakan maslahat palsu yang bersifat fatamorgana.

Makna Islam itu adalah berserah diri kepada AllahTa'ala. Oleh karena itu maka apabila seseorang berasumsi bahwa dengan meninggalkan sebagian ketentuan syariat akan terwujud suatu tujuan dan cita-cita maka hendaknya dia mengintrospeksi pribadi dan nalar berpikirnya.

Pada saat Rasulullahshallallahu alaihi wasallammelakukan rekonsiliasi dengan penduduk Mekah dengan ketentuan kedua belah pihak meninggalkan peperangan selama sepuluh tahun dan bahwa setiap muslim yang datang kepada Nabi harus ditolak,  maka Umar ibn Khattabradhiyallahu anhuberkata kepada Nabishallallahu alaihi wasallam: Wahai Rasulullah! bukankah Anda seorang Nabi yang hak? Nabi menjawab:"Benar, aku seorang nabi."Umar berkata lagi: Bukankah kita berada di atas kebenaran sedang musuh kita berada di atas kebatilan? Nabi menjawab:"Benar."Aku (Umar) berkata: Kalau demikian mengapa kita merendah dalam urusan agama kita? Nabi menjawab:"Aku adalah Rasul Allah dan aku tidak akan bermaksiat kepada-Nya."[24]

DalamShahih Bukhari, Abu Wail menyebutkan bahwa:Pada saat Sahl ibn Hunaif tiba dari Shiffin maka kami mendatangi untuk menanyakan kepadanya beberapa informasi. Ia berkata: Abaikanlah pendapat akal, sungguh aku takjub memandang diriku pada hari Abu Jandal. Seandainya aku dapat membantah pendapat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam niscaya aku membantanya sedang Allah dan Rasulullah lebih tahu.

Sungguh perjanjian Hudaibiah ini telah membawa kemaslahatan besar bagi kaum  muslim.

Ibnul Qayyim mengomentari:

Perjanjian ini merupakan salah satu kemenangan teragung. Karena dengan perjanjian ini manusia merasa aman. Kaum muslim dapat berinteraksi dengan orang-orang kafir dan mendakwahi, memperdengarkan Al-Quran dan mendebat mereka dengan Islam secara terang-terangan tanpa ada rasa takut. Dengan perjanjian ini, orang-orang yang sebelumnya menyembunyikan keislamannya dapat menampakkannya. Dalam masa perjanjian ini telah masuk Islam sejumlah orang yang dikehendaki oleh Allah hidayah baginya. Oleh karena itu, Allah namakan perjanjian ini sebagai kemenangan yang nyata.

Ibn Qutaibah menyatakan: 'Kami tetapkan bagimu ketetapan yang agung". Sedang Mujahid menafsirkan sebagai: "Apa yang ditetapkan Allah bagi Nabi di Hudaibiah"

Hal itu karena pada hakekatnya,al-fathmenurut bahasa adalah membuka sesuatu yang tertutup. Sedang perjanjian yang terjadi dengan orang-orang musyrik di Hudaibiah itu pada awalnya sesuatu yang tertutup hingga akhirnya Allah membukanya.

Penyebab dibukanya adalah dihalanginya Rasulullah dan para sahabat melakukan thawaf di Baitullah. Kenyataan ini tampaknya merupakan pelecehan dan kerugian bagi kaum muslim tetapi dibaliknya justru merupakan kejayaan dan kemenangan bagi kaum muslim. Rasulullah memandang kepada kejayaan dan kemenangan yang besar dibalik dari peristiwa ini.

Oleh karena itu maka beliau menerima persyaratan yang diajukan kaum musyrik dengan penuh keyakinan akan datangnya pertolongan Allah dan bahwa akibat baik akan kembali kepada kaum muslim. Beliau yakin bahwa resiko menerima persyaratan tersebut justru merupakan kemenangan baginya. Ia merupakan senjata yang dipasang oleh yang membuat persyaratan tersebut untuk meruntuhkan diri mereka sendiri tanpa mereka sadari. Akibatnya mereka hina pada saat mereka ingin menggapai kejayaan, mereka kalah pada saat mereka menampakkan kekuatan dan kebanggaan.

Pada sisi lain, Rasulullahshallallahu alaihi wasallamdan tentara Islam menggapai kejayaannya saat mereka merendehkan diri di hadapan Allah dan menerima resiko kerugian yang sedikit. Akibatnya lingkaran itu berputar dan kondisi itu berbalik sehingga berbangga dengan kebatilan berubah menjadi kehinaan sedang merendehkan diri kepada Allah beralih menjadi kejayaan dan kebanggaan.

Dengan demikian hikmah Allah, ayat-ayat, bukti janji, dan pertolongan-Nya kepada Rasullah nampak dengan sempurna dan tidak dapat disaingi dengan akal dibaliknya.[25]

Pasca wafatnya Rasulullahshallallahu alaihi wasallam,sebagian masyarakat Arab murtad dari agamanya dan rasa takut mulai meliputi sebagian penduduk kota Medinah. Tetapi sebelum wafatnya, Rasulullah telah menyerahkan bendera perang kepada Usamah ibn Zaid untuk memimpin pasukan perang. Tetapi pasukan tersebut tidak langsung berangkat menuju tempat tugasnya karena menanti perkembangan kondisi kesehatan Rasulullah yang sedang sakit hingga akhirnya beliau wafat.

Setelah Abu Bakar terangkat menjadi khalifah, beberapa orang sahabat mengusulkan kepada Abu Bakar agar tidak mengirim pasukan Usamah dan mengalihkan tugasnya menjaga perbatasan Medinah. Tetapi Abu Bakar menolak dan menegaskan bahwa: Demi Allah, aku tidak akan membuka bendara perang yang telah diikat oleh Rasulullahshallallahu alaihi wasallam.Demi Allah, seandainya anjing-anjing musuh berhasil mempermainkan perhiasan wanita penduduk Medinah maka aku tetap tidak akan menarik pulang pasukan yang telah dikirim oleh Rasulullahshallallahu alaihi wasallam.

Abu Bakar juga diminta oleh Umar ibn Khattab, Abu Ubaidah dan Salim maula Abi Huzaifahradhiyallahu anhumuntuk menghentikan pemungutan zakat dari masyarakat Arab selama satu tahun dengan tujuan menarik simpati mereka sampai negara menjadi kuat, tetapi Abu Bakar menolak usulan tersebut. Bahkan beliau menegaskan:Demi Allah, seandainya mereka menolak menyerahkan seekor onta zakat niscaya aku memerangi mereka. Apakah kalian ragu bahwa pertolongan Allah itu pasti benar!?[26]

Ketentuan ini berlaku pada kondisi di luar kondisi yang tidak berlaku padanya ketentuan taklif seperti dalam keadaan terpaksa atau dipaksa.

6.      Bersifat adil merupakan asas utama analisis politik

Keadilan dalam pandangan Islam merupakan nilai mutlak yang dipegang seorang muslim sebagai bentuk kewajiban mendasar dalam kondisi suka rela dan terpaksa, dalam berkawan dan bermusuhan, juga dalam perkataam dan perbuatan. AllahTa'alaberfirman:

}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَبِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوااعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى}[المائدة: ٨].

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Maidah: 8)

Maksudnya, janganlah karena kebencian terhadap suatu kaum yang memerangi kalian karena ideologi menjadikan kalian tidak berlaku adil dalam memperlakukan mereka. Keadilan dituntut dalam perkataan dan perbuatan.

}وَإذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِأَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ}[الأنعام: 152].

Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. (QS. al-An'am: 152).

Sikap adil dalam analisis politik dapat terwujud bilamana hasil-hasil analisis danoutputnya sepadan dengan fakta dan datanya secarakuantitas dan kualitas.

Barangsiapa memberi sikap berlebihan terhadap suatu situasi dan memberi deskripsi yang melampaui batas maka ia telah menyimpang menurut kacamata keadilan. Sebaliknya, jika pemberianrekomendasi melampaui batas keadilan daninteraksi yang wajar maka pasti terjadi pula penyimpangan.Namundemikian,kenyataan seperti itutidak mencegahkita untuk membericadangansikap sebagai bentuk kehati-hatian, seperti akan dijelaskan pada prinsip berikutnya.

Ketentuan ini semakin dipertegas setelah melihatrealitas parapeloporaliranrealisme politik, yang menganggap perang,pertempuran dan kehancuransebagaimotivasi utama untuk membersihkan dan memperbaiki umat manusiaserta memproduksi manusiakelasatas!Analisismereka mengharuskan keniscayaanmelanjutkan konflik internasional antara negara-negarayangpuas dengan realitas internasional saat ini danberupaya mempertahankan kondisi ini, dannegara-negara yang tidak puas bahkan melakukan "perlawanan" tanpa memberi peluang kerjasama,aksi bersama dan perdamaian.

7.      Analisis politik merupakan upaya manusiawi yang berpeluang keliru dan salah

Seperti halnya berbagai upaya manusiawi lainnya, dituntut adanya niat yang tulus, maksud yang baik, dan pengerahan segala potensi yang maksimal tetapi tetap harus disadari bahwa upaya ini merupakan upaya manusia yang berpeluang keliru.

Meskipun kemungkinan validitasnya sangat tinggi tetapi hal itu tetap tidak dapat dipastikan karena kemungkinan salahnya tetap ada. Oleh karena itu maka hasil analisis tersebut tidak dapat dipaksakan kepada orang lain dan orang yang menyelisihi hasil analisis tersebut tidak didiskreditkan bahkan pendapat dan ijtihadnya tetap memiliki kemungkinan benar.

Dalam bukunyaal-Siyasah al-Syar'iyyah, Ibn Taimiyah telah berbicara tentang seseorang yang berupaya mengembalikan kezaliman dari penguasa yang enggan mengembalikannya kepada pemiliknya yang sah.  Ia menulis:

Sekiranya penguasa itu enggan mengembalikannya maka upaya membelanjakannya untuk kemaslahatan pemiliknya lebih baik daripada membiarkannya tetap berada di tangan para penguasa yang tidak memberikan hak pemiliknya dan hak kaum muslim. Karena dasar utama syariat itu kembali kepada firman Allah yang artinya:"Bertaqwalah kepada Allah sesuai kemampuan kamu."dan kepada sabda Nabishallallahu alaihi wasallam:"Jika aku perintahkan sesuatu maka lakukanlah hal itu sesuai dengan kemampuanmu."(HR. Bukhari dan Muslim).

Juga karena yang wajib adalah upaya mewujudkan atau menyempurnakan kemaslahatan dan menghilangkan atau meminimalkan mudarat. Karenanya jika terjadi pertentangan di antara dua maslahat maka wajib diupayakan terwujudnya maslahat yang lebih besar meskipun mengakibatkan hilangnya kemaslahatan yang lebih kecil/ringan. Sebaliknya, jika terjadi pertentangan dalam menghilangkan dua mudarat maka wajib mendahulukan mudarat yang lebih besar meski harus menanggung resiko dan mudarat yang lebih kecil.

Orang yang membantu dan kerjasama dalam dosa dan perbuatan aniaya adalah orang yang membantu orang zalim berbuat zalim. Adapun orang yang membantu orang yang dizalimi untuk meringankan beban kezaliman dari dirinya atau menunaikan kezaliman yang ada atas dirinya maka ia sebenarnya merupakan wakil dari orang yang terzalimi dan bukanlah wakil dari pelaku zalim. Ibaratnya seperti orang yang membantu/memberi piutang kepadanya atau seperti orang yang berupaya membantunya dengan mengantar hartanya kepada penguasa zalim.

Contoh kasus ini sama dengan wali anak yatim dan harta wakaf. Seandainya penguasa zalim meminta daripadanya sesuatu dari harta anak yatim, lalu ia berusaha semaksimal mungkin untuk menolak permintaan itu dengan membayar kepadanya atau kepada yang lainnya biaya yang lebih ringan dari permintaan tersebut maka ia termasuk orang telah berbuat baik.

Demikian pula wakil pemilik dari para penyeru dan penulis yang mewakili mereka dalam melakukan transaksi dan menerima dan membayar apa yang perlu dibayar oleh mereka dipandang bukanlah wakil bagi orang zalim dalam mengambil dan memungut sesuatu.

Begitu pula halnya sekiranya praktek zalim diwajibkan atas penduduk suatu kampung, orang-orang yang berada di jalanan atau di pasar lalu seseorang di antara mereka berupaya menghilangkan kezaliman tersebut semaksimal mungkin dengan cara meminta kepada mereka menebus kezaliman tersebut sesuai dengan kemampuan masing-masing tanpa ada unsur KKN di dalamnya dan hanya didorong oleh keinginan membantu mereka dalam memberi dan menolak kezaliman maka ia dipandang sebagai orang yang berbuatihsan/baik. 

Sayangnya, mayoritas orang yang melakukan upaya tersebut justru orang-orang yang pro dan wakil dari orang-orang zalim. Biasanya ia melakukan praktek korupsi dan nepotisme sehingga ia memungut pungutan dari sebagian orang dan tidak memungutnya dari sebagian yang lain. Orang yang seperti ini termasuk orang yang paling zalim. Ia bersama para pendukungnya akan dimasukkan ke dalam kotak lalu dicampakkan masuk ke dalam neraka."[27]

Oleh karena itu tiada dosa dan celaan bagi orang yang memiliki niat baik dan berupaya mengurangi tindak kejahatan. Bahkan itulah ijtihad yang akan dihisab pada hari kiamat.

Hal ini termasuk di antara pintu keadilan yang diperintahkan dalam syariat Islam.

Meski demikian, analis politik itu tidak dilarang memperluas analisanya walaupun ia tidak memiliki bukti yang akurat selama ia tidak menisbatkan sesuatu dan menuduh seseorang tanpa bukti.

Setelah menetapkan bahwa hukum-hukum syariat itu tidak mungkin kontradiktif, Imam Syathibi mengkaji tentang kapan saja mimpi dankasyfitu dapat diperhitungkan sebagai faktor atau bukti pendukung kasus. Lalu ia menjelaskan bahwa hal itu dapat diperhitungkan dalam perkara-perkara yang mubah. Seperti orang yang mimpi melihat didatangi tamu. Dan atas dasar mimpi itu ia bersiap-siap menerima atau menolak tamu yang akan datang kepadanya. Hal ini dibolehkan dengan ketentuan bahwa hal itu hanya sebatas persiapan saja dan karena ada manfaat yang diharapkan daripadanya. Adapun hukum menjamunya maka tidak boleh lepas dari ketentuan yang disyariatkan karena syariat adalah penentu yang mengatur segala sesuatu dan bukan yang diatur.[28]

8.      Optimisme

Nabishallallahu alaihi wasallamsenang dan cinta terhadap sikap optimis.[29]

Sikap optimis ini dituntut dari seorang mukmin. Al-Qurtubi berkomentar[30]:"Nabi senang dengan sikap optimis karena sikap tersebut membuat hati tenteram dan mendorong untuk menunaikan hajat keperluan serta meraih cita-cita yang mendorong munculnya prasangka baik kepada Allah Ta'ala. Sedang Allah telah berfirman dalam hadits qudsi:"Aku senantiasa berada pada prasangka hamba kepada-Ku."

Apabila hasil analisis politik itu menunjukkan bahwa musuh-musuh itu memiliki kekuatan yang luar biasa untuk merekayasa dan menciptakan kekacauan maka hal ini dapat menjatuhkan mentalmasyarakatdalam menghadapikekuatan besar. Oleh karena itu dalam hadits terdapat larangan menyebut jumlah yang banyak dari personil musuh. Karena hal itu mempengaruhi mental pendengar.

Interpretasi pesimis juga terhadap berbagai kasus menyebabkan sebagian kalangan bermalas-malasan melakukan upaya perubahan di tengah masyarakat. Karena hal itu akan menanamkan sikap pasrah dan anggapan bahwa tidak akan terwujud suatu perubahan dan kemajuan dalam kondisi seperti ini. Padahal kondisi ideal bagi seorang muslim tidak demikian.

Nabishallallahu alaihi wasallammengarahkan umatnya:"Seandainya kiamat terjadi sedang di tangan salah seorang di antara kalian setangkai bibit, maka jika ia dapat menanamnya sebelum kiamat benar-benar terjadi maka hendaklah ia menanamnya."[31]

Sikap optimis selalu mendorong untuk bekerja, memompa semangat dan tekad, membantu mewujudkan cita-cita. Tentu hal itu harus dibarengi dengan usaha yang maksimal karena hasil itu dapat diperoleh sesuai dengan upaya yang dilakukan manusia.

Inilah beberapa arahan dan nilai-nilai syarait terkait analisis politik, semoga Allah memberi manfaat dengannya dan Dia-lah yang Maha Memberi taufiq.


 


[1] Al-Jahizh,Risalah al-Ma'ad wa al-Ma'asy, Editor Abdus Salam Harun, hal 91.

[2] Abdul Wahab Khallaf,'Ilm Ushul al-Fiqh, hal. 37.

[3]Lisan al-Arab, Juz VII, hal. 413.

[4] Dinukil dari Mahmud Arnus,Tarikh al-Qadha' fi al-Islam, hal. 193.

[5]Al-Kulliyat, hal. 510.

[6] Shadafah Yahya Fadhil,Mabadi' 'Ilm al-Siyasah, hal. 20.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Ali Muhammad Syabasy,al-Ulum al-Siyasiyah, hal. 32.

[10] Lihat: Nashr Muhammad Arif,'Ilm al-Siyasah, hal. 33.

[11] Ibid, hal 34.

[12]  Ibid, hal 37.

[13]Tafsir al-Thabari, Juz XIII, hal 21.

[14] HR. Bukhari, No. 6046; Muslim, No. 6629.

[15] HR. Ahmad, Juz V, hal. 231, No. 22366; Ibn Majah, No. 3937, Tirmizi, No. 2616.

[16]Zaad al-Ma'ad, Juz III, hal. 234.

[17] Ibid, Juz III, hal 130.

[18]Umdah al-Qari' Syarh Shahih al-Bukhari, hadits tentang kisah Ibrahimalaihis salambersama penguasa yang ingin merampas istrinya. HR. Bukhari, No. 2065.

[19]Nuzhat al-A'yun al-Nawazhir Syarh al-Asybah wa al-Nawazhir, hal. 232.

[20] Ibn Katsir,Tafsir al-Quran al-'Azhim, juz X, hal. 405.

[21] HR. Muslim dari hadits Abdullah ibn Amru ibn Ashradhiyallahu anhuma

[22] HR. Bukhari No. 3030; Muslim No. 4560.

[23]Zaad al-Ma'ad, Juz III, hal. 462.

[24] Ibid, Juz III, hal. 263.

[25] Ibid, Juz III, hal 276.

[26]Al-Raudh al-Unuf, Juz IV, hal 443; Ibn Katsir,al-Sirah al-Nabawiah, Juz IV, hal. 443.

[27]Al-Siyasah al-Syar'iyah, hal 29.

[28]Al-Muwafaqat, juz II, hal. 273.

[29] HR. Muslim, No. 2223.

[30]Tafsir al-Qurthubi, juz VI, hal 60.

[31]Musnad Ahmad, juz III, hal. 183;al-Thayalisi, No. 2068; al-Bukhari,al-Adab al-Mufrad, No. 479;  dengan sanad yang shahih, lihat:al-Silsilah al-Shahihah, hal. 9.

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir