Antara Sikap Lancang Pelaku Maksiat dan

01/01/2014 0:00:00
خالد سعيد آل سالم Jumlah kali dibaca 1264

Antara Sikap Lancang Pelaku Maksiat dan


Di jalan raya bebas atau di perhentian lampu merah terdengar suara musik yang memecahkan telinga. Pelakunya sama sekali tidak menunjukkan rasa malu. Di antara kita yang kebetulan posisi mobilnya berdampingan, ada yang sekadar menurunkan kaca mobilnya sebagai tanda tidak senang. Namun tidak mau menegur langsung karena malu kepada si pelaku atau kepada pengendara lainnya.

Di antara kita banyak yang lewat di depan toko-toko penjual keping digital musik yang memutar suara musiknya dengan suara keras. Tetapi hampir tak ada dari kita yang berani menasehati penjaga-penjaga toko itu.

Kondisi yang sama terjadi terhadap penjual alat-alat musik atau penyedia saluran tv kabel yang menawarkan saluran-saluran yang tidak sehat.   

Seseorang menghisap sebatang rokok dengan asapnya yang merusak bersihnya udara tanpa diselipi rasa malu sedikit pun. Kita yang lewat di sampingnya sungkan untuk menegur. Kita masuk ke sebuah kios kecil yang menjual rokok di etalase yang mencolok. Kita yang membeli tidak ambil perduli kecuali terhadap barang belanjaan kita. Tidak ada nasehat atau teguran kepada penjaga kios.  

Para pelaku riba secara vulgar melawan hukum Pencipta langit dan bumi lewat institusi-institusi bank yang berdiri di tengah-tengah kita. Kita tahu dan mungkin lewat di dekat bank-bank tersebut. Namun kita tidak berupaya menasehati pengelola bank itu tentang pelanggaran yang menghancurkan dan dosa ekonomi yang vulgar itu.

Kasus-kasus ini dapat dianalogikan dengan bermacam kemungkaran dan pelanggaran yang terjadi secara terbuka. Sebagian kita bahkan mungkin tidak berubah air mukanya sedikit pun oleh kemungkaran-kemungkaran tersebut, kecuali oleh mereka yang masih mendapatkan rahmat oleh Allah.

Sebagian kemungkaran tersebut, berupa pelecehan terhadap simbol-simbol suci bahkan tertulis di koran-koran kita. Tulisan-tulisan tersebut diloloskan oleh redaksi dengan dalih kebebasan ekspresi. Faktanya, yang terjadi adalah kebebasan untuk kufur. Andai dalih kebebasan tersebut digunakan untuk menggugat hal yang legal secara formal, tentu penulis bahkan pimpinan redaksi terancam diberhentikan dari pekerjaannya.“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?”(QS. Nuh/17: 31).

Peran yang sangat kita perlukan dewasa ini, di tengah gelombang kerusakan yang terbuka dan sangat bervariasi itu, ialah “perahu penyelamat ummat”: amar ma’ruf nahi mungkar.  Peran yang oleh sebagian ulama diposisikan sebagai rukun keenam dari rukun Islam.

Peran ini mendesak untuk kita segarkan, khususnya oleh pihak-pihak yang secara lahir istiqamah namun tidak terusik oleh kemungkaran yang terjadi di sekelilingnya. Hendaknya mereka khawatir tergolong sebagai “syetan-syetan bisu,” akibat diam terhadap perilaku kemungkaran.

Hendaknya golongan ini takut terhadap ancaman Al-Qur’an:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ. كَانُوا لا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.(QS. al-Ma’idah/5: 78-79).

Hendaknya manusia yang shalih pribadinya namun tidak berdaya melakukan perubahan takut kepada kebinasaan dan azab.

Zainab binti Jahsyradhiyallahu anhapernah bertanya,“Ya Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan padahal ada orang-orang shalih di tengah-tengah kami?”

“Ya,”jawab Rasulullah,“bila pelaku kemungkaran dominan jumlahnya.”(HR. Bukhari-Muslim).

Realitas yang ditanyakan oleh Zainab adalah kondisi adanya orang-orang shalih, bukan“mushlih”/orang yang melakukan perbaikan.

Dalam hadits shahih riwayat Abu Dawud, Rasulullahshallallahu alaihi wasallambersabda,

ما من قوم يُعملُ فيهم بالمعاصي، هم أعزُّ وأكثرُ ممن يعمله، ثم لم يغيروه،

إلَّا عمَّهم الله تعالى منه بعقاب

“Tidaklah satu kaum di tengah-tengah mereka dilakukan maksiat padahal kaum itu lebih kuat dan lebih banyak daripada pelaku maksiat, tapi mereka tidak mengubahnya, kecuali Allah Ta’ala akan menimpakan azab kepada mereka semuanya.”(HR. Abu Dawud, no. 4338; dinilai shahih oleh Albani, lihat:Shahih al-Jami’, no. 5749).

Apakah kita tidak takut dibinasakan bersama dengan pelaku-pelaku maksiat akibat membisunya kita terhadap perbuatan mereka? Bukankah Allah telah menginformasikan kepada kita tentang penghuni negeri yang dibinasakan bersama orang-orang yang diam, kecuali mereka yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.

Ibn Abbasradhiyallahu anhumaberkata,“Kelompok yang tidak melakukan maksiat namun tidak mencegah dari kemungkaran binasa bersama mereka yang melakukan maksiat, sebagai hukuman atas perbuatan mereka meninggalkan nahi mungkar.”(Lihat:Tafsir al-Thabari).

Keterangan Ibn Abbas ini terkait dengan firman Allah:

وَاسْئَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لا يَسْبِتُونَ لا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُم بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ. وَإذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ. فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: ‘Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?’ Mereka menjawab: ‘Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.’ Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.”(QS. al-A’raf/7: 163-165).

Kerugian lain akibat meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar adalah tidak terjawabnya doa. Orang yang meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar akan ditimpa keputusasaan. Dia berdoa, namun tidak akan dibalas.

Hudzaifah ibn Yamanradhiyallahu anhumeriwayatkan dari Nabishallallahu alaihi wasallamyang bersabda: 

والذي نفسي بيده لتأمُرنّ بالمعروف ولتنهونّ عن المنكر، أو ليوشكَنَّ الله أن يبعث عليكم

عقاباً منه ثم تدعونه فلا يُستجاب لكم

“Demi yang jiwaku di Tangan-Nya, kalian melakukan amar ma’ruf nahi mungkar atau hampir saja Allah menurunkan azab kepada kalian kemudian kalian berdoa (meminta selamat) lantas (doa) kalian tidak dijawab.”(HR. Tirmidzi, no. 2169, disebut Albani sebagai hasan shahih. Lihat:Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, 2313).

Dampak lain yang tidak ringan adalah kekuasaan musuh ummat dan malapetaka. Sejarah menjadi saksi atassunnatullahyang tetap ini.

Bukankah dalam Al-Qur’an Allah mengetengahkan nilai kebaikan ummat ini dengan amar  ma’ruf nahi mungkar sebelum nilai iman kepada-Nya? (QS. Aali Imran/3: 110).

Ibn Katsir berkomentar tentang ayat Aali Imran tersebut,“Qatadah berkata, kami menerima informasi bahwa Umar ibn Khattab di suatu perjalanan haji melihat manusia berjalan bergegas, maka dia membaca ayat ini dan berkata, ‘Barangsiapa yang ingin menjadi bagian dari umat itu hendaknya dia memenuhi kriteria yang Allah tetapkan di dalamnya.’ Diriwayatkan oleh Ibn Jarir.

“Artinya, siapapun dari ummat ini yang memenuhi kriteria tersebut masuk ke dalam pujian itu bersama mereka, sedangkan yang tidak memenuhinya akan serupa dengan Ahlul Kitab yang Allah cela (QS. al-Ma’idah/5: 79).”(Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Juz II, h. 105).      

Syekh al-Allamah Ibn Baz menjelaskan rahasia penyebutan amar nahi mungkar yang lebih dulu daripada keimanan itu,“Perhatiakanlah, saudara sesama Muslim yang perduli terhadap agama dan perbaikan masyarakatnya, bagaimana Allah mendahulukan dalam ayat ini penyebutan amar ma’ruf nahi mungkar sebelum keimanan. Padahal, iman adalah syarat sah seluruh ibadah. Menjadi jelas bagi anda kedudukan penting kewajiban ini dan bahwa Allah mendahulukan penyebutannya karena bisa berdampak kepada perbaikan yang bersifat umum.”(Lihat: www.binbaz.org.sa).

Bahkan sifat pertama manusia beriman yang Allah sebutkan sebelum rukun iman adalah amar ma’ruf nahi mungkar. Keterangan tersebut kemudian ditutup dengan kebahagiaan yang Allah berikan kepada mereka di dunia dan di akhirat berupa rahmat Allah. (QS. al-Tawbah/9: 71).

Di sisi lain, Rasulullahshallallahu alaihi wasallammemotovasi setiap pribadi Muslim untuk melakukan nahi mungkar sesuai kemampuan masing-masing.  Fakta ini sekaligus menepis anggapan bahwa tugas amar ma’ruf nahi mungkar terbatas pada komisi atau jabatan atau komunitas ahli taat saja. Perintah Rasul untuk melakukan nahi mungkar bahkan tertuju kepada orang fasik/pelaku maksiat sekalipun.

Sabda Nabi,“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaknya diubah dengan tangan, bila tidak mampu maka dengan lisan, bila tidak mampu maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman.”(HR. Muslim, no. 49).

Dalam keterangannya, Imam Nawawi menulis,“Perintah mengubah artinya melakukan sesuatu sesuai ijma’ ummat  . . . perintah amar ma’ruf nahi mungkar terdapat dalam Al-Qur’an, Hadits, dan ijma’ ummat. Tugas ini masuk dalam kategori nashihah/upaya kebaikan  yang merupakan agama.”(Syarh Shahih Muslim, Juz II, h. 22).

Imam al-Jassash menjelaskan,“Allah mewajibkan amar ma’ruf nahi mungkar di beberapa ayat dalam Kitab-Nya, Rasulullah menjelaskannya dalam Hadits-hadits mutawatir, dan ulama Salaf serta fuqaha seluruh negeri ijma’ tentang kewajibannya.”(Ahkam al-Qur’an, Juz IV, h. 154).

Penulis tidak hendak mengangkat lebih banyak nash dari Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’ karena jumlahnya sangat banyak. Bahkan ulama-ulama telah menyusun berjilid-jilid kitab yang mengkompilasikan nash-nash dimaksud. Penulis hanya ingin membangkitkan semangat pribadi penulis dan saudara-saudaranya untuk menghidupkan kembali tugas yang terabaikan ini. Mudah-mudahan kita terhindar dari azab terhadap golongan yang mengetahui kemungkaran namun tidak melakukan perbaikan apapun. 

Penting pula diingat bahwa tugas ini terikat dengan kaidah-kaidah tertentu yang telah dibahas para ulama. Secara singkat, kaidah-kaidah tersebut adalah:

§  Kemungkaran yang hendak diubah jelas statusnya dalam syariat, seperti perkara-perkara haram yang masyhur atau tindakan meninggalkan kewajiban yang jelas. Adapun perkara-perkara yang detail dan samar yang hanya diketahui oleh ulama, maka dirujuk kepada ahlinya.

§  Kemungkaran tersebut tidak diungkap lewat tindakan memata-matai, kecuali pelanggaran-pelanggaran yang diyakini akan terjadi atau jelas akibatnya.

§  Nahi mungkar tidak akan berdampak terjadinya kemungkaran atau kerusakan yang lebih besar. Dalam konteks ini, ada ungkapan yang berbunyi:“hendaknya amar ma’ruf dan nahi mungkar yang engkau lakukan bukan berupa kemungkaran.”    

ليكن أمرك بالمعروف ونهيك عن المنكر غير مُنكر

§  Bila upaya nahi mungkar yang dilakukan dengan tangan memungkinkan untuk tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar atau kekuasaannya lebih besar, maka nahi mungkar hukumnya wajib. Contoh kekuasaan yang lebih besar adalah kepala rumah tangga di dalam rumah atau direktur di kantor atau pedagang di toko atau guru di kelas atau pegawai di ruangannya.

§  Bila nahi mungkar dengan tangan tidak mungkin, selanjutnya beralih kepada tingkat kedua yaitu nasehat dengan lembut dan bijaksana atau dengan tegas sesuai dengan kondisi yang ada.

§  Adapun nahi mungkar dengan hati, karena nahi mungkar secara lisan akan berdampak kerusakan yang lebih besar atau dia lemah karena kemungkaran tersebut telah lewat atau dia abaikan; maka hukumnya wajib dalam segala kondisi. Sebab, nahi mungkar dengan hati ini tidak beresiko sama sekali. Nahi mungkar dengan hati adalah ketidaksetujuan terhadap kemungkaran. Siapa yang hatinya tidak menolak kemungkaran bukanlah manusia beriman.“Dan itu adalah selemah-lemah iman,”sabda Nabi, atau dalam redaksi lain,“Dan tidak ada keimanan setelah itu walau sebesar biji sawi.”(HR. Muslim, no. 50).

Ibn Mas’udradhiyallahu anhupernah ditanya tentang orang mati yang hidup. Maka jawabnya,“Yaitu orang yang tidak mengakui perbuatan ma’ruf/baik dan tidak mengingkari yang mungkar.”(HR. Muslim, lihat:Jami’ al-Ushul, 10, h. 121).  

§  Hukum amar ma’ruf menjadi wajib bila perkara yang diinginkan adalah wajib dan hukumnya menjadi mustahab bila perkara yang diinginkan mustahab. Sebagaimana hukum nahi mungkar menjadi wajib bila perkara yang diubah adalah wajib dan  mustahab bila perkara yang diubah adalah mustahab. (Lihat: Dr. Abd al-Aziz al-Mas’udi,al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy ‘an al-Mungkar wa Atsaruhuma fii Hifzh al-Ummah; Ibn Taimiyah,Majmu’ Fatawa, 28, 32-127).

Di antara perkara penting untuk diangkat di sini ialah sekelumit syubhat atau salah paham yang mungkin mengganggu sebagian manusia. Antara lain ialah dalam memahami firman Allah yang artinya:“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.”(QS. al-Ma’idah/5: 105).

Salah paham dalam memahami ayat ini mungkin mendorong sebagian manusia istiqamah untuk meninggalkan nahi mungkar. Padahal, Abu Bakar al-Shiddiqradhiyallahu anhutelah mengupas hal tersebut dalam khutbahnya.

Katanya,“Kalian telah membaca ayat ini dan mendudukkannya bukan pada tempatnya. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran dan tidak melarangnya maka Allah hampir meliputi mereka semua dengan azab dari-Nya.”(Lihat: Tafsir al-Baghawi).

Begitu pula dengan salah paham terhadap hadits:

“Seseorang dihadapkan pada hari Kiamat. Kemudian dilemparkan ke dalam neraka, maka keluar usus perutnya, lalu berputar-putar di dalam neraka bagaikan himar yang berputar di sekitar penggilingan, maka berkerumunlah ahli neraka padanya sambil bertanya, ‘Hai Fulan, mengapakan engkau? Tidakkah dahulu menyuruh kami untuk melakukan kebaikan dan menjauhi kemungkaran?’ Fulan itu pun menjawab, ‘Benar, aku dahulu menganjurkan kebaikan tetapi tidak saya kerjakan dan mencegah kemungkaran tetapi saya sendiri  kerjakan.”(HR. Bukhari-Muslim).

Harus dipahami bahwa hadits tersebut bukan tentang azab terhadap orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, tapi terhadap orang yang meninggalkan perintah dan melakukan pelanggaran yang Allah tetapkan.

Mirip dengan hadits tersebut ialah ayat:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri . . . .”(QS. al-Baqarah/2: 44).

Ayat ini tidak bermakna perintah meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar karena tidak melakukan ketaatan atau karena melakukan pelanggaran. Menurut ulama, maknanya adalah janganlah engkau lupa terhadap dirimu sendiri sedangkan engkau membimbing manusia.

Dalih lain yang bisa dikemukakan adalah konsepsi Barat yang mempersepsikan tugas amar ma’ruf nahi mungkar sebagai campur tangan terhadap kebebasan dan privasi orang lain. Dalih ini jelas gugur oleh argumentasi Al-Qur’an, Sunnah dan ijma’ yang dikemukakan di muka. Hak privasi hanya berlaku bila seseorang telah menutup pintu rumahnya tanpa ada indikasi bahwa dia melakukan kemungkaran atau meninggalkan kewajiban.

Beberapa syubhat di atas dapat dianalogikan terhadap nash Al-Qur’an dan Hadits atau atsar Salaf lainnya yang bisa disalahpahami maknanya. Antisipasinya adalah mengkonfirmasikan pemahaman yang diperoleh kepada ulama.

Catatan lain yang perlu ditambahkan adalah kiat-kiat untuk mencegah munculnya sifat malas melakukan nahi mungkar:

§  Senantiasa meningkatkan keimanan dengan taqarrub kepada AllahTa’ala, melakukan berbagai ketaatan dan meninggalkan segala larangan.

Hal ini sekali lagi tidak berarti bahwa dai tidak mungkin salah atau dia akan menjadi manusia sempurna atau bahwa yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar harus memiliki kualitas keimanan tertentu. Sebab, dalam salah satu riwayat disebutkan:“Perintahkanlah melakukan kebaikan kendati engkau belum melakukannya semuanya, dan  laranglah kemungkaran kendati engkau belum meninggalkan semuanya.”(Majma’ al-Zawa’id, Juz VII. h. 280).

Walaupun hadits tersebut diriwayatkan dengan sanad yang dha’if, tapi bisa dijadikan penguat.

Sebaliknya, tidak boleh bersikap meremehkan sehingga terjerumus ke dalam dosa dan meniggalkan kewajiban. Dengan alasan bahwa manusia tidak sempurna. Tapi hendaknya dia bersungguh-sungguh meningkatkan kualitas dirinya. Bila dia terjerumus melakukan dosa, dia harus mengendalikan dirinya. Dan itu semua tanpa meninggalkan tugas amar ma’ruf nahi mungkar.

§  Mengkaji keutamaan amar ma’ruf nahi mungkar dan bahaya meninggalkannya.

§  Ingatlah bahwa keutamaan orang yang melakukan perbaikan tidak bisa dibandingkan dengan orang yang shalih secara pribadi. Syekh Abd al-Aziz al-Thurayfi menegaskan bahwa“Seorang yang melakukan perbaikan lebih dicintai Allah daripada ribuan orang shalih. Karena dengan yang pertama Allah menjaga kelangsungan ummat, sedangkan yang kedua hanya menjaga pribadinya.”

Pada kesempatan lain, al-Thurayfi berkata,“Amar ma’ruf mendatangkan kebaikan dan nahi mungkar menolak kerusakan. Dua tugas ini merupakan neraca keadilan. Bila salah satunya kurang maka yang lain akan pincang sehingga tampaklah kezaliman dalam kehidupan agama dan dunia.” 

§  Pembiasaan diri dengan aksi nyata khususnya di masa kini yang pelaku maksiat secara vulgar menampilkan diri, terutama bila kita diam. Baik itu diam karena takut atau karena malu.

Sedangkan dalam hadits disebutkan:“Ketahuilah, janganlah takut pada manusia mencegah seseorang mengatakan kebenaran bila dia mengetahuinya.”(HR. Ibn Majah, no. 4007; dan dinilai shahih oleh Albani. Lihat: Albani,Shahih Sunan Ibn Majah, no. 3237).

Dalam hadits lain:“Sesungguhnya Allah akan bertanya pada hamba pada hari Kiamat hingga Dia berkata, ‘Ketika engkau melihat kemungkaran, apa yang mencegahmu untuk melarangnya?’ Maka bila Allah membimbing hamba itu menjawab, dia akan mengatakan, ‘Ya Rabb, aku mengharap ridha-Mu dan aku takut pada manusia.”(HR. Ibn Majah. No. 4017; dinilai shahih oleh Albani. Lihat:Shahih Sunan Ibn Majah, no. 3244).

Saudaraku, jangan takut kepada pelaku maksiat! Mereka manusia biasa seperti Anda, tidak akan membawa bahaya kecuali dengan izin Penciptanya. Gantungkan harapanmu hanya kepada Pemilik kekuasaan di langit dan di bumi.

Bila Saudara melihat pelaku maksiat yang terang-terangan melakukan pelanggaran, tanpa ada rasa malu kepada Penciptanya atau kepada sesama manusia maka nasehatilah dengan lembut. Peringati dia dengan hadits Nabi,“Seluruh ummatku senantiasa aman kecuali yang melakukan maksiat secara terang-terangan.” (HR. Bukhari, dengan redaksinya, no. 6069; dan Muslim, no. 2990).

Arti aman, menurut ulama, lebih dekat kepada ampunan Allah; sehingga berbeda dengan orang yang terang-terangan melakukan maksiat.  

Hukuman ini akibat sikap merendahkan perintah dan larangan AllahAzza wajalla. Tindakan terang-terangan itu juga akan membawa kepada pembiasaan sehingga menjadi perkara yang dianggap tidak bermasalah. Bahkan bisa dianggap sebagai promosi maksiat di tengah masyarakat. Pelakunya jelas bermental rendah dengan hati yang keras dan pikiran yang lalai.

Ketahuilah bahwa saat Anda melakukan tugas ini, Anda mulia di sisi AllahTa’ala. Maka jangan rendahkan diri Anda dan merasa malu.  

Terakhir, hendaknya kita ingat bahwa sarana dakwah dewasa ini sangat beragam di tengah meledaknya revolusi teknologi jejaring sosial semacam sms, WA, FB, Twitter, dll. Hendaknya kita punya peran di dalamnya dengan mengingkari penyebaran video, visual, audio, informasi, hadits palsu, bid’ah, dll, dengan berkonsultasi kepada para ulama terhadap persoalan-persoalan yang samar. Tidak lupa pula komunikasi kepada pejabat pemerintah terkait persoalan yang timbul di masyarakat.     

Dan di atas itu semua adalah permohonan pertolongan kepada AllahTa’alaagar Dia mengembalikan masyarakat kepada kebaikan dan hidayah. Juga agar kita senantiasa diberi kemampuan untuk melaksanakan tugas amar ma’ruf nahi mungkar dengan sebaik-baiknya sebagaimana yang Dia ridhai.

Hal ini juga berarti adanya upaya dari diri kita sendiri untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri lewat biografi para aktivis dan tokoh dakwah dan perbaikan. Dengan melihat dampak dari kesalihan mereka terhadap masyarakat maupun besarnya pahala mereka di sisi Rabbnya.***

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir