Pertolongan Kaum yang Lemah, Peluru yang Tidak Pernah Meleset

01/01/2014 0:00:00
أحمد عبدالمجيد مكي Jumlah kali dibaca 1124

Pertolongan Kaum yang Lemah, Peluru yang Tidak Pernah Meleset


Faktor yang mendukung kemenangan dalam perang ada dua. Pertama, faktor material sebagaimana disinggung dalam ayat:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi . . . .” (QS. al-Anfal/8: 60).

Yang dipersiapkan dalam konteks ayat tersebut adalah kemampuan strategi, fisik, persenjataan, amunisi, dll. yang mendukung kekuatan perang.

Dapat menjadi catatan bahwa faktor pertama ini banyak menyita perhatian manusia. Sikap yang sesungguhnya menunjukkan sempitnya wawasan dan lemahnya iman kepada janji-janji Allah. Sebab, sejatinya kemenangan itu bukan akibat banyaknya personel dan persenjataan, tapi karunia dari Allah yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Hanya Allah satu-satunya yang menetapkan kehancuran bagi siapa yang Dia kehendaki betapa pun kedudukan orang itu.

Oleh karena itu, faktor kemenangan tidak boleh dijadikan andalan. Faktor material tidak lebih sebagai pendukung agar kita lebih istiqamah dalam kebenaran. Adapun kemenangan hakiki maka dia adalah karunia dari Allah semata (QS. Ali Imran: 126).    

Allah Ta’ala menegur sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang notabene sebaik-baik generasi, yang kagum terhadap banyaknya kuantitas mereka pada perang Hunain. Demikian tinggi rasa kagum tersebut sehingga ada yang berkata, “Kita tidak akan kalah hari ini akibat sedikitnya jumlah personel.”

Akibatnya, mereka justru menderita kekalahan di awal perang. Sebagian besar kaum Muslim lari dari medan perang akibat beratnya tekanan musuh. Namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kokoh bertahan. Beliau tidak mundur. Beliau berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْتَ عَضُدِي وَأَنْتَ نَصِيرِي بِكَ أَحُولُ وَبِكَ أَصُولُ وَبِكَ أقاتل

“Ya Allah, Engkau tempatku bersandar dan Engkau yang kujadikan Penolongku. Dengan (pertolongan)-Mu aku mampu berupaya dan mengalahkan (musuh), dan dengan (pertolongan)-Mu aku berperang.”

Setelah kekaguman tersebut luntur dan mereka sadar akan kelemahan pribadi mereka, Allah pun menurunkan ketenangan dan tentara langit untuk membantu mereka. Akhirnya, kemenangan pasukan kaum Muslim dapat diraih.

Kedua, faktor pendukung kemenangan yang bersifat non-materi berupa kekuatan tawakkal kepada Allah dan munajat yang tulus untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Faktor kedua ini sangat kuat dari manusia yang dalam kondisi lemah dan sulit, yang kondisinya itu menjadikan dia sadar bahwa penolong dan pemberi karunia semata-mata adalah Allah Subhanahu Wata’ala. Kelemahan dan kesempitan yang mereka rasakan menjadikan hati mereka tunduk kepada kebesaran Allah dan hanya berharap kepada pertolongan Allah semata.

Ketundukan inilah yang berpotensi mengundang datangnya pertolongan Allah, hal yang kerap luput dari perhatian manusia lain yang serba berkecukupan. Bahkan Allah mungkin memudahkan urusan dan menolong manusia yang berkecukupan lewat peran kaum yang lemah.

Rahasianya, Allah Ta’ala memiliki tentara di kerajaan-Nya yang meliputi langit dan di bumi. Kualitas dan kuantitas tentara Allah tersebut bersifat ghaib, tidak diketahui kecuali oleh-Nya. Allah mengendalikan mereka sesuai dengan ketetapan-Nya semata (QS. al-Muddatstsir/74: 31).

Yang menarik, di antara tentara Allah tersebut justru adalah orang-orang lemah, penderita sakit, dan cacat. Persoalan ini tentu bisa memancing perdebatan andai tidak ada nash shahih yang membuktikannya. Maka, berikut ini dikemukakan dua nash yang menunjukkan hal tersebut.

Satu, hadits riwayat Imam Bukhari dalam Kitab al-Jihad wa al-Siyar, Bab Man Ista’ama bi al-Dhu’afa wa al-Shalihin fii al-Harb. Hadits tersebut diriwayatkan dari Mush’ab ibn Saad yang berkata, “Saad ibn Abi Waqqash radhiyallahu anhu menyangka dirinya memiliki kelebihan atas orang selainnya. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Bukankah kalian mendapatkan pertolongan dan rezeki (dari Allah) lantaran orang-orang yang lemah di antara kalian?!”

Dalam hadits ini, Nabi mengingatkan Saad agar senantiasa tawadhu serta tidak memandang sebelah mata saudaranya sesama Muslim.

Sebenarnya, kelebihan apakah yang disangka Saad menjadikannya merasa di atas orang lain itu? Mari kita telusuri lewat jalur yang lain dari hadits tersebut. Dalam riwayat Abd al-Razzaq, Saad berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang seseorang yang menjaga dan membela satu kaum. Apakah dia akan mendapatkan bagian yang sama dengan bagian orang lain?”

Dari redaksi ini, sebagaimana dijelaskan al-Hafidz Ibn Hajar, dapat dipahami bahwa kelebihan yang dimaksud ialah jatah ghanimah/rampasan perang. Maka Nabi menjelaskan bahwa jatah ghanimah seluruh anggota pasukan sama rata. Sebab, bila anggota yang kuat unggul dengan keberaniannya maka anggota yang lemah unggul dengan doa dan keikhlasannya.

Pertanyaan Nabi dalam redaksi hadits di atas bukan untuk meminta jawaban, tapi untuk penegasan. Dengan kata lain, pertolongan dan rezki yang didapatkan adalah merupakan berkah orang-orang lemah.

Dua, hadits riwayat Imam Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Darda radhiyallahu anhu yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

أَبْغُونِي ضُعَفَاءَكُمْ، فَإِنَّكُمْ إِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ

“Dapatkanlah ridha dariku melalui orang-orang lemah di antara kalian, karena sesungguhnya kalian hanya mendapatkan rezeki dan pertolongan akibat orang-orang lemah di antara kalian.”   

Maknanya, mendekatlah kalian kepadaku dengan bergaul kepada orang-orang lemah, dengan memperhatikan kebutuhan dan bersikap baik kepada mereka. Sebab, merekalah yang lebih berhak duduk dan dekat denganku.

“Kalian hanya mendapatkan rezeki dan pertolongan akibat orang-orang lemah di antara kalian” artinya kalian diberi kemampuan untuk memanfaatkan rezeki yang kami keluarkan dan terbantu melawan musuh-musuh kalian sehingga terhindar dari petaka karena adanya orang-orang lemah di antara kalian atau karena perhatian kalian kepada mereka atau karena berkah doa-doa mereka.

Hal ini karena orang-orang lemah itu lebih ikhlas dalam berdoa dan lebih merendah kepada Allah dalam ibadah mereka. Kondisi yang lahir akibat bersihnya hati mereka dari ketergantungan kepada perhiasan dunia yang menipu.

Dari pemahaman inilah sehingga sebagian ulama menganjurkan untuk mengikutkan orang tua dan anak-anak dalam penyelenggaraan shalat Istisqa/meminta hujan. Alasannya, orang lemah yang sadar akan kelemahannya tidak akan mengandalkan dirinya dan hatinya lebih tulus bermunajat kepada Allah. Keadaan ini akan mengundang perkenan Allah untuk memenuhi permohonan mereka. Betapa banyak kelompok yang kecil mengalahkan kelompok yang besar dengan izin Allah Ta’ala. Berbeda dengan orang yang merasa diri kuat sehingga mengandalkan kemampuannya, Allah menjadikan dia bersandar pada dirinya sehingga menjadi bumerang baginya.     

Yang dimaksud sebagai kaum lemah dalam konteks ini ialah lemah secara fisik atau mental atau kemampuan ekonomi. Tiga golongan tersebut tercakup dalam nash-nash syariat.

Mungkin ada yang berpikir bahwa yang dimaksud dengan orang lemah terbatas kepada orang-orang miskin. Sebab, hanya golongan ini yang mampu melakukan ibadah fisik semacam doa, shalat, ibadah dengan ikhlas; beda dengan dua golongan lainnya (riwayat Nasa’i). Namun, anggapan ini dapat ditepis bahwa ibadah fisik  tersebut tidak harus dilakukan langsung oleh orang sakit. Keluarga dan orang-orang yang merawatnya mampu melakukan ibadah-ibadah fisik tersebut. Betapa banyak keluarga orang sakit yang lebih khusyu’ dalam doanya daripada orang sakit itu sendiri.

TAWAKKAL SAMBIL BERIKHTIAR

Bisa jadi muncul anggapan adanya kontradiksi antara nash-nash di atas dengan nash-nash yang mengandung perintah untuk berikhtiar dan persiapan untuk menghadapi musuh. Namun, sesungguhnya tidak ada kontradiksi di antara nash-nash tersebut. Sebab, makna yang komprehensif terhadap nash-nash tersebut adalah agar kaum Muslim memaksimalkan upaya persiapan dan mengumpulkan kekuatan kapan saja kesempatan untuk itu ada.

Makna yang komprehensif ini tertuang dalam sebuah ayat yang berbunyi:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. al-Hijr/15: 99).

Maksud dari ayat ini ialah teruslah melakukan taqarrub kepada Allah pada segala waktu dengan berbagai bentuk ibadah, baik itu berupa ibadah badaniyah atau ibadah maaliyah/harta atau ibadah qalbiyah/hati. Sehingga engkau berada dalam kondisi tersebut sampai maut datang menjemput. Demikian itulah kondisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, selalu dalam beragam ibadah hingga akhir hayat beliau di dunia ini.   

Sejalan dengan makna ini yaitu hadits Nabi:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلى اللَّه مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ على ما يَنْفَعُكَ، واسْتَعِنْ بالله ولا تَعْجَز

“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Berusahalah untuk mendapatkan segala hal bermanfaat bagimu, mohon pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah.”

Perintah untuk berusaha mewujudkan segala yang bermanfaat mencakup manfaat duniawi dan ukhrawi. Usaha tersebut harus maksimal, dengan penuh semangat, kongkret, dan terencana.

Perintah untuk meminta pertolongan Allah Ta’ala bermakna bersandar penuh kepada pertolongan-Nya dalam segala keinginan dengan diiringi kepercayaan penuh bahwa Allah akan mewujudkan keinginannya.

Adapun dalam kondisi Muslim tidak berdaya untuk mengusahakan faktor-faktor materi, karena sakit dan sejenisnya, maka dia merendahkan diri kepada Allah dengan memohon dan mengakui kekuasaan-Nya.

Ringkasnya, hati dan anggota tubuh seorang hamba sejati sepenuhnya berserah diri kepada Allah. Anggota tubuh berusaha maksimal terhadap faktor-faktor fisik dan material. Sedangkan hati berupaya mengundang ridha dan pertolongan dari Allah dengan berharap penuh dan yakin atas pertolongan-Nya. Bila upaya untuk faktor-faktor fisik material ini telah maksimal, maka hendaknya hatinya bermunajat kepada Allah. Niscaya Allah Ta’ala akan memenuhi janji-Nya. Bukan itu saja, bisa jadi hatinya akan menjadi sumber hikmah.

Akhirnya, penting untuk mengingatkan orang-orang lemah dan keluarga mereka tentang karunia Allah kepada mereka. Sehingga kelompok ini tidak mengecilkan peran mereka. Sebab, kita tahu bahwa doa kelompok lemah ini tidak kalah efektifnya dibandingkan dengan senjata rudal dan tank.   

Ya Allah, perbaikilah seluruh urusan kami dan janganlah Engkau buat kami bersandar kepada diri kami atau siapa pun makhluk-Mu sedikit pun.***


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir