GERAKAN SYI'AH SHAFAWI

16/12/2013 0:00:00
ناصر بن عبد الله القفاري Jumlah kali dibaca 4477

GERAKAN SYI'AH SHAFAWI


Istilah "tasyayyu' Shafawi" dalam berbagai media dan ungkapan para pengamat sektarian dan mazhab telah banyak berulang. Sayangnya mayoritas manusia tidak mengenal hakekat daritasyayyu' Shafawiyang asal usulnya kembali kepada Sekte Sab'iah klasik.

Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalibradhiyallahu anhumuncul dua kelompok ekstrem.

Kelompok pertama adalah kelompok Khawarij yang mengkafirkan Ali ibn Abi Thalibradhiyallahu anhu, bahkan mereka konsensus atas kafirnya Ali sebagaimana dinukil oleh Imam Abul Hasan al-Asy'ari dalam kitabnya"Maqalat al-Islamiyyin".[1]Kelompok ini telah diperangi oleh Aliradhiyallahu anhuketika mereka mulai beraksi dan membunuh nonkelompoknya.

Kelompok kedua adalah kelompok yang ekstrem dalam mengkultuskan Ali ibn Abi Thalibradhiyallahu anhuhingga di antara mereka ada yang mempertuhankannya. Mereka itu diajari dan ditunjuki kebenaran dan disuruh bertaubat dari penyimpangannya, bagi yang masih tetap bersikap ekstrem dan mempertuhannya dibakar oleh Ali dengan api.

Kelompok lain dari kelompok kedua ini adalah kelompok yang tidak mempertuhankan Ali tetapi melebihkannya di atas keutamaan dan kedudukan Abu Bakar dan Umarradhiyallah anhuma. Kelompok ini diancam oleh Ali dalam penegasannya:"Tidak seorang pun melebihkanku di atas keutamaan Abu Bakar dan Umar didatangkan kepadaku kecuali aku pasti menderanya sebagai hukuman pendusta."[2]

Secara mutawatir, telah diriwayatkan bahwa beliau pernah berkhutbah di atas sebuah mimbar di kota Kufah dan menegaskan bahwa"Orang terbaik dari kalangan umat ini di luar nabinya adalah Abu Bakar lalu Umar".  Penegasan dari beliau ini diriwayatkan melalui delapan puluh jalur.[3]

Sayangnya setelah pukulan telak dari Ali tersebut para pengkultus ektremis itu bersembunyi dibalik gerakan sektarian yang bergerak dibawah tanah.

            Hanya saja, pasca terbunuhnya Husain ibn Aliradhiyallahu anhumadan terpukulnya kaum muslim atas peristiwa pembunuhan itu, para ekstremis itu menyusup ke dalam barisan para pembela, pendukung dan yangintisabkepada Husainradhiyallahu anhu.

Atas dasar realita itulah sehingga sebagian peneliti berkesimpulan bahwa peristiwa terbunuhnya Husain itulah merupakan bibit awal dan sejarah permulaantasyayyu'sebagai suatu ideologi.

Kemudian pada tahun 121-122 H hakekat dan identitas mereka tersingkap, yaitu ketika mereka menolak dan meninggalkan kepemimpinan Zaid ibn Ali karena sikapnya yang tetap mendo'akan keridhaan Allah bagi Abu Bakar dan Umar melalui do'aradhiyallahu anhuyang ditujukan atas masing-masing mereka. Atas dasar penolakan tersebut maka mereka digelari oleh Zaid ibn Ali sebagai Rafidhah, padahal sebelumnya mereka lebih dikenal dengan Saba'iyyah.

Pada periode berikutnya mereka dikenal dengan Sekte Shafawiah, kemudian di era ini mereka menamakan dirinya sebagai Syi'ah. Dan mengkafirkan seluruh kaum muslim yang tidak sejalan dengan mereka, termasuk kelompok moderat dari kalangan mereka sendiri seperti Zaidiyah.

Sejak dimunculkannya nama tersebut, mereka berusaha memperkenalkan diri dengan nama Syi'ah di berbagai negeri muslim untuk menutupi hakekat dakwah mereka. Terkait dengan siasat ini, al-Syahristani berkomentar:"Mereka memiliki dakwah setiap zaman dan aqidah/teori baru dalam setiap bahasa".[4] 

Para ulama telah membedakan mereka dengan kelompok mayorias Syi'ah. Imam al-Zahabi menyatakan:"Syi'ah ekstrem di zaman salaf dan dikenal oleh salaf adalah orang berbicara tentang Utsman, Zubair, Thalhah, Mua'wiyah dan kelompok yang turut memerangi dan mencaci Ali radhiyallahu anhu. Sedang Syi'ah ekstrem yang kita kenal di zaman kita ini adalah yang mengkafirkan para tokoh tersebut dan yang berlepas diri dari dua tokoh utama (Abu Bakar dan Umar, pent.), orang seperti itu sesat dan pendusta."[5]

Para ektremis itu berpegang pada referensi dan sumber pengambilan ajaran yang berbeda dengan referensi umat Islam umumnya. Referensi tersebut awalnya sangat dirahasiakan.

Pertama kali referensi itu tersingkap atau ditemukan pada abad ke-X. Penulis melihat orang yang pertama kali mengisyaratkan hal itu adalah seorang peneliti berkebangsaan Iran, bernama Makhdum al-Syirazi.[6]Yaitu pada saat ia menyebutkan di antara kesesatan Rafidhah bahwa mereka mengingkari hadits-hadits shahih yang telah diakui dan diterima oleh umat, dan mengimani keabsahan empat kitab yang lain, yang menghimpun banyak cerita dusta yang bercampur dangan hadits dan perkataan para imam.[7]

Adapun nisbah mereka denganal-tasyayyu' al-Shafawimaka nisbah ini kembali kepada Dinasti Shafawiah yang pernah berdiri di Iran. Iran asalnya adalah negeri kaum sunni hingga diambil paksa oleh penguasa Shafawi sejak tahun 1905 sampai tahun 1148 H.[8]

Daulah Shafawiah didirikan oleh Syah Ismail al-Shafawi yang memaksakan mazhab Syi'ah Itsna Asyari kepada penduduk Iran dan menjadikannya sebagai mazhab resmi negara. Syah Ismail adalah sosok yang sangat kejam, bengis dan haus darah yang tidak dapat dibayangkan.[9]Ia juga memproklamirkan dirinya sebagai sosok yang maksum. Ia mengklaim bahwa tidak ada perantara antara dirinya dengan Imam Mahdi. Dan ia tidak bergerak kecuali atas instruksi para Imam Itsna Asyariah.[10]

Syah Ismail sangat kejam dan bengis kepada Ahlus Sunnah. Ia menjadikan cacian kepada para Khulafaurrasyidin yang tiga sebagai bahan ujian bagi penduduk Iran. Kalau ia mendengar salah seorang mereka mencaci maki para khalifah tersebut maka ia mewajibkan menyambungnya dengan ungkapan"biesy badi kam badi"yang dalam bahasa Azerbaijan mengindikasikan bahwa pendengarnya setuju atas laknat kepada para khalifah dan meminta diteruskan. Jika pendengar enggan mengucapkan ungkapan tersebut maka ia langsung ditebas lehernya.

Syah Ismail menginstruksikan agar para khalifah yang tiga dilaknat di jalan, pasar, dan di atas mimbar dan mengancam orang yang enggan melalukannya dengan ancaman tebas leher.[11]

Kalau Syah Islamil berhasil menaklukkan sebuah daerah maka ia langsung memaksa penduduknya menganut mazhab Rafidhah dengan pedang.

Konon diriwayatkan bahwa pada saat ia berhasil menaklukkan daerah Tibriz di awal pemerintahannya, dan ingin memaksakan mazhab Syi'ah kepada penduduknya, para tokoh di daerah tersebut mengusulkan agar ia tidak terburu-buru. Karena 2/3 dari penduduk daerah itu adalah kalangan Ahlus Sunnah yang notabene tidak siap menerima cacian terhadap para khalifah yang tiga di atas mimbar. 

Syah Ismail menjawabnya: "Kalau aku temukan ungkapan menolak dari mereka maka niscaya dengan izin Allah pedangku menebasnya dan tidak menyisakan seorang pun hidup di antara mereka."[12]

Pada sisi lain, gerakan Shafawiah juga menjadikan momentum terbunuhnya Husain ibn Ali sebagai sarana propaganda psikologis di samping cara kekerasan dan ancaman. Maka diinstruksikan penyelenggaraan peringatan terbunuhnya Husain sebagaimana yang selalu dilakukan oleh mereka di era ini.[13]

Dalam peringatan tersebut diadakan pula acara yang mereka namakan sebagai"majalis al-ta'ziyah"atau yang mereka namakan sekarang dengan al-"syabieh"yang berisi sandiwara pembunuhan Husain.

Tentu sarana seperti ini memiliki pengaruh yang besar kepada orang-orang non-Arab. Sehingga di antara mereka ada yang memandang bahwa cara seperti itu merupakan cara yang paling tepat dalam penyebaran mazhabtasyayyu'di Iran. Karena di dalamnya terdapat fenomena kesedihan, tangis histeris, banyaknya tokoh yang hadir dan merdunya bunyi gendang dan lain-lain yang turut memperdalam pengaruh aqidah tersebut ke dalam lubuk hati yang dalam.[14]

Tokoh-tokoh Rafidhah telah menopang para penguasa Shafawi dalam proses  penyebarantasyayyu'dengan cara ekstrem dan pemaksaan terhadap muslim Iran dengan tangan besi dan api.

Di antara tokoh Rafidhah yang paling terkenal dalam hal ini adalah Ali Karaki[15]yang digelari oleh orang-orang Syi'ah sebagaial-muhaqqiq al-tsani/muhaqqiq ke-II. Sosok yang sangat dekat dengan Syah Tahmaseb ibn Syah Ismail dan dijadikan sebagai penyeru yang ditaati.

Karena posisinya yang sangat strategis ini, Karaki berhasil menciptakan berbagai bid'ah baru. Antara lain:turbah/tanah yang dibawa-bawa dan digunakan sujud oleh orang-orang Syi'ah dalam shalat mereka. Terkait bid'ah ini, Karaki menulis suatu risalah pada tahun 933 H[16]dan risalah lain terkait bolehnya bersujud kepada seorang hamba.[17]

Tindakan tersebut diambil oleh Karaki sebagai bentuk penyesuaian terhadap fenomena orang-orang yang mengkultuskan Sultan Ismail Shafawi yang sampai pada tingkat penyembahan dan sujud kepadanya. Sehingga dikomentari oleh al-Haidari bahwa Ismail telah melampau batasrafdhdan mengklaim sifat ketuhanan sehingga prajuritnya sujud kepadanya.[18]

Karena bid'ahnya yang sangat banyak dalam mazhab Syi'ah sehingga sebagian penulis non Syi'ah menggelarinya sebagai pencetus Syi'ah.[19]Ia juga telah menulis risalah tentang laknat atassyaikhainAbu Bakar dan Umarradhiyallahu anhumayang berjudulNafahat al-Lahut fi La'n al-Jibt wa al-Thaguth.[20]

Konon diceritakan bahwa Karaki pulalah yang menciptakan gerakan mencaci sahabat di atas mimbar pada setiap hari Jum'at.[21]

Termasuk tokoh berpengaruh dalam rezim Shafawiah adalah al-Majlisi. Ia termasuk sosok yang menjadi parner bagi penguasa dalam merekonstruksi muslim Iran. Bahkan muncul klaim bahwa kitabnyaHaqq al-Yaqinmerupakan sebab utamanya masuknya 70 ribu muslim Sunni ke dalam Syi'ah.[22]

Yang tepat bahwa klaim tersebut termasuk pengelembungan angka yang dilakukan oleh Syi'ah. Karena aqidah Rafidhah tidak akan memiliki posisi di Iran kecuali dengan kekuatan dan ancaman, bukan dengan pikiran dan kesadaran.

Kemudian tumbuh generasi berikut dalam tradisi dan budaya tahunan husainiah yang terus dikembangkan oleh para penguasa Shafawi agar generasi baru tersebut terpengaruh dengan nuansa marah dan benci. Dan agar mereka tidak peduli lagi mendengar hujjah dan dalil.

Karya al-Majlisi Bihar al-Anwar juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam menumbuhkan sikap ekstrem di kalangan Syi'ah. Hal itu karena para pembaca teks takziyah dan pengkhotbah di atas mimbar banyak mengambil dongeng khurafat dan kultus dari kitab tersebut lalu menyampaikannya kepada masyarakat umum.

KitabBihar al-Nawarini termasuk buku-buku awal yang dipublikasi secara luas pada masa DinastiQajarhingga masuk ke kota Iraq dalam jumlah besar. Akibatnya isinya yang jorok itu segera menyebar ke tengah masyarakat Iraq seperti yang terjadi sebelumnya di Iran.[23] 

Sisi lain yang tidak boleh dilupakan dari sikap deskonstruktif negara Shafawiah adalah perlawanannya terhadap negara khilafah islamiah dan kerjasamanya dengan musuh baik dari kalangan Portugis ataupun Ingris dalam memerangi kaum muslim. Juga dorongannya terhadap pembangunan gereja dan masuknya para missionaris dan pendeta Kristen ke dalam negara-negara Islam. Di tambah dengan permusuhannya terhadap sunnah dan Ahlu Sunnah.[24]

Di antara ungkapan emas dan sangat penting dari Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dalam hal ini, yaitu ungkapan yang apabila Anda membandingkannya dengan realita hari ini kemudian menariknya ke belakang melalui berbagai peristiwa sejarah masa lalu niscaya Anda akan dapatkan sangat jelas seperti matahari di siang bolong. Ungkapan tersebut adalah:

"Hendaklah setiap orang yang berakal memperhatikan berbagai fitnah, keburukan dan kerusakan Islam yang terjadi pada zamannya dan zaman sebelumnya, niscaya ia akan dapati bahwa mayoritasnya bersumber dari kalangan Rafidhah. Anda mendapati mereka sebagai orang yang paling banyak menimbulkan fitnah dan kerusakan. Mereka tidak tinggal diam dari menyulut fitnah, keburukan dan kerusakan di tengah umat."[25]

Kita telah mengetahui baik dengan menyaksikan secara langsung atau melalui informasi yang mutawatir bahwa berbagai fitnah dan keburukan dahsyat yang tiada bandingannya itu semuanya lahir dari mereka.[26]


[1]Maqalat al-Islamiyyin, Juz I, hal. 86.

[2]Minhaj al-Sunnah, Juz I, hal. 219-220.

[3]Lihat riwayat-riwayat yang berkaitan dengan hal ini pada:Shahih al-Bukharidengan SyarahnyaFath al-Bari, Juz VII, hal. 20; Musnad Imam Ahmad, editor Ahmad Syakir, No. 833, 834. 835, 836, 837, 871, 878, 879, 880, 1054, Juz II, hal. 148, 149, 161, 164, 233.

[4]Al-Milal wa al-Nihal, Juz I, hal. 192.

[5]Mizan al-I'tidal, Juz I, hal 5-6.

[6]Ia hidup di tengah masyarakat Rafidhah dan terdidik di kalangan mereka sehingga ia banyak mengetahui kondisi mereka, meski yang tersembunyi masih jauh lebih banyak. Interaksi tersebut ditambah dengan telaah terhadap buku-buku mereka menyebabkan ia banyak mengetahui kesesatan dan kebatilan mereka. Lihat: manuskripal-Nawaqidh, lembar 87, 151.

[7]Al-Nawaqidh, hal. 109, 110 (manuskrip)

[8]Mugniah, Al-Syi'ah fi al-Mizan, hal. 182.

[9]Ali al-Wardi,Lamahat Ijtima'iyah min Tarikh al-Iraq al-Hadits,hal. 56.

[10]Kamil Mustafa al-Syaibi,al-Fikr al-Syi'ie wa al-Naza'at al-Shufiyah hatta Mathla' al-Qarn al-Tsani Asyar al-Hijri, hal. 413.

[11]Ibid, hal. 58.

[12]Ibid, hal . 58; lihat:Tarikh al-Shafawiyyin, hal. 55.

[13]Ibid, hal. 415.

[14]Lamahat Ijtima'iyah, hal. 59.

[15]Nama lengkapnya: Ali ibn Hilal al-Karaki, wafat tahun 948 H.

[16] Lihat:al-Fikr al-Syi'ie, hal. 416. Biografinya dapat dilihat:Raodhat al-Jannat, hal. 404.

[17]Lamahat Ijtima'iyah, hal. 63.

[18]Unwan al-Majd, hal. 116-117.

[19]al-Nawaqidh, lembar 98 b.

[20]al-Fikr al-Syi'ie, hal. 416. 

[21]Ibid.

[22]Dounld San,Aqidah al-Syi'ah, hal 302.

[23]Lamahat Ijtima'iyah, hal. 77-78.

[24]Lihat secara mendetail:Tarikh al-Shafawiyyin, hal 93 dst; juga Dr. Jamil al-Mishri, Hadhir al-Alam al-Islami,117.

[25]Minhaj al-Sunnah, Juz III, hal. 243.

[26]Ibid, Juz III, hal. 243.

 

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir