Prinsip Kemudahan dalam Syariat Islam: Sebuah Tinjauan

10/11/2013 0:00:00
د. هاني بن عبد الله بن محمد الجبير Jumlah kali dibaca 4235

Prinsip Kemudahan dalam Syariat Islam: Sebuah Tinjauan


Aturan dan petunjuk syariat Islam memiliki karakter dasar mudah, fleksibel, dan tidak memberatkan. Sejumlah nash syariat menegaskan prinsip ini, antara lain:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”(QS. al-Hajj/22: 78).

Dalam Hadits, Rasulullahshallallahu alaihi wasallambersabda:

إنما بعثتم ميسرين ولم تبعثوا معسرين

“Sesungguhnya kalian diutus sebagai pembawa kemudahan, bukan kesulitan.”(HR. Bukhari, no. 217, dari Abu Hurairahradhiyallahu anhu).

بعثت بالحنيفية السمحة

“Aku diutus dengan membawa agama hanifiyah (yang konsisten kepada ketundukan) yang mudah.” (HR. Ahmad, no. 22345, dari Abu Umamahradhiyallahu anhu).

Firman AllahTa’ala:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”(QS. al-Baqarah/2: 185).

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”(QS. al-Baqarah/2: 286).

Sabda Nabi:“Sesungguhnya agama ini adalah mudah.”(HR. Bukhari, no. 39).

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa syariat Islam itu mudah dan fleksibel. Sehingga aturan apa pun yang keluar dari prinsip kemudahan dan berubah menjadi berat serta menyulitkan, maka sesungguhnya bukan bagian dari syariat. Sebab Islam memberi kemudahan kepada pemeluknya dengan memperhatikan situasi, waktu, tempat, dan kondisimukallaf(pelaku hukum), baik itu secara sosial atau politik. Sehingga kewajiban orang yang kuat tidak sama dengan kewajiban orang yang lemah, begitu pula antara orang yang dalam kondisi aman dengan orang yang dalam kondisi ketakutan, atau antara yang bebas dengan yang terpaksa.  

Lantaran itu, salah satu kaidah fiqh yang sangat mendasar ialah:al-masyaqqah tajlib al-taysir/kondisi kesulitan mendatangkan hukum kemudahan. Kaidah ini tidak berarti bahwa Islam mengandung kesulitan, tapi bahwa manusia bisa saja terjebak ke dalam situasi kesulitan yang kemudian Islam antisipasi dengan memberikan kemudahan kepadanya.   

Contohnya adalah kewajiban shalat dan puasa yang AllahTa’alabebankan kepada kita. Dalam kondisi biasa, kedua kewajiban ini tidak mengandung kesulitan apa pun. Manusia mampu melakukan shalat dan puasa pada waktunya, seperti shalat empat rakaat. Namun demikian, kesulitan dapat timbul akibat kondisi safar atau dalam perjalanan. Sehingga syariat memberi sebuah bentuk kemudahan berupa keringanan shalat dari empat rakaat menjadi dua rakaat dan jama’/menggabungkan waktu antara dua shalat yang dapat di jama’. Begitu pula keringanan baginya untuk meninggalkan puasa saat safar untuk dia ganti di lain waktu.

Keringanan ini diberikan kepadamukallafkarena kondisinya yang berubah, walau pada dasarnya seluruh ajaran syariat itu mudah. Berangkat dari pemahaman ini, hendaknya siapapun yang mengajak kepada prinsip kemudahan dalam hukum syariat menggarisbawahi bahwa hukum yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya, sebagaimana hukum tersebut diturunkan, telah mengandung karakter kemudahan ini. Karena AllahTa’alatelah menghapus bagi umat Muhammadshallallahu alaihi wasallamunsur-unsur kesulitan dan beban yang sebelumnya ada dalam syariat umat-umat terdahulu. Dengan kata lain, syariat ini tidak lagi mengandung unsur kesulitan tersebut sehingga ada dalih untuk mengintrodusir kemudahan ke dalam ajarannya.      

Syekh Muhammad al-Thahir ibn Asyur (w. 1393 H/1972 M) menulis:

“Bahwa syariat secara umum berlaku kepada semua manusia pada segala zaman merupakan konsensus kaum Muslim. Mereka juga sepakat bahwa di samping keumuman itu, syariat kompatibel dengan kebutuhan manusia pada segala waktu dan tempat, kendati tidak dijelaskan bentuk kompatibilitas itu. Menurut hemat saya, bentuk kompatiblitas itu ada dua:

“Pertama, pokok dan keseluruhan syariat dapat diterapkan pada beragam situasi sehingga hukum-hukumnya berlaku tanpa menimbulkan kesulitan.

“Kedua, beragam kondisi masa dan umat manusia dapat beradaptasi terhadap tuntutan hukum Islam tanpa kesulitan, sebagaimana Islam pernah mampu merevisi sebagian kondisi bangsa Arab, Persia, Koptik, Berber, Romawi, Tartar, India, China, Turki; tanpa menimbulkan masalah sebagai dampak dari ditinggalkannya perilaku lama mereka yang rusak.”(Maqashid al-Syari’ah al-Islamiyah, h. 92-93).

HAKEKAT “KESULITAN” DAN KLASIFIKASINYA

Agar maksud dari keringanan syariat terhadap kesulitan ini menjadi jelas, kita perlu menjelaskan arti dari kesulitan itu terlebih dahulu. Kesulitan ataumasyaqqahmemiliki dua arti: (1) kesulitan yang menimpa kondisi seseorang, berupa sakit atau kesulitan ekonomi atau selainnya; (2) kesulitan yang terkandung dalam perintah syariat itu sendiri.

Dengan demikian, tingkatan kesulitan terbagi kepada dua: (1) kesulitan di luar kapasitas manusia sehingga tidak dibebankan kepadanya (QS. Al-Baqarah/2:286); (2) kesulitan yang berat, menekan, dan di luar kebiasaan yang bila terdapat di dalam ibadah tertentu, seperti puasa, maka syariat menetapkan kemudahan.

Berbeda dengan perintah syariat umumnya yang tidak mengandung kesulitan, seperti shalat lima waktu, wudhu, puasa, zakat, dll. Yang mungkin mengandung kesulitan adalah pelaksanaan ibadahnafilah(sunnah/mustahab) yang banyak. Lantaran itu, syariat mengajarkan untuk bersikap pertengahan terhadap ibadahnafilahini.

Nabishallallahu alaihi wasallambersabda: 

عليكم من الأعمال ما تطيقون فإن الله لا يمل حتى تملوا

“Lakukanlah amalan yang kaliang sanggupi, karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian yang bosan.”(HR. Bukhari, no. 1100; Muslim, no. 982, dari Aisyahradhiyallahu anha).

Ibadahnafilahbisa menimbulkan kesulitan dalam konteksnya yang umum, sehingga Nabi memerintahkan untuk bersikap pertengahan dengan tidak memancing timbulnya kesulitan oleh pribadi yang melaksanakannya.

Sebagaimana ibadah wajib, ibadahnafilahyang tidak berlebihan juga tidak mengandung kesulitan. Batas berlebihan di sini berbeda-beda dan tidak kaku.

Kepada orang Arab badui yang berkata,“Aku tidak akan melakukan lebih daripada ibadah wajib,”Nabi bersabda,“Dia beruntung jika dia berkata jujur.”(HR. Bukhari, no. 46, Muslim, no. 11, dari Thalhah ibn Ubaidillahradhiyallahu anhu).

Pada kesempatan berbeda, Nabi pernah berkata kepada Ibn Umar,“Wahai Abdullah, janganlah engkau meniru si fulan yang dahulu melakukan shalat malam kemudian meninggalkannya.”(HR. Bukhari, no. 1101, Muslim, no. 1159).

Sehingga makna kesulitan yang wajar dalam sebuah amal ibadah ialah kesulitan yang bila berkelanjutan tidak berakibat kepada meninggalkan amal tersebut atau meninggalkan sebagiannya atau merugikan pelakunya.

Meninggalkan amal dalam kerangka ini bisa jadi akibat bosan atau patah semangat. Sedangkan merugikan pelakunya artinya mengabaikan kewajiban lain yang harus ditunaikan. Kasus yang relevan dan terkait dengan ini adalah kisah Salman al-Farisi dan Abu al-Darda’ yang ketika akan bangkit shalat malam diperintahkan untuk tidur dan ketika akan puasa diperintahkan untuk berbuka.“Sesungguhnya Rabbmu punya hak atasmu, dirimu punya hak atasmu, dan keluargamu punya hak atasmu.”(HR. Bukhari, no. 1867, Muslim, no. 1159). Perintah dalam hadits ini bermakna pertengahan yang tidak merugikan hak-hak lainnya.

Senada dengan hadits di atas adalah perintah Nabi kepada Ibn Umar untuk tidak mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an dalam semalam. (HR. Bukhari, no. 1875, Muslim, no. 1159). Alasannya, kemungkinan besar meninggalkan amal tersebut sebagaimana benar-benar terjadi pada pribadi Ibn Umarradhiyallahu anhudi akhir-akhir usianya.

Dari Abdullah ibn Amr ibn Ashradhiyallahu anhuma, Rasulullahshallallahu alaihi wasallambertanya kepadaku,“Wahai Abdullah, bukankah aku diberitahu bahwa engkau puasa di siang hari dan qiyam di malam hari?” “Benar, wahai Rasulullah,”jawabku.

Rasulullah bersabda,“Jangan lakukan seperti itu. Puasa dan berbukalah, shalat malam dan tidurlah! Karena sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, matamu memiliki hak atasmu, istrimu memiliki hak atasmu, dan tamumu memiliki hak atasmu. Sesungguhnya cukup bagimu puasa tiga hari setiap bulan, untuk setiap satu kebaikan bagimu sepuluh kali lipatnya, dan itulah puasa sepanjang tahun.”

Tapi aku ingin menambah sehingga aku ditambahkan. Aku berkata,“Wahai Rasulullah, sesunggunya aku kuat (untuk melakukan lebih).”  Rasul menjawab,“Kalau begitu, puasalah seperti Nabi Daud dan jangan menambah!”“Bagaimanakah puasa Nabiyullah Daud?”tanyaku.“Setengah tahun,”jawabnya.

Kelak di usia tuanya, Abdullah biasa berkata,“Seandainya aku dahulu menerima saja keringanan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.”

Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H/1448 M), pakar Hadits terkemuka, mencatat:

“Al-Nawawi berkata, artinya bahwa Abdullah telah tua dan tidak mampu konsisten dengan perkataan dan keinginannya di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dia menjadi berat melakukan akibat usianya yang tua sementara dia tidak suka meninggalkan amalannya karena bertentangan dengan permintaannya sendiri. Sehingga dia berangan-angan seandainya dia menerima keringanan untuk mengamalkan yang lebih ringan. Aku (Ibn Hajar) berkata: Kendati telah tua dan angan-angannya untuk mengambil keringanan, dia tidak meninggalkan amalan yang dia komitmenkan. Walau dia melakukan sedikit keringanan sebagaimana disebut dalam riwayat Hushain ‘Ketika fisik Abdullah telah lemah dan tua, dia tetap puasa dan menyambung hari-harinya, lantas dia berbuka dengan sejumlah hari itu untuk memulihkan kekuatannya. Namun dia berkata, ‘Aku menerima keringanan lebih aku sukai daripada melakukan ini, tetapi aku telah meninggalkan Rasulullah dalam bentuk amal yang aku tidak suka mengubahnya.”(Fath al-Bari, Juz VI, h. 246).

Akan tetapi, bila seseorang komitmen melakukan ibadahnafilahyang tidak bakal berakibat dia tinggalkan maka tidak mengapa, kendati manusia dapat berbeda-beda dalam batasannya. Oleh karena itu, generasi Salaf berbeda-beda dalam mengamalkan ibadah dan dalam berat-ringannya praktek ibadah tersebut. Keberagaman ini kembali kepada perbedaan manusiawi yang kita singgung tadi. Ada orang yang mampu memikul beban yang lebih berat sehingga tidak tergolong di luar batas kewajaran. Sebaliknya, ada orang yang kemampuannya lebih rendah dan di luar kemampuannya sehingga dia harus mengambil yang lebih ringan.  

Mengutip Ibn Taimiyah:

“Bisa jadi amal yang lebih rendah (mafdhul) justru menjadi lebih baik (afdhal), kembali kepada kondisi person yang melakukannya. Sebab dia tidak mampu melakukan yang afdhal atau karena cinta, minat, perhatian, serta manfaat yang dia dapatkan dari yang mafdhul jauh lebih banyak. Sehingga amal mafdhul ini menjadi afdhal bagi pribadinya dengan sebab faktor-faktor yang disebut tadi. Kasusnya sama seperti orang sakit yang sembuh dengan obat yang dia senangi, yang tidak dia dapatkan dari obat yang dia tidak suka. Walaupun sesungguhnya obat yang kedua lebih baik.”(Majmu’ Fatawa, Juz XXV, h. 311).

Kesulitan bisa bermakna yang tidak keluar dari batas wajar. Ambil contoh keluar rumahnya seseorang menuju mesjid. Perbuatan ini pasti mengandung kesulitan, dalam arti bahwa dia tetap tinggal di rumahnya lebih mudah baginya. Sebagaimana perbuatan menahan diri dari makan, minum, dan pembatal puasa lainnya dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari mengandung kesulitan. Tapi kesulitan ini tidak keluar dari batas wajar.

Kesulitan dalam terminologi ini terkandung dalam perintah-perintah syariat dan tidak diberikan keringanan. Kesulitan dalam arti ini merupakan sebuah kemestian dalam kehidupan. Hal ini berlaku dalam upaya manusia bekerja mencari rezki dan menjalani peran kehidupannya yang tentu mengandung kesulitan.

Kesulitan bisa juga bermakna keluarnyamukallafdari keinginan hawa nafsunya. Kesulitan jenis ini terkandung dalam syariat danmukallaf  tidak diberikan keringanan atasnya. Keinginan hawa nafsu tidak bisa menjadi alasan untuk mendapatkan keringanan. Kesulitan, dalam kerangka ini, diabaikan oleh syariat.

AllahTa’alaberfirman:

وَلَوِ اتَّبَعَ الْـحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka pasti binasalah langit dan bumi ini.”(QS. al-Mukminun/23: 71).

Dalam hadits, Rasulullahshallallahu alaihi wasallambersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعاً لما جئت به

“Tidak sempurna iman seorang kalian hingga hawa nafsunya turut kepada (ajaran) yang aku bawa.”(Al-Baghawi,Syarh al-Sunnah, Juz, I, h. 212-213; Ibn Abi Ashim,al-Sunnah, Juz I, h. 12).

Pengamatan cermat terhadap hukum-hukum syariat akan membawa kepada kesimpulan bahwa tujuannya adalah untuk membebaskan manusia dari lingkaran pengaruh hawa nafsunya.

Ringkasnya, kesulitan/masyaqqahdalam syariat bermakna kesulitan yang wajar dan yang membebaskan manusia dari belenggu hawa nafsunya. Adapun kesulitan yang luar biasa dan di luar batas kemampuannya, tidak terdapat dalam syariat. 

Selanjutnya, kesulitan yang berarti kondisi yang mempengaruhi kehidupan manusia ada dua:

Pertama, kesulitan yang luar biasa seperti adanya orang jahat yang mengganggu di jalan menuju masjid. Kesulitan jenis ini di luar batas kewajaran sehingga syariat menetapkan keringanan.

Kedua, kesulitan yang ringan yang bertingkat-tingkat, seperti pening di kepala atau nyeri di jari tangan. Kesulitan jenis ini tidak berimplikasi kepada keringanan.

Namun, mari kita simak kasus berikut. Turunnya hujan yang berpotensi membasahi pakaian dalam perjalanan menuju masjid. Turunnya hujan termasuk kesulitan yang membolehkan untuk meninggalkan shalat berjamaah di masjid.

Timbul pertanyaan, apa perbedaan antara kasus hujan ini dengan kepala pening? Jawabannya, untuk kasus hujan terdapat nash di dalamnya. Dalam hadits, disebutkan bahwa Rasulullahshallallahu alaihi wasallammenyuruh muadzzin di malam dingin atau hujan di perjalanan untuk menyeru:“Ketahuilah, shalatlah kalian di tempat kalian!”(HR. Muslim, no. 697, dari Ibn Umarradhiyallahu anhuma).

Adapun untuk kondisi-kondisi yang tidak ada nash di dalamnya, rujukannya adalah perbedaan masing-masingmukallaf. Tidak ada batasan yang kaku. Setiap person dipersilahkan untuk menilai dirinya sendiri.

Kesimpulan sementara dari bahasan di atas ialah kesulitan yang terbagi kepada: (1) kesulitan luar biasa yang berimplikasi kepada keringanan, (2) kesulitan yang telah syariat berikan keringanan di dalamnya, seperti kondisi perjalanan atau hujan, (3) kesulitan yang tidak ada keterangan nash di dalamnya sehingga hukumnya merujuk kepada kondisi masing-masing orang.

Senadaa dengan kondisi kesulitan yang disebut terakhir, Imam Syathibi menegaskan:“Rukhshah itu idhafiy/tergantung kondisi, bukan hukum asal.”(Al-Muwafaqat, Juz I, h. 314). Dengan kata lain,rukhshah/keringanan itu sesuai dengan kondisi masing-masing orang yang menghukumi dirinya sendiri selama tidak terdapat nash di dalamnya.

Dalamnazhamilmiah kaidah ini berbunyi:  

والقول في ضبط المشاق مختلف

بحسب الأحوال فيما قد عرف

Hukum dalam masalah kriteria kesulitan itu terdapat perbedaan

Yang beragam sesuai dengan kondisi yang telah diketahui.

Menarik untuk diangkat kembali sikap Imam Ahmad yang menolak untuk mengucapkan ungkapan kufur walau kondisinya terpaksa. Sementara Yahya ibn Ma’inrahimahullah, ulama Ahlus Sunnah lainnya, menyerah demi menyelamatkan diri dari siksaan. Ketika Yahya datang menemui Imam Ahmad, yang terakhir menolak untuk berbicara kepada Yahya sebagai bentuk teguran atas sikapnya. Imam Ahmad menolak bahwa kondisi Yahya ibn Ma’in bisa memberinya keringanan.

Ketika Yahya beralasan bahwa Sahabat Ammar ibn Yasir pernah dipaksa untuk mengucapkan perkataan kufur, Imam Ahmad tidak menerima itu. Menurut Ahmad, setiap orang berbeda posisinya sehingga ada orang yang tidak boleh sama sekali menyerah walau dipaksa. Dia juga menambahkan bahwa dirinya telah mengalami cambukan sebagaimana Ammar ibn Yasir, sedangkan mereka baru diancam akan dicambuk. (Ibn Abi Ya’la,Thabaqat al-Hanabilah, Juz I, h. 164).     

Di episode yang sama, Abdurrahman ibn Mahdi, ulama sezaman Imam Ahmad hendak mengingatkannya tentang keringanan yang bisa dia ambil. Abdurrahman berkata mengingatkan,“Wahai Abu Abdillah (Ahmad), engkau memiliki tanggung jawab keluarga dan engkau punya anak-anak! Engkau dimaafkan!”Maka Imam Ahmad menjawab,“Jika engkau wahai Abu Sa’id (Abdurrahman) berpikir begitu, maka engkau telah bebas.”(Ibn Muflih,al-Adab al-Syar’iyah, Juz II, h. 25). Artinya, engkau telah seenaknya mencari keringanan.

Selanjutnya Imam Ahmad berkata,“Coba keluar dan lihat di sana!”Maka Abdurrahman keluar dan melihat manusia dan pelajar yang telah siap dengan pena dan kertas di tangan untuk mencatat pendapat Imam Ahmad.

Imam Ahmad menukas,“Bolehkan aku akan mengkhianati mereka!?”Yaitu orang-orang itu akan berpegang kepada pendapat Imam Ahmad yang mereka dengar dan meyakini bahwa itulah aqidah para Salaf yang merupakan manhaj mereka.

KESANGGUPAN, KRITERIA UNTUK DIBERI BEBAN SYARIAT

Salah satu manifestasi kemudahan Islam adalah bahwa beban syariat terbatas kepada kesanggupan manusia.

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”(QS. al-Taghabun/64: 16).

Dalam Hadits:

إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم

“Bila aku perintah kalian, lakukanlah semampu kalian.”(HR. Bukhari, no. 6858, dengan redaksinya; Muslim, no. 1337, dari Abu Hurairahradhiyallahu anhu).

Sehingga amalan yang tidak sanggup manusia lakukan hukumnya tidak wajib. AllahTa’alatidak membebani manusia dengan sesuatu di luar kapasitasnya. Andai ditemukan pembebanan yang bertentangan dengan kaidah ini, maka yang dimaksud adalah amalan sebelum atau setelahnya.

Ambil contoh perintah Allah dalam firman-Nya: 

وَلا تَمُوتُنَّ إلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”(QS. Aali Imran/3: 102).

Menetapkan kematian terhadap diri sendiri di luar kapasitas manusia. Sehingga maksud ayat ini ialah amalan sebelum itu, yaitu masuk Islam sehingga ketika maut menjemputmu engkau berada di dalam Islam.

Sama dengan ini yaitu perintah untuk mencintai atau membenci hal-hal yang dicintai atau dibenci oleh AllahTa’ala. Cinta dan benci merupakan dua hal di luar kendali dan kehendak manusia. Maka, yang masuk perintah adalah hal-hal yang mendahului atau mengiringi keduanya. Perintah mencintai sesuatu artinya perintah untuk memepelajari keutamaan, kebaikan, keunggulan, dan keunikannya sehingga bisa melahirkan cinta kepadanya. Begitu pula hal-hal yang mengiringinya.

Dalam konteks berikutnya, cinta kepada Nabishallallahu alaihi wasallamakan melahirkanittiba’(sikap meneladani) kepada petunjuknya, dan cinta kepada Abu Bakar dan Umar akan melahirkan ridha kepada keduanya dan  mendoakannya.

Dalam kerangka ini, Imam Syathibi menegaskan bahwa manusia yang melakukan hal-hal yang mendahului atau mengiringi perintah yang di luar kemampuannya tidak dapat disalahkan. Kendati hal tersebut mustahil secara logika. (Lihat:Al-Muwafaqat, Juz II, h. 108).

Misalnya seseorang yang telah mengkaji keutamaan, kelebihan, dan telah ridha kepada manusia-manusia yang syariat perintahkan untuk dicintai, namun rasa cinta itu tidak juga muncul, maka orang tersebut tidak berdosa. Kendati permisalan ini mustahil secara logika. Pengakuan terhadap kebaikan seseorang pasti melahirkan cinta kepadanya.

Selanjutnya kita kutip kajian Imam Syathibi berikut:

“Persoalan ini merupakan kajian fiqh tersendiri. Siapa pun yang mampu memahaminya akan keluar dari banyak persoalan pelik, khususnya yang terkait dengan bahasan amal-amal hati, niat, dan maksud pekerjaan. Sebab kondisi tertentu terjadi dalam diri manusia secara spontan, seperti iri, cinta dunia, popularitas, kekuasaan. Hal-hal ini kadang muncul begitu saja. Dengan kata lain, manusia itu tidak mungkin bebas dari perasaan iri. Sebuah ungkapan berbunyi:‘tidak ada jasad yang bebas dari hasad, namun manusia yang mulia menyembunyikannya sedang yang tercela mengungkapkannya.’ Seorang ulama Salaf ditanya, ‘Apakah seorang mukmin punya rasa hasad?’Celakalah engkau, apakah engkau lupa perilaku putra-putra Nabi Ya’qub (yang hasad kepada Nabi Yusuf)?”(Atsar ini diriwayatkan oleh Ibn Sirri,al-Zuhd, Juz II, h. 642; Lihat: Ibn Abdilbarr,al-Tamhid, Juz VI, h. 126; al-Qurthubi,al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Juz IX, h. 138).

Intinya, yang ditiuntut dari manusia adalah hal-hal yang mendahului dan mengikutinya. Kita ambil kembali contoh hasad, maka yang dituntut adalah tidak boleh melampaui batas, tidak aniaya, tidak serakah, dan tidak bicara buruk. Yang mendahuluinya adalah tidak menginginkan hilangnya nikmat yang diperoleh saudara kita dan mengakui bahwa itulah karunia Allah kepadanya. Sedangkan kita yang tidak mendapat nikmat yang sama adalah dengan hikmah besar yang AllahTa’alatetapkan.

Sama dengan pandangan tanpa sengaja seorang lelaki kepada perempuan cantik yang melahirkan ketertarikan dirinya. Dia memandang dan telah mengalihkan pandangannya. Dia tidak dituntut dosa atas ketertarikannya, tapi dia dituntut dan akan menanggung akibat atas hal-hal yang mengiringinya. Dia dituntut untuk mengendalikan dirinya, menjaga kehormatannya, tidak mengungkapkan keburukan, tidak mencari-cari peluang untuk bertemu atau menjalin hubungan dengan perempuan itu; kecuali dengan cara yang halal.  

Secara umum dapat dikatakan bahwa manusia hanya dibebani sebatas kemampuannya.

Inilah salah satu segi keunggulan syariat Islam yang sejalan dengan fitrah dan sikap pertengahan. Jauh dari sikap ekstrim dan lalai. Syariat yang membawa pemeluknya untuk mencapai tujuan-tujuan manusiawinya sekaligus rohaninya dalam untaian yang serasi dan selaras.

Ya Allah, Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami dalam Islam hingga pertemuan dengan-Mu kelak.***

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir