Distorsi Sejarah dalam Relasi antara Ahlul Bait dengan Para Sahabat

04/06/2013 0:00:00
محمد أمحزون Jumlah kali dibaca 4617

Distorsi Sejarah dalam Relasi antara Ahlul Bait dengan Para Sahabat


Riwayat sejarah tentang disharmoni hubungan antara Ahlul bait dengan para sahabat Nabi tidak terhitung banyaknya. Riwayat-riwayat tersebut tidak lepas dari kategori palsu (maudhu’) atau kamuflase (tahrif).Tujuannya, menciptakan persepsi permusuhan abadi dan kompetisi tidak sehat antara Ahlul bait dengan para sahabat. Berbanding terbalik dengan realitas hubungan manusiawi yang normalalih-alihharmonis, solid, dan saling percaya.

Sikap Muslim Sejati terhadap Riwayat-riwayat Sejarah yang Palsu

Riwayat-riwayat sejarah yang palsu tersebut merupakan beban sejarah yang berat, seberat rintangan yang ditimbulkannya terhadap terciptanya persatuan dan soliditas umat Islam. Siapa pun yang membaca sejarah, yangnotabenemerupakan memori umat, dengan jujur dan dilandasi aqidah yang benar pasti bisa merasakan fatalnya tingkat deviasi yang terjadi pada banyak pembawa berita dan ahli sejarah klasik. Deviasi akibat riwayat palsu dan distortif yang melahirkan misinterpretasi terhadap relasi historis antara ahlul bait dengan para sahabatradhiyallahu anhum. Sampai pada tingkat lahirnya persepsi rendahnya kualitas pribadi generasi terbaik umat dalam benak sebagian orang. Kontras dengan kondisi ideal para waliyullah, manusia-manusia terbaik, dan bertakwa.

Bila demikian halnya, untuk dapat keluar dari krisis penulisan sejarah dan lepas dari dampak negatif yang ditimbulkannya, ada dua tugas besar yang harus kita lakukan:

Pertama, verifikasi riwayat dan seleksi sanad sebagaimana metodologi kritik ulama-ulama hadits.

Kedua, rekonstruksi historis dalam bingkai paradigma keimanan yang benar dan neraca syariat.               

Jalan Keluar dari Persoalan

Jalan keluar dari persoalan ini bertitik tolak dari pencerahan kaum Muslim terhadap metodologi yang harus ditempuh dalam mengkaji sejarah sahabat Nabi. Metodologi yang para ulama telah letakkan dasar-dasarnya dengan mengacu kepada Al-Qur’an dan Sunnah, sama seperti hukum-hukum syariat lainnya.

Dengan kata lain, kajian dan rekonstruksi terhadap sejarah sahabat Nabi adalah tugas ahli hadits dan sejarawan muslim. Setiap ilmuan dan sejarawan muslim yang mengkaji sejarah sahabat Nabi dan relasi sahabat dengan ahlul bait wajib meletakkan kajiannya dalam bingkai metodologi tersebut. Sehingga dia senantiasa memperhatikan kriteria serta pendekatannya dalam studi sejarah sahabat.

Pendekatan itu sendiri terdiri dari sejumlahahkam(baca: perspektif) yang berasal dari sumber-sumber tasyri’ yang fundamental: Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ (konsensus ulama). Uraiannya adalah sebagai berikut: 

Pertama, Kedudukan Ahlul Bait RasulullahShallallahu alaihi wasallam

Adalah mustahil mengingkari keutamaan ahlul bait Rasulullahshallallahu alaihi wasallam, yaitu keluarga dan istri-istri beliau; kecuali orang yang tidak paham tentang kedudukan mereka dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Sebab, AllahTa’alatelah memerintahkan Nabi-Nya untuk berbuat baik dan memuliakan mereka. Ahlul bait berasal dari keluarga yang suci dan garis keturunan yang terbaik yang pernah ada di muka bumi. Khususnya bila anggota ahlul bait tersebut mengikuti Sunnah Rasulullah, sebagaimana Salaf ahlul bait, semacam al-Abbas dan Abdullah ibn Abbas, keluarga Ali ibn Abi Thalib, keluarga Aqil, dan keluarga Ja’farradhiyallahu anhum.

AllahSubhanahu wata’alaberfirman:

{قُل لاَّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إلاَّ الْـمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى}

Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan."(QS. al-Syura/42: 32).

Dalam riwayat imam al-Thabari, yang dimaksud adalah kerabat Nabishallallahu alaihi wasallam. (Lihat: Tafsir Ibn Katsir, IV/162).

Allah juga berfirman:

{إنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا}

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”(QS. al-Ahzab/33: 33).

Kedua, Kedudukan dan Integritas Para Sahabat

Secara mutawatir, nash-nash menunjukkan kewajiban untuk mencintai dan memuliakan para sahabat Nabi, termasuk nilai argumentasi dalam ijma’/konsensus dan keteladanan para sahabat. Demikian pula haramnya mendiskreditkan sahabat Nabi.

Alasannya, AllahTa’alatelah memuliakan sahabat-sahabat untuk menyertai dan berjihad bersama Nabi. Mereka telah menanggung tekanan kaum musyrik yang memusuhi Islam, dan mereka hijrah dengan meninggalkan keluarga, harta, dan negeri mereka. Mereka telah membuktikan bahwa cinta mereka kepada Allah dan Rasul-Nya lebih besar daripada itu semua.   

Dengan prestasi-prestasi tersebut, para sahabat Nabi menjadi manusia-manusia yang wajib dihormati sekaligus memaafkan kekurangan yang mungkin terjadi. Lantaran itu, wahyu turun menjelaskan bahwa Allah telah ridha kepada mereka dan menjanjikan Surga bagi mereka. Sebagaimana Rasulullahshallallahu alaihi wasallamtelah menyampaikan berita gembira tersebut kepada mereka. Rasulullah juga memerintahkan kita untuk memuliakan mereka. Mereka diposisikan Nabi sebagai cahaya yang menjadi penerang jalan bagi umat.

Ketiga, Riwayat-riwayat yang Mendiskreditkan Para Sahabat

Muslim seharusnya bersikap demokrat dan adil, tidak ekstrim antara poros yang berlebihan dan poros yang lalai. Dalam konteks ini, bersikap pertengahan antara kelompok yang mengkultuskan sebagian sahabat atau Ahlul bait sehingga mendudukkan mereka sederajat dengan para nabi dan rasul. Dengan kelompok yang merendahkan kedudukan sahabat dan ahlul bait sehingga mendiskreditkan mereka.

Mayoritas riwayat terkait peristiwa fitnah adalah tidak valid. Adapun yang valid, maka sahabat telah melakukan ijtihad, yang bila tepat maka mendapatkan dua pahala: pahala ijtihad dan pahala ketepatan ijtihad. Sedangkan bila keliru, maka mendapatkan satu pahala: pahala ijtihad. Sedangkan kekeliruannya akan mendapatkan ampunan, karena ijtihad yang mereka lakukan berlandaskan kepada niat yang benar. Walau sahabat tersebut tidak maksum (suci dari dosa). Mereka adalah manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah. Namun Allah telah menjanjikan merekamaghfirah/ampunan dan ridha-Nya. 

Oleh karena itu, wajar bila kita menjaga diri dari mengungkap kekurangan yang dinisbatkan kepada para sahabat. Sebaliknya, kita seharusnyahusnus-zhan/berprasangka baik dan ridha kepada mereka. Kita wajib mengakui kedudukan mereka dan mencari jalan terbaik atas kekeliruan yang dilakukan sebagian sahabat itu.

Tambahan pula bahwa riwayat-riwayat terkait kasus-kasus yang pelik tidak diletakkan dalam konteks yang tepat. Apalagi bila pada dasarnya riwayat tersebut palsu atau mengalami penambahan dan pengurangan. Akibatnya, persepsi yang ditimbulkan sangat jauh dari kebenaran.

Sikap abstain terhadap perbedaan yang terjadi di kalangan sahabat adalah wajib. Khususnya bila tujuannya adalah untuk menelusuri hal-hal parsial secara berlebihan atau mengikuti prasangka atau fanatik kepada salah satu golongan.

Adapun bila neraca yang digunakan adalah neraca ilmiah yang berlandas kepada nash-nash syariat, maka kajian terhadap sejarah sahabat tidak mengapa dilakukan. Terlebih bila tujuannya untuk mengkaji sebagian hukum syariat, menemukan penyikapan yang benar, atau meluruskan kesalahan riwayat terkait sikap sebagian mereka atau peristiwa fitnah, dll.

PENYEBAB TIMBULNYA DISTORSI SEJARAH

Bila ditelisik lebih jauh, sesungguhnya penyebab di balik distorsi riwayat sejarah yang berakibat misinterpretasi dalam relasi harmonis antara ahlul bait dan sahabat adalah:

Pertama, penyebaran dan perluasan gerakan pembebasan Islam di era Khulafa’ur rasyidin telah membangkitkan resistensi kuat musuh-musuh Islam. Kegagalan di medan perang fisik membawa mereka pada keyakinan bahwa perang lewat penipuan dan tipu muslihat akan lebih efektif. Sebagai tindak lanjut, sebagian mereka berpura-pura masuk Islam dan melakukan upaya pemalsuan sejarah Islam dari dalam.

Kedua, upaya sebagian pihak yang sengaja mendiskreditkan para sahabat Nabi sebagai langkah pasti menuju terciptanya keraguan terhadap keotentikan Al-Qur’an dan Sunnah. Sebab, para sahabat tersebut merupakan duta-duta syariat yang menjadi rantai riwayat bagi kedua sumber agama Allah.

Ketiga, upaya sebagian pihak untuk mencitrakan bahwa Islam tidak aplikatif sehingga tidak mungkin diterapkan di abad modern ini. Sebab, bila persepsi bahwa Islam telah gagal meluruskan moralitas sahabat sepeninggal Nabishallallahu alaihi wasallam, bahkan dalam periode yang masih sangat singkat, diterima - maka artinya Islam akan mandul sebagai pedoman hidup di abad ini. 

Sebagai penutup, kami ingin menggarisbawahi bahwa sebagian referensi sejarah merujuk kepada tokoh-tokoh yang tidak objektif dalam proses “rekam” sejarah. Tokoh-tokoh tersebut telah berperan besar dalam mencemari sejarah kita, umat Muslim. Mereka inilah yang kelak menjadi acuan bagi penulis sejarah, klasik maupun modern.

Sebab itu, kita harus mengevaluasi kembali banyak kronologi dalam sejarah, demi untuk menguji validitasnya dan untuk meletakkannya dalam kerangka pembacaan yang komprehensif dan kritis. Sehingga pada akhirnya kita dapat menyajikan kepada generasi muda dan umat secara umum sejarah yang benar, objektif, dan sejalan dengan bangun akidah dan peradaban umat. Upaya tersebut sebagai bagian untuk meluruskan kembali pemikiran dan pemahaman. Sebab, sejarah Islam adalah memori umat, tampilan dan kebanggaan umat. Sejarah adalah medium sampainya warisan agama ini kepada kita, hingga ke bagian-bagiannya yang paling detail.

Wallahu waliyyut taufiq.


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir