KEMUNGKARAN YANG DIPAKSAKAN

05/01/2013 0:00:00
عبدالعزيز الناصر Jumlah kali dibaca 4051

KEMUNGKARAN YANG DIPAKSAKAN




Allah Azza wa Jalla berfirman:

{فَلَوْلا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِن قَبْلِكُمْ أُوْلُوا بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الأَرْضِ إلاَّ قَلِيلاً مِّمَّنْ أَنجَيْنَا مِنْهُمْ...} [هود: 116]

Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka. . . (QS. Hud: 116)

Allah juga berfirman:

{وَتَرَى كَثِيرًا مِّنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.  لَوْلا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالأَحْبَارُ عَن قَوْلِهِمُ الإثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ} [المائدة: 62-63]

Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. (QS. al-Maidah: 62-63)

Dalam menafsirkan ayat  116 dari surah Hud, Ibn Katsir rahimahullah menyatakan:

Allah Ta'ala berfirman, tidakkah ada sisa generasi masa lampau, sekelompok pelaku kebaikan yang mencegah keburukan, kemungkaran, dan kerusakan di atas permukaan bumi yang terjadi di antara mereka?

Dan firman-Nya: (kecuali sebagian kecil) artinya kelompok itu eksis tetapi minoritas dan tidak banyak jumlahnya. Mereka itulah yang diselamatkan oleh Allah saat murka dan siksa-Nya datang. Olehnya itu, Allah menyeru umat yang mulia ini agar di tengah mereka, tampil orang-orang yang melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Sebagaimana Allah firmankan:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran: 104).[1]

Pada saat menafsirkan ayat 62-63 dari surah al-Maidah, beliau menyatakan:

Mengapa orang-orang rabbaniyyun dan para pendeta tidak melarang mereka melakukan hal itu, yakni memakan yang haram dan mengucapkan perkataan bohong. Rabbaniyun adalah para ulama yang mengaplikasikan ilmunya yang sekaligus menjabat sebagai kepala pemerintahan. Sedang ahbar/pendeta-pendeta hanya sebagai ulama saja.  Sungguh  buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.

Ali ibn Abi Talhah menukil dari Ibn Abbas bahwa yang dimaksud adalah kelompok rabbaniyyun, yakni sungguh buruk sikap mereka, karena mereka meninggalkan tugas tersebut.

Ibn Jarir meriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu anhuma bahwa tidak ditemukan celaan yang lebih di dalam Al-Qur'an selain dari yang tertuang di dalam ayat;  "Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka . . ." (Qs. al- Maidah: 63).[2]

Di dalam Al-Qur'an terdapat banyak ayat yang serupa dengan ayat yang disebutkan  dalam surah Hud dan surah al-Maidah yang telah dinukil di atas.

Intinya, penjelasan tentang tanggung jawab para ulama dan dai dalam membentengi  masyarakat muslim dari kejahatan para perusak. Dan dari berbagai kemungkaran yang mereka tebar dan paksakan kepada umat, hingga hati menjadi terbiasa dan tidak peka dalam mengingkarinya.

Hari ini, para pengamat yang mengamati gerakan para perusak dan tokoh-tokoh kejahatan di tengah masyarakat muslim, menjumpai sesuatu yang amat berbahaya. Dalam hal ini, para ulama dan orang-orang yang memiliki kepekaan wajib menghadapi bahaya tersebut dan membentengi umat dari akibat buruknya.  Bahaya tersebut adalah upaya para perusak dalam memaksakan kemungkaran yang mereka inginkan. Mereka berupaya menjadikan masyarakat muslim pasrah terhadap realita yang ada, melalui kendaraan jabatan yang mereka duduki atau kedekataan mereka dengan para pengambil kebijakan. Mereka mengabaikan dan acuh terhadap penolakan dan teriakan kepada kemungkaran tersebut.

Mereka berasumsi bahwa penolakan dan teriakan tersebut akan pudar secara perlahan ketika kemungkaran tersebut telah dipaksakan. Dan akan menjadi tabiat dalam kehidupan manusia sejalan dengan perubahan waktu. Pada akhirnya, ia akan menjadi lumrah setelah sebelumnya diingkari dan dibenci. Di sinilah letak bahayanya, karena perubahan suatu kemungkaran menjadi hal yang makruf dan lumrah jauh ratusan kali, lebih berbahaya daripada melakukan suatu kemungkaran dalam  keadaan tetap benci padanya dan tetap merasa berdosa.

Sebagai upaya menghilangkan bahaya besar ini, hendaknya ditempuh beberapa langkah efektif dalam menolak suatu kemungkaran yang ingin dipaksakan di tengah kehidupan manusia. Yaitu, antara lain:

Pertama, memprotes tokoh yang berada dibalik penerapan kemungkaran. Tidak merestui, melakukan penolakan, dan mencoba menghalangi tokoh tersebut melangsungkan kemungkaran sebagai bentuk pertanggung jawaban atas kewajiban nahi mungkar. Ini merupakan tingkatan kedua dalam melakukan pengingkaran, yaitu mengubah kemungkaran dengan lisan dan tulisan.  Langkah ini perlu dilakukan berulang-ulang dan tidak boleh putus asa dalam melakukannya.

Kedua, dalam kondisi tokoh tersebut bersikeras melakukan kemungkaran, dan tidak merespon nasehat orang-orang yang menasehatinya atau tidak peduli terhadap penolakan orang-orang yang menolaknya, hendaknya ada upaya menundanya atau meminimalkan pengaruhnya atau mengurangi eksesnya.

Ketiga, kalau semua upaya tersebut tidak direspon, apalagi jika ia benar-benar mulai menerapkan dan melakukan kemungkaran tersebut, maka kewajiban besar  tetap berlaku di atas pundak para reformis, yaitu membentengi masyarakat dari kemungkaran tersebut dan tetap meyakini bahwa kemungkaran itu bertentangan dengan syariat. Dengan izin Allah, cara ini dapat menjamin kegagalan dan kelemahan kemungkaran tersebut, meskipun sebagian masyarakat turut melakukannya. Karena perbuatan mungkar yang dilakukan seorang muslim dengan tetap meyakini keharamannya dan menyadari dosanya, masih jauh lebih ringan dibanding jika ia melakukannya dengan tanpa merasa berdosa dan tanpa diingkari.

Agar benteng ini terwujud, dan agar kesempatan para perusak dalam membiasakan kemungkaran semakin berkurang, maka hendaknya para reformis dari berbagai latarbelakang spesialisasi dan bidang senantiasa bekerja sama dalam melakukan tugas ini. Hendaknya kalangan khatib, penceramah, penulis, guru, pendidik, pengajar, dan kepala rumah tangga; semuanya bangkit menjelaskan kemungkaran dan dosa pelakunya.

Hal itu dimaksudkan agar di dalam hati setiap muslim, tetap terpelihara penghormatan terhadap batasan-batasan dan larangan-larangan Allah dan kebencian terhadap kemungkaran.  Juga untuk menutup jalan bagi setiap orang yang ingin agar umat Islam merasa lumrah dan terbiasa dengan kemungkaran tanpa pengingkaran dan penolakan. Karena, jika hati seorang muslim kosong dari pengingkaran terhadap suatu kemungkaran maka sangat dikhawatirkan imannya hilang secara total. Inilah yang dapat dipahami dari sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

Barang siapa melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia mengingkarinya dengan tangannya. Jika ia tidak sanggup, maka hendaklah dengan lisannya, dan jika ia tidak sanggup maka hendaklah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim).

Kita memohon semoga Allah memberikan kepada umat ini pemerintahan yang mendapat petunjuk. Yaitu pemerintahan yang memuliakan para wali Allah dan menghinakan musuh-musuh-Nya. Di dalamnya kebaikan diserukan dan kemungkaran dicegah . . . Walhamdulillahi Rabbil Alamin

 

 


[1] Al-Mishbah al-Munir fi Tahzib Tafsir ibn Katsir, hal. 651.

[2] Al-Mishbah al-Munir fi Tahzib Tafsir ibn Katsir, hal. 388.

 

 


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir