ISRAEL SEMAKIN RESAH TERHADAP PERKEMBANGAN KONDISI DI SURIAH

30/07/2012 0:00:00
إعداد مجلة البيان Jumlah kali dibaca 3187

ISRAEL SEMAKIN RESAH TERHADAP PERKEMBANGAN KONDISI DI SURIAH


 

Sejak awal pecahnya revolusi Suriah awal 2011 silam, Tel Aviv konsisten mengambil sikap diam dan menunggu. Setidaknya, itulah yang tampak di media mainstream. Walau sesungguhnya Israel berutang jasa besar kepada Damaskus.

Sebagaimana diketahui, rezim Suriah adalah “aktor pendukung” terbaik bagi permainan politik Israel di kawasan Timur Tengah. Bashar, dan sebelumnya Hafiz al Assad, selalu tampil di ruang publik sebagai “musuh” bebuyutan Israel. Namun faktanya selama berkuasa, perbatasan Suriah – Israel merupakan garis batas paling aman dibanding perbatasan Israel lainnya. Hampir setengah abad usia rezim al Assad, tak satu pun peluru yang diarahkan ke Israel. Tidak juga ada upaya untuk melepaskan dataran tinggi Golan dari cengkeraman Israel. Terbukti, al Assad adalah penjaga perbatasan paling setia bagi Israel.    

Benar, Damaskus telah menampung Gerakan Perlawanan Palestina (HAMAS), langkah yang tidak mampu dilakukan oleh negara-negara Arab lainnya. Juga bahwa Damaskus menjadi salah satu inisiator selanjutnya pemasok logistik dan persenjataan bagi Hizbullah di Lebanon. Akan tetapi, itu tidak sebanding dengan kondisi aman dan terkendali bagi dataran tinggi Golan yang diberikan Damaskus kepada Israel. Golan selanjutnya menjadi wilayah strategis yang menjadi “bemper” bagi pendudukan Israel di Palestina.     

Relasi Suriah – Israel bukanlah hubungan politik konvensional, sebagaimana hubungan Israel dengan pemerintahan dunia lainnya. Tidak ada kesepakatan tertulis resmi atau hubungan diplomasi, berupa kedutaan besar di masing-masing negara. Relasi Damaskus – Tel Aviv adalah hubungan intelijen yang dibangun di atas prinsip “al baqa’ muqabil al baqa’/saling menjaga eksistensi.” Singkatnya, Tel Aviv sangat berkepentingan terhadap keberlangsungan eksistensi rezim al Assad.

Namun akhir-akhir ini, Tel Aviv mulai angkat suara. Yang teranyar adalah berita yang diturunkan Fox News, sebuah televisi Amerika (29/7). Televisi tersebut mengutip pernyataan seorang pejabat militer Zionisme Israel terkait kesiapan pasukan Tel Aviv. Kesiapan tersebut untuk sewaktu-waktu dapat digerakkan ke Suriah demi mencegah jatuhnya persenjataan kimia rezim lama kepada apa yang mereka sebut sebagai kelompok Islam bersenjata. Baik yang dimaksud itu sekutu Bashar, yaitu Hizbullah; atau kelompok oposisi dan revolusi rakyat yang dominan Sunni.

Bagaimanapun, kondisi di Suriah memang semakin tidak menguntungkan bagi Israel. Sekte Alawiyah (baca: Syiah Nushairiyah), yang menjadi basis loyalis al Assad semakin terpojok. Semakin kuat Bashar mempertahankan kekuasaannya, semakin hilang kepercayaan rakyat terhadap loyalitas kebangsaan pengikut sekte. Akibatnya, skenario sebagian proposal Barat untuk mengganti Bashar sembari tetap mempertahankan hegemoni minoritas Alawiyah di Suriah semakin sulit diwujudkan.      

Di lain pihak, kelompok-kelompok perlawanan semakin paham bagaimana Barat mempermainkan “kartunya” di kawasan. Kelompok oposisi belajar benar dari kasus Irak, khususnya pasca Saddam. Di irak, Barat mendiktekan “demokrasi” versinya sendiri. Demokrasi yang berarti memberikan peluang lebih besar kepada minoritas Syiah di pemerintahan boneka Irak bentukan Barat.

Posisi kelompok perlawanan sendiri semakin kuat di Timur Tengah, di tengah semakin terisolasinya Bashar dari dunia internasional. Bantuan ratusan juta real pemerintah dan masyarakat di Saudi Arabia terhadap rakyat Suriah (27/7), serta proyek bersama Turki, Saudi Arabia dan Qatar berupa pangkalan militer di Turki yang disiapkan bagi pejuang revolusi (28/7), jelas semakin memperkuat posisi Pasukan Pembebasan Suriah.

Terakhir adalah dari Tunisia. Syekh Rasyid al Gannusyi meminta maaf kepada rakyat Suriah. Permintaan maafnya karena terlanjur mengundang perwakilan Hizbullah ke muktamar Pergerakan Nahdhah yang dipimpinnya (29/7). Dia menyesali panitia yang terlanjur mengundang Hizbullah, di tengah kecaman dunia terhadap sikap loyal Hizbullah terhadap rezim Suriah yang membantai rakyatnya sendiri. Padahal di muktamar tersebut, Hamas termasuk paling keras memperjuangkan dukungan terhadap revolusi rakyat Suriah. (Haedar Bazargan)

    


Komentar

Tambahkan komentar Anda

Nama  
Email    
Teks komentar  

Halaman utama Halaman Terakhir